Ketukan di pintu kost pukul sebelas siang tidak terdengar seperti ketukan Ernest, juga bukan ketukan Mawar. Dion, yang baru tidur tiga jam di atas kasur dengan seragam satpam yang belum dilepas, membuka pintu setengah buta dan menemukan Zain berdiri di lorong dengan kantong plastik berisi dua bungkus nasi.
"Gue nggak masuk kantor," kata Zain, tanpa basa-basi. "Izin sakit. Sakit hati juga sakit, kan?"
"Resmi itu."
"Minggir."
Zain masuk, melepas sepatu di ambang pintu, dan memandang kamar sempit itu dengan alis berkerut: kasur lipat, lemari plastik yang resletingnya macet, rak buku dari bata dan papan, dan di meja belajar buku catatan hitam bertuliskan UTANG yang tidak dia perhatikan lebih lama dari satu kedipan. Dion sempat menahan napas, tetapi Zain hanya membuka bungkus nasinya, duduk bersila di lantai, dan menyerahkan satu pada adiknya.
"Makan. Lu kurus banget, njir."
"Gue nggak kurus."
"Lu kayak jemuran."
Dion duduk di seberangnya. Mereka makan dalam diam. Nasi rames dengan telur balado dan tempe orek, rasanya sederhana sekali, tetapi entah kenapa membuat dada Dion hangat. Di luar, seseorang menyalakan motor dan mengebut. Zain menyuap sesendok besar, lalu bicara tanpa menatap.
"Soal malam itu. Waktu gue pukul lu."
Sendok Dion berhenti di udara.
"Kemarin malam gue lihat gimana rasanya dipermalukan di depan orang. Dan gue baru sadar, waktu itu gue sendiri yang bikin lu merasa begitu." Zain menaruh sendoknya. "Gue pukul lu kebanyakan, Yon. Gue ... ya. Gue nggak bilang ini sering. Maaf."
Dion meletakkan sendoknya pelan-pelan. Banyak sekali yang ingin dia katakan, tetapi yang keluar justru kalimat yang paling pendek. "Gue juga salah, Zain. Soal Jenifer. Waktu itu gue nggak tahu dia pacar lu. Tapi setelah gue tahu pun, gue masih diam dan ngikut. Itu salah gue."
"Jangan lebay."
"Gue serius."
"Gue tahu lu serius. Itu yang bikin gue geli." Zain mengambil tempe orek dari bungkus Dion tanpa izin. "Oke. Kita impas separuh. Separuhnya lagi nanti."
"Separuh yang mana?"
"Yang gue belum mau bahas."
Dion tersenyum tipis. Itu bahasa Zain: kasih setengah, simpan setengah, jangan pernah menyerahkan semua sekaligus.
Pintu diketuk dua kali, kali ini dengan irama yang sangat dikenal, dan sebelum Dion sempat berdiri, Ernest dan Jovian sudah masuk sambil mengobrol.
"... pokoknya kalau dia masih diam, berarti kita tinggal tunggu, Yon, gue sudah ..." Ernest berhenti di tengah kalimat.
Zain menoleh dengan pipi penuh nasi.
Ernest, Jovian, dan Zain saling menatap dalam hening yang cukup panjang untuk menumbuhkan jamur. Genk Rewo-Rewo pernah mendengar nama Zain sebagai tokoh jahat dalam cerita Dion, dan sekarang tokoh jahat itu sedang mengunyah tempe di lantai kamar sahabat mereka.
"Permisi," kata Ernest sopan, mundur satu langkah. "Salah kamar."
"Ini kamar Dion," kata Jovian.
"Bukan, Jov. Salah kamar."
"Tapi ini kamar Dion, tadi lu bilang ..."
"Jovian." Ernest menginjak kakinya, tersenyum pada Zain, lalu menarik temannya mundur sampai ke pintu. "Kami kembali nanti. Oh ya, Bang, selamat siang."
"Siang," kata Zain dengan mulut penuh, dan pintu menutup.
Hening sebentar. Lalu dari lorong terdengar bisikan Jovian yang bukan bisikan, "Dia lebih ganteng dari gue kira! Kenapa lu bilang dia beruang?"
"Gue nggak bilang beruang! Gue bilang singa!"
Zain meletakkan nasinya dan menatap pintu. "Itu temen-temen lu?"
