Zain tidak bergerak selama hampir setengah menit. Dia berdiri di depan dinding kaca gelap itu dengan kedua tangan di sisi tubuh, dan Dion, yang berdiri setengah langkah di belakangnya, baru sadar betapa jarang dia melihat abangnya diam. Zain yang dia kenal selalu punya komentar. Tentang mobil orang, tentang sepatu orang, tentang motor matic Dion yang katanya lebih cocok jadi pot bunga.
Di balik kaca, Jenifer menuangkan minuman ke gelas si pria berjas dan tertawa pada sesuatu yang diucapkan lelaki itu. Tangannya menepuk dada si pria, dua kali, seperti orang menepuk sofa kesayangan.
"Siapa dia?" Suara Zain datar sekali.
"Gue nggak kenal. Gue lihat dia baru sebentar tadi, masuk bareng Jenifer."
"Tiga jam."
"Zain, mending kita ..."
Zain meraih gagang pintu dan mendorongnya.
"Zain!" Dion menyambar lengannya, tetapi Zain sudah masuk, dan Dion tidak punya pilihan selain ikut, karena dia satpam, dan satpam yang membiarkan keributan di ruang VIP bisa dipecat besok pagi.
Musik di dalam ruangan lebih pelan daripada di bawah, hanya berupa dengung rendah yang membuat gelas-gelas di meja bergetar halus. Jenifer menoleh lebih dulu. Senyum di bibirnya baru turun separuh ketika dia melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, dan separuh sisanya berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.
"Zain," katanya. "Apa-apaan ini?"
"Gue yang tanya." Zain melangkah masuk. "Ini siapa, Jen?"
"Bukan urusan kamu."
"Bukan urusan gue?" Suara Zain naik setengah nada. "Gue yang ..."
"Jen, siapa anak ini?" tanya si pria berjas, tanpa bergeser dari sofa. Dia memandang Zain dari atas ke bawah dengan keangkuhan orang yang terbiasa dilayani, matanya berhenti sebentar pada kemeja kantor yang kusut.
"Cuma anak kantor yang kebetulan masih bayar cicilan," kata Jenifer ringan. Dia bahkan tidak menurunkan gelasnya. "Dia pikir dia pacarku."
Dion mendengar Zain menarik napas, satu tarikan pendek yang tertahan.
"Kamu ..." Zain menelan. "Mobil itu. Apartemen itu."
"Kenapa? Kamu mau minta dikembalikan?" Jenifer tertawa. "Zain, Sayang, aku tidak pernah minta apa pun darimu. Kamu sendiri yang bilang, 'Jen, biar aku yang urus'. Kamu yang mau pamer jadi pacar orang kaya. Aku cuma menikmati yang ditawarkan."
"Cicilannya ..."
"Itu cicilan kamu, bukan cicilanku. Atas namamu, dibayar dari gajimu." Dia menyesap minumannya, lalu menatap Zain tepat di mata, dan nada manisnya mengeras jadi pisau. "Dan aku tidak pernah mencintaimu. Pernah dengar cerita tentang laki-laki yang kebanyakan berharap?"
Hening. Pria berjas berdeham dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Zain memandang Jenifer lama sekali. Kemudian tangannya menghantam meja kaca di depan sofa, bukan dengan pukulan yang direncanakan, melainkan dengan telapak yang terbuka, dan bunyinya seperti tembakan kecil. Dua gelas terguling. Botol minuman bergulir ke tepi dan jatuh ke karpet tanpa pecah.
"Hei!" Pria berjas berdiri, tersinggung. "Satpam!"
"Saya, Pak." Dion maju satu langkah, mengangkat kedua telapak tangan, setengah membungkuk. "Mohon maaf, Pak. Saya antar keluar. Tidak akan ada keributan lagi."
Zain sudah berbalik. Matanya merah, tetapi tidak ada air di sana, hanya kemarahan yang menyala tanpa arah. Dia berjalan keluar, melewati Dion tanpa menoleh, dan membanting pintu yang tidak bisa dibanting karena engselnya hidrolik. Pintu itu menutup pelan sekali.
"Maaf, Pak." Dion menunduk sekali lagi ke arah pria berjas. "Selamat malam."
Jenifer menatapnya. Sorot matanya tajam, seakan hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia memilih menyesap minumannya lagi.
**
Dion mengejarnya sampai di tangga bawah. Zain berjalan cepat dengan bahu kaku, melewati rekan jaga yang menatap mereka dengan alis terangkat, melewati parkiran, melewati mobil merahnya sendiri tanpa menoleh, dan terus ke trotoar. Dion mengikuti dua langkah di belakang, dengan seragam satpam dan perasaan seperti membuntuti orang yang sedang terluka.
