Fanya keluar dari gerbang fakultas tepat pukul tiga, dan bahkan dari seberang jalan Dion bisa melihat betapa cerah wajahnya. Tas ransel kecil di punggung, rambut diikat tinggi yang ujungnya melambai kena angin. Dia melihat motor Dion, melambaikan tangan seperti anak kecil yang melihat ayahnya di pintu sekolah, lalu menyeberang tanpa melihat kanan-kiri sampai Dion setengah berteriak, "Dek! Lihat jalan!"
"Maaf, Kak! Maaf banget!" Dia menyeberang berlari kecil, napasnya terengah. "Aku terlalu senang." Lalu langkahnya melambat, dan senyumnya turun setengah. "Kak. Itu kenapa?"
Tangan Dion otomatis naik ke rahang kirinya. Lebam kebiruan di sana jelas terlihat, dan sekalipun dia sudah menutupnya dengan bedak titipan Gilbert yang ternyata terlalu terang, sepasang mata yang teliti tetap bisa menemukannya.
"Kena bola," jawab Dion. "Basket. Si Jovian."
"Jovian jago basket, ya?"
"Jago sekali. Sampai bolanya salah arah."
"Ya ampun." Fanya meringis, menyentuh pipinya sendiri seakan rasa sakit itu ikut menjalar. "Sakit nggak, Kak?"
"Sedikit." Dion menurunkan tangan. "Ayo makan."
Bohong kecil, batinnya. Dia mengumpulkannya satu per satu seperti recehan, dan tidak pernah berhenti bertanya kapan receh itu akan dihitung.
"Senang kenapa tadi?" tanyanya, mengalihkan.
"Nanti aku ceritain di tukang bakso. Ayo, ayo."
Mereka sampai di warung tenda biru di pinggir jalan yang sama seperti dulu, dengan bangku panjang yang kakinya tidak rata dan gerobak yang berasap tebal. Abang bakso sudah hafal pesanan mereka tanpa ditanya: dua mangkuk, satu tanpa seledri, satu dengan sambal yang lebih banyak daripada kuah. Fanya langsung menyendok sambal ke mangkuknya, satu sendok, dua, tiga, empat.
"Dek."
"Hm?"
"Itu banyak banget."
"Aku lagi pengin pedas." Sendok kelima masuk. "Kak, tahu nggak, tadi pagi Papah telepon aku."
Dion menaruh sumpitnya. "Papah?"
"Diam-diam, dari kamar mandi. Papah nelepon dari kamar mandi, Kak, kayak anak SMP." Fanya tertawa kecil sambil mengaduk. "Katanya, 'Nya, salam buat anak muda yang nyuci kemejanya sendiri.' Itu aja. Terus ditutup. Aku sampai duduk di lantai kamar mandi, nggak bisa berdiri saking girangnya."
Dada Dion mengencang. Kalimat itu terdengar lembut sekali, dan dia merasa ditikam dengan bulu.
"Papah bilang begitu?"
"Iya! Mama nggak tahu. Dan Kak, aku rasa ... aku rasa Papah nggak seburuk yang kukira. Dia diam saja kemarin bukan karena setuju sama Mama. Dia cuma lelah." Fanya menyuap kuah, lalu mengernyit karena kepedasan. "Aduh. Kak, tolong, air."
Dion menyodorkan es teh. Fanya meneguknya sampai habis, wajahnya merah sampai telinga, dan dia mengipasi lidahnya dengan tangan sambil tertawa dan terbatuk-batuk sekaligus. Air matanya mengalir karena pedas, dan di antara cegukan dia berkata, "Maaf ya, Kak, aku jadi malu-maluin."
"Kamu nggak malu-maluin."
"Maaf, ya. Aku makan kayak orang ... maaf."
"Dek, berhenti minta maaf buat sambal."
"Maaf. Eh." Fanya menutup mulutnya sendiri, dan keduanya tertawa. Hanya sebentar. Tawa Dion terasa seperti kaca tipis yang diinjak.
Fanya menurunkan tangan dari mulutnya, lalu memandang mangkuk. "Kak, kemarin Abang telepon aku. Aneh banget. Dia nanya aku lagi apa. Dia nggak pernah nanya aku lagi apa. Terus dia diam lama. Terus dia bilang 'jaga diri baik-baik, Nya'. Aku sampai merinding."
"Mungkin dia rindu."
"Abang? Rindu?" Fanya mendengus. "Abang nggak punya organ buat itu."
Dion tertawa lagi, kali ini lebih parah. Perutnya terasa seperti ditinju dari dalam.
"Kak," kata Fanya, setelah beberapa detik. Dia memain-mainkan sedotan di gelasnya. "Aku masih simpan ongkos ojek yang waktu itu Kakak tolak. Uang pertama itu. Yang di pos polisi."
Sumpit di tangan Dion terasa lebih berat.
