Mobil Mama dan Papah tiba tepat ketika jam di ruang tamu berdentang dua belas kali, dan Fanya, yang sejak pukul sembilan sudah tiga kali mengganti baju, berdiri di teras dengan tangan saling meremas.
"Nya, tenang," bisik Mawar, yang kebetulan datang membawa titipan kue dari ibunya dan belum sempat pulang. "Kamu kayak mau sidang skripsi."
"Lebih parah, War. Sidang skripsi nggak ada Mama."
"Ya udah, aku pulang aja." Mawar buru-buru mundur dua langkah. "Aku punya naluri bagus. Kalau ada Mama kamu, mendingan aku jadi tikus."
"War!"
"Doa aku buat kamu, Nya. Beneran." Mawar menepuk bahunya sekali dan menghilang lewat pagar sebelum sedan hitam itu berhenti.
Pintu mobil terbuka. Mama turun lebih dulu dengan blus sutra warna anggur dan tas bermerek yang dia jinjing di lipatan siku, kacamata hitam bertengger di rambut yang ditata rapi. Papah menyusul lambat, berjalan dengan satu tangan bertumpu pada kap mobil. Kemejanya longgar di bahu, wajahnya lebih kurus dari terakhir kali Fanya melihatnya, dan sebelum sampai ke teras dia terbatuk dua kali, dalam dan basah.
"Papah!" Fanya turun menyongsong, menahan lengannya. "Papah sakit?"
"Cuma batuk, Nya." Papah tersenyum, tipis. "Udara AC mobil."
"Sudah, jangan ditanya-tanya," sela Mama sambil menyerahkan kunci kepada sopir. "Ayo masuk. Panas."
"Sudah makan, Nya?" tanya Papah pelan, saat Mama sibuk menyapa pembantu rumah.
"Sudah, Papah. Papah yang belum, kan? Papah kurus."
"Papah diet."
"Papah nggak pernah diet."
"Sekarang diet." Papah tersenyum lagi, dan di balik senyum itu Fanya melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak: kelelahan yang bukan hasil semalam tanpa tidur, melainkan hasil berbulan-bulan memikirkan angka yang tidak pernah cukup.
Di ambang pintu, Sanny sudah menunggu dengan gaun kasual warna gading, rambut digerai, dan senyum yang sangat tertata. Begitu Mama melangkah masuk, kedua kakak-adik itu saling merangkul. Mama mencium pipi kiri dan kanan Sanny, lalu mundur setengah langkah untuk mengamatinya.
"Kamu makin cantik, Sashi. Rumah ini makin besar juga. Sudah ganti tirai?"
"Sudah dua bulan lalu, Mbak."
"Pantas." Mama melirik tirai itu seperti menaksir harga. "Suamimu benar-benar sayang kamu."
Sesuatu yang kecil dan cepat melintas di wajah Sanny, lalu hilang. "Silakan duduk, Mbak. Mas juga. Bi, tolong bawakan teh."
Mereka duduk di ruang tamu yang sama tempat Dion berdiri dengan telapak tangan basah beberapa hari lalu. Fanya duduk di sofa tunggal paling dekat dengan pintu, tempat yang biasanya dia pakai ketika sudah tahu sebentar lagi akan ada yang tidak enak.
**
Basa-basi berlangsung sepuluh menit: soal macet, soal harga cabai, soal tetangga Mama yang baru membeli mobil dan dianggap pamer. Lalu Mama menaruh cangkirnya dan menatap Fanya lekat-lekat.
"Nya. Mama langsung saja."
"Iya, Mama."
"Mama sudah bicara dengan keluarga Refi. Kamu tahu siapa Refi, kan? Kak Refi, yang kamu bilang baik waktu Mama kenalin lewat foto." Mama berbicara cepat dan lancar, tanpa jeda; naskahnya jelas sudah dihafal. "Begitu kamu wisuda, kalian bertunangan. Resmi. Keluarga mereka sudah setuju, tinggal tanggalnya."
Cangkir di tangan Fanya bergetar hingga teh berombak. "Mama, aku ... aku baru semester ini. Wisuda masih jauh."
"Justru itu, supaya kamu punya waktu mempersiapkan diri." Mama mengangkat dagu. "Dan jangan salah sangka. Ini bukan soal jodoh-jodohan zaman dulu. Refi lulusan luar negeri, kerja di perusahaan ayahnya, orangnya sopan. Kamu mau cari yang bagaimana lagi?"
"Aku ... aku belum kepikiran, Mama."