"Bang!" panggilnya, dan baru setelah mendengar suaranya sendiri dia sadar kata itu keluar tanpa disengaja. "Zain!"
Zain berhenti di depan sebuah warung kopi pinggir jalan yang masih buka hampir tengah malam, di bawah terpal biru dengan lampu bohlam yang dikerubungi laron. Radio kecil di dalamnya memutar dangdut dengan volume terlalu rendah untuk dinikmati, terlalu tinggi untuk diabaikan. Penjualnya seorang ibu bersanggul yang menatap mereka berdua tanpa bertanya.
"Kopi dua, Bu," kata Dion.
Zain duduk di bangku panjang, menatap ujung sepatunya. Dion duduk di seberang, mengambil jarak. Dua gelas kopi datang bersama sepiring tahu isi yang tak dipesan siapa pun, dan sang ibu pergi tanpa kata, dengan kebijaksanaan orang yang sudah menyaksikan puluhan malam seperti ini.
Hampir sepuluh menit tak ada yang bicara. Lalu bahu Zain bergetar.
"Gue ..." Suara itu patah. Zain menutup mulutnya dengan punggung tangan. Dion belum pernah mendengar abangnya menangis, bahkan di hari simbah wafat. "Gue bayar enam juta sebulan buat mobil itu, Yon. Dan empat juta buat apartemen. Gaji gue tiga belas."
Dion menghitung di kepala dan tidak berkomentar. Tiga juta sisanya untuk makan, bensin, dan pura-pura kaya.
"Gue pikir ... gue pikir kalau gue kasih semuanya, dia bakal tinggal. Gue pikir cewek kayak dia butuh itu." Zain mengusap hidung dengan lengan kemeja. "Makanya gue selalu tongpes. Makanya gue nggak pernah ada duit buat Emak. Gue bilang ke Emak gue lagi nabung, padahal ... padahal gue lagi bayar cicilan buat orang yang bahkan nggak sayang sama gue."
Dion menatap kopi di depannya yang uapnya naik tipis. Banyak kalimat berkumpul di tenggorokannya. Sebagian pahit, sebagian tengil, sebagian pembalasan lama yang sudah bertahun-tahun dia simpan: lu pikir lu paling tahu hidup, Zain. Tapi tak satu pun dia ucapkan. Dia sendiri baru saja menukar harga dirinya dengan uang, hanya saja uangnya masuk lewat pintu yang berbeda.
"Lu pasti ketawa," gumam Zain, tanpa mengangkat kepala.
"Nggak."
"Boleh kok. Gue pantas."
"Gue bilang nggak, Zain."
Zain akhirnya menatapnya. Matanya sembap, hidungnya merah, dan dia terlihat jauh lebih muda daripada pegawai bank yang biasa berdiri tegak di depan teller. Seperti anak yang pernah mengajari Dion naik sepeda dan memarahinya ketika jatuh.
"Kenapa lu manggil gue di klub malam ini?" tanya Zain serak.
"Karena kalau gue yang jadi lu, gue pasti ingin tahu."
Zain tertawa pendek, kering, dan mengusap wajahnya lagi. Dia meraih tahu isi, menggigit sedikit, dan mengunyahnya pelan, seolah baru mengingat cara makan.
"Dulu dia nasabah di bank," katanya, setelah menelan. "Mau buka rekening. Gue bantu isi formulir, dia senyum, dan gue kira itu senyum buat gue." Dia memutar gelas kopi di antara kedua telapak. "Satu aja, Yon. Telepon Emak sekali, lima menit aja. Sesudah itu terserah lu mau ngeblokir kami lagi."
Dion menunduk. Tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir.
"Gue pulang kalau semuanya sudah beres," katanya akhirnya. "Belum sekarang."
"Beres apanya?"
"Nanti, Zain. Nanti gue cerita."
Zain menatapnya sebentar, seperti hendak mendesak, lalu memilih menghela napas saja.
"Dasar bocah," kata Zain pelan. "Ternyata lu bisa berguna juga."
"Dua kopi, satu tahu isi, empat puluh ribu." Ibu bersanggul itu muncul tiba-tiba di sisi meja dengan tangan terbuka. "Yang nangis nggak ada diskon."
Zain dan Dion saling pandang, dan akhirnya mereka tertawa bersamaan, pendek dan canggung, seperti dua orang yang lupa cara melakukannya.
Di luar warung, mobil merah itu masih terparkir miring di bawah lampu jalan, dan seorang tukang parkir sudah mulai melirik karcisnya dengan penuh harap.