Petugas keamanan di lobi apartemen itu masih orang yang sama. Dion mengenali kumis tipisnya sebelum wajahnya, dan lelaki itu mengenali Dion lebih cepat dari yang dia inginkan.
"Lantai dua puluh satu lagi, Mas?" Dia menyorongkan buku tamu tanpa menunggu jawaban. "Ibu Sanny nggak ada tamu hari ini. Tadi pagi katanya kurang enak badan. Saya sendiri yang antar bubur."
"Terima kasih, Pak."
"Bawa apa itu?"
Dion mengangkat kantong plastik di tangan kirinya. "Obat demam. Sama bubur."
"Wah, dobel dong." Petugas itu tersenyum ramah, menandatangani sesuatu yang Dion tak lihat. "Naik saja. Lift sebelah kanan lebih cepat."
Dion naik. Sepanjang tiga puluh detik di dalam kotak besi yang mendengung, dia menatap pantulan wajahnya sendiri di dinding stainless: mata yang kurang tidur, rahang yang mengeras, dan kantong plastik berisi obat dan bubur yang digenggam seperti benda bukti. Pesan tadi malam masih menyala di kepalanya. Aku sakit. Datang, atau aku bilang ke Fanya. Dia tidak datang karena takut. Dia hampir yakin tentang itu. Dia datang karena ingin menutup semuanya sekali dan untuk selamanya, di tempat yang paling tidak dia suka.
Pintu unit itu berwarna abu-abu tua dengan nomor emas di tengahnya. Dion menekan bel satu kali. Terdengar langkah lambat, seret, dan pintu terbuka dengan rantai masih terpasang.
Sanny berdiri di sela pintu dengan daster putih dan rambut yang tidak disisir. Wajahnya tanpa riasan, pucat, dengan bibir kering dan mata yang sedikit bengkak. Kali ini Dion melihat wanita itu tanpa topeng, dan yang dia lihat bukan wanita glamor yang membuatnya gentar di ruang makan, melainkan seseorang yang kelihatan lima tahun lebih tua dan sangat sendirian.
"Kamu datang," bisik Sanny.
"Aku bawa obat, Tante. Sama bubur." Dion mengangkat kantong plastik itu. Dia tidak melangkah maju. "Aku taruh di sini." Kata "saya" yang dia latih di tangga lenyap begitu dia melihat wajah pucat itu.
"Masuk dulu."
"Aku tidak masuk."
Sanny menatapnya. Rantai pintu berdenting ketika dia menarik napas. "Sebentar saja, Zayn."
"Namaku Dion, Tante. Dari tadi."
Hening. Dari dalam unit terdengar bunyi kulkas yang menyala. Sanny melepas rantai, membuka pintu lebih lebar, dan bersandar pada kusen dengan tubuh lunglai.
"Aku benar-benar sakit," katanya. "Bukan bohong. Demam sejak kemarin malam. Tidak ada yang tahu."
"Pembantu Tante? Pengasuh Kirana?"
"Mereka di rumah. Aku bilang aku menginap di rumah teman." Sanny tersenyum tipis, dan senyum itu hampir lebih menyedihkan daripada tangisan. "Sudah lama aku punya banyak teman di mana-mana. Yang bisa disebut kalau diperlukan."
Dion meletakkan kantong plastik itu di lantai, tepat di ambang pintu, sehingga untuk mengambilnya Sanny harus membungkuk. Dia sendiri mundur selangkah.
"Parasetamol dua kali sehari. Buburnya dari warung depan, aku nggak tahu Tante suka atau nggak."
"Aku suka apa pun yang dibawa orang yang peduli."
"Aku peduli karena Tante sakit," kata Dion pelan, "bukan karena ancaman. Dua hal itu beda."
Ponsel di tangan Sanny bergetar. Layar menyala. Dion tak bermaksud melihat, tetapi nama yang berkedip di sana terbaca jelas: Aaron. Foto kecil seorang pria pirang dengan anak perempuan di bahunya, tertawa di tepi pantai.
Sanny menatapnya lama, tanpa mengangkat. Ponsel itu bergetar sepuluh kali, dua belas, lalu berhenti. Dia mematikan layarnya dengan ibu jari.
"Dia telepon tiap Minggu jam segini," ujarnya datar. "Tanya Kirana sudah makan atau belum. Kirana sudah mandi atau belum. Kirana ..." Suaranya mengecil. "Aku tidak pernah ditanya. Tiga bulan sekali dia pulang, dua minggu di rumah, sisanya aku bicara pada dinding yang mahal. Kemarin Kirana nanya, 'Mama, Papa kapan pulang?' Aku bilang sebentar lagi. Aku bilang begitu sudah dua tahun."
