Senin siang, Dion keluar dari gedung fakultas dengan tas selempang di satu bahu dan dua jam kuliah yang tidak dia dengar sepatah kata pun. Langit mendung tipis. Tangga beton di sisi parkiran, yang biasa dipakai mahasiswa untuk merokok dan membicarakan dosen, sepi karena jam makan siang.
Dia baru menuruni anak tangga keempat ketika sebuah tangan mencengkeram kerah belakang kausnya.
Dion tidak sempat menoleh. Tubuhnya diputar setengah lingkaran, punggungnya menghantam dinding beton yang dingin, dan di depan matanya sudah ada wajah Farish, dekat sekali, rahangnya mengeras, bola matanya lebih gelap daripada yang pernah Dion lihat.
"Dia tanteku."
Bukan pertanyaan. Dion hanya sempat menarik napas.
Pukulan itu datang sekali. Tinju kanan, langsung ke sisi kiri rahangnya. Dunia berputar setengah detik, bunyi dengung masuk ke telinga, rasa besi memenuhi mulut. Tas Dion jatuh. Dia terhuyung dan bertumpu pada dinding, tapi dia tidak mengangkat tangan. Tidak membalas. Tidak menangkis. Tubuh yang pernah mengalahkan tiga orang dalam kerumunan itu berdiri diam seperti papan.
"Lawan," desis Farish. "Lawan saya, bangsat."
"Tidak."
"Lawan!"
"Kamu berhak," kata Dion, dan darah menetes ke dagunya dari sudut bibir. Dia menyekanya dengan punggung tangan. "Satu lagi kalau perlu. Saya tidak akan angkat tangan."
Farish menatapnya. Napas lelaki itu naik turun cepat, dan Dion melihat tinju kanannya mengepal, membuka, mengepal lagi. Lima detik. Sepuluh detik. Sebuah burung gereja hinggap di pagar parkiran dan terbang lagi.
"Sejak kapan?" Suaranya serak.
"Sesudah saya jadian dengan Fanya." Dion menelan darah. "Saya ketemu dia di tempat olahraga. Waktu itu saya tidak tahu dia siapa. Saya tidak tahu dia tante Fanya. Saya baru tahu waktu akad Udin, waktu Fanya memperkenalkan saya ke dia di ruang tengah."
"Saya lihat kamu pucat waktu itu."
"Iya."
"Tiap malam Fanya cerita tentang kamu." Suara Farish bergetar, dan baru sekarang Dion menyadari betapa keras dia menahannya sejak tadi. "Dia bilang, 'Abang, Kak Dion itu jujur. Dia pernah ngembaliin dompet orang di terminal.' Dia bilang dia nggak pernah ketemu orang sejujur itu. Dia bilang begitu dengan mata berbinar, Dion. Di meja makan, di depan Mama."
Dion tidak punya jawaban untuk itu. Dia hanya menunduk.
"Kamu tidur dengan tante saya."
Itu pertanyaan atau pernyataan, Dion tidak yakin. Dia memutuskan menjawabnya sebagai keduanya. "Iya."
Farish memejamkan mata dan menarik napas panjang yang gemetar. Saat membukanya, kemarahan itu tidak hilang, tapi ada lapisan baru di atasnya: sesuatu seperti kekecewaan seorang abang yang mengira dia sudah menjaga adiknya dengan benar.
"Uang?"
"Ada. Semuanya saya catat. Saya tidak pakai untuk diri sendiri kecuali yang sudah saya jelaskan di buku. Sisanya ada di rekening terpisah. Semua mau saya kembalikan."
"Dan kamu pikir itu cukup?"
"Tidak." Dion menatapnya. "Saya tidak pikir itu cukup, Farish. Saya cuma pikir itu langkah pertama."
"Kamu menjual diri," kata Farish pelan, hampir kepada dirinya sendiri, "ke tante saya."
"Awalnya saya menjual diri. Lalu saya berhenti. Atau ... saya sedang berusaha berhenti."
Farish tidak membalas. Dia membungkuk, memungut tas Dion dari lantai beton, menepuk debunya sekali, lalu menyodorkannya. Gerakan itu begitu kontras dengan pukulan tadi sampai Dion hampir tidak tahu apakah dia dihina atau diberi pengampunan.
Dion menerima tasnya.
"Ada satu hal lagi," katanya. "Foto itu. Adelia minta sepuluh juta supaya tidak mengirim. Sabtu malam minggu lalu dia mengirim juga, meski saya menolak bayar. Ada percakapannya, Mawar menyimpannya."
