Dion membaca pesan itu sebanyak lima kali, dan setiap kali dia membaca, sendi-sendi jarinya terasa makin dingin.
Nggak ada yang namanya "Sapi Emas".
Dia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Jempolnya melayang di atas layar seperti burung yang bingung mau hinggap di dahan mana. Akhirnya dia menulis: Itu bukan di toko aplikasi, Dek. Aplikasinya dari luar, harus unduh dari situs resmi broker-nya. Kakak dikasih linknya sama teman. Nanti Kakak kirim kalau kamu mau lihat.
Balasan Fanya datang cepat. Oh gitu. Oke, Kak.
Hanya itu. Tidak ada tanda seru, tidak ada permintaan maaf, tidak ada "makasih ya, Kak". Dion yang sudah hafal ritme gadis itu tahu betul artinya: Fanya sedang berpikir.
Dari kamar sebelah, Jovian mengetuk triplek dan berteriak pelan, "Yon! Gimana tadi akting gue? Oscar nggak?"
"Gue kirim lu ke Oscar pakai kaki, Jov," balas Dion tanpa semangat.
"Hehe. Siap, Bos."
Dion melempar ponselnya ke kasur dan menutup wajah dengan bantal. Dua kebohongan yang kemarin dia susun rapi mulai bocor satu per satu. Fanya tidak bodoh. Fanya tidak pernah bodoh. Justru karena itulah dia jatuh cinta padanya, dan justru karena itu pula bohongnya terasa seperti mengkhianati kepintaran gadis itu.
Tidur, Yon, dia memerintah dirinya sendiri. Besok malam jaga. Jangan mikir.
Dia tidak berhasil tidur sampai ayam pertama berkokok.
**
Rabu malam, klub Om Gilbert baru buka ketika Dion sudah berdiri di depan pintu besi dengan jaket hitam bertuliskan SECURITY di punggung. Lampu neon merah dan biru menyorot trotoar, dan dentuman bas dari dalam gedung sudah terasa sampai ke tulang kering. Dua pasang muda-mudi sedang antre dengan KTP di tangan. Dion memeriksa kartu mereka satu per satu, mengangguk, dan membukakan pintu.
Seorang pria berkemeja kotak-kotak datang terhuyung-huyung dari arah parkiran, jelas sudah menenggak sesuatu di tempat lain sebelum sampai sini. "Bro, gue masuk ya. Gue kenal bosnya."
"Maaf, Pak, nggak bisa. Bapak sudah terlalu mabuk."
"Gue kenal Om Gilbert!"
"Saya juga, Pak, makanya saya nggak boleh biarkan Bapak masuk. Nanti saya dimarahi." Dion tersenyum sopan dan menunjuk ke arah bangku besi di seberang jalan. "Duduk dulu di situ, Pak. Saya panggilkan taksi."
Pria itu mengoceh sebentar, lalu menurut. Dion memanggil taksi dan memastikan sopir mencatat alamat. Pekerjaan ini aneh. Dia dibayar untuk menolak orang masuk, tapi malam-malam begini justru dia yang paling sering merasa dirinya tertahan di luar.
Ini salah satu dari dua malam jaganya. Kamis malam besok adalah yang satunya lagi. Dulu lima malam seminggu, lengkap dengan ngojek di siang hari dan kuliah di sela-selanya, sampai dia pernah ketiduran di kelas. Sekarang tinggal dua, dan tubuhnya seharusnya lebih segar. Entah kenapa dia justru merasa lebih lelah.
Pukul sepuluh lewat, seseorang berjalan menyusuri trotoar menuju pintu, dengan langkah yang sangat Dion kenal: sedikit menyeret kaki kiri, bahu agak turun di sebelah kanan. Kemeja kantor yang sudah keluar dari celana, dasi disampirkan di leher seperti kain lap.
"Zain?"
Zain berhenti dua langkah dari pintu. Lampu neon membuat wajahnya terlihat sebiru mayat. Dia menatap jaket SECURITY di badan adiknya, lama, dan tersenyum miring. "Wah. Jadi satpam beneran lu."
"Gue kerja, Zain. Lu mau masuk?"
"Gue nggak mau masuk." Zain menyelipkan tangan ke saku celana. "Gue cuma mau ngomong. Berdiri di sini aja."
Dion memberi isyarat kepada rekan jaganya untuk menggantikan sebentar, lalu mereka berdiri di sudut gang samping gedung, tempat tumpukan kardus dan bau got lembap. Dentuman musik teredam di balik dinding.
"Emak sesak lagi," kata Zain tanpa basa-basi. "Dua malam kemarin parah. Bapak panggil mantri, ngasih suntikan, tapi udah dua kali. Obat yang biasa udah nggak mempan, harus yang lebih mahal." Dia berhenti. Dia terlihat benci pada kalimat berikutnya. "Gue nggak mau minta. Beneran. Tapi gaji gue masih nunggu tanggal, dan dompet gue udah tipis banget, dan Emak udah nanya terus kenapa lu nggak pernah telepon."
