Ruang tengah rumah itu disulap dalam sejam menjadi tempat akad. Sofa digeser ke dinding, karpet digelar, meja kecil berlapis kain putih diletakkan di tengah ruangan, dan di atasnya sudah tertata mushaf, map surat nikah, serta sebuah kotak mungil berisi seperangkat alat salat yang dibeli Udin dengan sisa uang jajannya selama dua bulan. Penghulu duduk bersila di balik meja, seorang bapak berpeci yang sibuk mengusap kacamata dengan ujung sarung.
Udin duduk di seberangnya dengan punggung tegang seperti kayu. Keringat sudah menetes dari ujung pecinya ke leher baju koko.
"Din, napas," bisik Ernest dari belakang.
"Gue lagi napas."
"Itu bukan napas, itu mau pingsan."
Di sisi lain, Siti duduk bersimpuh di atas karpet dengan kebaya krem dan kerudung putih, didampingi Fanya yang menggenggam tangannya. Matanya sudah merah sebelum acara mulai. Di barisan belakang, para tamu yang tak seberapa banyak berdiri dempet-dempetan: Pak Sabeni, Bu Rohana, Mawar, Jovian, Gilbert yang masih memegangi lehernya karena tersedak tadi, dan Dion yang bersandar pada kusen pintu dengan wajah seputih kapur.
Sanny berdiri tak jauh dari tangga. Dia tidak menoleh ke Dion, dan itu yang membuat Dion paling takut.
"Yon," desis Ernest sambil merapat. "Ekspresi lu jangan kayak mau dieksekusi. Ini nikahan, bukan sidang."
"Gue lagi usaha."
"Usahanya gagal," bisik Gilbert dari sisi lain. "Muka lu kayak tahu bulat basi."
"Ssst!" Mawar menoleh tajam dari depan. "Kalian dari tadi bisik-bisik terus. Yang nikah itu Udin, bukan kalian."
"Iya, War," jawab Jovian cepat-cepat, lalu menambahkan lebih pelan, "Cantik banget kalau lagi galak."
"Apa?"
"Nggak! Kataku, Udin cakep banget kalau lagi gugup!"
Suara mesin mobil berhenti di depan pagar. Semua kepala menoleh.
Eko Juniarto masuk lewat pintu depan. Tubuhnya kekar dan tinggi, brewoknya hitam tebal, bajunya batik cokelat yang rapi tapi terlihat baru disetrika terburu-buru. Di sampingnya, Bu Wulan berjalan setengah langkah di belakang dengan tangan meremas tas kecil. Tak seorang pun bicara. Eko menatap lurus ke arah meja akad, lalu menatap anaknya yang bersimpuh di sana, dan rahangnya mengeras.
"Assalamualaikum," katanya, berat.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang serempak, terlalu cepat dan terlalu keras.
Eko duduk di seberang Udin, menghadap meja. Dia berdeham sekali. Hanya itu. Penghulu menarik napas, membuka map, membacakan beberapa pertanyaan pembuka, dan sebelum Dion sempat menenangkan jantungnya, dia sudah mendengar suara Eko mengulurkan tangan.
"Ananda Udin bin Sabeni," ucap Eko, menjabat tangan Udin dengan genggaman yang membuat lengan Udin gemetar. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Siti binti Eko Juniarto, dengan mas kawin seperangkat alat salat, dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Siti binti Eko Juniarto dengan mas kawin tersebut ... eh ..." Udin berhenti. Matanya mengerjap. "Dibayar ... dibayar ..."
"Tunai, Nak," bisik penghulu.
"Dibayar kasino."
Hening seperti kuburan. Jovian menutup mulut dengan kedua tangan, bahunya berguncang. Gilbert menggigit lengan bajunya. Bahkan Pak Sabeni mengusap wajah dengan telapak tangan.
"Belum sah," ujar penghulu sabar. "Ulangi."
Eko menjabat tangan Udin sekali lagi, kali ini lebih keras, dan mengulang kalimatnya dengan nada yang lebih datar. Udin menjawab dengan napas yang diatur, mengucapkan "tunai" dengan sangat jelas sampai terdengar seperti orang yang membaca proklamasi, tetapi di tengah kalimat dia melewatkan kata "binti".
"Belum sah. Ulangi."
Siti terisak. Fanya mengusap punggung tangannya sambil menahan senyum. Di belakang, Ernest berbisik, "Din, kalau lu gagal sekali lagi, gue yang nikahin Siti."
"Ernest," tegur Mawar.
"Bercanda, War!"
Ketiga kalinya, Eko tidak mengulang dengan kalimat panjang. Dia hanya menatap Udin tepat di mata dan berkata pelan, "Jangan gugup. Kamu bukan sedang ujian. Kamu sedang menerima titipan."
Sesuatu di wajah Udin mengendur. Dia menjabat tangan itu, menegakkan punggung, dan dalam satu tarikan napas mengucapkan seluruh kalimat tanpa terbata: "Saya terima nikahnya Siti binti Eko Juniarto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!" Dua saksi menjawab bersamaan, suara Ernest paling keras dan sedikit serak.
"Alhamdulillah." Penghulu mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Seisi ruangan menunduk. Siti menangis tanpa suara, bahunya naik-turun, dan Fanya ikut menangis sambil meminta maaf pada entah siapa.