"Iya."
"Pantas lu kurus. Lu pasti ngasih makan mereka juga."
Dion tertawa, dan untuk beberapa detik ruangan itu terasa lapang. Tetapi tawa Zain padam lebih dulu, dan ketika dia menatap adiknya lagi, sorot matanya sudah berubah menjadi yang Dion takutkan sejak malam kemarin: tenang, tajam, dan memperhatikan.
"Yon."
"Hm?"
"Lu jaga klub cuma dua malam seminggu, tapi lu kasih gue lima juta tanpa mikir. Lu pakai jaket kulit yang harganya sama kayak gaji gue sebulan." Zain menyebut itu semua tanpa naik nada, seperti orang membaca daftar belanja. "Dan di laci lu ada jam tangan yang pintunya lu lupa tutup, jam yang nggak bakal dibeli satpam mana pun. Duit lu dari tante-tante?"
Dion menelan nasinya dengan susah payah.
"Gue nggak bodoh, Yon. Waktu di klub tempo hari gue bilang setengah bercanda. Sekarang gue nggak bercanda." Zain mencondongkan badan. "Semalam gue lihat gimana akhirnya cowok yang hidup dari urusan duit sama perempuan. Dan gue bahkan yang bayar, bukan yang dibayar. Lu yang dibayar jauh lebih parah."
"Zain ..."
"Gue nggak minta lu jawab. Gue nggak minta apa-apa." Zain menggeleng, bangkit, dan mengumpulkan sampah bungkus nasi ke dalam kantong plastik. "Gue cuma bilang: berhenti sebelum lu bayar mahal. Percaya sama orang yang baru saja bayar mahal."
Dion membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Tidak ada sanggahan yang bisa dia susun tanpa berbohong, dan dia baru semalam melihat apa yang terjadi pada orang yang berbohong terlalu lama.
"Gue dengar," katanya akhirnya.
"Bagus." Zain memakai sepatunya di ambang pintu. "Besok gue ke rumah simbah. Emak katanya batuk lagi. Kalau lu mau titip sesuatu buat Emak, titip sekarang."
Dion menatap ke lantai. "Salam."
"Salam doang?"
"Salam yang banyak."
Zain mendengus, tetapi tidak berkomentar, dan pergi.
**
Menjelang sore, Dion duduk sendirian di bangku taman fakultas dengan draf skripsi tertutup di pangkuan. Kalimat Zain masih berputar. Lu yang dibayar jauh lebih parah. Dia ingin membantah dan tidak menemukan satu bantahan pun yang jujur; yang ada hanya hitungan sisa utang, sisa waktu, dan seorang kakak yang barusan memanggilnya bodoh dengan nada paling mirip Bapak. Kalau Zain saja bisa melihat sejelas itu, siapa lagi? Mampus gue. Batin Dion.
Angin sore di bawah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning tidak menolong sama sekali. Dia berdiri dan menyusuri jalan setapak menuju parkiran, mengira akan menemukan motornya sendirian di sana.
Ternyata tidak.
Sebuah mobil hitam terparkir di sebelah motornya, dengan pintu terbuka sedikit. Farish berdiri bersandar di sana, kedua tangannya terlipat di dada, mengenakan kaus hitam dan celana jin, wajahnya licin tanpa ekspresi. Di jarinya terselip selembar kertas foto, cetakan kasar dari printer rumah, dengan pinggiran yang sedikit melengkung.
Dion berhenti sepuluh langkah dari sana.
Farish tidak berteriak. Dia tidak mendekat. Dia hanya mengangkat foto itu setinggi dada, memutarnya sedikit supaya Dion bisa melihat sendiri: dirinya dan seorang wanita bertopi, tangan di lengan, kepala sedikit menunduk.
"Saya sudah baca," katanya, datar. "Hampir seminggu."
"Farish, saya bisa jelaskan."
"Saya tahu kamu bisa." Suaranya tidak naik sedikit pun. "Kamu pandai menjelaskan. Makanya jangan sekarang, supaya kamu punya waktu menyusun yang benar."
"Itu ..."
"Besok pagi jam sembilan. Di sini." Farish melipat foto itu dua kali dan memasukkannya ke saku kausnya. Matanya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Dion. "Jangan lari."