Resepsi kecil itu dimulai sesudah salat Zuhur, di bawah tenda pink bergambar kucing yang sekarang diam-diam dianggap tamu kehormatan. Piring nasi kuning itu masih menempel di tangan Dion, dan sendoknya belum berhenti berdenting. Dia menaruhnya di pangkuan, menutup sendok dengan telapak tangan, lalu memasang senyum tamu yang kenyang. Udin melirik dari kursi sebelah, tidak bertanya apa-apa, hanya menyodorkan sekantong kerupuk. Meja prasmanan berderet di sisi kiri, kursi plastik tersusun miring di sisi kanan, dan di panggung dadakan dari dua meja yang dirapatkan, Ernest memegang mikrofon pinjaman dari musala dengan percaya diri seorang pembawa acara kondangan.
"Hadirin sekalian! Para tamu undangan yang berbahagia, para tetangga yang kebetulan lewat dan tergoda bau rendang!" Ernest mengetuk mikrofon dan menimbulkan bunyi nging yang membuat setengah kursi menutup telinga. "Sebelum perut terlalu kenyang untuk bertepuk tangan, kita hibur dulu pengantin baru kita dengan persembahan istimewa. Silakan, duet maut dari genk Rewo-Rewo dan perwakilan fakultas, Jovian dan Mawar!"
"Aku nggak setuju!" pekik Mawar dari barisan depan.
"Terlambat, War! Udah masuk daftar acara!"
"Siapa yang masukin?!"
"Aku," aku Jovian dengan wajah merah, berdiri di panggung memegang mikrofon kedua. "Soalnya ... soalnya kata Ernest, kalau nggak ada hiburan, Udin bakal pingsan lagi."
"Aku nggak pingsan!" protes Udin dari kursi pengantin.
Fanya menepuk-nepuk lengan Mawar. "War, sebentar aja. Buat Mbak Siti."
Mawar mendesah lama, menyingsingkan lengan kerudungnya, lalu naik ke panggung dengan langkah seperti hendak menghadap algojo. Musik karaoke diputar dari ponsel Gilbert lewat pengeras suara kecil. Intro lagu cinta lawas itu mengalun, dan dalam dua baris pertama terjadi dua bencana sekaligus: Jovian masuk di nada yang terlalu tinggi, dan Mawar masuk di nada yang terlalu rendah.
"Kau yang kutunggu-tunggu ..." lengking Jovian.
"... di ujung rindu ..." geram Mawar, bersuara seperti pintu berkarat.
Lagu itu rusak di depan seluruh tamu. Tetangga-tetangga bertepuk tangan dengan semangat tulus, Pak Sabeni menggeleng sambil tersenyum, dan Bu Rohana menutup telinga Udin dengan telapak tangan. Gilbert, yang bertugas menjaga ponsel, terpaksa menaikkan volume agar duet itu tenggelam.
Dion tertawa. Dia memaksakan diri tertawa, melebarkan mulut dan mengeluarkan bunyi ha ha, persis seperti yang dia lakukan dua tahun lalu ketika dosen melucu tapi tidak ada yang tahu letak lucunya. Dari seberang tenda, dia merasakan mata Sanny menyentuhnya sekejap, lalu pindah ke Kirana, ke piring, ke hal-hal lain yang tak berbahaya.
"Yon, lu ketawa kayak orang batuk," bisik Ernest, turun dari panggung dengan mikrofon yang masih menyala.
"Mik lu nyala, Nes."
"Mik gue ... oh." Ernest menunduk. "Itu tadi nyala?!"
Seluruh tenda tertawa lagi, kali ini tawa yang asli, dan Dion bergabung tanpa harus berpura-pura.
Udin menghampiri dengan sepiring penuh rendang dan wajah yang masih bengong, seperti baru turun dari wahana. "Yon, gue lupa bilang. Makasih ya."
"Buat apa?"
"Buat dua puluh juta itu. Tanpa itu gue nggak bakal bisa bayar penghulu, apalagi seserahan sama konsumsi." Udin menelan ludah. "Gue bakal ganti. Pelan-pelan."
"Santai, Din."
"Nggak, gue serius. Lu pikir gue nggak tahu lu kerja dobel?" Udin menepuk bahu Dion dengan tangan berminyak. "Gue nggak mau lu rugi gara-gara gue."
Kalimat itu mestinya hangat. Entah kenapa di telinga Dion dia terdengar seperti tagihan.
**
"Kak, bentar ya, ikut aku sebentar." Fanya menarik ujung lengan baju Dion dari belakang. "Ada yang mau aku tunjukin."
Mereka berjalan melewati sisi rumah. Rumput di taman belakang masih basah oleh embun dan siraman tukang kebun, pohon-pohon kamboja berjajar di sepanjang pagar, dan di tengah-tengahnya ada gazebo kayu kecil yang terlihat lebih sunyi dibanding keramaian tenda di depan. Fanya duduk di bangku gazebo, menepuk tempat kosong di sebelahnya, dan Dion duduk dengan hati-hati, bersiap kalau kursinya patah.
"Tante itu sebenarnya kesepian, Kak," ujar Fanya tiba-tiba, mengayunkan kakinya pelan. "Aku baru sadar sejak tinggal di sini. Om jarang di rumah, rumah segede ini cuma ada Tante sama Kirana. Makanya kalau ada acara kayak gini, Tante senang banget, walaupun mukanya serius."