Farish berdiri sangat diam. Dion mengira dia akan bertanya sesuatu, tetapi wajahnya tak berubah sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang mengepal di sisi tubuh, lebih erat daripada tadi, dan urat di punggung tangan kanan terlihat jelas.
"Kenapa kamu bilang ini?" tanyanya akhirnya.
"Karena kamu berhak tahu. Walau mungkin kamu lebih suka tidak."
Farish tidak menjawab. Angin meniup debu dari parkiran dan membuatnya mengerjapkan mata sekali. Ketika dia bicara lagi, suaranya sudah kembali datar seperti papan tulis.
"Rabu malam."
"Maaf?"
"Kamu punya sampai Rabu malam. Kamu bilang sendiri ke Fanya, dari mulutmu, apa yang kamu bilang ke saya hari ini. Kalau sampai Rabu malam kamu belum bicara, saya yang bicara. Dan saya tidak akan memilih kata-kata."
"Baik."
"Mama belum saya kasih tahu. Kalau Mama tahu duluan, Fanya habis dua kali." Farish menatap tepat ke mata Dion. "Ini satu-satunya kesopanan yang saya kasih ke kamu, Dion. Jangan sia-siakan."
Dia berjalan menuruni tangga, melewati Dion tanpa menyentuhnya, dan menghilang di antara deretan motor. Dion berdiri sendirian di tangga beton, merasakan rahangnya mulai berdenyut, dan baru kali itu menyadari bahwa tidak ada pukulan yang lebih berat daripada tenggat.
**
"Kornet?" Dion mengangkat alis.
"Kornet," kata Jovian dengan mantap, mengeluarkan kaleng beku dari kantong belanja. "Gue cari es batu, nggak ada. Es krim, habis. Yang beku cuma ini. Tadi gue pegang di freezer warung, dingin banget. Pasti ampuh."
"Itu isi di dalamnya mau dimakan atau dikompres?"
"Dua-duanya."
Kamar kost Dion kembali penuh dalam sejam sejak dia pulang dengan bibir pecah. Ernest menekan handuk basah ke rahang Dion dengan tangan yang gemetar karena menahan marah, Udin duduk di lantai dengan wajah kelabu, Gilbert berdiri di pojok memegang kantong plastik berisi obat merah yang entah akan dia pakai pada siapa. Kaleng kornet beku itu akhirnya dibungkus handuk kecil dan ditempel di pipi kiri Dion, dingin sampai menusuk.
"Ssh. Pelan-pelan, Jov!"
"Kan pelan!"
"Kalengnya kena tulang!"
"Tulang lu sendiri yang keras!"
Udin mengusap wajahnya. "Dia kasih sampai Rabu?"
"Rabu malam."
"Dua hari." Ernest berhenti menekan handuk. "Dan lu masih mau nunda, padahal kemarin lu datang ke apartemen Sanny bawa bubur?"
"Gue nggak tahu, Ernest."
"Lu harus ngaku, Yon."
"Gue tahu."
"Terus kenapa lu masih diam?"
Dion mengambil kaleng kornet dari pipinya dan menatapnya seolah kaleng itu akan memberi jawaban. "Karena gue masih pengecut. Dua hari lagi."
"Dua hari buat apa?"
"Buat jadi lebih berani. Atau lebih pengecut, gue belum tahu."
Hening. Ernest menaruh handuk di meja dan duduk di tepi kasur, kedua tangan menggantung di antara lutut.
"Bayangin kalau Farish yang ngomong," kata Udin pelan. "Fanya dengar 'Dion tidur sama tantenya' dari mulut abangnya, di ruang tamu, di depan Mama. Kejadian itu nggak bisa ditarik lagi, Yon. Sekali kata itu keluar dari mulut orang lain, versi lu nggak laku."
"Gue tahu."
"Lu tahu, tapi lu belum percaya."
"Din ..."
"Gue pernah di posisi lu. Kabur ke kampung, pura-pura nggak ada." Udin menatap Dion tanpa marah. "Siti nggak butuh gue yang sempurna. Dia cuma butuh gue yang datang. Fanya juga begitu."
Ernest mengangguk pelan, tidak sependapat dan tidak membantah. Gilbert, yang sejak tadi diam, memberanikan diri bertanya kecil, "Boleh gue makan kornetnya sekarang?"
"Gil."
"Cuma nanya!"
Ponsel Dion bergetar di atas meja. Dia melirik layar, dan jantungnya melorot sebelum dia membaca isinya.
Fanya: Kak, besok aku pulang kuliah jam tiga. Makan bakso lagi, yuk? Aku kangen.