Tenda pink bergambar kucing putih itu ternyata lebih besar dari bayangan siapa pun.
"Ini tenda atau kapal pesiar?" gerutu Ernest sambil menarik tali pancang dengan seluruh berat tubuhnya. Matahari baru naik setinggi pohon mangga di halaman, tetapi keringat sudah membasahi punggung kausnya. "Gilbert! Om lu minjem ini dari acara sunatan siapa?"
"Dari acara sunatan anaknya Haji Ramli!" seru Gilbert dari atas truk bak terbuka, tempat dia mendorong tumpukan kursi plastik ke bawah dengan wajah pucat. "Katanya masih bagus!"
"Bagus tapi pink!"
"Yang penting teduh!" sahut Udin dari ujung lain. Pria itu mengenakan baju koko putih dan peci hitam yang kebesaran, siap pengantin sejak subuh, tapi tidak bisa berhenti membantu memasang pancang karena tangannya perlu sesuatu untuk dikerjakan. Kalau tidak, gemetarnya akan kelihatan.
"Betul, Nak," timpal Pak Sabeni yang berdiri di bawah pohon dengan sarung rapi. "Pernikahan itu bukan soal warna."
"Tapi kalau ada gambar kucingnya, Pak, saya malu dilihat Pak Eko," bisik Udin.
Jovian muncul dari balik pagar dengan kedua tangan penuh balon berbentuk hati. "Siapa bilang malu? Kucing itu simbol cinta! Gue baca di internet!"
"Jov, balonnya jangan dipakai buat nutupin muka Gilbert," ingat Ernest tanpa menoleh. "Dia udah cukup pucat."
"Gue udah latihan semalam!"
"Terus?"
"Terus ... gue pingsan." Jovian meringis. "Tapi sebentar doang."
Dion tertawa sambil menyeret kursi lipat dari truk, lalu berhenti, menyeka dahi dengan lengan kaus, dan memandang rumah di depannya.
Selama ini dia hanya melihat bangunan itu dari balik gerbang, tiap kali menjemput Fanya di portal. Dari jarak itu rumahnya hanya kotak putih dengan pilar-pilar tinggi. Dari halaman, dia melihat lebih banyak: taman rumput yang terawat, kolam kecil dengan ikan koi, jendela-jendela besar bertirai tebal, dan balkon lantai dua yang menghadap ke arah mereka. Tirai di salah satu jendela itu bergeser sedikit, lalu diam lagi, mungkin ditiup angin. Dion tidak memperhatikan.
Rumah yang sunyi, pikirnya. Rumah besar yang sepi biasanya menyimpan orang yang tidak pernah ditanya kabarnya.
"Yon, jangan bengong, bantuin gue," sela Gilbert dari atas truk.
Dion menyambut kursi-kursi itu, dan untuk sebentar dia kembali menjadi mahasiswa biasa yang berkeringat bersama sahabat-sahabatnya, tanpa buku catatan, tanpa Rekening Utang, tanpa nama samaran. Rasanya hampir seperti dulu.
Hampir.
**
Tiga puluh menit kemudian tenda sudah berdiri tegak dan kursi-kursi tersusun berderet, walau salah satu tiangnya miring sedikit dan Jovian telah berhasil mengikat satu balon ke ujung tiang tenda itu sambil mengaku dia hanya "memperindah". Mawar muncul dari seberang jalan dengan kerudung dan blus rapi, berhenti di depan tiang yang miring, dan menatap balon yang bergoyang di ujungnya.
"Kak Jovian."
"Y-ya, Mawar?"
"Itu balonnya mau dikasih makan atau gimana? Kok digantung begitu?"
"Itu ... dekorasi, War. Dekorasi modern."
"Hm." Mawar menyilangkan tangan, mengamati tiang itu dari atas sampai bawah. "Miring."
"Sedikit."
"Sedikit sekali." Dia membuang muka dengan hidung terangkat, tapi sebelum pergi menggumam, "Lumayan, sih." Jovian terpaku seperti patung, lalu mengusap tengkuknya dan tidak bersuara selama sepuluh menit penuh, rekor baru.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan pagar. Farish turun dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku, kacamata hitam, dan wajah yang tidak ramah. Dia berdiri bersandar pada pintu mobil, melepas kacamatanya, lalu menatap lurus ke arah Dion di antara kursi-kursi yang berderet. Dion menatap balik. Tidak ada yang menyapa. Dua detik mungkin, tapi terasa seperti dua menit. Kemudian Farish melangkah masuk, menyalami Pak Sabeni dengan sopan, dan menghilang ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.
"Gue mual," bisik Gilbert.
"Dari tadi?"
