Sampai jam sembilan pagi, Dion sudah menelepon Sanny sebelas kali.
Sepuluh pertama berakhir dengan bunyi tut panjang, lalu suara perempuan otomatis yang mengatakan nomor itu sedang tidak aktif. Pada panggilan kesebelas, nada sambungnya berubah: sekali dering, langsung putus. Dion mengenali pola itu dari pengalamannya sendiri memblokir nomor-nomor penagih. Dia membuka aplikasi pesan, mengetik, menghapus, mengetik lagi, dan pada akhirnya yang terkirim hanya satu kalimat pendek.
Tante, saya cuma mau bicara soal uangnya. Tolong angkat.
Satu centang. Tidak pernah dua.
Dia mencoba sesuatu yang lain. Di bangku depan gedung fakultas, Dion membuka aplikasi bank dan mentransfer enam puluh juta kembali ke rekening Sanny, menulis di berita: pengembalian, bukan hadiah. Layar menampilkan tanda hijau berhasil. Dia menunggu dengan jantung berdebar dan kaleng minuman yang mulai berkeringat di tangannya.
Sembilan menit kemudian ponselnya berbunyi. Rp 60.000.000 masuk dari SANNY SHILBY. Berita: Jangan kirim lagi, Zayn.
"Dia pasti memantau rekeningnya," gumam Dion pada kaleng itu.
Dia mengulang sekali lagi, dan sekali lagi uang itu kembali, seperti bola pingpong yang dipukul dua orang yang sama-sama keras kepala. Pada putaran ketiga bank mengirim peringatan tentang transaksi berulang yang tidak lazim. Dion berhenti. Telapak tangannya basah, tapi kali ini bukan keringat takut. Lebih mirip kesal yang tak tahu mau diarahkan ke mana.
"Uang lu lagi olahraga?"
Ernest sudah berdiri di belakangnya dengan tas selempang dan sepotong gorengan, entah sudah berapa lama. Dia melongok ke layar ponsel, membaca tiga baris notifikasi yang berurutan, lalu bersiul panjang.
"Pingpong," putusnya. "Tiga kali. Lu sama Tante lagi main pingpong pakai enam puluh juta."
"Nggak lucu, Nes."
"Gue nggak ketawa. Gue lagi mikir." Ernest duduk di sebelah Dion dan mengunyah gorengannya dengan serius. "Sekarang sembilan puluh tujuh juta duduk di rekening yang sama dengan duit ngojek lu, duit jaga club lu, dan duit makan lu. Itu bahaya."
"Kenapa bahaya?"
"Karena duit orang yang bukan hak lu harus punya rumah sendiri, Yon. Kalau dicampur, lama-lama lu bakal ngerasa itu duit lu." Ernest menunjuk dengan gorengan. "Satu juta buat bensin, dua juta nambal kos, nanti kuliahnya. Nggak ada orang yang bilang 'gue bakal pakai'. Mereka cuma bilang 'sekali ini aja'. Gue pernah lihat bapak gue begitu."
Dion menatapnya agak lama. "Terus?"
"Kita buka rekening baru. Siang ini, sebelum lu berubah pikiran. Khusus. Namanya, hm, Rekening Utang. Semua duit Sanny pindah ke sana dan nggak ada yang disentuh sampai lu balikin ke dia atau ke suaminya."
"Kartunya gue yang pegang?"
"Gue yang pegang."
"Kok lu?"
"Karena gue nggak berniat pakai." Ernest tersenyum miring. "Seumur hidup gue pengen jadi orang kepercayaan, tapi yang dipercayakan ke gue baru kunci toilet doang."
**
Mereka mengantre di bank selama dua jam, melewati petugas yang menanyakan tujuan pembukaan rekening sampai tiga kali. Ernest menjawab yang pertama dengan "tabungan khusus", yang kedua dengan "tabungan sangat khusus", dan yang ketiga dengan "tabungan yang kalau disentuh teman saya bakal nangis". Petugas itu akhirnya menyerah dan membiarkan mereka menandatangani. Dion memindahkan sembilan puluh tujuh juta sampai angka di rekening lamanya tinggal sisa kecil, dan tangannya terasa aneh ringan ketika dia menekan tombol terakhir.
Begitu keluar dari gedung, Ernest mengeluarkan selembar stiker kuning dari saku jaket, menempelkannya di sampul buku rekening baru, lalu menuliskan huruf besar dengan spidol: JANGAN DISENTUH.
"Kenapa stiker?"
"Biar kebaca. Orang lupa sama janjinya sendiri, tapi nggak bisa pura-pura nggak lihat huruf besar."
"Nes."
"Apa?"
"Makasih."
"Udah, jangan melankolis di depan bank. Nanti dikira kita mau rampok." Ernest menyelipkan buku itu ke dalam tas selempangnya dan menepuknya dua kali. "Kalau ada yang berani nyentuh, gue gigit duluan."
