Dion tiba di parkiran kampus pukul delapan lewat dua puluh, empat puluh menit sebelum waktu yang ditentukan, dengan alasan yang masuk akal bagi orang gugup: kalau dia mati, dia ingin mati dalam keadaan tidak terlambat.
Hari Sabtu membuat kampus kosong seperti panggung sesudah pertunjukan. Beberapa motor terparkir miring, seorang tukang kebun menyapu daun ketapang di pojok, dan di kejauhan terdengar bunyi bola basket yang dipantulkan oleh seseorang yang rajin. Dion bersandar pada motornya, melipat tangan, melepaskannya, melipat lagi. Dia sudah menyiapkan tiga versi jawaban, dan semuanya terasa sempit di mulut.
Mobil hitam itu masuk pukul delapan lima puluh sembilan. Farish keluar tanpa tergesa, mengunci pintu, dan berjalan mendekat dengan langkah teratur, tiap langkah sama panjang. Dia mengenakan kaus yang sama dengan kemarin, atau yang serupa, dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan apakah dia tidur semalam.
"Pagi," kata Dion.
Farish tidak membalas. Dia mengeluarkan foto yang terlipat dua dari saku, membukanya, dan menyodorkannya ke dada Dion, seolah menyerahkan surat panggilan.
"Siapa dia?"
Dion menatap foto itu. Topi lebar, kacamata hitam, bahu yang dia kenal sampai ke bayangan di bawah dagu. Dia menarik napas dan memanggil jawaban pertama yang sudah dia latih.
"Klien."
"Klien apa?"
"Trading. Saya main saham kecil-kecilan. Dia salah satu yang ... ya, kasih modal, saya kelola."
"Di mal."
"Dia ... ingin ketemu di tempat ramai."
"Sambil bergandengan tangan."
"Itu ... orangnya ramah."
Farish mengangguk pelan, dua kali. Itu bukan anggukan setuju; itu anggukan orang yang mencatat. "Namanya?"
Dion membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.
"Nama klienmu," ulang Farish. "Kamu mengelola uangnya, kamu pasti tahu."
Angin menggerakkan daun-daun di pojok parkiran. Tukang kebun menyapu dengan bunyi sret, sret, sret yang tiba-tiba terdengar sangat keras. Dion tahu setiap nama karangan hanyalah satu kebohongan tambahan yang bisa ditelusuri. Dan nama yang benar tidak boleh keluar dari mulutnya, sebab begitu terucap, Farish akan tahu semuanya detik itu juga, dan Fanya akan mendengarnya dari mulut abangnya, bukan dari mulut Dion.
"Saya nggak bisa sebut," katanya akhirnya. "Ada perjanjian."
Farish tidak berkomentar. Dia melipat foto itu lagi, dengan rapi, dan memasukkannya kembali ke saku.
"Kamu tahu kenapa saya tunggu seminggu?" tanya Farish. Suaranya tidak keras, nyaris ramah, dan itu yang membuat bulu kuduk Dion berdiri. "Bukan karena saya sabar. Saya tidak sabar. Orang yang mengenal saya tahu itu."
"Saya tahu."
"Saya tunggu karena wajah di foto itu tidak jelas. Topinya menutup. Kacamatanya hitam. Kalau saya datang dan memukul kamu dengan foto yang begitu, lalu ternyata saya salah, saya bukan cuma salah memukul. Saya salah menuduh. Dan kamu mungkin satu-satunya orang yang dijanjikan adik saya sebagai orang jujur."
Dion menelan ludah. Kata 'jujur' itu seperti jarum yang diselipkan pelan-pelan.
"Jadi seminggu ini saya cari tahu dulu siapa dia," lanjut Farish. "Belum selesai. Tapi ada hal-hal yang tidak cocok sejak hari akad. Cara orang menatap kamu. Cara kamu menunduk. Cara kamu berkata 'saya tahu' di koridor."
"Farish ..."
"Saya tidak menanyakan hal itu sekarang." Farish melangkah setengah langkah ke depan, dan Dion bisa mencium sabun yang bersih di kausnya. "Kalau yang saya curigai itu benar, saya akan menghancurkan kamu. Bukan dengan tinju. Tinju terlalu murah. Dengan cara yang membuat kamu tidak pernah lagi bisa berdiri di tempat yang sama dengan adik saya."
"Kalau itu benar, saya akan biarkan."
Kalimat itu keluar sebelum Dion sempat menimbangnya. Mata Farish menyipit sedikit. Itu satu-satunya perubahan di wajahnya.
