"Nya, ini adonannya kebanyakan air," seru Mawar sambil mengangkat sendok kayu yang menetes-netes. "Kalau gini jadinya bukan bolu, jadi bubur manis."
"Kata resepnya dua ratus mililiter, War."
"Resepnya salah. Atau kamu yang salah baca." Mawar menghentakkan kaki ke lantai dapur, rambutnya yang dikucir kuda ikut bergoyang. "Aku bilang, jangan ngitung sambil senyum-senyum ke HP. Konsentrasi kamu bocor."
"Aku nggak senyum-senyum!"
"Dari tadi sepuluh kali."
Dari meja seberang, Siti yang sedang mengayak tepung terigu tertawa kecil sambil menutup mulut dengan punggung tangan. Dapur luas di rumah Tante Sashi itu dipenuhi bau mentega dan vanila, dan permukaan marmer sudah ditaburi tepung seperti salju yang tak mau pergi. Sore Jumat, sehari sebelum akad Siti, dan tiga perempuan itu bekerja seperti pabrik kecil.
"Kamu juga, Mbak Siti, ketawa-ketawa," tegur Mawar. "Nanti tepungnya kemana-mana."
"Maaf, War."
"Kok ikut-ikutan Fanya, minta maaf terus." Mawar menaruh sendok dan menyilangkan tangan di dada. Dia menatap Fanya sebentar, lalu raut wajahnya melembut dengan cara yang aneh untuk perempuan yang selalu galak. "Nya. Aku mau bilang sesuatu, tapi jangan geer."
"Apa?"
"Kak Dion itu ... ya, ternyata nggak sejelek yang aku kira." Mawar mengucapkannya cepat-cepat seperti menelan obat pahit. "Kemarin aku lihat dia nahan pintu buat nenek-nenek di kantin, terus bayarin ongkos angkot ibu-ibu yang kurang. Aku sempat curiga itu pencitraan. Tapi ternyata kayaknya dia memang begitu."
Fanya menganga. "Mawar. Kamu muji Kak Dion."
"Aku nggak muji. Aku cuma bilang fakta."
"Mawar muji Kak Dion!"
"Berisik!" Mawar melempar segenggam tepung ke arah Fanya, dan Fanya menjerit sambil menangkis. Dalam sepuluh detik dapur itu berubah menjadi medan perang putih. Siti berteriak, "Jangan, nanti kuenya!" tapi dirinya sendiri sudah berlumuran terigu dari rambut sampai ujung kerudung.
Setelah napas mereka reda dan Siti selesai memungut tepung dari alisnya, Mawar bersandar ke meja dengan nada pura-pura santai. "Eh, Mbak Siti. Teman-teman Kak Udin yang pendek itu, yang matanya suka melotot ... dia datang besok juga, kan?"
"Kak Jovian?" Siti mengerjap. "Iya, Mawar. Kenapa?"
"Nggak. Cuma nanya. Biar aku tahu siapa yang harus kuawasi biar nggak nyentuh kuenya."
Fanya dan Siti saling pandang, lalu meledak tertawa bersamaan. Mawar memelototi mereka, pipinya merah sampai ke telinga. "Apa sih! Aku serius, kuenya!"
"Iya, kuenya," sahut Fanya dengan wajah paling polos sedunia.
Di ambang pintu dapur, seorang asisten rumah tangga membawa nampan loyang dan menahan senyum. Sudah lama rumah itu tidak seramai ini.
**
Menjelang malam, setelah Mawar pulang ke rumahnya di seberang jalan dan Siti tertidur kelelahan di kamar tamu, Sanny turun ke ruang keluarga membawa dua cangkir teh. Lampu temaram, televisi menyala tanpa suara. Fanya meringkuk di sofa dengan selimut dan ponsel, seperti kebiasaannya tiap malam.
"Sayang." Sanny duduk di sebelahnya. "Besok pacarmu datang, kan?"
"Iya, Tante. Kak Dion bilang mau datang pagi bantu pasang tenda."
"Dion." Sanny mengulang pelan, seperti menimbang bunyi nama itu di lidahnya. "Orang mana dia?"
"Dari kampung, Tante. Dua jam dari sini. Keluarganya ... lagi susah. Dulu orang kaya, terus bangkrut mendadak. Sekarang dia kuliah sambil kerja." Fanya terdiam sebentar, lalu tersenyum bangga. "Dia ngojek, Tante, dan jaga malam jadi satpam di klub. Banyak orang remehin, tapi aku suka. Dia nggak malu."
Gelas teh di tangan Sanny berhenti setengah jalan.
"Ngojek," ulangnya. "Dan ... satpam."
"Iya. Ya, kadang-kadang. Sekarang dia kurangin jam kerjanya karena skripsi." Fanya menyodorkan ponselnya dengan polos. "Ini fotonya, Tante. Waktu dia lagi nunggu aku di depan kampus."
Layar itu menampilkan seorang lelaki muda berdiri di samping sepeda motor matic, mengenakan jaket hijau, senyum lebar menampilkan lesung samar di pipi kiri, rambut berantakan dihembus angin. Alisnya, rahangnya, caranya menatap kamera seolah malu dan tidak. Sanny mengenal setiap garisnya. Dia pernah menyentuh semuanya.
