Kalimat Papah masih berputar di kepala Dion ketika dia duduk di tangga teras dan memakai kembali sepatunya yang tadi dia lepas di pintu. Bekerja itu bukan hinaan. Dia belum tahu apa yang harus dia lakukan dengan kalimat itu. Dua jam lalu dia datang dengan niat menahan pukulan, dan tak ada yang menyiapkannya untuk sesuatu yang terdengar seperti tangan di bahu.
Dari balik pintu terdengar langkah halus. Dion menoleh. Refi berdiri di ambang, kedua tangannya di saku celana, kemejanya masih sama putih seperti saat makan, tanpa satu pun noda kuah.
"Boleh saya duduk?"
"Silakan, Mas."
Refi duduk satu anak tangga di atasnya, menyisakan jarak yang sopan. Selama beberapa saat keduanya hanya memandangi halaman yang gelap dan tenda pink yang sudah dibongkar tetapi meninggalkan bekas kotak pucat di rumput. Jangkrik berbunyi di balik semak.
"Saya tidak berniat memaksa siapa pun," kata Refi akhirnya. Suaranya pelan dan datar, tanpa nada menang atau kalah. "Saya ingin kamu tahu itu dari saya sendiri, bukan dari orang lain."
Dion menoleh perlahan. "Maksudnya, Mas?"
"Perjodohan ini bukan ide saya. Ayah saya dan ayah Fanya sudah lama berteman, dan ibu Fanya yang mengatur semuanya. Saya diminta datang makan malam, dan saya datang karena tidak enak menolak. Itu saja." Refi menatap rumput. "Saya tidak membeli perempuan yang tidak mau dibeli."
"Fanya baik, Mas. Dia pantas dapat orang yang jauh lebih baik dari saya."
"Mungkin." Refi tersenyum samar. "Tapi bukan itu yang Fanya pilih, dan itu urusan dia."
Dion tidak tahu harus menjawab apa. Dia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pria sombong yang menatapnya dari atas, bukan orang yang duduk satu anak tangga di atasnya dengan tangan di saku dan mengaku tak tertarik memaksa.
"Saya perhatikan di meja tadi kamu tidak membela diri," lanjut Refi. "Banyak orang akan membalas. Kamu tidak. Itu bukan kelemahan."
"Saya cuma tidak ingin membuat suasana lebih buruk."
"Itu juga bagus." Refi berdiri, merapikan lipatan celananya, dan menunduk menatap Dion dengan sorot yang tegas tanpa kasar. "Satu hal lagi, supaya adil. Saya tidak akan memaksa, tapi saya juga tidak akan mundur kalau suatu hari kamu tidak sanggup menjaga Fanya. Bukan untuk merebut. Hanya supaya ada yang menjaganya."
Dada Dion terasa seperti dihantam dengan sesuatu yang lembut tetapi berat.
"Saya ngerti, Mas."
"Selamat malam, Dion."
Refi masuk kembali ke rumah, dan pintu menutup dengan bunyi pelan. Dion tetap duduk di sana sampai hampir tak ada lagi suara dari dalam. Refi malah baik. Lebih enak dimusuhi daripada begini. Keluh Dion dalam batin.
**
Motor Dion terparkir di ujung gerbang, di bawah lampu jalan yang berkedip malas. Dia baru mengenakan helm ketika terdengar langkah cepat di aspal dan suara napas yang terputus-putus.
"Kak ... Kak Dion!"
Fanya berlari dari arah pagar dengan gamis yang ujungnya terangkat satu tangan dan kerudung yang miring. Sebelum Dion sempat turun dari motor, dia sudah berhenti di sampingnya, menunduk, dan bahunya mulai berguncang.
"Dek?"
"Maaf, Kak. Maaf. Maaf banget." Kata-kata itu keluar di antara isak yang ditahan. "Mama keterlaluan. Aku tahu. Aku harusnya bilang sesuatu tadi, aku harusnya ngebela Kakak, tapi aku ... aku cuma bisa diam. Aku pengecut."
"Hei, hei." Dion turun, melepas helm, dan berdiri di depannya dengan tangan terbuka. Dia menunggu, tidak menyentuh. "Boleh Kakak peluk?"
Fanya mengangguk berkali-kali, dan dia maju satu langkah, menyandarkan dahi di bahu Dion. Dion melingkarkan lengannya pelan di punggung gadis itu, seperti membungkus sesuatu yang mudah pecah. Gamis Fanya berbau sabun dan permen. Pundak mungil itu bergetar di bawah telapak tangannya.
"Kakak nggak apa-apa," bisiknya. "Kakak sudah biasa dengar yang lebih parah."
"Itu yang bikin aku lebih sedih."
