"Sepuluh juta?" Jovian menjatuhkan diri ke kasur Dion dengan dua tangan memegang kepala. "Itu uang jajan gue setahun, Yon! Dua tahun kalau gue nggak jajan bakso!"
"Lu memang nggak pernah nggak jajan bakso," kata Gilbert.
"Jangan ganggu gue, gue lagi berduka."
Sabtu siang, kamar kost Dion mendadak penuh. Ernest duduk bersila di lantai dengan buku Rekening Utang di pangkuan, stiker JANGAN DISENTUH-nya menghadap ke langit-langit. Udin bersandar di pintu sambil memijat pelipis. Gilbert menggelar peta kecil dari kertas bekas pembungkus nasi, entah peta apa. Dion berdiri di dekat jendela dan sudah menceritakan semuanya, kecuali satu bagian: tentang wanita bertopi itu siapa.
Mereka semua sudah tahu bagian itu. Justru karena itu ruangan terasa sesempit ini.
"Jadi kita punya dua masalah," Ernest membuka halaman buku, menutupnya lagi. "Satu, Adelia minta duit. Dua, kalau duit nggak dikasih, fotonya sampai ke Farish. Dan Farish itu kakaknya Fanya."
"Dan pacarnya Adelia," tambah Udin pelan. "Ingat, Ernest. Bukan sekadar kakak."
"Gue ingat. Kenapa dia bikin ribet banget, sie?" Ernest mengusap wajahnya. "Oke. Gue punya satu kartu."
Dion sudah tahu kartu apa itu sebelum Ernest menyebutnya.
"Video Pak Sanusi. Salinan yang gue simpan." Ernest mengeluarkan ponselnya, mengetuk sebuah folder bernama Tugas Kuliah Statistik. "Adelia, mobil, Pak Sanusi, dan pengakuan paling jujur yang pernah gue dengar dari orang yang tidak sedang berdoa. Kalau video ini sampai ke ..."
"Nggak," potong Udin.
"Din ..."
"Nggak, Ernest." Udin menegakkan badan. "Gue dulu pernah kabur dengan alasan yang gue kira benar. Hasilnya Siti hampir hilang di jalan. Cara kotor cuma melahirkan cara kotor yang lebih besar, dan ujungnya selalu yang paling lemah yang kena."
"Yang kotor duluan siapa?" bantah Ernest. "Dia yang meras!"
"Itu bukan alasan buat ikut-ikutan."
"Viralin aja," usul Gilbert tiba-tiba, dengan mata berbinar. "Gue punya akun anonim, pengikutnya delapan ratus. Tujuh ratus itu bot."
"Gil, duduk."
Gilbert duduk.
Dion mendengarkan semuanya sambil merasa seperti penonton di pertandingan yang pemainnya adalah dirinya sendiri. Akhirnya dia berbicara. "Gue nggak akan bayar."
Semua kepala menoleh.
"Pertama, duit di buku itu bukan duit gue. Itu duit Sanny, dan tiap rupiah di dalamnya mau gue kembalikan. Gue nggak akan pakai satu lembar pun buat nyogok orang yang meras gue." Dion mengambil napas. "Kedua, kalau gue bayar sekali, dia datang lagi bulan depan. Gue kenal tipe Adelia."
"Terus?" tanya Ernest.
"Gue datang. Tangan kosong. Gue lihat dia ngomong apa."
Ernest memandangnya lama, lalu menutup buku rekening itu dengan satu tepukan. "Bagus, karena kalaupun lu minta, gue nggak bakal kasih. Bukunya gue yang pegang." Dia berdiri. "Kita gertak saja. Video Pak Sanusi hanya buat nakut-nakutin. Kalau sampai harus dikeluarkan, itu urusan nanti, dan gue yang tanggung."
"Ernest ..." Udin masih ragu.
"Gertak. Cuma gertak, Din. Gue janji."
Jovian mengangkat tangan dari kasur. "Boleh nggak gue ikut? Gue bawa pisau lipat."
"Jov, pisau lipat lu buat apa?"
"Buat kupas mangga. Buat nakut-nakutin juga bisa."
"Duduk."
"Tapi lu nggak ke dalam, Yon," Ernest menunjuk dada Dion dengan telunjuk. "Kita nunggu di seberang jalan, di motor gue. Lu masuk sendirian, karena kalau lima orang rombongan ke kafe, Adelia punya bahan buat ngomong 'dia bawa pasukan'. Kalau ada apa-apa, lu telepon, satu dering. Satu dering aja."
"Satu dering. Kayak ojek," kata Jovian.
"Lu kira ini ojek online?"
"Kan bisa dobel. Dua dering berarti bawa mangga."
Gilbert, yang sejak tadi diam menatap peta bungkus nasinya, mengangkat wajah. "Gue baru sadar. Peta ini ternyata salah. Ini bukan kafe. Ini bungkus nasi padang."
"Memang bungkus nasi padang, Gil."
"Pantesan nggak ada pintunya."
