Pos polisi bekas itu lebih kecil dari yang Dion ingat. Catnya mengelupas membentuk peta pulau-pulau abu-abu, jendela kacanya tinggal bingkai, dan bangku panjang di dalamnya sudah digerogoti rayap di salah satu ujung. Tapi atapnya masih utuh, dan di bawah atap itulah, pada hari yang lain, seorang gadis berkemeja merah pernah gemetar karena petir.
Dion tiba pukul setengah empat. Dia duduk di ujung bangku yang masih kuat, ponsel di tangan, dan menatap layar yang tak kunjung berubah. Pesannya ke Sanny masih bertanda dua centang biru, tanpa balasan sejak semalam. Farish tidak mengiriminya apa-apa. Itu yang paling membuatnya sesak: tidak ada yang menekannya hari ini, hanya waktu.
Gerimis pertama jatuh pukul empat kurang sepuluh. Beberapa menit kemudian, langit di timur menghitam seperti tinta tumpah, dan hujan turun penuh, deras, rapat, menghantam aspal sampai bunyinya seperti tepuk tangan yang tak berhenti. Dion memandangnya dan nyaris tertawa. Tentu saja hujan. Sejak awal cerita ini selalu hujan.
Fanya datang berlari di tengah rintik, dengan payung biru di tangan yang sebenarnya tidak banyak membantu. Ujung celana jinsnya basah sampai betis. Dia menutup payung di depan pos, mengibaskan air dari tangannya, lalu tersenyum, senyum yang Dion tahu akan dia ingat sampai mati.
"Kakak udah di sini dari tadi, ya? Maaf, aku telat. Tadi jalan macet, terus ada anak kecil yang kehilangan sandal di ..." Dia berhenti. Matanya menemukan wajah Dion. "Kak, kenapa muka Kakak begitu?"
"Duduk dulu, Dek."
Fanya duduk, ragu, menaruh payung di sisinya. Jarak mereka satu jengkal. Dion menatap tangan sendiri, tangan yang memegang ponsel dan terlalu banyak uang, dan memutuskan memulai dari awal yang paling jauh.
"Kakak harus cerita. Dan Kakak minta kamu dengar sampai habis. Setelah itu kamu boleh bilang apa saja."
"Kak ..."
"Dengerin dulu."
Maka dia bercerita, mulai dari kertas arisan di kantin.
"Botol itu dikocok, dan nama yang jatuh ke tanganmu namanya Kakak. Itu bukan kebetulan yang manis, Dek. Misinya nyata. Genk Kakak sungguh nyari tante-tante kaya, dan Kakak setuju, karena kuliah Kakak nunggak dan Bapak nggak sanggup bayar apa pun."
Fanya tidak bergerak. Dion terus bicara sebelum keberaniannya habis.
"Ada Jenifer. Dia maksa nyium Kakak, dan Kakak tolak. Terus gym. Ada perempuan yang ngelihatin Kakak dari seberang ruangan." Dia menelan ludah. "Dua puluh juta di apartemen. Abis itu dua puluh juta lagi."
"Kakak ... terima?" Suara Fanya nyaris tak terdengar.
"Terima."
Suaranya tidak bergetar, karena dia sudah menghafal ceritanya dua malam berturut-turut, dan hal-hal yang dihafal tidak butuh perasaan untuk diucapkan.
Fanya tidak memotong.
Wajahnya, yang tadi berseri, turun sedikit demi sedikit seperti lilin yang meleleh. Pada kalimat "trading itu bohong", bibirnya terbuka tetapi tak ada suara. Pada kalimat "yang kasih uang itu perempuan bersuami", jari-jarinya meremas ujung jaketnya. Pada kalimat "dan waktu akad Udin, kamu perkenalkan aku ke dia", dia mengangkat wajah.
Dion menarik napas panjang. Petir menyambar di kejauhan, jauh sekali.
"Tante Sashi," katanya. "Tantemu. Namanya Sanny Shilby. Kakak ketemu dia sebelum Kakak tahu dia siapa. Kakak baru tahu waktu kamu tarik tangan Kakak di ruang tengah dan bilang 'kenalan sama Tante Sashi'. Dia sudah tahu duluan, Dek. Dia sudah lihat fotomu, dia tahu Kakak pacarmu, tapi dia diam."
Sunyi.
Deru hujan masuk ke setiap celah. Di luar, sebuah mobil melintas dan membuat genangan terlempar ke trotoar.
"Dan Kakak diam juga," lanjut Dion, "padahal Kakak tahu sejak hari itu. Kakak punya dua hari, tiga minggu, sebulan untuk bilang. Kakak nggak bilang. Kakak pengecut."
"Tanteku?"
Bisikan itu nyaris tertelan hujan. Fanya tidak menatapnya; dia menatap lantai semen yang retak, seolah di sana ada kalimat yang bisa dia baca ulang.
"Iya."