Untuk satu detik, dunia di sekeliling Sanny tidak bersuara. Tidak ada televisi, tidak ada Fanya, tidak ada bunyi pendingin ruangan. Hanya ada wajah itu, dan di tengkuknya sebuah dingin menjalar turun.
Zayn.
Lalu detik berikutnya, kemampuan yang sudah dilatih bertahun-tahun menjadi nyonya rumah mengambil alih. Senyum Sanny tidak bergeser sesenti pun. "Ganteng ya," ucapnya ringan. "Pantas kamu senyum-senyum terus."
"Tante jangan gitu!"
"Ya Tante cuma bilang." Sanny mengembalikan ponsel itu dengan tangan yang terlalu hati-hati. "Sudah malam, Sayang. Besok kamu harus bangun pagi. Tidur, ya."
"Tante nggak apa-apa? Mukanya pucat."
"Capek saja. Dari tadi Tante ngurusin kue dan tenda." Sanny mengusap rambut Fanya. "Tidur."
Fanya naik tangga sambil menguap. Begitu langkahnya hilang, Sanny meletakkan cangkir tehnya di meja, dan tangannya yang kanan baru dia sadari gemetar. Dia mengepalkannya, lalu membukanya lagi.
Bukan kebetulan. Anak itu bilang namanya Zayn, tapi Fanya memanggilnya Dion. Anak yang jaga malam, yang ngojek, yang sebentar lagi skripsi. Anak yang kemarin menolak kemejanya dan mau berhenti.
Seharusnya dia marah. Seharusnya dia merasa dikhianati, karena anak itu mengarang cerita lain tentang dirinya. Tapi yang muncul justru sesuatu yang lebih sulit diakui: rasa malu, karena yang duduk di sampingnya adalah gadis yang memanggilnya Tante dengan mata percaya penuh, dan yang sedang jatuh cinta pada lelaki yang tidur dengan tantenya sendiri. Dan dia tidak bisa mengatakan apa pun malam ini. Tidak satu kata pun.
Dia mengambil ponselnya, membuka percakapan dengan Zayn, mengetik pesan, menghapusnya, lalu menyimpan ponsel itu ke saku kimono. Biar besok yang bicara. Biar Dion sendiri yang melihat siapa yang berdiri di kaki tangga.
**
Pukul sembilan malam, bel pagar berbunyi dan seorang pemuda bertubuh gagah masuk tanpa menunggu dibukakan. Jaket kulitnya basah oleh gerimis, wajahnya masam seperti biasa.
"Bang Farish?" Fanya yang baru turun menuruni tangga dengan piyama terkejut. "Kok nggak bilang mau datang?"
"Abang lewat." Farish melepas jaketnya dan menyampirkannya ke sandaran kursi. Matanya menyapu ruangan, berhenti pada Sanny yang berdiri di dekat lemari pajangan. "Tante."
"Rish." Sanny membalas tenang. "Kamu masih kuat bawa motor malam-malam?"
"Kuat." Dia kembali menatap adiknya. "Besok akad Siti. Abang datang."
"Abang mau datang? Kan Abang nggak kenal Mbak Siti."
"Bukan buat Siti." Farish menyilangkan tangan. "Abang mau lihat langsung. Bocah itu. Pacar kamu."
Fanya menelan ludah. "Bang."
"Nya, Abang nggak akan ngapa-ngapain di depan orang." Farish menurunkan suaranya. "Abang cuma mau lihat dia dari dekat, bukan dari cerita. Itu aja."
Sanny tidak bicara. Dia menatap keponakan lelakinya, lalu lantai, lalu jendela, seolah sedang menghitung berapa banyak orang yang akan berdiri di halaman besok.
**
Di kost, Dion membongkar tumpukan baju di lemari tripleks dan menjejalkan kantong kertas dari butik itu ke dasar, di bawah kaos-kaos lama dan handuk basah. Dia tidak membukanya. Tidak sekali pun. Dia menutup pintu lemari dan menahannya dengan punggung seolah benda itu bisa melompat keluar.
Dari saku jaketnya, ponselnya bergetar. Pesan dari Fanya: Kak, besok jangan lupa. Tante bilang pengin lihat orangnya sendiri. Kakak pakai kemeja yang rapi ya.
Dion menatap lemari di belakangnya. Di dalamnya ada satu kemeja katun biru muda, satu-satunya yang masih layak, berharga tiga bulan sewa kost.
Dia membalas: Iya, Dek. Kakak pakai baju yang ada.
Balasan Fanya masuk sebelum dia sempat meletakkan ponsel. Oke. Oh ya, Bang Farish juga datang besok lho. Dia bilang mau lihat Kakak langsung. Jangan takut ya.
Dion membaca nama itu sekali. Farish. Ponselnya terasa makin berat di telapak tangan, dan dari kamar sebelah, entah siapa, mulai bernyanyi sumbang tentang pernikahan.