Lima hari sudah lewat sejak foto itu terkirim, dan Mawar tidak pernah menanyakannya keras-keras. Tiap kali berpapasan di kantin, dia hanya mengangkat satu alis, dan Dion menjawab dengan gelengan kecil. Sudah? Belum. Senin begitu, Selasa begitu, Rabu begitu. Pagi tadi Mawar meletakkan sepiring pisang goreng di depannya tanpa kata-kata, lalu berlalu dengan wajah seperti petugas pajak yang memberi tenggat tambahan.
"Dia kasih lu gorengan, Yon," bisik Jovian dari kursi sebelah. "Itu tanda cinta atau tanda ancaman?"
"Dua-duanya."
Selama itu Farish belum juga muncul. Dion sudah menghafal rasanya. Tiap kali dia melewati parkiran kampus, tengkuknya dingin. Tiap kali ponselnya bergetar, dia menduga nama Farish. Tiap kali pintu kostnya diketuk, dia mengira itu tinju. Lima hari menunggu petir setelah kilat membuat orang lebih letih daripada petirnya sendiri. Dasar nasib, batin Dion. Ditakut-takuti tanpa dipukul, itu siksaan paling hemat biaya.
Kamis malam, dia berdiri di depan pintu besi club milik om Gilbert dengan seragam satpam yang kerahnya sudah kusut. Bas musik dari dalam membuat tanah bergetar sampai ke sepatunya. Di sampingnya, rekan jaga yang lebih tua sedang menguap sambil menghitung cicak.
Ponselnya bergetar di saku dada pukul sepuluh. Dion menjauh dua langkah, memasang earphone satu telinga, dan menjawab pelan.
"Kakak lagi jaga ya? Berisik banget."
"Iya, Dek. Kamu belum tidur?"
"Mama lagi di ruang tengah sama Tante, jadi aku sembunyi di kamar mandi." Fanya terkikik kecil, tetapi tawanya cepat padam. "Kak, Mama sudah melingkari tanggal tunangan di kalender dapur. Pakai spidol merah. Aku lihat sendiri."
Dion memejamkan mata. "Tanggalnya kapan?"
"Sesudah wisudaku, tapi Mama bilang bisa dipercepat kalau 'ada alasan'. Aku nggak tahu alasan apa. Mama senyum waktu bilang begitu." Napas Fanya terdengar gemetar di antara bunyi keran yang dia nyalakan supaya suaranya tidak keluar. "Aku nggak mau, Kak."
"Kakak tahu."
"Dan Abang Farish dua hari nggak balas chat aku. Biasanya cerewet. Aku tanya Abang kenapa, jawabnya cuma 'sibuk, Nya'. Abang nggak pernah jawab begitu."
Perut Dion terasa dihantam sesuatu yang dingin. Tiga kata sederhana, "sibuk, Nya". Dia bisa membayangkan Farish mengetiknya dengan tinju di sisi tubuh.
"Mungkin lagi banyak tugas," katanya. Telapak tangannya basah di balik ponsel.
"Mungkin." Fanya terdiam sebentar. "Kak, aku takut."
"Kakak ada di sini, Dek."
"Kakak selalu bilang begitu."
"Karena Kakak selalu ada."
Itu kalimat paling jujur dan paling tidak jujur yang pernah dia ucapkan dalam satu tarikan napas. Setelah sambungan terputus, dia berdiri lama menatap layar, sampai rekan jaganya menepuk bahunya.
"Bro, mukamu kayak abis ditagih utang."
"Memang."
"Kalau gitu mending naik. VIP minta orang buat jaga koridor. Di atas lebih sepi, jadi kamu bisa mikir. Atau nangis, terserah. Di atas kamera mati."
"Makasih, Bang."
"Makasihnya kasih kopi aja."
**
Koridor VIP berada di lantai atas, dengan karpet merah anggur yang meredam langkah dan dinding kaca gelap yang memisahkan tiap ruang dari lorong. Dion berdiri di ujung lorong, tangan di belakang, mata ke depan, seperti patung yang kebetulan bisa bernapas.
Pintu VIP nomor tiga terbuka sedikit ketika seorang pelayan keluar membawa nampan kosong. Sekilas, Dion menangkap pemandangan di dalamnya: sofa kulit hitam, botol-botol berbaris, dan seorang wanita berambut lurus hitam panjang yang tertawa genit dengan kepala menyandar ke bahu seorang pria berjas yang jauh lebih tua.
Jenifer.
Dion mengenali tawanya sebelum wajahnya. Tawa itu pernah memanggilnya "Zayn" di apartemen lantai tiga belas, dan dia tahu persis bunyinya. Di jari pria itu melingkar cincin batu hijau sebesar kelereng, dan tangan satunya bertengger di pinggang Jenifer seakan itu miliknya.
Pintu menutup. Dion tetap berdiri dengan wajah datar, tetapi pikirannya bergerak ke tempat-tempat yang tidak dia undang.
