Kalimat itu sudah Dion latih sejak semalam. Di kamar mandi kost, di atas motor, bahkan di depan kaca spion waktu lampu merah. Tante, aku nggak bisa terus kayak gini. Berhenti sampai di sini. Terima kasih untuk semuanya, tapi cukup. Pendek, jelas, tidak ada ruang untuk ditawar.
Dan sekarang, di lantai tiga mal yang dingin dan wangi, dia berdiri di depan eskalator dengan mulut terkunci rapat.
"Zayn!" Sanny melambai dari ujung lorong. Dia mengenakan topi lebar warna krem, kacamata hitam besar, dan blus linen yang jatuh anggun di bahunya. Dari jauh dia tampak seperti artis yang menyamar. Dari dekat, dia tampak seperti orang yang terlalu bahagia melihat seseorang yang sudah dia tunggu-tunggu.
"Tante."
"Kamu kurusan." Sanny langsung menyelipkan lengannya ke lengan Dion, tanpa meminta izin, seolah itu hak yang sudah dia punyai sejak lama. "Makan nggak sih kamu?"
"Makan, Tante. Tante, aku mau ngomong sesuatu."
"Nanti. Setelah belanja."
"Tapi-"
"Zayn." Sanny menoleh dan menurunkan kacamatanya sedikit. Matanya, di balik lensa itu, merah di tepi seperti orang yang kurang tidur. "Tolong. Hari ini aja. Aku nggak ada teman buat milih."
Ada sesuatu pada nada itu yang membuat Dion kehilangan pegangan. Bukan manja. Bukan rayuan. Hanya kelelahan yang jujur, dan itu yang paling sulit dia lawan.
"Satu jam," katanya akhirnya.
"Satu jam," Sanny setuju, tersenyum seperti anak kecil yang menang undian.
Nyatanya satu jam itu menjadi dua jam setengah.
**
Butik kebaya itu terletak di sudut lantai tiga, dengan etalase kaca dan manekin berpakaian brokat yang mata kosongnya seolah memperhatikan setiap pengunjung. Sanny berkeliling dengan jemari yang menyentuh kain-kain itu satu per satu, dan pramuniaga mengikutinya seperti bayangan.
"Yang ini, Bu? Kebaya encim dengan bordir tangan. Sangat cocok untuk acara keluarga."
"Acara keluarga," gumam Sanny. "Iya. Sabtu ini. Ada urusan keluarga di rumah, kecil-kecilan, tapi Tante yang tuan rumah. Masa tuan rumahnya pakai dress hitam, nanti dikira melayat."
Dion yang berdiri di dekat pintu butik sambil memegangi tas belanjaan pertama tersentak sedikit. Urusan keluarga, di rumah, hari Sabtu. Di kepalanya langsung muncul gambar tenda pink milik om Gilbert. Dunia memang sempit, pikirnya, lalu cepat-cepat mengusir pikiran itu. Ada ribuan akad nikah di kota ini tiap pekan.
"Zayn, yang ini atau yang ini?" Sanny keluar dari kamar pas dengan kebaya hijau botol, lalu menunjuk kebaya biru dongker di gantungan.
"Yang hijau bagus, Tante."
"Kamu bilang gitu karena beneran bagus atau karena mau cepat pulang?"
"Dua-duanya."
Sanny tertawa, dan tawa itu terdengar lebih muda dari usianya. Dion terpaksa ikut tersenyum. Itu bagian paling berbahaya dari wanita ini. Dia tidak selalu menggoda. Kadang dia hanya manusia yang kesepian, dan Dion tidak pernah bisa membenci orang kesepian.
Ponsel Sanny berdering dari dalam tas. Layarnya menyala sebentar di atas meja kasir. Sanny melirik, wajahnya mengeras sepersekian detik, lalu dia menekan tombol tolak tanpa membaca nama yang tertera sampai selesai.
"Penting, Tante?"
"Nggak." Sanny menjejalkan ponselnya kembali. "Suamiku. Dia telepon tiap hari, tapi isinya cuma nanya anakku sudah makan atau belum. Lima menit. Terus selesai." Dia tersenyum dengan bibir saja. "Kadang aku mikir, kalau anaknya nggak ada, mungkin dia nggak akan tahu nomorku."
Dion tidak tahu harus menjawab apa. Dia memandangi lantai marmer yang mengilat. Dia ingin bersimpati, tetapi sebagian dirinya sadar bahwa simpati adalah pintu yang harus tetap ditutup rapat malam ini.
"Tante," dia mencoba lagi.
"Eh, tunggu." Sanny menarik lengannya ke rak kemeja pria di seberang butik. "Yang ini. Cakep banget buat kamu."
Kemeja katun putih dengan garis halus abu-abu, berkelas, dengan label yang bahkan Dion pun tahu harganya setara tiga bulan sewa kostnya. Dia langsung menggeleng. "Nggak usah, Tante."
