Di kantin, jam makan siang, Jovian sedang berdiri di atas bangku.
"Perhatian! Perhatian!" serunya kepada empat meja yang sama sekali tidak memperhatikan. "Hari ini saya, Jovian bin Mulyadi, resmi mengumumkan bahwa saya TIDAK AKAN menyentuh apa pun yang berbau Mawar selama tiga hari!"
"Bin siapa?" tanya Gilbert.
"Bin apa aja!"
"Kenapa tiga hari?" Ernest menyuap bakso dengan sangat tenang.
"Karena kemarin dia bilang 'lumayan' ke tiang miring gue, dan gue udah nggak bisa tidur dua malam." Jovian turun dari bangku dengan dramatis. "Gue butuh detoks."
"Itu bukan detoks, itu jatuh cinta," koreksi Ernest.
"Kalian bisik-bisik mulu," tegur sebuah suara dari belakang. Mawar berdiri membawa nampan dengan wajah datar. Jovian langsung menjatuhkan diri ke bangku dan pura-pura sibuk dengan sendok.
Mawar menaruh nampannya di ujung meja, duduk di seberang Dion, dan menatapnya seperti dokter menatap hasil lab. "Kak Dion."
"Iya, War?"
"Nanti sore Fanya ketemu Kakak, kan?"
"Iya."
"Dia nangis semalam. Aku tahu dari matanya, walau dia bilang kena debu." Mawar mengaduk es teh dengan sedotan, keras. "Mamanya kemarin ngomong apa aja, aku nggak tahu. Tapi Fanya pulang kayak orang yang dipukul dari dalam."
Dion menggenggam sendoknya lebih erat.
"Aku nggak minta Kakak janji apa-apa," lanjut Mawar. "Aku cuma bilang: kalau Kakak bikin dia nangis karena salah Kakak sendiri, aku tampar. Serius. Aku nggak peduli Kakak jago bela diri."
"Dengar," kata Dion perlahan. "Aku nggak bakal bikin dia nangis."
Padahal dia tahu, di balik setiap kalimat yang dia ucapkan, ada satu bom yang menunggu detik.
"Bagus." Mawar mengangguk, lalu menoleh sedikit pada Jovian. "Kak Jovian, bakso Kakak jatuh."
"Hah? Oh!" Jovian menunduk. Baksonya memang terguling ke pangkuan. "Ini bukan gara-gara kamu, War!"
"Siapa bilang?"
**
Kafe lesehan itu masih sama seperti malam ketika Dion pertama kali berkata sayang: tikar anyaman yang sudah menipis di beberapa tempat, meja pendek dari papan bekas, lampu bohlam kuning yang digantung rendah, dan pemilik warung berumur lima puluhan yang selalu menyajikan teh manis lebih dulu tanpa ditanya. Bedanya, kali ini tidak ada hujan. Langit sore Rabu itu terang dan tenang, dan justru karena itu Dion merasa berjalan di atas lantai kaca.
Fanya sudah menunggu di pojok paling belakang. Begitu melihat Dion, dia berdiri setengah, tersenyum, dan nyaris menjatuhkan gelasnya.
"Aduh, maaf, maaf!" Dia menangkap gelas itu dengan dua tangan, lalu menoleh ke pelayan yang lewat. "Mas, maaf ya, hampir tumpah. Nggak jadi, kok. Makasih ya, Mas."
"Nggak apa-apa, Neng," jawab pelayan itu, geli.
Dion duduk bersila di hadapannya. "Kamu minta maaf sama gelas juga?"
"Gelasnya nggak dengar, jadi aku minta maaf ke Masnya." Fanya cemberut lucu, lalu senyum itu padam seperti lampu yang diredupkan. "Kak, aku mau cerita."
"Cerita aja, Dek."
Dia bercerita tanpa urutan, tak sabar, menuang semuanya sekaligus. Tentang Mama dan Papah yang datang kemarin, dan Papah yang batuk-batuk dan kurus. Tentang Tante Sashi, tempat ia biasanya mengadu, yang kemarin malah menunduk ke cangkir tehnya seperti baru kenal Fanya. Tentang Mama yang menyebut ojek dan jaga malam seperti menyebut penyakit. Tentang Refi yang katanya lulusan luar negeri dan cuma Fanya lihat dalam foto.
"Dan Tante," ujar Fanya, pelan. "Tante malah ikut Mama."
"Ikut gimana?"
"Tante bilang aku masih muda, belum tahu apa yang dibutuhkan hidup. Padahal hari Minggu Tante masih bilang Kakak sopan banget." Dia memain-mainkan sedotan di gelasnya. "Aku nggak ngerti, Kak. Tante tiba-tiba dingin. Waktu Mama bilang petani, ojek, jaga malam, Tante cuma diam. Kayak orang yang lagi nunggu aku jatuh."
Dion menatap sedotan itu, bukan wajah Fanya, karena dia tahu persis kenapa Sanny dingin dan tak sanggup mengatakannya. Perutnya terasa seperti ditinju dari dalam.