Dion tidak langsung menjawab. Dadanya seperti dicubit tepat di bagian yang paling lembek. Emak. Dengan napas yang terengah-engah di kamar sempit di rumah simbah, memanggil namanya.
"Emak nanya gue?"
"Tiap malam. Pas sesak, yang disebut pertama bukan nama gue, bukan nama Bapak. Nama lu." Zain mengatakannya tanpa menoleh. "Gue nggak bilang ini biar lu pulang. Gue cuma bilang karena lu harus tahu."
"Bapak gimana?"
"Bapak ...." Zain mengembuskan napas. "Bapak tiap sore duduk di bengkel kecil di belakang rumah. Lu inget bengkel lama itu? Mesin tuanya masih di sana. Pak Karto nyapu tiap sore, bersihin debunya, tapi mesinnya nggak pernah dinyalain. Bapak duduk situ aja, megang kayu, kayak nunggu sesuatu yang nggak datang-datang." Dia menendang kerikil. "Gue pernah nanya kenapa nggak dipakai. Dia cuma bilang, nanti."
"Nanti kapan?"
"Gue juga nggak ngerti." Zain mengangkat bahu. "Orang tua kita itu kadang lebih keras kepala dari lu."
Dion tertawa pendek, hambar. Tangannya merogoh saku dalam jaket, tempat selembar amplop sudah dia siapkan sejak sore, tanpa tahu bahwa dia akan memerlukannya malam ini. Dia menyodorkannya. "Nih."
Zain menatap amplop itu, tidak menyentuhnya. "Apaan?"
"Lima juta. Buat obat Emak."
"Lima juta?" Alis Zain terangkat tinggi. "Dari mana lu dapat lima juta, Yon? Jangan bilang tabungan ngojek. Gue hitung kemarin, lu paling banter dapat dua ratus ribu semalam."
"Trading."
"Trading?" Zain memajang senyum mengejek yang sama persis seperti saat dia menyuruh Dion belajar dewasa. "Lu? Yang nggak bisa bedain saham sama saham-sahaman?"
"Gue serius, Zain. Gue belajar."
"Dari siapa?"
"Dari ... teman."
Zain mengambil amplop itu juga akhirnya. Dia membuka sedikit tutupnya, melihat tumpukan merah yang tebal, lalu menutupnya lagi dengan jemari yang sedikit gemetar. Wajahnya tak terbaca. Dia tidak menyebut kata terima kasih. Zain tak pernah bisa menyebutnya.
"Salam buat Emak," ucap Dion pelan.
"Salam sendiri." Zain mengantongi amplop itu ke balik kemeja. "Nomor tetangga yang dipakai Emak buat nelepon lu masih ada, kan? Lu blokir juga? Lu blokir semua orang, Yon. Termasuk orang yang cuma mau tahu lu hidup apa nggak."
Dion membuang pandangan ke tumpukan kardus. Dia ingin membantah, tetapi satu-satunya jawaban yang jujur adalah bahwa dia memang takut. Takut mendengar suara Emak yang tersengal, takut Bapak bertanya uang dari mana, takut dirinya sendiri yang menjawab.
"Gue nggak mau nanya lagi," ujar Zain setelah beberapa detik. "Tapi dengerin satu hal, Yon." Dia melangkah mendekat, lalu menepuk pipi Dion dengan telapak tangannya, setengah tamparan dan setengah belaian, sama seperti waktu mereka masih kecil. "Kalau ini dari tante-tante, gue gebuk lu."
Dia tertawa setelahnya, tawa pendek yang terdengar seperti bercanda. Tapi mata Zain tidak ikut tertawa.
Zain berbalik dan pergi menyusuri trotoar, punggungnya menghilang di bawah lampu neon.
Rekan jaganya menyembul dari balik pintu besi. "Itu siapa, Bro? Abang lu?"
"Iya."
"Pantes. Sama-sama kelihatan galak tapi ujung-ujungnya baik. Dia ngomong apa tadi, kok muka lu kusut?"
"Nggak ada." Dion tersenyum kaku. Senyum itu menempel kaku di wajahnya.
Di saku jaket, ponselnya bergetar. Nama di layar masih sama: Tante S. Pesannya pendek. Besok jam dua, mal biasa. Jangan telat, Zayn. Tante kangen.
Dion teringat ancaman Zain tadi. Dia mengantongi ponselnya, kembali ke pos jaga, dan berdiri tegak di sisi pintu sampai dini hari tanpa sekali pun menoleh ke saku itu lagi. Angka jam dua tidak mau keluar dari kepalanya.