Dion keluar dari kafe dengan kaki yang terasa seperti milik orang lain. Di bawah pohon dengan lampu mati, Ernest sudah turun dari motor, Gilbert memeluk helmnya seperti memeluk bayi, dan Jovian duduk di trotoar dengan mulut penuh keripik.
"Udah?" tanya Ernest.
"Terkirim."
Keripik di mulut Jovian berhenti dikunyah. "Terkirim ke mana?"
"Ke Farish, Jov. Ke siapa lagi."
"Oh." Jovian menelan keripiknya pelan-pelan, lalu menatap bungkus di tangannya seakan itu baru saja mengkhianatinya. "Berarti habis ini kita semua dibunuh."
"Belum tentu," kata Ernest, tapi suaranya tidak seyakin biasanya. "Naik. Gue antar lu pulang. Besok kita pikirin."
Malam itu Dion tidur dua jam, dan itu pun karena kelelahan, bukan karena tenang.
**
Pukul tujuh pagi, pintu kostnya digedor dengan irama yang tidak sabar. Bukan irama Ernest; Ernest mengetuk seperti orang menagih utang yang sopan. Dion membuka pintu dan hampir ditabrak Mawar yang menerobos masuk dengan kerudung sedikit miring dan wajah semerah kepiting rebus. Di belakangnya, Jovian berdiri dengan bahu merosot, seperti anak kucing yang ketahuan menjatuhkan vas.
"Maaf, Yon," bisik Jovian. "Dia nanya kenapa gue pucat. Gue pucat memang dari lahir, tapi dia nggak percaya."
"Kak Dion," Mawar langsung menunjuk dada Dion, dan Dion merasa sedang menyaksikan seorang gadis seratus lima puluh sentimeter yang mampu membuat lelaki seratus tujuh puluh mundur. "Kak Jovian bilang ada orang yang meras Kakak pakai foto. Siapa?"
"Adelia."
Mawar terdiam dua detik. Lalu dia mengucapkan satu kalimat panjang yang berisi nama-nama hewan, dan Jovian menutup telinga dengan kedua tangan, tampak seperti orang yang menerima khotbah di gereja yang salah.
"Dia yang menghina Fanya waktu itu," lanjut Mawar, menarik napas. "Di depan kelas, di depan semua orang. Aku ingat. Dan sekarang dia meras Kakak? Fotonya foto apa?"
"Aku sama seorang wanita," jawab Dion, dan memilih kata-katanya seperti memilih langkah di atas es tipis. "Di mal."
Mawar menatapnya, lama. Dion bisa melihat berbagai kemungkinan lewat di mata gadis itu satu per satu, dan dia berdoa Mawar tidak berhenti di yang paling benar. Tetapi Mawar hanya menyipitkan mata dan berkata, "Aku nggak mau tahu siapa dia sekarang. Ganti baju. Kita ke tempat kos Adelia."
"War, jangan, itu ..."
"Sudah terkirim, kan? Berarti dia sudah melakukan hal paling jahat yang bisa dia lakukan. Sekarang giliran kita ngomong." Mawar sudah di ambang pintu. "Kak Jovian, kabari Kak Ernest. Cepat."
"Siap!" Jovian tampak sangat bahagia diberi tugas, sekaligus sangat ketakutan.
**
Kos Adelia berada di gang kecil di belakang kampus, rumah dua lantai bercat krem dengan pagar kerangka besi dan kolam ikan yang airnya keruh. Syahnaz yang membuka pintu, rambutnya dikuncir asal, dan senyumnya hilang begitu melihat lima orang menumpuk di teras.
"Mau apa kalian?"
"Ngobrol," kata Ernest sopan. "Boleh masuk? Atau kita ngobrol di sini, biar tetangga ikut dengar?"
Syahnaz mundur. Adelia sedang duduk bersila di sofa ruang tengah dengan masker wajah hijau menutupi sebagian pipinya, ponsel di pangkuan, dan ketika dia melihat Dion di balik bahu Mawar, maskernya tidak sanggup menyembunyikan perubahan air mukanya.
"Kamu bawa pasukan," katanya dingin.
"Dia bawa sahabatnya," koreksi Mawar. "Itu beda, Mbak."
Ernest duduk tanpa diundang. Dia mengeluarkan ponsel, mengetuk sebuah folder, dan menaruh benda itu di meja kopi dengan layar menghadap Adelia. Suara dari speaker kecil terdengar jernih, dan jelas milik Adelia sendiri: "Bapak janji kan, nilai saya tetap A kalau saya ..."
Ernest menekan jeda.
Maskernya yang hijau tidak cukup untuk menutupi betapa pucatnya Adelia.
"Salinan yang ada di tangan gue ini," kata Ernest, ramah, seperti sedang menawarkan teh. "Dan sampai kemarin gue pikir salinan ini sudah ketemu tempat istirahat abadi di folder statistik. Tapi tadi malam ada orang yang kirim foto ke tempat yang salah."