"Dek, dengerin." Dion memiringkan kepala. "Kakak nggak akan ke mana-mana. Mama kamu boleh marah, Refi boleh datang seratus kali, tapi Kakak nggak akan pergi kecuali kamu sendiri yang bilang pergi. Janji."
"Janji?"
"Janji."
Fanya mengangkat wajah, pipinya basah, matanya merah. Di bawah lampu jalan yang kuning, dia terlihat lebih muda dari sembilan belas tahun, dan lebih rapuh dari yang selama ini Dion mau akui pada dirinya.
Dia tahu waktunya sekarang. Semua kalimat di kepalanya mendadak tersusun rapi, seakan ada yang menyodorkannya satu per satu. Dek, ada sesuatu yang harus Kakak bilang. Tentang uang itu. Tentang Tante. Tentang alasan kenapa Kakak kerja lebih sedikit tapi punya lebih banyak. Dia menarik napas dan mulutnya terbuka.
"Dek, Kakak ..."
"Jangan bilang apa-apa dulu, Kak." Fanya menggeleng, menyeka pipi dengan lengan baju. "Aku nggak mau denger yang berat-berat malam ini. Aku cuma mau Kakak ada di sini. Itu aja."
Kalimat itu menutup pintu yang baru saja akan dia buka. Dion menelan semua yang hendak keluar dan mengangguk, sambil merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya, menjadi lebih besar daripada rasa lega.
"Kakak ada di sini."
"Kakak nggak marah sama Mama?" tanya Fanya, ragu.
"Marah buat apa? Mama kamu cuma takut anaknya salah pilih. Kalau Kakak jadi Mama, Kakak juga bakal ngecek sepatu."
"Kakak lucu." Fanya tertawa pendek, serak. "Padahal tadi Kakak keren, loh. Diam begitu."
"Kakak diam karena kakinya gemetar, Dek."
"Hah?"
"Beneran. Lutut Kakak dari tadi ngetuk-ngetuk meja. Untung ada taplak."
Fanya akhirnya tertawa lepas, sampai harus menutup mulut. "Makasih, Kak." Fanya tersenyum lemah. "Aku masuk dulu. Nanti Mama nyari."
Dia berbalik. Beberapa langkah kemudian dia berhenti dan menoleh. "Kak?"
"Ya?"
"Kemejanya bagus. Bukan karena mahal. Karena Kakak nyuci-nya sendiri."
Padahal kemeja itu dicuci ulang genknya di laundry koin Bu Darmi. Satu kebohongan kecil lagi, dan dia membiarkannya lewat. Mampus gue! Batin Dion.
Dion menatapnya masuk ke pagar dan menutup gerbang, dan baru setelah lampu teras menyala dia sanggup menyalakan motor.
**
Pukul sebelas lewat, dia sudah berbaring di kasur kostnya dengan lampu padam, menatap langit-langit yang retak. Ernest dan yang lain sudah dia kabari: selamat, nggak ada yang meninggal. Balasan Jovian cuma emoji tepuk tangan sepuluh kali.
Dia baru saja menaruh ponsel di dada, ketika benda itu berbunyi lagi. Nomor tak dikenal.
Dion mengangkat, setengah mengantuk. "Halo?"
"Halo, Dion." Suara perempuan, ringan, hampir riang. "Masih ingat suaraku?"
Rasa kantuk menguap seketika. Dia duduk tegak. "Adelia."
"Pintar." Terdengar bunyi gelas diletakkan di meja, dan kekehan kecil di latar belakang yang pasti milik Syahnaz. "Aku langsung saja, ya. Aku punya foto kamu. Di mal, sama seorang wanita bertopi. Kalian kelihatan mesra sekali."
Jantung Dion berhenti satu ketukan. "Foto apa? Aku nggak ngerti."
"Jangan pura-pura. Wajahnya memang tak kelihatan jelas, tapi bajumu kelihatan, tangannya kelihatan, dan Farish pasti bisa menebak sisanya." Nada Adelia merendah, manis seperti madu yang dituang di atas pisau. "Sepuluh juta. Itu harga yang murah untuk menyelamatkan hubunganmu dengan adiknya."
"Delia, dengar ..."
"Tenggatnya Sabtu malam. Besok. Di kafe dekat kampus, jam sembilan. Kalau kamu tidak datang, atau datang tanpa uang, Farish yang akan dapat fotonya." Dia tertawa kecil. "Selamat malam, Dion. Mimpi indah."
Sambungan terputus. Dion menatap layar yang kembali gelap, dan di dalam kegelapan kamar kostnya, dia mengulang suara Adelia di kepalanya, kata demi kata.
Aku punya fotonya. Sepuluh juta, atau Farish yang dapat. Sabtu malam.