**
Doa selesai. Udin mencium tangan Eko lebih dulu sebelum menoleh pada istrinya. Siti menyusul, menunduk dalam-dalam di atas punggung tangan yang kasar itu, dan lama sekali dia tidak mengangkat kepala.
Eko membiarkannya. Matanya menatap tembok di belakang Siti, tapi jakunnya turun-naik dua kali.
"Jaga dia," katanya kepada Udin, hanya itu, lalu berdiri. Dia menjabat tangan Pak Sabeni dengan kaku, tanpa senyum, seperti dua orang yang baru menandatangani kontrak dengan bank. Pak Sabeni membalas dengan menunduk sopan. Bu Rohana mengusap air mata dengan ujung selendang.
"Silakan makan dulu, Pak," kata Sanny dari dekat tangga, ramah. "Sudah disiapkan."
"Terima kasih. Saya langsung pulang." Eko menolak tanpa menoleh. Pandangannya bergeser sebentar ke barisan belakang, berhenti pada Dion, menatapnya lebih lama dari yang lazim, lalu dia mengangguk sekali, sekilas, seperti baru menemukan barang yang dia cari tapi belum tahu mau diapakan.
Dion membalas anggukan itu dengan kaku. Dia ingat teras rumah Eko dan kalimat tentang mata yang lari ke lantai. Kali ini dia menatap lurus, sebab dia yakin betul tidak ada yang lebih memalukan dari menghindar lagi.
Bu Wulan tertinggal selangkah di belakang suaminya. Dia berhenti di depan Siti, meraih pipinya dengan dua telapak tangan, dan hanya sempat berbisik, "Makan yang banyak, Nak. Jangan lupa makan." Lalu Eko berdeham dari pintu, dan tangan itu terlepas. Bu Wulan menyusul keluar sambil menyeka matanya dengan tisu.
Siti memandangi pintu yang tertutup. Udin merangkul bahunya dengan canggung, seperti pemula yang baru belajar memegang barang pecah belah.
"Yank ... eh, Sit," bisik Udin. "Bapak kamu tadi ngomong sama aku. Dia bilang jaga kamu."
"Aku dengar, Mas."
"Itu artinya dia nerima aku, kan?"
"Itu artinya Bapak belum sanggup bilang yang lain." Siti menyeka pipinya dan akhirnya tersenyum. "Tapi dia datang, Mas. Dia datang."
"Alhamdulillah," sela Pak Sabeni dari belakang mereka. "Din, nanti lu salaman sama semua tamu. Jangan cuma berdiri bengong kayak tiang listrik."
"Iya, Pak."
"Dan jangan sebut kasino lagi," tambah Bu Rohana, tegas. "Malu Emak."
"Iya, Mak. Itu keceplosan."
"Keceplosan kok sampai dua kali," gumam Ernest, dan separuh ruangan pecah tertawa lagi, kecuali Dion yang masih berusaha tersenyum dengan setengah wajah.
**
Farish berdiri di serambi dengan secangkir teh yang tidak dia minum. Dari sana dia bisa memandangi ruang tengah dari samping, dan tidak ada yang luput dari matanya. Dia memperhatikan Siti yang menangis dan Udin yang bingung, dia memperhatikan genk yang mulai ribut soal makanan, dan akhirnya dia memperhatikan satu orang di antara kerumunan yang tidak ikut bergembira.
Dion bersandar pada kusen pintu, wajahnya putih seperti terkena sinar bulan di tengah hari. Setiap kali ada yang memanggil namanya, dia terlambat menoleh. Farish mengikuti arah pandangan itu dan menemukan sesuatu yang aneh: Tante Sashi, di dekat tangga, menatap Dion dengan senyum tipis, bukan senyum nyonya rumah kepada tamu, tapi senyum orang yang sedang menghitung.
Fanya mendekat membawa dua piring kecil kue bolu yang dia buat bersama Mawar kemarin. Farish menahan lengannya.
"Nya."
"Ya, Bang?"
"Tante tadi ngomong apa ke pacarmu?"
"Cuma ngobrol, Bang. Tanya kuliah, tanya kerjaan." Fanya mengerjap. "Kenapa?"
"Mukanya kayak habis diinterogasi polisi."
"Ih, Abang." Fanya tersenyum, geli sekaligus gugup. "Tante cuma lagi menilai. Namanya juga mau kenalan sama pacar keponakan. Tante galak, tapi ujungnya baik."
Farish menatap adiknya beberapa detik, lalu menatap Dion lagi. "Hm," gumamnya, dan menyesap tehnya yang sudah dingin.
Di seberang ruangan, Sanny melangkah dengan sepiring nasi kuning berlauk lengkap di tangan. Dia menghampiri Dion tepat ketika Fanya sedang menunduk meletakkan kue, lalu menyodorkan piring itu dengan kedua tangan.
"Makan, Dion. Kamu pucat sekali dari tadi."
Semua orang di dekat mereka tersenyum menyaksikan keramahan nyonya rumah. Dion menerima piring itu. Sendok di atasnya berdenting kecil, tepat di tengah keheningan, karena tangannya sendiri tak mau berhenti bergetar.