Kantong belanja itu masih ada di dasar lemari, terselip di bawah tumpukan kaus, dengan label toko yang belum dicopot dan pita pengikat yang belum pernah ditarik.
Dion berjongkok di depannya selama hampir semenit. Dia tidak menyentuhnya. Lalu dia menutup pintu lemari dengan lutut dan menegakkan diri, tepat ketika Ernest masuk tanpa mengetuk, diikuti Jovian dan Gilbert yang membawa tas plastik besar.
"Lapor, Komandan! Misi dandan dimulai!" seru Jovian.
"Gue cuma mau makan malam, Jov, bukan mau nikah."
"Bedanya tipis. Dua-duanya ada yang mau menghakimi lu." Ernest meletakkan sebuah kemeja biru muda di kasur, kemeja yang sama dengan yang dipakai Dion berbulan-bulan, hanya saja kali ini sudah disetrika dan dilipat rapi. "Gue ambil dari jemuran lu, dicuci ulang di laundry koin Bu Darmi. Jangan tanya biayanya."
"Sepatunya gue semir," Gilbert menunjuk pantofel hitam yang berkilat seperti cermin. "Lima lapis. Gue sampai pegal."
"Dan ini," Jovian mengangkat sebotol kecil dengan gaya pesulap, "parfum."
"Jov, jangan."
"Wanginya mahal!"
"Itu merek apa?"
"Eh ... 'Gentleman Sejati'. Dua puluh ribu di toko sebelah pasar."
"Jovian, taruh," perintah Ernest dan Gilbert serempak.
Dion tertawa, tawa pendek yang sudah berhari-hari hilang, yang membuat ketiganya menatap diri satu sama lain dengan lega. Ernest mendekat, memegang bahunya sebentar.
"Yon. Lu nggak perlu menang malam ini. Lu cuma perlu pulang utuh."
"Gue ngerti."
"Dan kalau Tante itu nanya macam-macam ..."
"Gue jawab jujur sepotong-sepotong."
"Itu bukan jujur, itu irisan."
"Gue tahu, Nes." Dion mengambil kemeja biru itu. "Tapi hari ini cuma segitu yang gue sanggup."
**
Fanya benar: Mama melihat sepatu dulu, baru muka.
Dion sudah menyiapkan diri untuk itu, dengan sepatu yang disemir tiga teman dan kemeja yang dicuci dua kali. Tetapi saat dia melangkah masuk ke ruang makan rumah Tante Sashi, pandangan Mama turun dari wajahnya ke ujung kaki dalam satu gerakan, kemudian naik lagi dengan alis terangkat setengah senti.
"Selamat malam, Tante. Om." Dion menunduk sopan pada Mama dan Papah. "Saya Dion."
"Duduk," kata Mama.
Meja makan itu panjang, berlapis taplak putih, dengan lilin dalam wadah kaca dan piring-piring bermotif bunga yang kelihatan jarang dipakai. Papah duduk di ujung, Mama di sisi kanannya, dan Sanny, dengan gaun hijau tua sederhana dan senyum yang sama persis dengan yang dia pasang di depan penghulu, duduk di seberang. Farish di sebelah Sanny, bersandar dengan tangan terlipat. Dan di sebelah kursi kosong yang disediakan untuk Dion, duduk seorang pria asing.
"Dion, ini Kak Refi," Fanya memperkenalkan, dengan suara terlalu riang. "Kak Refi, ini Dion."
Refi berdiri dan mengulurkan tangan. Dia tinggi, rapi, berkacamata tipis, dengan kemeja putih tanpa kerutan dan cara berjabat tangan yang tidak berlebihan. Kalau saja Dion tidak sedang duduk di meja yang sama dengan semua orang yang menyimpan rahasianya, dia mungkin akan menyukai orang ini.
"Salam kenal," kata Refi. "Fanya sering cerita."
"Sama. Maksud saya, salam kenal, Mas."
"Mas?" gumam Mama. "Sudah akrab rupanya."
"Cuma sopan, Mama," bisik Fanya. "Maaf."
Bibi menyajikan sup, ayam bumbu rujak, tumis kangkung, dan nasi hangat. Sepuluh menit pertama berjalan dengan bunyi sendok dan sesekali batuk Papah. Dion makan sedikit. Setiap suap terasa seperti kerikil kecil.
"Dion," kata Sanny akhirnya, memotong ayam di piringnya dengan pisau. "Kata Fanya, kamu suka kerja malam-malam."
"Iya, Tante."
"Pasti capek. Siangnya kuliah, malamnya jaga. Tidurnya kapan?"
"Sebisanya, Tante."
"Hm." Sanny menyuap sepotong kecil dan mengunyahnya lama. "Dan biaya hidup? Pasti sulit kalau sendirian. Tidak ada yang membantu?"
