Ketika langit di atas tenda pink mulai berubah jingga, mobil bak sewaan Pak Sabeni sudah menunggu di depan pagar dengan mesin menyala. Barang-barang pengantin baru hanya dua tas besar dan satu kardus mi instan yang dipakai membungkus perlengkapan Siti, tetapi Udin mengangkutnya satu per satu seperti membawa harta pusaka.
"Kontrakannya kecil, Fanya," ujar Siti kepada Fanya, sambil memeluknya erat-erat. "Sebulan dulu, kata Bapaknya Mas Udin. Habis itu kami lihat nanti."
"Mbak Siti pasti betah. Kalau kurang apa-apa, telepon aku, ya."
"Maaf ya, Fanya, aku sudah banyak ngerepotin."
"Jangan minta maaf, Mbak. Aku yang harusnya makasih." Fanya mengusap air matanya dengan ujung kerudung. "Eh, jadi sama-sama minta maaf, ya?"
Keduanya tertawa sambil menangis. Di dekat bak mobil, Jovian mengangkat tinggi-tinggi sebuah kantong kresek berisi sisa rendang dan memasukkannya ke dalam kardus tanpa sempat dicegah siapa pun, yang berarti kontrakan kecil itu setidaknya punya lauk untuk tiga hari.
Giliran Dion. Dia berdiri kaku di dekat pintu mobil, tangan menggenggam ujung jaketnya. Siti menghampiri, menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah.
"Kak Dion."
"Iya, Sit?"
"Terima kasih," katanya lirih, supaya tak terdengar yang lain. "Kalau bukan Kak Dion yang ngasih tahu Mas Udin, aku nggak tahu sekarang di mana." Matanya menyipit memperhatikan wajah Dion di bawah cahaya senja. "Kakak kok matanya merah banget? Nggak tidur?"
"Kurang tidur aja, Sit."
"Jangan ngoyo, Kak. Fanya cerita Kakak kerja terus." Siti menyentuh lengan jaket Dion sekilas, seperti menepuk adik sendiri. "Aku doain Kakak cepat lulus, cepat tenang."
"Aamiin," jawab Dion, dan itu kata paling tidak jujur yang dia ucapkan sepanjang hari, sebab dia tahu betul ketenangan yang dia inginkan bukan jenis yang bisa dibeli dengan doa.
Udin sempat menghambur dan memeluk Dion sampai tulang rusuknya berbunyi. "Yon, gue utang nyawa sama lu."
"Utang nyawa itu lebih berat dari utang duit, Din. Jangan sembarangan."
"Ya udah, utang duit aja!" Udin tertawa sambil menangis. "Dua-duanya gue bayar!"
Mobil bak itu menggeram dan meluncur ke jalan. Udin melambai dari jendela sampai kepalanya nyaris terbentur tiang listrik. Genk bersorak, Fanya melambai, dan di tengah semua suara itu, ponsel di saku Dion bergetar sekali.
Satu pesan. Dari nomor yang disimpan dengan huruf S dan sebuah titik.
Naik. Ruang kerja. Amplop upah tendamu.
Ernest muncul di sampingnya dengan sepotong lemper di tangan. "Pesan dari siapa? Muka lu berubah lagi."
"Dari dia."
"Gue ikut."
"Jangan. Kalau lu ikut, dia bakal mikir gue butuh pengawal." Dion memasukkan ponsel ke saku. "Lu tungguin di bawah. Kalau sepuluh menit gue belum turun, lu pura-pura butuh bantuan angkat kursi."
"Kursinya udah habis diangkat."
"Cari kursi lain, Nes."
"Oke." Ernest menggigit lempernya dengan wajah sangat serius. "Tapi kalau lu nggak turun, gue naik bawa Jovian. Dia bisa nyanyi."
Dion nyaris tertawa dengan jujur, lalu urung.
**
Ruang kerja itu di ujung lorong lantai dua. Rak buku menjulang sampai plafon, penuh buku tebal berpunggung kulit yang kelihatannya tak pernah dibuka, dan di tengah ruangan berdiri meja kayu besar dengan lampu baca tembaga. Di atas meja, di antara map-map dan sebuah pena mahal, bertengger sebuah foto berbingkai perak: Sanny berbaju putih, di sampingnya seorang pria bule tersenyum lebar, dan di pangkuan mereka seorang bayi bergaun merah muda.
Dion berhenti di ambang pintu dan menatap foto itu lebih lama dari yang dia maksudkan.
"Tutup pintunya," kata Sanny. Dia berdiri membelakangi jendela dengan kebaya hijau botol yang sudah sedikit kusut di bagian bawah. Di tangannya sebuah amplop cokelat.
"Pintunya tetap terbuka, Tante."
