"Iya, Tante!" Fanya menjawab duluan, riang, seperti murid yang bangga ditanya guru. "Kak, kenalin, ini Tante Sashi."
Sashi.
Satu kata itu masuk ke telinga Dion dan menggelinding di kepalanya tanpa menemukan tempat berhenti. Sashi? Siapa Sashi? Yang ada di depannya wanita yang tiap kali menelepon memanggilnya Zayn, Baby, atau Cakep, dan yang namanya di ponselnya tersimpan dengan huruf S dan titik. Sanny. Bukan Sashi.
"Panggil Tante saja, Dion," kata Sanny. Dia mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat sopan, sangat tertib, seperti tangan seorang nyonya rumah yang menyambut tamu pertama hari itu. "Fanya sudah cerita banyak tentang kamu."
Dion menyambut tangan itu. Telapak tangannya dingin dan basah, sedangkan telapak Sanny hangat dan kering. Mereka bersalaman paling lama tiga detik, tapi bagi Dion cukup untuk menghitung seluruh kesalahannya sejak malam dia pertama kali masuk lift apartemen itu.
"Tangannya dingin sekali," komentar Sanny, lembut.
"Maaf, Tante." Fanya langsung menyela, seperti biasa meminta maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya. "Kak Dion memang begitu kalau gugup. Tadi di luar juga keringetan terus, padahal cuma ngangkat kursi."
"Wajar. Orang yang jujur memang gampang gugup." Sanny tersenyum dan menunjuk sofa. "Duduk, duduk. Siti sebentar lagi bawa teh."
Dari pintu dapur muncul Siti membawa nampan dengan tiga cangkir teh. Gadis itu sudah berkebaya sederhana warna krem, wajahnya sembab bahagia, dan begitu melihat Dion dia nyaris menumpahkan nampannya.
"Kak Dion! Kak Dion kelihatan capek banget. Belum sarapan, ya?"
"Udah, Sit," bohong Dion.
"Tantenya Fanya baik sekali, Kak. Dari kemarin aku dikasih kamar, dikasih baju, malah dibolehin pakai rumahnya buat akad." Siti meletakkan cangkir satu per satu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Aku nggak tahu mau bales gimana."
Sanny menerima cangkirnya dengan senyum. "Balasnya gampang, Siti. Bahagia saja. Jangan lupa makan."
Dion duduk. Sofa kulit itu berderit, atau mungkin lututnya yang berderit. Fanya duduk di sebelahnya, dan Sanny mengambil kursi tunggal di seberang meja dengan punggung lurus, kaki disilangkan, tangan terlipat di pangkuan. Cara duduknya persis tante di sinetron, yang sebentar lagi akan menanyakan penghasilan calon menantu.
"Kata Fanya, kamu kuliah semester akhir, ya?"
"Iya, Tante. Lagi nyusun skripsi."
"Dan sambil kerja?"
"Ngojek sama jaga malam, Tante. Sekarang nggak sering lagi."
"Oh ya? Kenapa dikurangi?" Sanny memiringkan kepala. Pertanyaannya halus, ramah, dan jatuh tepat di bagian yang paling nyeri. "Gajinya tidak cukup, atau ada sumber lain?"
Dion menelan ludah. "Sambil ... sambil coba-coba usaha kecil, Tante. Trading."
"Trading." Sanny mengulang kata itu pelan-pelan seperti mencicipi sesuatu. "Anak muda sekarang memang pintar-pintar."
Di samping Dion, Fanya mengangguk bangga, tidak tahu bahwa dua orang di sekelilingnya sedang bercakap-cakap dalam bahasa yang tidak dia pahami.
"Permisi, Tante, Kak," Dion berdiri mendadak. "Saya ... boleh numpang kamar mandi?"
"Di lorong sebelah kiri, sesudah piano," ujar Sanny tanpa mengangkat alis sedikit pun.
**
Kamar mandi tamu itu lebih luas dari kamar kost Dion. Dia mengunci pintu, menyalakan keran supaya suaranya tersamar, lalu menekan nomor Ernest dengan jari yang gemetar.
"Halo, Yon? Lu di mana? Tadi lu masuk, kita langsung berangkat. Sekarang lagi di jalan, Gilbert nyetir kayak siput hamil, katanya takut ngelanggar mobil om-nya." Suara Ernest melompat keluar dari pengeras suara, bercampur bunyi klakson dan musik dangdut dari radio. "Kenapa? Udah ketemu tantenya Fanya?"
"Ernest, dengerin gue," bisik Dion. "Tantenya Fanya itu ... Sanny."
Hening. Bahkan dangdutnya seperti ikut berhenti.
"Sanny siapa?" tanya Ernest pelan.
"Tante Sanny, Nes. Yang di gym, yang di Crips Resto, yang ..." Dion menempelkan kening ke pintu. "Dia tantenya Fanya. Fanya manggilnya Tante Sashi. Itu nama panggilan keluarga atau apalah, gue nggak tahu."
