Ayam jantan di gang belakang kost sudah berkokok tiga kali ketika Dion akhirnya berhenti berpura-pura tidur.
Dia duduk bersila di lantai dengan punggung bersandar ke dinding, ponsel di pangkuan, layar menyala dan redup bergantian. Semalam dia pulang dengan sekotak kue yang dibungkus Fanya sendiri, naik motor dengan satu tangan karena tangan yang lain terus memeriksa saku, seakan pesan yang dia takuti bisa datang dalam bentuk benda. Pesan tak datang, telepon tak berdering, Fanya tak memblokir nomornya, dan Farish tak menggedor pintu. Justru kesunyian itu yang paling menyiksa, sebab sunyi berarti ancaman Sanny masih tergantung entah di mana, seperti pisau yang belum diputuskan jatuh atau tidak.
Di sebelahnya tergeletak buku bersampul hitam bertuliskan UTANG dengan spidol putih. Dion membukanya, mengambil kalkulator ponsel, dan menjumlah ulang dari halaman pertama dengan jari yang kaku. Seratus dua belas juta tunai dari Sanny. Dikurangi empat puluh lima juta yang sudah dia pakai: empat belas untuk tunggakan kuliah, enam untuk kost dan makan, dua puluh untuk Udin, lima untuk Emak lewat Zain. Sisa enam puluh tujuh juta. Lalu daftar barang di halaman berikutnya: jam tangan di laci, kemeja di dasar lemari, sepatu, jaket kulit, ponsel yang sedang dia pegang. Totalnya kira-kira tiga puluh juta.
Dia menghitungnya dua kali, tiga kali, dan hasilnya tetap sama. Angka tidak punya perasaan.
Pukul lima lewat sepuluh, ponselnya bergetar.
Fanya. Sebuah foto: piring kecil berisi dua potong bolu yang dibuat kemarin, masih tersisa di dapur Tante, difoto dari atas dengan cahaya matahari pagi yang miring. Di bawahnya ada ketikan panjang.
Pagi, Kak. Maaf ya semalam aku ketiduran nunggu telepon Kakak. Ini kue sisa, lucu ya bentuknya jadi gepeng. Tante bilang Kakak sopan banget. Aku lega, Kak. Makasih ya sudah mau datang.
Dion membaca kalimat itu tiga kali. Tante bilang Kakak sopan banget. Dia tidak tahu apakah harus merasa lega atau mual, jadi akhirnya dia merasakan keduanya sekaligus.
Kakak juga makasih, Dek, ketiknya, dan menghapusnya, dan mengetik lagi. Kakak juga makasih. Selamat tidur lagi, jangan lupa sarapan. Kirim.
Dia menaruh ponsel dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
**
Menjelang pukul sepuluh, genk sudah berkumpul di kamar kost sempit itu. Mereka duduk melingkar di atas kasur dan lantai seperti peserta rapat darurat negara. Ernest membawa bungkusan bubur ayam dari depan gang. Jovian membawa laptop yang tak ada gunanya. Gilbert membawa wajah mengantuk. Udin, yang seharusnya masih berbulan madu di kontrakan, datang terakhir dengan jaket kebesaran dan rambut kusut.
"Lu ngapain ke sini, Din?" tanya Dion. "Pengantin baru nggak boleh keluar rumah."
"Siti yang nyuruh. Dia bilang lu butuh gue." Udin duduk dan menerima bubur dari Ernest. "Katanya, tampang lu kemarin kayak orang kehilangan dompet dan nyawa sekaligus."
"Nyawa gue masih ada."
"Dompetnya?"
"Udah nggak ada isinya yang bener." Dion mencoba tertawa. "Eh, kontrakan lu gimana?"
"Atapnya bocor di satu sudut," lapor Udin, "jadi tadi malam kami nampung pakai ember. Siti bilang bunyi tetesannya romantis, kayak musik."
"Kayak musik apaan?" tanya Gilbert.
"Musik yang bikin gue nggak bisa tidur."
"Itu namanya cinta," putus Jovian dengan keyakinan seorang ahli, padahal belum pernah pacaran lebih dari dua minggu.
Dion tidak menjawab. Dia menceritakan semuanya: dari kamar mandi, pantry, ruang kerja, sampai ancaman satu pesan itu. Kalimat demi kalimat meluncur tanpa urutan, dan genk mendengarkan dengan sendok bubur yang berhenti di tengah jalan.
Ketika dia selesai, tidak ada yang bicara. Ernest menaruh mangkuknya di lantai.
"Yon." Suaranya tidak seperti Ernest yang biasanya. "Ini semua gara-gara gue."