"Oh ya?" Suara Dion keluar tipis.
"Iya. Makanya aku pengin Kakak baik-baik sama Tante." Fanya menoleh. "Kakak kok diem aja dari tadi?"
"Capek, Dek. Semalam nggak tidur."
"Gara-gara trading?" Matanya jernih sekali. "Kak, aku nggak mau nuduh, aku cuma khawatir. Aku cari 'Sapi Emas' di toko aplikasi, tapi nggak ada. Terus ... terus aku mikir mungkin namanya beda. Tapi tetap aku nggak tenang."
Dion menatap rumput. "Dek."
"Iya?"
"Ada yang harus Kakak bilang ke kamu."
"Apa?"
Tenggorokan Dion tertutup. Semua kalimat yang dia latih dalam hati sepanjang pagi, sejak sebelum dia melihat Sanny menuruni tangga, tiba-tiba tidak ada yang cocok. Dia menarik napas, membuka mulut, dan sebelum satu kata keluar, terdengar derap kaki kecil di rumput.
"Kak Anya! Kak Anyaaa!"
Seorang anak perempuan berlari dari arah teras samping, rambutnya dikuncir dua, bajunya putih bergambar kelinci, dan di tangannya terseret sebuah boneka kelinci yang lebih besar dari separuh badannya. Umurnya tiga tahun, mungkin kurang sedikit. Di belakangnya, seorang pengasuh paruh baya berseragam krem tergopoh-gopoh membawa tablet.
"Kirana!" Fanya langsung berlutut dan merentangkan tangan. "Hati-hati, Sayang! Sini sama Kak Anya."
Anak itu menubruk Fanya dan tertawa, lalu menunjuk Dion dengan jari mungil. "Itu siapa, Kak Anya?"
"Itu Kak Dion. Teman Kak Anya."
Kata teman itu menusuk dada Dion lebih dalam daripada pisau mana pun.
"Kak Dion jelek," putus Kirana, serius.
"Kirana!" sergah pengasuhnya, malu. "Maaf, Mas, anak-anak memang terus terang."
"Nggak apa-apa." Dion berhasil tersenyum. "Kakak memang jelek hari ini."
"Non Kirana mau video call sama Papa," lapor pengasuh itu pada Fanya, mengacungkan tablet. "Dari tadi Papa terus tanya."
"Oh, sini, Bi." Fanya mengambil tablet dan menekan layarnya. Wajah seorang pria muncul. Rambutnya pirang kecokelatan agak acak-acakan, matanya biru keabuan, kaus abu-abu kusut seperti baru bangun tidur. Di belakangnya terlihat jendela gelap berbingkai putih.
"Hai, Princess!" sapanya dalam bahasa Indonesia yang lancar, hanya sedikit berlogat. "Papa kangen sekali. Kamu sudah makan?"
"Papa! Papa, aku lihat kelinci!" Kirana merebut tablet dengan dua tangan. "Kelincinya besar!"
"Hebat sekali. Hei, ada Fanya juga!"
"Halo, Om Aaron," sapa Fanya, tersenyum. "Om, di sana masih subuh, ya?"
"Masih. Papa bangun cuma karena Kirana. Tidak apa-apa." Matanya yang ramah beralih, menemukan Dion. "Dan ini?"
"Ini Kak Dion, Om. Teman kuliahku. Dia bantu pasang tenda dari pagi."
"Oh, terima kasih banyak, Dion. Saya Aaron, suami Sanny. Maaf saya tidak bisa hadir, kerjaan menahan saya di sini." Pria itu mengangkat tangan dari layar, melambai singkat. "Kalau lain kali kamu ke sini lagi, anggap saja rumah sendiri."
Dion membuka mulut dan nyaris tidak menemukan suaranya. "Iya, Pak. Terima kasih."
Wajah di layar itu terlalu ramah, terlalu hangat, terlalu tidak tahu apa-apa. Dion menatap kepala kecil Kirana yang bersandar di bahu Fanya sambil bercerita tentang kelinci, lalu menatap wajah ayahnya, lalu menatap rumput, dan satu-satunya yang dia rasakan adalah rasa jijik pada dirinya sendiri, tebal dan lengket seperti lumpur.
"Kak?" Fanya menoleh. "Tadi Kakak mau bilang apa?"
"Nanti aja, Dek," kata Dion. "Bukan hal penting."
**
Menjelang sore, saat tamu mulai sepi dan genk sibuk mengangkut sisa kursi, Gilbert menyikut Dion di dekat truk.
"Yon, om gue nanya, jadi lu masuk Rabu sama Kamis, kan?"
"Jadi."
"Lu yakin kuat? Lu kayak zombie."
"Zombie juga bisa jaga pintu, Bert."
"Itu bukan hiburan," gumam Gilbert. Dion menepuk lengannya, lalu pamit ke dalam rumah. Dia menyusuri koridor samping menuju kamar mandi. Sebuah tangan menahan bahunya dari belakang, tidak keras, tapi tidak memberi ruang untuk lepas.
Farish. Kemejanya sudah digulung hingga siku, dan sorot matanya tenang, tenang yang justru lebih menakutkan dari teriakan.
"Hati-hati dengan adik saya."
Dion tidak menunduk. "Saya tahu."
Farish menatapnya tiga detik penuh, melepaskan bahunya, lalu pergi tanpa menambah satu kata pun.