"Dari lihat Farish."
"Gue juga," aku Ernest. "Tapi gue lebih mual lihat muka lu, Yon. Mata lu merah banget kayak abis nonton bola tiga hari."
"Gue nggak tidur."
"Gara-gara Farish?"
"Gara-gara banyak hal."
"Santai," sahut Dion walau perutnya sendiri mengencang. "Dia janji nggak ngapa-ngapain di depan orang."
"Janji ke siapa?"
"Ke Fanya."
"Kalau ke Fanya," Ernest ikut menimpali sambil meniup poni dari dahinya, "udah pasti bakal ditepati. Fanya itu kalau minta tolong, orang nggak enak nolak."
Pintu rumah terbuka lagi. Fanya muncul di teras dalam gamis warna salem dan kerudung putih tipis, wajahnya segar dan sedikit gugup. Begitu melihat Dion, dia tersenyum dan melambai sambil menuruni tangga kecil.
"Kak!"
"Pagi, Dek." Dion mengusap tangan di celananya agar tidak lengket. "Kok cantik banget?"
"Ih, jangan gombal di depan orang." Pipi Fanya merona. Dia melirik sekilas ke genk yang pura-pura sibuk dengan balon, lalu meraih tangan Dion dan menggenggamnya. "Kak, ayo masuk sebentar. Tante udah siap. Katanya mau kenalan sama Kakak sebelum akad mulai."
Perut Dion bergolak. "Sekarang?"
"Iya. Tante sudah dandan dari tadi di kamar. Udah turun mungkin." Fanya menariknya pelan. "Jangan tegang, Kak. Tante baik kok."
"Tante itu orangnya gimana?" tanya Dion, sekadar mengulur waktu.
"Gimana ya." Fanya mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. "Tegas, tapi baik. Dulu waktu aku kecil, aku takut sama Tante, soalnya galak kalau soal sopan santun. Tapi ternyata dia yang paling sering ngasih aku permen."
"Terus sekarang?"
"Sekarang aku sayang banget." Fanya tersenyum. "Makanya aku mau Kakak kenal beliau."
Perutnya masih mengencang, entah karena apa. Dia menoleh sekilas ke arah sahabat-sahabatnya. Ernest mengacungkan jempol dengan wajah yang terlalu tegang untuk menyemangati. Gilbert membuat tanda salib, padahal dia tidak sedang berdoa, lalu keduanya bergegas ke mobil om-nya untuk menjemput kursi tambahan. Dion menarik napas dalam-dalam dan mengikuti Fanya.
Ruang tamu itu dingin dan wangi, dengan lantai marmer mengilat dan lampu kristal tergantung rendah di tengah. Sofa kulit di sudut, vas bunga di meja, foto-foto dalam bingkai perak di atas piano yang tak pernah dimainkan. Dari dalam dapur terdengar denting piring dan suara Siti yang sedang menyiapkan teh. Aroma kue baru matang masih melayang di udara.
"Tunggu di sini ya, Kak. Aku panggil Tante." Fanya melepaskan tangan Dion dan berlari kecil ke arah tangga marmer. "Tante! Tante, Kak Dion sudah datang!"
Dion berdiri kaku di kaki tangga. Telapak tangannya basah. Dia menata napas, merapikan kerah kemeja biru mudanya yang sudah lusuh, dan menunduk memeriksa sepatunya, kalau-kalau ada tanah dari halaman.
Terdengar bunyi hak sepatu di lantai atas. Pelan, berirama, tak terburu-buru.
Dion mengangkat wajah.
Seorang wanita muncul di puncak tangga, mengenakan kebaya hijau botol berbordir halus dengan sanggul rapi dan anting mutiara di telinga. Kebaya itu. Anting itu. Dion mengenalnya, karena dua hari lalu, di mal, dia melihat kain yang sama dibungkus rapi di sebuah butik. Wanita itu menuruni anak tangga satu demi satu dengan kedua tangan terlipat anggun di depan perut. Tanpa topi dan tanpa kacamata hitam. Hanya wajah itu, wajah yang beberapa hari lalu duduk di seberang meja restoran, dan senyum itu, yang paling tenang yang pernah dia lihat.
Dion berhenti bernapas.
Di samping tangga, Fanya menggamit lengan tantenya sambil tersenyum cerah, tidak menyadari apa pun.
Sanny sampai di anak tangga terakhir. Dia menatap Dion tepat di mata. Tak ada keterkejutan di wajahnya, tak ada kemarahan. Hanya ketenangan seorang wanita yang sudah tahu lebih dulu apa yang akan dia hadapi.
"Jadi," ucapnya lembut, "ini yang namanya Dion."