Di klub inilah, beberapa minggu lalu, Zain dan Jenifer berdiri berdampingan dan menertawakannya karena kerjanya jaga pintu. Waktu itu Dion mengira mereka sepasang yang serasi. Sekarang dia melihat salah satunya sedang bersandar di bahu orang lain.
Mobil merah itu. Apartemen itu. Zain yang selalu tongpes. Zain yang tiap kali Dion menelepon dulu hanya menjawab "sibuk, Yon", dengan nada orang yang menyimpan sesuatu di dasar kantong.
Dion melirik jam dinding. Kalau dia diam, dia aman. Kalau dia bicara, dia akan jadi orang yang membawa kabar buruk kepada abang yang sudah menghajarnya dulu. Apa urusan lu, Yon? Zain pasti akan bertanya begitu. Dan Dion tak punya jawaban yang bagus, kecuali satu: karena dia abangku.
Dia merogoh ponsel. Jarinya berhenti sebentar di atas nama Zain, lalu menekan.
Nada sambung berdering lima kali. "Apa?" suara Zain malas, jelas baru bangun dari sofa. "Lu nelepon malam-malam, pasti ada yang minta duit. Gue lagi tongpes, Yon. Serius."
"Bukan. Lu bisa ke klub om Gilbert sekarang?"
"Lu gila? Gue baru pulang, sepatu aja belum dilepas."
"Zain." Dion menarik napas. "Penting. Lu nggak akan menyesal. Gue juga nggak minta lu percaya sama gue sekarang. Cuma datang."
Hening yang panjang. Dion mendengar sesuatu seperti sepatu dipakai kembali.
"Kalau ini akal-akalan lu buat bujuk gue pulang kampung, gue gebuk lu."
"Bukan."
"Tiga puluh menit."
**
Zain tiba dua puluh delapan menit kemudian. Dari jendela pos, Dion melihat mobil merah itu masuk ke halaman parkir dan berhenti miring, separuh badannya menghalangi jalur keluar, seperti pemiliknya yang tidak sedang berpikir panjang. Zain turun masih berkemeja kantor dengan kancing teratas terbuka. Dion menemuinya di tangga samping, jauh dari mata pengunjung. Wajah abangnya tampak lebih kurus daripada terakhir kali dia lihat, kantung matanya gelap, dan bibir tebalnya tertekuk seperti anak yang digiring ke ruang BK.
"Cepat. Gue mau tahu apa yang bikin lu segitu penting." Zain menyisir rambutnya dengan jari. "Lu dipecat? Dipukul? Lu hamilin orang?"
"Bukan, Zain." Dion menggaruk belakang telinga. "Dan gue nggak hamil."
"Gue nggak nanya itu."
"Lu nanya yang terakhir."
"Itu beda. Mana tante lu?" Zain menyipit. "Gue masih ingat tampang lu waktu gue bilang soal tante-tante di klub itu. Pucatnya mirip hari ini."
Dion menelan ludah, tetapi dia sudah memutuskan malam ini bukan malam untuk membahas dirinya sendiri. "Nanti. Satu hal dulu." Dion menggaruk belakang telinga. "Ikut gue ke atas. Jangan marah dulu."
"Kenapa gue harus marah?"
"Karena lu bakal marah."
Zain mendengus. "Ya sudah, jalan."
Mereka menaiki tangga dalam diam. Di setiap anak tangga, Dion merasakan jarak yang pernah mereka bangun selama berbulan-bulan, tembok yang tak satu pun sanggup meruntuhkan sendirian. Di anak tangga ke sebelas, Zain berbisik tanpa menoleh, "Kalau ini jebakan, gue pulang."
"Bukan jebakan. Gue cuma nggak bisa pura-pura nggak lihat."
"Lihat apa?"
"Lu akan lihat sendiri."
"Yon." Zain berhenti di anak tangga ke tiga belas, dan untuk sesaat suaranya kehilangan nada tengilnya. "Kalau ini soal Emak ..."
"Bukan soal Emak. Gue tahu Emak belum sembuh, terakhir gue dengar. Bukan itu."
"Dengar dari siapa? Lu kan blokir semua orang."
"Gue ... dengar dari lu, waktu itu. Di klub."
Zain memandangnya sebentar, lalu mendengus dan melanjutkan menaiki tangga. Dion bersyukur dia tidak bertanya lebih lanjut. Di puncak tangga, dia berhenti di depan dinding kaca gelap ruang VIP nomor tiga, lalu mengetuk satu kali di kaca itu dengan ujung jarinya. Dari sisi mereka, kaca itu gelap. Dari dalam, tak ada yang melihat. Tetapi Dion tahu dia bisa melihat semuanya.
"Zain," katanya pelan. "Itu Jenifer."
Zain menoleh. Dia tak langsung melihat ke kaca; dia melihat ke wajah adiknya lebih dulu, dan ekspresinya pelan-pelan berubah, dari curiga menjadi sesuatu yang tidak punya nama.