Sanny menatapnya, lalu mengangkat bahu. "Terserah. Ini upah pasang tenda dan kursi. Lima ratus ribu per orang. Anggap saja alasan yang masuk akal kenapa kamu kupanggil ke sini."
Dion tidak menyentuh amplop itu. Kata "aku" sudah tak sanggup dia ucapkan di ruangan ini; "saya" lebih aman, memberi jarak. "Simpan saja, Tante. Teman-teman sudah kenyang makan di sini, biar upah mereka saya yang urus."
"Kamu cepat sekali berubah jadi orang yang tahu aturan."
"Saya cuma nggak mau berutang lagi."
"Berutang?" Sanny tersenyum kecil. Dia memutar, mendekati meja, dan duduk di tepinya dengan kaki disilangkan. Suaranya turun, serak seperti dulu di restoran, tapi kali ini tak ada rayuan di dalamnya. Hanya hitungan. "Zayn, dengar aku baik-baik, Beb. Dunia memang sempit, tapi aku nggak bodoh. Kamu nggak mau gadis itu terluka, aku juga nggak. Jadi kita atur aja, Sayang. Lebih jarang, lebih hati-hati. Bukan di apartemen, bukan lewat telepon yang bisa dibaca orang. Kamu tetap dapat apa yang kamu butuhkan, dan Fanya tetap bahagia dengan pacar yang dia kira jujur."
Dion tidak langsung menjawab. Di luar jendela, tukang kebun menarik selang air, bunyinya samar. Dari bawah terdengar tawa genk. Dia memandangi foto di atas meja dan baru kemudian mengangkat mata.
"Nggak, Tante."
"Nggak apa?"
"Nggak mau." Suaranya rendah dan tertata, dan dia sendiri heran bagaimana kalimat itu bisa keluar tanpa pecah. "Saya sudah salah dari awal. Waktu Tante menawari uang, saya pikir itu pinjaman, bisa dibalikin kapan saja. Ternyata yang saya pinjam bukan cuma uang. Saya nggak akan lanjut. Hari ini yang terakhir."
"Kamu tidak sanggup membayar semuanya." Sanny memalingkan wajah ke jendela, dan untuk sekejap suaranya merosot jadi sesuatu yang lain. "Tahu nggak, Zayn? Rumah ini terlalu besar kalau hanya kutinggali dengan anak yang sudah tidur jam delapan."
Dion tidak memotong. Dia memang kasihan, dan dia tidak berpura-pura tidak.
"Saya kasihan sama Tante," katanya pelan. "Tapi kasihan bukan alasan buat ngelakuin ini terus. Kalau Tante kesepian, bilang ke Pak Aaron. Jangan bilang ke saya."
"Kamu tidak sanggup membayar semuanya," ulang Sanny, kembali datar, seakan baris tadi tak pernah ada.
"Sanggup atau nggak, akan saya kembalikan." Dion menarik napas. "Setiap rupiah. Semuanya ada catatannya, dan saya akan bayar satu per satu. Jam, baju, sepatu, semuanya."
"Dan Fanya?"
Pertanyaan itu dilempar ringan, tetapi jatuhnya berat.
"Fanya akan tahu dari saya sendiri."
"Kapan?"
"Nanti. Setelah saya lunas." Dion menatap lurus ke mata Sanny dan baru saat itu melihat sesuatu bergerak di baliknya, bukan marah, tetapi kaget, seolah baru sadar pintu yang selama ini dia kira bisa dibuka kapan saja telah dikunci dari seberang. "Tante nggak pantas mengatur hidup saya lagi."
Sanny turun dari meja. Dia berjalan satu langkah mendekat, berhenti, dan tangannya tidak terulur. Suaranya sangat tenang.
"Kamu tahu apa yang bisa kulakukan dengan satu pesan saja? Satu pesan ke ponsel Fanya, dengan foto dan tanggal. Dia akan membacanya di kamarnya, di rumahku, di tempat tidur yang kuberikan. Dan kamu tidak akan sempat menjelaskan apa-apa."
Dion merasakan lututnya melemas. Namun dia tidak mundur.
"Silakan, Tante."
Suaranya gemetar jelas, bergetar sampai ke huruf terakhir. Tetapi dia mengucapkannya, dan dia berbalik, dan dia keluar dari ruangan itu tanpa menutup pintu, menuruni tangga dengan satu tangan mencengkeram pegangan kayu sampai buku-buku jarinya memutih.
Di anak tangga terakhir, Fanya sudah berdiri dengan ponsel di tangan. Dion berhenti tepat saat jantungnya serasa jatuh ke lantai.
"Kak!" Fanya mengangkat wajah, dan di layar ponsel itu terlihat sebuah pesan yang baru masuk. "Tante barusan kirim pesan."
Dion tidak bisa bernapas.
"Katanya," Fanya membaca sambil tersenyum, "tolong bungkusin kue buat Kak Dion. Aduh, baik banget Tante."