"BUK!" Terdengar bunyi sesuatu jatuh, disusul batuk-batuk hebat. "Gilbert! Gilbert, lu kenapa?!"
"Air ... air ... gue lagi minum ..." Gilbert terbatuk seperti mesin tua. "Tadi dia bilang ... Sanny ... Tante-tante yang itu ... tantenya Fanya? Tantenya CEWEK GUE ... maksud gue cewek Dion?"
"Gilbert, lu tersedak dua kali," sambar Ernest. "Pelan-pelan. Yon, lu serius? Lu nggak ngelantur gara-gara nggak tidur?"
"Gue lihat dia turun tangga pakai kebaya hijau yang dia beli di butik, Nes. Dua hari lalu gue yang megangin tasnya."
"Mampus." Hanya itu yang keluar dari mulut Ernest. Biasanya dia punya seribu kata untuk segala hal, dan kalau sampai dia hanya punya satu, berarti keadaannya betul-betul parah.
"Terus gue harus gimana?"
"Lu tenang dulu. Tarik napas." Ernest sendiri terdengar menarik napas panjang. "Dia tahu?"
"Gue rasa ... iya. Mukanya nggak kaget sama sekali."
"Berarti dia udah tahu dari kapan tahu."
"Mungkin dari semalam." Dion memejamkan mata. "Kalian ke sini cepet, ya. Gue butuh lihat muka yang normal."
"Muka gue normal?" sahut Ernest. "Gue lagi pengen pipis ketakutan, Yon."
"Ya udah, pipis di sana aja."
"Gilbert! Jangan belok ke rumah makan! Kita ke rumah Tante, bukan mau makan!"
Sambungan terputus. Dion mematikan keran, mencuci muka sekali lagi, lalu menatap dirinya di cermin. Wajah itu pucat, mata merah, rambut yang tadi pagi dia sisir rapi kini mencuat di mana-mana. Orang itu terlihat seperti pencuri yang ketahuan pemilik rumah, padahal pemilik rumahnya sedang menyuguhkan teh.
Dia membuka pintu. Lorong sepi. Dari ruang tengah terdengar suara Fanya bercerita dan tawa kecil Siti. Dion berjalan ke arah yang berlawanan, menuju pintu kecil di ujung lorong, berniat menghirup udara luar barang semenit saja.
Pintu itu ternyata mengarah ke pantry belakang, ruang sempit berisi rak piring, lemari es besar, dan jendela yang menghadap tembok pagar. Baru dua langkah dia masuk, suara hak sepatu berhenti persis di belakangnya.
"Zayn."
Dion menoleh. Sanny bersandar di kusen pintu dengan kedua tangan di dada. Senyum sopan yang tadi dia pasang di depan Fanya sudah hilang, digantikan sesuatu yang lebih tua dan lebih letih.
"Sudah selesai sembunyinya?" tanyanya, lirih.
"Aku nggak sembunyi."
"Menelepon temanmu di kamar mandi sambil memutar keran. Itu bukan sembunyi?" Sanny berjalan mendekat, tapi berhenti satu langkah dari jarak yang pantas. "Dunia ini sempit, ya. Aku sendiri baru tahu semalam. Fanya memperlihatkan fotomu di ponselnya dan aku hampir menjatuhkan gelas."
"Tante tahu dari semalam, dan Tante diam saja."
"Kalau aku berteriak, apa yang berubah?" Sanny mengangkat bahu. "Aku tidak akan membongkar apa pun. Fanya anak yang manis. Aku tidak mau menyakitinya. Selama kamu tetap bersamaku, tidak ada yang perlu tahu."
Kalimat itu menjatuhkan sesuatu di dalam dada Dion, dan dia tahu persis apa: pintu terakhir yang selama ini dia kira masih bisa dia buka kapan saja.
"Tetap bersama Tante," ulangnya perlahan. "Sementara Tante tahu aku pacar keponakan Tante sendiri."
"Justru karena itu." Mata Sanny menyipit sedikit. "Kamu pikir aku sengaja? Aku juga tidak minta ini terjadi."
"Tante, dengar." Dion mengangkat wajah. Suaranya serak tapi tidak goyah. "Hari ini yang terakhir. Sesudah akad ini, aku nggak mau lagi."
Sanny menatapnya agak lama, lalu tersenyum. Bukan senyum yang tadi. Senyum yang membuat bulu kuduk Dion berdiri.
"Kita lihat saja nanti."
"Kak Dion!" Suara Fanya terdengar dari lorong, makin dekat. "Kak! Tante! Penghulunya sudah datang! Akad sebentar lagi mulai!"
Sanny melangkah mundur lebih dulu, merapikan sanggulnya dengan satu jari, dan saat melewati Dion dia berbisik tanpa menoleh.
"Senyum, Zayn. Banyak orang sedang memperhatikan kamu hari ini."