"Satu aja."
"Nggak, Tante. Beneran."
"Zayn-"
"Aku nggak mau ditraktir lagi." Suara Dion keluar lebih keras dari yang dia kira. Dua pengunjung menoleh. Dia merendahkan nada. "Tante, tolong. Aku mau bicara soal itu juga."
Sanny menatapnya sebentar. Kemudian, tanpa bicara, dia mengambil kemeja itu dari gantungan, memasukkannya ke kantong kertas bertali dari kasir terdekat, dan menaruh kantong itu ke tangan Dion. Jari-jarinya menahan jari Dion sepersekian detik, cukup lama untuk memastikan Dion tak bisa menolak tanpa menjatuhkannya.
"Nanti dibicarakan," katanya lembut, lalu melangkah ke kasir meninggalkan Dion dengan kantong itu di tangan, seperti anak yang dititipi barang tapi tak diizinkan bertanya.
Dion memandangi punggung Sanny. Sial, batinnya. Kalah lagi.
Di restoran lantai dasar, setelah kebaya hijau botol itu terbungkus rapi dan sepasang anting mutiara menyusul masuk tas belanjaan, Dion memesan es jeruk yang tidak dia minum dan membiarkan nasi gorengnya mendingin. Sanny menyendok sup krim pelan-pelan sambil mengamatinya.
"Tante," ujar Dion untuk keempat kalinya hari ini, kali ini dengan kedua tangan terlipat di atas meja. "Aku mau berhenti."
Sendok Sanny berhenti di udara. "Berhenti dari apa?"
"Dari ini semua. Dari ... kita." Dion memaksa dirinya menatap mata di seberang meja. "Aku nggak pantas terima semua ini, Tante. Aku dikasih hal-hal yang bukan hakku. Aku nggak mau lagi."
Sanny meletakkan sendok dengan perlahan, nyaris tanpa bunyi. Dia tidak marah. Itu yang membuat Dion gelisah. Wanita itu hanya menatapnya lama, lalu menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar di antara denting piring.
"Sabtu ini aku ada urusan keluarga yang nggak bisa aku tinggal, Zayn. Seminggu ini aku nggak punya tenaga buat bertengkar." Dia menarik napas. "Setelah Sabtu, kita bicara. Aku janji. Kalau kamu masih mau berhenti, kita bicara baik-baik."
"Tante-"
"Janji, Zayn."
Dion ingin mendesak. Tetapi mata Sanny berkaca-kaca, bukan dibuat-buat, dan dia mendapati dirinya mengangguk tanpa sadar. "Setelah Sabtu."
"Makasih." Sanny tersenyum kecil. Lalu, seolah tidak ada yang terjadi, dia mendorong piring nasi goreng Dion ke arahnya. "Makan. Kamu kurus."
Dion menyuap sesendok. Rasanya hambar di lidah. Di kepalanya, urusan keluarga Sabtu itu bergema bersama gambar yang tadi sempat dia usir: tenda pink, rumah besar di balik gerbang, dan akad Udin. Dia menepisnya sekali lagi, lebih keras. Tidak mungkin. Dunia tidak sebercanda itu. Sekilas cahaya putih berkedip dari arah eskalator di seberang atrium; dia mengiranya pantulan etalase dan tidak menoleh lagi.
**
Dari eskalator di seberang atrium, dua gadis berhenti mendadak di antara kerumunan. Yang satu berambut sebahu dengan lipstik merah tua. Yang lain berkacamata dan membawa tas jinjing besar bertuliskan nama toko buku.
"Del," bisik Syahnaz sambil mencengkeram lengan sahabatnya. "Itu bukan Dion?"
Adelia menyipitkan mata. Di seberang, di depan butik kebaya, seorang pria berjaket levis biru dongker berdiri dengan kantong belanja di tangan dan wajah seperti digiring ke ruang sidang. Lalu seorang wanita bertopi lebar berjalan ke arahnya, menyelipkan lengannya ke lengan Dion dan berjinjit membisikkan sesuatu di telinganya.
"Itu Dion," ucap Adelia pelan. Bibirnya melengkung. "Dan itu bukan Fanya."
"Siapa ceweknya?"
"Nggak tahu. Tapi kelihatannya mahal." Adelia sudah mengeluarkan ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat. Klik. Klik. Klik. "Kamu lihat caranya dia megang tangan Dion? Itu bukan teman."
"Del, jangan. Nanti ketahuan."
"Nggak bakal." Adelia menyimpan ponselnya dengan puas, matanya masih menempel pada punggung Dion yang menjauh bersama wanita bertopi itu. "Dia yang dulu nolak aku di depan semua orang karena cewek mungil itu. Biar tahu rasanya."