Dion tidak menjawab. Banyak kalimat yang bisa dia pilih, dan semuanya terasa tidak adil. Salah, tentu saja. Sanny salah. Tapi melihat wanita itu berdiri dengan daster kusut di ambang pintu, dengan nada yang bukan lagi nada menyerang, Dion merasakan sesuatu yang tidak ingin dia namai. Iba, mungkin. Dan dia tahu, iba adalah jalan paling pendek untuk kembali masuk ke tempat yang sama.
"Kalau Tante mau bicara, bicara sama Aaron," katanya. "Bukan sama aku."
"Dan bilang apa? Bahwa aku bosan, jadi aku membeli seorang anak laki-laki untuk menemaniku?"
Kata-kata itu menampar. Dion membiarkannya. "Mungkin."
"Kamu kejam."
"Aku jujur, Tante. Dulu aku bukan lelaki jujur. Sekarang aku sedang belajar."
Sanny tertawa, getir. "Kalau aku tidak mengancam, kamu tidak akan datang."
"Tante benar."
Jawaban itu jatuh pelan di antara mereka, dan Sanny menutup matanya sebentar, seakan menerima sesuatu yang selama ini dia duga.
"Aku akan kirim semuanya balik," lanjut Dion. "Pelan-pelan. Rekeningku sudah dipisah, ada yang pegang bukunya. Tante boleh nggak menerima. Aku tetap kirim, sampai Aaron sendiri yang bilang cukup."
"Jangan bawa-bawa Aaron."
"Aku nggak membawa. Aku cuma tahu dia ada." Dion menunduk sedikit. "Cepat sembuh, Tante."
Dia berbalik. Pintu di belakangnya tidak menutup sampai dia berada di ujung lorong, dan ketika akhirnya terdengar klik pelan, dia tak menoleh.
**
Di lobi lantai bawah, di balik tiang marmer yang pas-pasan menyembunyikan satu orang, Farish mengikuti lampu penunjuk lift dengan matanya. Sejak pukul tujuh pagi dia duduk di mobilnya di tikungan dekat kost Dion, tidak sarapan, tidak menyetel radio, hanya menatap pagar kecil itu seperti menatap lubang tikus. Ketika Dion akhirnya keluar dan berhenti di apotek, dia hanya membuntuti dari jauh. Dia sendiri tidak yakin apa yang dia harapkan: bertemu seorang wanita bertopi di pintu keluar, atau tidak bertemu siapa-siapa dan bisa pulang dengan tenang.
Ketika Dion masuk lobi dengan kantong plastik berisi obat, dia memilih tiang itu dan menunggu.
Lift berdenting. Dion keluar dengan kepala tertunduk dan tangan kosong, melewati meja petugas tanpa menoleh, menembus pintu kaca, dan lenyap ke arah parkiran. Farish menunggu sampai bunyi motor itu menjauh.
Baru dia melangkah ke meja petugas.
"Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu." Suaranya sopan. "Mas yang barusan naik, yang bawa kantong obat, ke unit berapa, ya?"
Petugas itu mengangkat alis. "Mas keluarga?"
"Teman. Saya salah satu yang ... menyusul."
"Oh." Lelaki itu mengangguk, menutup bukunya, dan dengan keramahan orang yang senang dimintai informasi, dia menjawab, "Lantai dua puluh satu, Mas. Tamu Ibu Sanny Shilby. Beliau nggak enak badan, katanya. Mas itu bukan pertama kali ke sini, kok, sering. Kalau mau saya hubungi unitnya ..."
"Sanny Shilby."
"Ya, Mas. Pemilik unit dua puluh satu nol tiga."
Farish tidak menjawab. Dia berdiri mematung di depan meja marmer, dengan tangan yang masih terjulur setengah, seakan lupa apa yang hendak dia raih. Nama itu bergulir di kepalanya. Sanny Shilby. Bukan Sashi, panggilan di kalangan keluarga. Ini nama yang tertera di kartu undangan pernikahan Tante, dan di kartu keluarga yang dulu dia lihat sepintas di laci ibunya.
Tantenya.
"Mas?" tegur petugas. "Mau saya hubungi unitnya?"
Farish menurunkan tangannya perlahan.
"Tidak usah, Pak," katanya. "Terima kasih. Saya sudah tahu."