Garpu di tangan Dion berhenti sedetik. "Saya urus sendiri, Tante."
"Mandiri sekali. Anak muda zaman sekarang memang beda." Nada Sanny manis seperti sirup. "Fanya cerita kamu juga bermain saham, ya? Atau apa tadi? Trading?"
"Iya, Tante. Masih coba-coba."
"Semoga hasilnya halal. Banyak anak muda terjebak orang yang meminjamkan modal dengan bunga tinggi." Dia menatap Dion lurus, tanpa berkedip. "Dan baru sadar waktu sudah susah melepas."
"Tante bilang apa?" Fanya tersenyum bingung. "Tante lagi bercanda, ya?"
"Perumpamaan saja, Anya."
Dion meletakkan garpunya perlahan. "Kalau ada yang seperti itu, Tante, saya akan kembalikan semuanya. Sampai habis."
Sepasang mata Sanny menyipit sekilas, nyaris tak terlihat. Farish, di sampingnya, menegakkan duduknya sedikit.
"Satpam," ucap Mama, tiba-tiba. Dia meletakkan serbet di pangkuannya dan menatap Dion tajam. "Nak Dion ini katanya satpam. Dan ojek."
"Betul, Tante."
"Orang tuamu di mana?"
"Di kampung, Tante. Bapak dulu punya toko mebel, tapi tertipu rekan usaha dan bangkrut, sekarang tinggal di rumah peninggalan simbah."
"Bangkrut." Mama mengulang kata itu seperti sedang mencicipi sesuatu yang asam, lalu melirik Papah sekilas, dan Papah menunduk. "Menarik. Jadi kamu lahir dari keluarga yang gagal berbisnis, dan sekarang kamu kerja jadi satpam. Kamu pikir pekerjaan seperti itu bisa membiayai istri?"
"Mama," tegur Fanya.
"Mama bertanya baik-baik."
"Tante benar," jawab Dion tenang. Dia tidak menaikkan suara, tidak pula merendahkannya. "Sekarang saya belum bisa membiayai siapa pun, Tante. Saya belum punya apa-apa. Yang saya punya cuma keringat sendiri dan niat lulus."
"Niat itu murah, Nak. Banyak laki-laki punya niat."
"Betul, Tante."
"Dan ojek. Ya ampun." Mama menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tiap hari menghirup knalpot. Fanya, kamu mau hitung uang belanja tiap akhir bulan sambil nunggu gaji ojek?"
"Mama, tolong ..."
"Saya memang bau asap, Tante," potong Dion pelan, sebelum Fanya sempat bicara lebih banyak. "Tapi jaketnya saya cuci tiap minggu."
Ada hening yang canggung, lalu terdengar dengusan pendek dari seberang meja. Farish, yang menunduk ke piringnya, menahan sesuatu yang bisa jadi tawa, bisa jadi marah.
Refi berdeham. "Tante, rasanya Dion bukan jenis orang yang ..."
"Refi, makan saja," sela Mama dengan senyum, dan Refi menutup mulutnya, meski matanya sempat menatap Dion dengan sorot yang sulit dibaca.
Sisa makan malam berlalu seperti pertandingan yang tak seimbang. Mama bertanya, Dion menjawab; Sanny menyelipkan satu-dua kalimat yang selalu punya dua arti; Fanya meminta maaf pada Bibi karena menumpahkan sedikit kuah, pada Papah karena tidak membantu, pada Refi karena tidak menyapanya cukup lama. Dion tidak membela dirinya sekali pun. Dia hanya menjawab apa yang ditanyakan, dengan nada yang sama dari awal sampai akhir, dan ketika makanan penutup datang dia merasa telapak kakinya sudah mati rasa.
"Terima kasih atas makan malamnya, Tante, Om," ucapnya setelah semua selesai, berdiri dan menunduk. "Saya pamit."
"Hati-hati di jalan," kata Mama, dingin.
Fanya setengah bangkit, tapi Mama menahannya dengan satu tatapan. Dion mengangguk kepadanya, sekali, kecil, dan berjalan ke arah pintu.
"Nak Dion."
Papah sudah berdiri di belakangnya. Lelaki kurus itu bertumpu pada sandaran kursi, napasnya agak pendek. "Biar Om antar sampai depan."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong yang remang. Papah terbatuk dua kali dan menepuk dada pelan. Di depan pintu besar, tangannya terulur dan berhenti sebentar di bahu Dion.
"Istri saya keras," katanya, dengan suara yang lelah dan jernih. "Jangan masukkan ke hati."
"Tidak apa-apa, Om."
"Satu hal lagi." Papah menatapnya lurus, dan di balik mata yang redup itu ada sesuatu yang tajam dan tenang. "Bekerja itu bukan hinaan, Nak."