Dion tertawa, singkat, dan tawa itu langsung menguap begitu dia melihat buku rekening di pangkuan Ernest. Stiker kuning itu terasa seperti sedang menatapnya balik. Aku bukan cuma bohongin Fanya, batin Dion. Aku bikin semua orang di ruangan ini ikut berbohong.
**
Pukul sembilan kurang sepuluh menit, kafe dekat kampus itu hampir kosong. Lampunya kuning dan lagunya mendayu, seperti dipilih untuk orang-orang yang sedang memutus hubungan. Adelia dan Syahnaz sudah menempati meja pojok dengan dua gelas es yang hampir habis.
"Wah, tepat waktu." Adelia menyesap sedotannya tanpa tergesa. Rambutnya digerai, kukunya merah muda. "Duduk, Dion."
Dion menarik kursi dan duduk. Syahnaz menatapnya dari atas ponsel dengan senyum tipis, seperti kucing yang sudah memastikan tikusnya tidak punya pintu lain.
"Mana?" Adelia menengadahkan telapak tangan, kuku demi kuku.
"Nggak ada."
Syahnaz berhenti menggulir layar.
"Nggak ada dan nggak akan ada," ulang Dion. Suaranya lebih tenang dari yang dia kira. "Aku datang cuma buat bilang itu langsung. Kamu mau kirim ke siapa pun, silakan."
Adelia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke mata. "Dion, Dion. Kamu pikir aku main-main?"
"Aku pikir kamu sedang kesal. Itu beda."
"Kesal?" Wajah Adelia berubah sedikit. "Kamu menolak aku di depan teman-teman sekelas, kamu mempermalukan aku di depan Fanya, terus sekarang kamu bilang aku cuma kesal?"
"Aku nggak pernah mempermalukan kamu, Del."
"Jangan panggil aku begitu!" Dia mencondongkan badan. Lalu, secepat marah itu datang, dia menyandarkan punggung dan tersenyum lagi. "Kamu tahu siapa yang lebih dipercaya Farish kalau aku yang bicara dan kamu yang membantah? Pacarnya, atau cowok yang sudah dua kali dihajarnya?"
"Itu urusan kamu dan Farish."
"Itu urusan kita bertiga." Syahnaz terkikik pelan dan Adelia mengabaikannya. "Baik. Aku kasih waktu. Sampai jam sebelas. Aku mau lihat kamu duduk di situ dan mikir."
"Aku nggak akan berubah pikiran."
"Siapa tahu," kata Adelia ringan. "Orang sering berubah kalau diberi cukup waktu menatap dinding."
Maka mereka duduk. Dion tidak memesan apa-apa, dan pelayan yang lewat dua kali akhirnya menyerah. Syahnaz kembali pada ponselnya; Adelia memainkan sedotan sambil sesekali melirik jam dinding. Detik berlalu satu per satu dengan sangat tertib.
Setengah jam pertama Dion menghitung kipas di langit-langit. Setengah jam kedua dia menghitung ulang apa yang akan hilang kalau foto itu sampai: Farish yang menghentikan langkahnya di koridor, Mama yang akan mengerti kenapa Tante Sashi mendadak dingin, Fanya yang menatapnya dari seberang meja dengan mata yang akan retak pelan-pelan. Dia sudah menyiapkan pembelaan untuk semua itu, dan tidak ada satu pun yang cukup layak untuk diucapkan keras-keras.
"Tangan kamu gemetar," komentar Syahnaz. "Mau kupesankan teh?"
"Nggak usah."
"Sayang, lho. Yang bayar nanti kan bukan kamu."
"Syahnaz," tegur Adelia, tanpa mengangkat mata dari ponselnya, dan untuk sesaat Dion mengira dia sedang menyaksikan seseorang yang masih punya rem.
Pukul sepuluh, ponsel Dion bergetar. Fanya: Kakak lagi apa? Mama sudah tidur, aku boleh telepon?
Dion menatap pesan itu lama sekali, lalu mengetik: Kakak lagi ngurus tugas, Dek. Besok ya.
Kebohongan yang paling mudah dia ketik malam ini, dan paling berat dia kirim.
Di seberang jalan, di bawah pohon yang lampunya mati, dia bisa melihat siluet motor Ernest. Genk menunggu di sana sejak tadi, hanya dia yang tidak tahu apakah itu menenangkan atau menambah beban.
Pukul sebelas kurang lima, Adelia mengangkat ponselnya dan menggeser layar. Dia memutarnya menghadap Dion: foto di mal, dirinya dan wanita bertopi, tangan di lengan, kepala sedikit menunduk.
"Aku tanya sekali lagi, Dion. Sepuluh juta. Gampang sekali."
"Kirim saja."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
Adelia menatapnya lama. Untuk sepersekian detik, wajahnya kehilangan kepura-puraan, dan yang tersisa bukan kemenangan, melainkan sesuatu yang lebih mirip kecewa karena ancamannya tidak mempan. Lalu senyum itu kembali.
Dia mengetuk layar. Satu kali, dengan jari kelingking yang kukunya merah muda.
"Terkirim," katanya.