"Belum kepikiran?" Suara Mama naik satu tingkat. "Nya, kamu pikir hidup ini cuma soal perasaan? Papahmu itu sedang di ambang bangkrut. Kamu tahu bank sudah dua kali kirim surat? Usaha Papahmu butuh suntikan, dan keluarga Refi bersedia. Semua orang mau menolong. Satu-satunya yang diminta cuma kamu bilang iya."
"Ma," Papah mencoba memotong dengan suara parau, "jangan begitu. Di depan Sashi."
"Sashi bukan orang lain, Pah. Dia keluarga." Mama menoleh pada adiknya. "Iya kan, Sash?"
Sanny menatap cangkir di pangkuannya. "Iya, Mbak."
Fanya menarik napas panjang. Dia sudah menyiapkan jawaban ini sejak semalam, kalimat demi kalimat, tetapi sekarang semuanya terdengar kecil. "Mama, aku nggak mau membantah. Aku sayang Papah, aku mau Papah sehat dan usahanya selamat. Tapi menikah itu ... aku nggak bisa kalau ..." Dia berhenti. "Maaf, Mama. Aku belum bisa bilang iya."
"Belum bisa." Mama mengulang pelan, dan di sudut bibirnya ada sesuatu yang dingin. "Kenapa? Ada orang lain?"
Seisi ruangan terdiam.
Fanya merasakan tatapan Papah, tatapan Mama, tatapan Sanny. Yang terakhir paling berat. Dia mengangkat wajah dan melihat tantenya duduk tegak, bibir terkatup, mata menatap lurus kepadanya tanpa senyum sedikit pun. Mata yang beberapa hari lalu penuh kehangatan itu sekarang seperti kaca.
"Ada, Mama," bisik Fanya. "Aku sudah punya seseorang."
"Siapa?"
"Namanya Dion. Mahasiswa semester akhir di kampusku."
"Anak siapa?"
"Anak ... orang biasa, Mama. Bapaknya petani."
Mama mengeluarkan suara napas pendek, setengah tawa setengah geram. "Petani. Dan kamu menolak Refi karena petani." Mama menatap Papah sekilas, tajam. "Pah, dengar itu? Anak kita lebih pilih bapak yang menanam padi daripada orang yang bisa menyelamatkan perusahaan keluarga."
"Aku nggak pilih karena pekerjaan bapaknya, Mama. Dion mahasiswa, dia kerja sendiri buat bayar kuliah. Ojek, jaga malam, apa saja."
"Ojek." Mama mengucapkannya seolah kata itu bau. "Jaga malam. Ya ampun, Nya. Kamu mau hidup di rumah kontrakan, makan seadanya, tunggu suami pulang dini hari dengan jaket berbau knalpot?"
"Kalau dia jujur, aku mau, Mama."
"Jujur tidak bikin kenyang!"
"Ma," tegur Papah lemah, lalu batuk lagi, lebih keras. Fanya refleks bangkit dan menuangkan air putih ke gelas, dan Papah menerimanya dengan tangan gemetar. Mama berhenti bicara sebentar, hanya sebentar, matanya mengikuti gerak Papah, lalu kembali mengeras.
"Karena aku sayang dia, Mama."
"Sayang tidak bisa bayar utang Papahmu, Nya!"
"Mbak," Sanny akhirnya bersuara, dan suaranya sangat rata, seperti benda keras yang diletakkan di meja. "Mbak benar. Fanya masih muda. Dia belum tahu apa yang benar-benar dibutuhkan hidup. Anak seusianya gampang terbawa perasaan kepada orang yang terlihat baik di permukaan."
Fanya menoleh, kaget. "Tante ..."
"Tante bicara demi kebaikanmu, Anya." Sanny tersenyum, dan senyum itu tak menyentuh matanya. "Tante sudah bertemu pacarmu, kan? Anak yang sopan, memang. Tapi sopan tidak sama dengan cukup."
Dingin merambat di tengkuk Fanya. Hari Sabtu, di dapur, tantenya masih menyuruh membungkus kue untuk Dion. Hari ini kalimat yang sama keluar dengan makna yang sama sekali lain. Dia tak mengerti apa yang berubah, dan satu-satunya yang dia rasakan adalah seperti baru ditinggalkan seseorang di dalam ruangan yang masih ramai.
"Kalau begitu," Mama menyilangkan kaki, puas dengan dukungan itu, "Jumat malam kita makan bersama di sini. Refi datang. Sashi sudah setuju."
"Jumat?" Fanya tersentak. "Mama, Refi ..."
"Dan pacarmu itu juga." Mama memandang lurus kepadanya, setiap kata ditekan. "Bawa dia. Mama mau lihat sendiri laki-laki yang berani membuat anak Mama menolak lamaran sebaik itu."