"Tante Sashi. Tante yang nampung aku di rumahnya. Tante yang bikin kue bareng aku di dapur." Fanya mengangkat wajah. Matanya sudah basah, tetapi belum menangis. "Tante yang bilang Kakak 'sopan banget'."
"Iya."
Tamparan itu datang tanpa peringatan, keras, tepat di pipi kiri Dion, tempat bekas pukulan Farish masih berdenyut. Bunyinya memantul di dinding pos dan terdengar seperti sesuatu yang patah. Dion tidak menutup mata. Dia membiarkan kepalanya miring ke samping, lalu kembali menghadap Fanya.
"Maaf," ucap Fanya otomatis, terengah, dan tangannya yang tadi menampar gemetar di udara. Lalu dia terdiam, menyadari apa yang baru saja dia katakan, dan wajahnya berubah. "Nggak. Aku nggak mau minta maaf."
"Kamu nggak perlu."
"Aku nggak mau minta maaf buat itu."
"Iya."
Hujan makin deras. Petir menyambar lebih dekat, dan Fanya tersentak, bahunya terangkat, tangannya refleks mencari sesuatu untuk dipegang. Dion menggerakkan tangannya setengah. Fanya menatap tangan itu, lalu menatap Dion, lalu menarik tangannya sendiri ke dada dan menggenggamnya erat.
"Kakak bilang," katanya, dan suaranya pecah, "di telepon, malam itu, waktu Kak Udin sama Mbak Siti. Kakak bilang, 'Kakak nggak akan macam-macam sama kamu sampai kita nikah'. Aku nangis, Kak. Aku nangis karena lega. Aku pikir Kakak laki-laki yang bisa kupegang janjinya."
Dion tidak menjawab.
"Hari itu juga, kan? Hari yang sama?" Fanya mencondongkan tubuh, dan pertanyaan itu lebih tajam daripada tamparan tadi. "Sebelum Kakak telepon aku. Atau sesudahnya. Kakak dari mana waktu itu?"
"Dari apartemen Tante."
Fanya memejamkan mata rapat-rapat. Air mata akhirnya lolos, satu garis lurus di pipi kanan, lalu dia menyekanya kasar dengan punggung tangan seakan malu pada benda sekecil itu.
"Uangnya?" tanyanya parau. "Dari Tante?"
"Semuanya dari Tante. Tabungan Kakak sendiri sudah habis dari lama. Kakak catat tiap rupiah di buku. Kakak anggap pinjaman, mau Kakak kembalikan semua."
"Pinjaman. Dari tanteku." Fanya tertawa pendek, sama sekali tanpa humor. "Pantas Kakak tiba-tiba bisa bayar kuliah."
"Iya."
"Pantas trading Kakak nggak pernah ada aplikasinya."
"Iya."
"Abang tahu?"
Dion menatapnya. Tidak ada gunanya berbohong lagi. "Sejak Senin. Dia kasih Kakak tenggat sampai malam ini. Kalau Kakak belum bilang, dia yang bilang."
"Senin malam dia telepon aku," gumam Fanya, nyaris untuk dirinya sendiri. "Bilang 'jaga diri baik-baik, Nya'. Aku merinding. Ternyata ..." Dia menggeleng. "Semua orang tahu. Semua orang tahu, kecuali aku."
"Awalnya demi uang, Dek." Dion tidak mengalihkan tatapan, meski dadanya serasa diremas. "Kakak nggak mau cari alasan. Kakak bilang ke diri Kakak sendiri: sebentar saja, sampai lulus, sampai uangnya cukup. Lalu terjerat. Lalu Kakak mau berhenti, dan Kakak tahu sudah terlambat. Tapi Kakak mau berhenti, Dek. Kakak nggak pernah bohong soal itu."
"Semua yang lain bohong."
"Iya."
"Cuma yang itu jujur?"
"Kakak nggak minta kamu percaya."
Fanya berdiri. Dia mengambil payungnya, memegangnya sebentar, lalu menaruhnya lagi di bangku. Seolah benda itu bukan miliknya. Di luar, hujan memukul-mukul atap. Wajahnya sudah tak berwarna.
"Uang ongkos Kakak," bisiknya, "masih di dompetku. Aku kira jimat."
"Dek ..."
"Jangan panggil aku begitu." Dia berbalik, dan bahunya tegak dengan cara yang menyakitkan untuk dilihat, bahu seseorang yang memaksa dirinya tetap lurus. "Jangan ikuti aku."
Dion bangkit. "Aku antar. Hujan ..."
"Kubilang jangan."
Fanya melangkah keluar dari bawah atap. Hujan langsung menyergapnya, membasahi rambut, bahu, punggung. Dia tidak berlari dan tidak menoleh. Dia berjalan menjauh di sepanjang trotoar yang tergenang, kecil dan mungil di bawah langit hitam, dan setiap kali petir menyambar, bahunya terangkat, tetapi langkahnya tidak berhenti.
Dion berdiri di ambang pos dengan satu tangan terulur ke udara kosong. Di bangku, payung biru itu tergeletak, masih basah.