"Nes, nggak usah."
"Nggak, dengerin dulu. Arisan itu ide gue. Dikocok pakai botol kecap di kantin, nama lu keluar, dan gue yang ketawa paling keras." Ernest mengusap tengkuknya, tidak menatap siapa pun. "Gue pikir itu bercanda. Gue pikir paling-paling lu bakal ngeluh doang. Nggak tahu lu beneran jalan ke sana, dan gue ngedukung. Gue yang dorong lu."
"Gue yang milih jalan itu, Nes."
"Tetap aja gue yang bikin pintunya kebuka."
Gilbert menunduk. "Gue juga, Yon. Gue yang nunjukin gym itu."
"Dan gue yang bilang pakai alasan trading," timpal Jovian lirih. "Gue bahkan yang bikin nama 'Sapi Emas'."
"Kenapa sapi?" tanya Udin.
"Soalnya ... gue lagi lapar."
Udin memandang Jovian lama, lalu mendesah. Dia mengusap wajahnya dan beralih pada Dion. "Yon, gue nggak mau nyalahin siapa-siapa. Yang penting sekarang, jujur ke Fanya. Secepatnya. Sebelum dia dengar dari orang lain."
"Gue udah mau ngomong kemarin, di taman."
"Terus?"
"Keburu ada Kirana."
"Kirana-nya bukan alasan, Yon," kata Udin pelan.
"Gue tahu." Dion menggosok mata yang perih. "Tapi kalau gue ngomong sekarang, dia nggak bakal denger gue lagi. Gue pengin ngomong dengan cara yang benar: uang udah gue balikin ke Sanny semuanya, skripsi gue aman, gue punya sesuatu buat ditunjukin selain pengakuan. Baru gue ngomong. Biar dia tahu gue berhenti bukan karena ketahuan."
"Itu namanya nunda," ujar Udin.
"Iya. Nunda sebentar."
"Hati-hati. Nunda itu licin."
Jovian tiba-tiba mengangkat ponselnya. "Eh, ada yang harus kalian lihat."
Layar itu menampilkan unggahan di akun Syahnaz, tangkapan foto yang diambil dari belakang: sebuah kantong belanja bermerek, sepasang tangan bergandengan, dan di ujung gambar secarik topi pantai. Tak ada wajah. Di bawahnya tertulis: Ada yang mendadak kaya, ya. Semoga cintanya kebeli juga.
Dion merasa darahnya turun ke tumit. Dia ingat kilatan kamera di lantai tiga mal, yang waktu itu dia kira pantulan etalase.
"Itu gue," katanya.
"Tahu," sahut Gilbert. "Gelang karet di tangan kiri itu punya lu."
"Syahnaz sahabatnya Adelia," ingat Ernest. "Kalau mereka tahu, berarti Adelia tahu."
"Kalian jangan panik dulu," kata Dion. Padahal dia sendiri sudah panik.
"Terus kita ngapain?" tanya Gilbert. "Kita nunggu sampai Adelia kirim foto itu ke Farish?"
"Kalau dia mau kirim, dari kemarin udah kirim," sahut Ernest sambil mengerutkan kening. "Orang kayak Adelia nggak nyindir kalau nggak lagi nunggu sesuatu. Dia lagi nawar harga."
"Harga apa?"
"Harga diem-nya."
Dion menatap foto samar itu sekali lagi, lalu memejamkan mata. "Berarti sebentar lagi dia nelepon."
"Kalau gitu," kata Udin pelan, "Yon, jangan sampai lu nunggu sendirian."
"Gue nggak sendirian." Dion membuka mata, memandangi empat wajah di kamarnya yang sempit. "Gue cuma lupa itu."
**
Setelah genk pulang dan kamar kembali sunyi, Dion membuka aplikasi bank. Jarinya berhenti sebentar di atas tombol transfer, lalu menekan nama Sanny Shilby, yang rekeningnya masih tersimpan dari bulan lalu. Dia mengetik tiga puluh juta, dan di kolom berita dia menulis: cicilan pertama.
Dia menekan kirim dan menarik napas. Saldo berkurang. Sebuah bukti transfer hijau muncul di layar, dan Dion menyalin angkanya ke buku UTANG dengan huruf tegak bersambung, seperti guru menulis di papan.
Satu menit kemudian ponselnya berdering pelan.
Notifikasi bank. Dia membukanya dengan satu jari dan membaca dua kali supaya yakin.
Rp 60.000.000 masuk dari SANNY SHILBY. Berita transfer: Aku tidak menerima pengembalian.