"Aku nggak tahu kenapa aku simpan. Awalnya karena sebal Kakak nolak. Terus jadi ... kayak jimat." Dia tersenyum malu. "Kakak masih ingat waktu hujan, waktu petir, aku pinjam jaket hijau Kakak?"
"Masih."
"Jaket itu bau bensin dan sabun cuci murah. Tapi hangat banget. Aku mikir, 'Ini orangnya.'" Fanya menunduk. "Aku nggak pernah bilang itu, ya? Maaf, aku jadi kebanyakan ngomong."
Dion tahu saat itu akan datang, sama seperti dia tahu kapan kereta sedang mendekati stasiun. Kakinya meremas rumput liar di bawah bangku. Dia sudah membuka mulut. Kalimat itu sudah tersusun: Dek, ada yang harus Kakak bilang. Kali ini sungguhan.
"Kak," Fanya mendahului. Dia menggenggam tangan Dion di atas meja, jari-jarinya hangat dan basah oleh es teh. "Aku tahu aku mungkin cerewet. Dan aku tahu hidup Kakak lagi berat. Aku nggak minta Kakak jelasin semuanya. Tapi ..." Matanya naik, jernih, tanpa curiga. "Aku siap dengar apa pun dari Kakak. Apa pun. Kecuali kebohongan."
Hening. Abang bakso mengetuk mangkuk dengan sendok, di kejauhan.
"Itu aja," tambah Fanya, tersenyum. "Cuma itu syaratku."
Semua yang sudah tersusun di mulut Dion jatuh dan pecah.
"Kakak ngerti," katanya. Suaranya terdengar seperti milik orang lain.
**
Pukul sebelas malam, Dion sudah memasukkan tiga potong kaus, satu celana, dan sikat gigi ke dalam tas ransel. Dia berdiri di tengah kamar dengan tas tergantung di satu bahu, memandang kamar sempit itu seolah mengucapkan selamat tinggal.
Pintu terbuka tanpa diketuk.
"Mau ke mana?"
Ernest berdiri di ambang dengan jaket tipis dan rambut acak-acakan. Di belakangnya Udin berdiri dengan sarung dan koko, jelas dijemput langsung dari tempat tidur. Jovian menyembul dari sisi lain, memeluk bantal.
"Pulang kampung," jawab Dion. "Sebentar."
"Kabur."
"Bukan kabur ..."
"Namanya kabur, Yon." Ernest masuk, mengambil tas dari bahu Dion dengan satu gerakan halus, dan meletakkannya di lantai. "Gue nunggu lu seharian. Gue tahu lu bakal begini."
"Gue nggak sanggup, Ernest. Hari ini dia bilang syaratnya cuma satu. Cuma satu! Jangan bohong. Dan gue ..."
"Gue tahu."
"Gue baru aja bohong sambil makan bakso."
Udin melangkah maju. Biasanya Udin yang paling diam di antara mereka, yang bicara pelan dan bijak seperti ustaz kecil. Malam ini suaranya lebih pelan lagi, dan itu justru membuat semua orang menahan napas.
"Dulu gue juga ngemas tas," kata Udin. "Gue kabur ke kampung. Gue pikir kalau gue jauh, masalahnya ikut jauh. Tahu hasilnya? Siti nunggu di minimarket sendirian. Nggak ada yang jemput. Dia nangis di trotoar sampai Fanya nemu dia." Dia menatap Dion lurus. "Kabur nggak pernah menyelesaikan apa pun. Cuma mindahin tempat sakit."
"Gue nggak tahu mau mulai dari mana."
"Mulai dari mana pun yang lu bisa," kata Ernest. "Di mana lu mau ngomong? Kafe? Kost? Rumah Tante?"
Dion terdiam lama. Dia memikirkan tempat yang tidak tepat di mana-mana, dan satu tempat yang terlalu tepat.
"Pos polisi bekas," katanya. "Yang di pinggir jalan dekat kampus. Tempat kita berteduh pertama kali."
Jovian mengangkat bantalnya sebagai tanda ikut bicara. "Itu tempat yang romantis banget buat ngaku dosa."
"Jov."
"Maaf."
Dion mengambil ponsel dengan tangan yang tidak dia percayai. Jarinya mengetik lambat. Untuk Fanya: Dek, besok sore jam empat, pos polisi bekas, tempat kita berteduh dulu. Ada yang mau Kakak ceritakan. Penting.
Dia menekan kirim sebelum sempat membaca ulang. Tak lama, balasan masuk: Siap, Kak! Kakak nggak apa-apa? Aku bawa payung, katanya besok mau hujan.
Dia memejamkan mata sebentar.
Kemudian pesan kedua, kepada nama yang kini berada di bawah Fanya: Besok saya akan bilang semuanya ke Fanya. Tante berhak tahu lebih dulu.
Layar menunjukkan dua centang biru dalam hitungan detik. Titik-titik tanda mengetik muncul, hilang, muncul lagi, lalu padam.
Tidak ada balasan.