"Mungkin Tante lagi punya pikiran sendiri," katanya, dan dia benci betapa lancar kalimat itu keluar.
"Mungkin." Fanya mengangkat mata. Bulu matanya basah. "Aku capek, Kak. Capek ngerasa semua orang mau ngatur aku. Aku nggak minta banyak. Aku cuma pengin bisa milih orang yang aku sayang tanpa harus ngitung berapa utang Papah."
Dion mengulurkan tangan melewati meja dan menawarkannya, telapak ke atas, tanpa memaksa. Fanya menatap tangan itu sebentar, lalu menaruh tangannya di atasnya dan jari-jari mereka saling mengunci, pelan, canggung, seperti baru belajar berpegangan.
"Dengerin Kakak, Dek."
"Iya."
"Apa pun yang Mama bilang, Kakak nggak bakal mundur." Suara Dion serak. Dia berbicara sambil memandang tautan jari mereka karena tidak sanggup menatap wajah Fanya. "Kakak bakal berjuang. Lulus, kerja yang bener, bikin Mama lihat Kakak bukan cuma ojek dan satpam. Kakak janji."
Kata janji itu keluar dari mulutnya, dan mengendap di dadanya seperti pecahan kaca. Dia sedang bersumpah di depan perempuan yang percaya padanya, dengan kedua tangan yang masih menyimpan uang dari tante perempuan itu sendiri. Setiap kata terasa seperti tanda tangan di bawah dokumen yang isinya belum dia baca habis.
"Aku percaya sama Kakak," bisik Fanya. "Sepenuhnya."
Dion memejamkan mata sedetik.
"Kakak ingat nggak, waktu telepon waktu itu?" lanjut Fanya, tersenyum kecil. "Pas Mbak Siti sudah aman. Kakak bilang, aku bisa pegang janji Kakak. Kakak nggak akan macam-macam sampai kita nikah."
Dion menunduk. Tangan Fanya hangat dalam genggamannya, dan dia tahu persis di mana tangan itu tidak pernah seharusnya berada.
"Ingat, Dek."
"Itu yang bikin aku berani nolak Mama kemarin, Kak. Aku mikir, kalau ada satu orang yang bakal jaga omongannya, itu Kakak." Fanya meremas jari-jarinya lembut. "Makasih ya. Maaf kalau aku terlalu percaya."
"Jangan minta maaf soal itu."
"Tapi ..."
"Dek, jangan."
Fanya terdiam, kemudian mengangguk dan menyeka matanya dengan punggung tangan yang bebas. Pemilik warung lewat membawa sepiring pisang goreng yang tidak mereka pesan, meletakkannya di meja tanpa kata, dan pergi seolah hanya angin. Fanya menatap piring itu dan tertawa kecil di tengah air matanya.
"Bapaknya baik banget."
"Dia masih ingat jadian kita, kayaknya."
"Bohong. Dia lupa." Fanya mencomot satu pisang goreng dan meniupnya. "Kak, aku mau minta sesuatu. Tapi Kakak jangan langsung bilang nggak."
"Apa?"
"Mama bilang Jumat malam ada makan malam di rumah Tante. Refi datang. Mama mau Kakak juga datang."
Dion membeku. "Mama kamu ... minta aku datang?"
"Mama bilang mau lihat sendiri orangnya." Fanya menggigit bibir. "Aku tahu itu jebakan, Kak. Aku tahu Mama bakal ngomong yang nggak enak. Tapi kalau Kakak nggak datang, Mama bakal bilang Kakak takut. Dan ... dan aku juga pengin Kakak ada. Aku nggak mau sendirian di meja itu."
"Dek, Kakak ..." Dion mencari alasan di antara semua kemungkinan di kepalanya. Makan malam di rumah Sanny, di hadapan Mama, Papah, Farish, Refi, dan Sanny sendiri. Satu meja dengan semua orang yang bisa menghancurkannya dengan satu kalimat. "Itu nggak bagus, Dek. Kakak cuma bakal bikin Mama kamu makin marah."
"Iya. Tapi aku mohon."
Dion menatap kedua mata itu, yang sedang memohon tanpa tahu apa yang sebenarnya dia minta. Ada banyak cara menolak seseorang, dan dia tidak punya satu pun yang tidak menyakiti dirinya.
"Kakak datang."
Wajah Fanya terbuka seperti jendela yang tiba-tiba diterangi matahari. "Beneran?"
"Beneran."
"Makasih, Kak! Makasih banget!" Fanya menggoyang-goyangkan tangan Dion di antara kedua tangannya. "Eh, tapi pakai kemeja yang bagus, ya. Mama itu orangnya meneliti. Dia lihat sepatu dulu baru lihat muka."
"Kakak cuma punya satu kemeja yang bagus, Dek."
"Ya udah, yang itu aja." Fanya tersenyum lebar. "Asal rapi. Asal Kakak yang nyetrika sendiri, jangan sampai kusut kayak hati Mama."