"Kalian ..." Adelia berdiri, ponselnya hampir jatuh. "Kalian nggak berani."
"Kami nggak berani," Ernest mengakui. "Gue memang pengecut. Tapi pengecut yang punya video. Itu kombinasi yang jarang."
Gilbert, di pojok, mengangguk dengan keyakinan seseorang yang baru saja diizinkan mengangguk.
"Gue nggak akan sebar ini," lanjut Ernest. "Selama foto itu nggak dipakai lagi. Lu hapus semua salinan, di depan kita. Lu nggak minta uang. Lu nggak telepon Dion. Dan lu nggak mengganggu Fanya."
"Aku nggak pernah mengganggu Fanya!"
"Mbak pikir aku lupa siapa yang menghina Fanya di depan kelas?" kata Mawar, dan nada suaranya turun dari api menjadi besi.
Adelia menatap mereka satu per satu. Syahnaz memalingkan wajah, tampak ingin menghilang ke dalam sofa. Di luar, bunyi ikan melompat di kolam terdengar seperti tepuk tangan.
"Tunjukkan ponselnya," kata Dion pelan. "Aku mau lihat yang terkirim ke Farish."
Adelia ragu. Tetapi Ernest menekan tombol putar lagi, dan suara Pak Sanusi yang gagap memenuhi ruangan, dan akhirnya Adelia menyerahkan ponselnya dengan tangan yang gemetar.
Layar itu menampilkan percakapan dengan Farish. Foto Dion dan wanita bertopi berada di paling bawah, bertanda dua centang biru, dibaca pukul sebelas lewat dua menit. Tanpa balasan.
"Dia sudah baca," bisik Dion.
Dion menggeser layar ke obrolan sebelumnya. Di sana, dengan Syahnaz, terbentang rangkaian pesan yang jelas: Kalau dia nggak bayar, kirim aja. Sepuluh juta, ya, jangan kurang. Kita bagi dua.
Jovian, yang sejak tadi berdiri persis di depan Mawar sambil memegang bingkai pintu dengan kecemasan seorang pengawal pribadi, tidak melihat apa yang terjadi di belakangnya. Mawar mengangkat ponselnya sedikit, sekali, dua kali, tanpa suara, dan menurunkannya lagi. Tak seorang pun menoleh.
Adelia menghapus foto itu dari ponselnya, lalu dari tempat sampah, lalu dari penyimpanan awan, dengan wajah seperti sedang menandatangani surat penyerahan. Syahnaz melakukannya juga, dengan ibu jari yang tidak berhenti gemetar.
"Dia nggak balas," ujar Adelia tiba-tiba, suaranya serak, dan kali ini dia tidak terdengar seperti sedang menang. "Dari tadi malam. Biasanya satu menit juga dia jawab. Aku kirim, dia baca, terus ... diam."
"Itu urusan lu," kata Ernest.
"Aku cuma mau dia tahu." Adelia mengusap pipi, maskernya menempel di punggung tangan. "Aku cuma mau ada yang merasa kehilangan sekali saja, seperti aku."
Tak ada yang menjawab. Dion menatap perempuan itu, dan yang aneh, dia tidak menemukan kebencian di dadanya. Hanya rasa kenal. Dia sendiri tahu betul bagaimana rasanya mengambil jalan salah dengan alasan yang terdengar masuk akal di kepala.
Di depan pagar, Gilbert baru berani menghela napas panjang. "Gue pikir gue bakal pingsan."
"Lu pingsan tadi, Gil. Dua detik. Di pojok."
"Oh," kata Gilbert. "Pantesan enak."
**
Mereka berpisah di warung ujung gang. Ernest dan yang lain berjalan lebih dulu sambil berdebat soal sarapan. Mawar menahan Dion di depan etalase gorengan.
"Kak."
"Iya, War."
"Aku nggak akan bilang ke Fanya." Mawar tidak menatapnya, melainkan tangannya yang memelintir tali tas. "Aku nggak tahu siapa wanita di foto itu dan aku nggak mau menebak. Tapi Kakak tahu."
Dion tidak menjawab.
"Foto itu sudah dibaca Kak Farish. Hari ini, besok, kapan pun, dia bisa muncul di depan Fanya." Akhirnya Mawar menengadah, dan matanya basah tanpa tangis. "Kalau Fanya tahu dari orang lain, dia akan hancur dua kali. Sekali karena kebohongannya, sekali karena Kakak membiarkan dia tahu dengan cara itu."
"Aku tahu."
"Kalau Kakak tahu, kenapa belum bilang?"
"Karena aku takut kehilangan dia."
"Itu bukan alasan, Kak." Mawar menggeleng. "Itu justru alasan kenapa Kakak harus bilang."
Dia berbalik dan berjalan menyusul yang lain, tetapi berhenti dua langkah di depan.
"Aku kasih Kakak waktu. Tapi bukan aku yang menentukan berapa lama."