"Saya belum bilang apa pun ke Fanya," katanya. "Itu bukan belas kasihan untuk kamu. Itu supaya dia tidak mendengar sesuatu yang setengah matang."
Dia berbalik, berjalan ke mobilnya, membuka pintu, dan sebelum masuk dia menoleh sekali lagi.
"Pikirkan baik-baik apa yang akan kamu katakan kalau saatnya tiba."
Mobil hitam itu keluar dari parkiran perlahan. Dion duduk di jok motornya dan baru sadar kedua tangannya gemetar sampai kunci motor berdenting di gantungannya. Dia menyelipkan tangan di bawah paha supaya berhenti, tetapi getarnya merambat ke lutut. Seminggu menunggu, dan yang datang bukan pukulan, melainkan kesabaran. Dia tak tahu mana yang lebih sulit ditahan.
Tukang kebun mendekat dan bertanya, "Mas, nggak apa-apa? Dari tadi pucat banget."
"Nggak apa-apa, Pak."
"Mau teh? Saya ada termos."
"Terima kasih, Pak." Dion tersenyum, dan senyum itu terasa seperti pinjaman.
**
"Dia bakal seret om gue," kata Gilbert.
Pukul sepuluh, kamar kost Dion kembali penuh, dan kali ini ada yang berdiri di atas kasur. Gilbert, yang wajahnya pucat dari sana ke sini, menjelaskan skenarionya sambil mondar-mandir di atas kasur lipat. "Pertama, dia cari tahu siapa wanita itu. Kedua, dia sadar Dion kerja di klub. Ketiga, dia datang ke klub, nemu om gue. Keempat, om gue nanya, 'Kamu siapa?' Kelima, Farish menyeret om gue ke ..."
"Ke mana?"
"Ke ... ke tempat yang nggak ada WiFi-nya."
"Gil, turun dari kasur."
Gilbert turun. Udin, yang duduk di kursi belajar sambil mengusap wajah, berkata pelan, "Dia nggak bakal seret siapa pun. Dia tipe yang kumpulin bukti dulu."
"Itu lebih menakutkan," komentar Jovian.
"Justru itu." Ernest berdiri di tengah ruangan, dan untuk sekali ini Dion tidak melihat Ernest yang tengil, melainkan ketua genk yang sedang memegang gagang kapal yang goyah. "Dengerin semuanya. Ini sumpah, bukan lelucon. Sampai Dion sendiri yang bicara ke Fanya, nggak ada satu pun dari kita yang buka mulut. Ke Farish, ke Mawar, ke siapa pun. Mawar tahu soal foto, dia nggak tahu soal Tante. Kita biarkan begitu."
"Ernest ..." Udin mengusap tengkuknya. "Itu kayak ... nambah dosa."
"Bukan dosa. Itu menjaga. Biar Dion yang memutuskan kapan dan bagaimana." Ernest menjulurkan tangan, telapak ke bawah. "Taruh tangan kalian."
Ponsel Jovian berbunyi, dan semua kepala menoleh. Jovian membaca layar, wajahnya berubah seperti orang menerima surat dari kampus. "Mawar. Dia nanya, 'Gimana? Aman?'"
"Jawab aman," perintah Ernest.
"Aman, titik."
"Jangan pakai titik, kesannya marah."
"Aman!!!!!!!" Jovian mengetik tujuh tanda seru dengan jari yang bergetar, lalu menatap hasilnya dengan bangga. "Kesannya riang."
"Kesannya panik," koreksi Udin. "Hapus lima."
"Terus kalau dia curiga?"
"Dia sudah curiga dari tadi, Jov." Ernest menghela napas. "Taruh tangan."
Tangan Udin menumpuk pelan-pelan. Gilbert menyusul, gemetar, lalu Jovian dengan semangat berlebihan. Dion, yang terakhir, meletakkan tangannya di puncak tumpukan itu dan merasa seperti sedang menyumpahi sesuatu yang bukan hanya persahabatan.
"Demi apa?" tanya Gilbert.
"Demi Dion."
"Demi om gue," tambah Gilbert.
"Kenapa bawa-bawa om lu?"
"Biar kuat!"
Dion tertawa. Hanya itu yang dia punya. Tawanya hilang sebelum selesai, karena ponselnya bergetar di atas meja.
Malam harinya, ketika genk sudah pulang dan lampu kost padam, layar itu menyala lagi. Nama yang sudah dua belas hari tidak muncul di sana: Sanny.
Satu pesan, pendek. Dion membacanya dua kali sebelum benar-benar mengerti.
Aku sakit. Datang, atau aku bilang ke Fanya.