Dia berpisah dengan Ernest di halte, dan di tengah perjalanan pulang ponselnya berdering. Kali ini nama yang muncul membuat dadanya menghangat dan menegang pada saat yang sama.
"Halo, Dek."
"Kak! Kakak ke mana aja? Dari pagi aku kirim stiker nggak dibalas." Suara Fanya bergelombang, sedikit riuh oleh bunyi sendok di belakangnya. "Eh, maaf, maaf. Aku bawel ya? Kakak pasti sibuk."
"Nggak bawel. Tadi Kakak lagi ngurus rekening di bank, buat keperluan skripsi. Ribet antreannya."
"Oh." Hening sebentar. "Rekening buat apa, Kak?"
"Buat ... nyimpen modal. Biar rapi, nggak campur sama uang makan."
"Wah, Kakak makin dewasa." Fanya terdengar bangga, dan itu yang paling menyiksa. "Tapi jangan sampai lupa makan, ya. Kakak udah makan siang? Kakak jangan bohong. Aku tahu Kakak kalau stres suka lupa."
"Udah, Dek. Tadi Ernest nraktir bakwan."
"Bakwan itu bukan makan siang."
"Bakwan itu makan siang kelas pekerja."
Fanya tertawa, tawa kecil yang selalu membuat Dion ingin berhenti di tengah jalan. "Ya udah. Aku mau lanjut bantu Tante di dapur. Hati-hati di jalan, Kak. Eh, maaf, itu juga bawel, ya?"
"Bawel yang Kakak suka, Dek."
Sambungan terputus. Dion menurunkan ponsel ke saku dan baru sadar bahwa selama bicara dia tak sekali pun menyebut kata trading, dan bahwa itu satu-satunya kebohongan yang tidak perlu dia ucapkan hari ini.
**
Sore harinya Dion menitipkan motor di parkiran apartemen dan masuk lewat lobi dengan langkah yang berusaha tidak terlihat. Petugas keamanan yang sama, yang selama ini tak pernah bertanya apa-apa, mengangkat wajah lebih dulu.
"Mas mau ke unit Ibu Sanny?"
"Iya, Pak. Sebentar saja."
Petugas itu menatap Dion sebentar, menimbang antara aturan dan rasa kasihan. "Tadi pagi Ibu pesan lewat telepon. Kalau ada yang cari, bilang Ibu tidak di tempat. Tapi ..." Dia menggaruk pelipis dan mengangkat bahu. "Mas naik sendiri saja, saya nggak lihat apa-apa."
"Terima kasih, Pak."
Lorong lantai itu sepi, berkarpet tebal, berbau pengharum ruangan yang sama seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya. Dion berdiri di depan sebuah pintu cokelat tua dan baru sekarang menyadari betapa sering dia berdiri di sini sambil berusaha tidak berpikir. Dia menekan bel. Bunyinya terdengar jelas dari balik pintu, dua nada rendah. Dia menunggu semenit penuh, menekan lagi, lalu mengetuk tiga kali dengan buku jari.
"Tante, ini saya." Suaranya dia jaga tetap rendah. "Saya nggak akan masuk. Saya cuma mau bicara soal uangnya."
Tak ada jawaban. Tak ada langkah, tak ada bunyi televisi, tak ada lampu yang bergerak di celah bawah pintu.
Dion mengeluarkan selembar kertas lipat dari saku, hasil sobekan buku catatannya, dan menyelipkannya ke bawah daun pintu. Tiga baris saja.
Saya tidak akan datang lagi. Tolong terima uangnya. Supaya semuanya jelas bagi kita berdua.
Dia berbalik, berjalan ke lift, dan baru di depan pintu lift dia mendengar sesuatu di belakangnya: bunyi klik kecil, seperti kunci yang diputar dari dalam, atau mungkin hanya pendingin ruangan yang bergeser. Dion tidak menoleh. Pintu lift terbuka dan dia masuk.
Malam itu, saat dia sedang menyeka rambut yang basah sehabis mandi, pintu kostnya diketuk dua kali, pelan. Di baliknya berdiri Fanya, helm ojek di tangan, rambut yang diikat tinggi berantakan tertiup angin.
"Aku nggak jadi tidur cepat, Kak," katanya, lalu tersenyum seperti anak yang ketahuan kabur. "Sebentar saja. Ojeknya nunggu di depan." Dia menyodorkan kantong martabak yang masih hangat. "Mama sama Papah datang ke rumah Tante besok. Mama bilang ada yang penting mau diomongin. Doakan aku ya, Kak."
Dion menerima kantong itu. Jaketnya masih membawa bau lorong apartemen Sanny, dan dia berharap Fanya tidak sempat mendekat dan mengenalinya.