"Tante Sashi nanya terus, Kak. Kakak jadi ikut ke akad Sabtu, kan?" Fanya mengaduk es teh dengan sedotan. Siang itu kantin penuh sesak, tapi meja kecil di sudut dekat jendela entah bagaimana tetap kosong untuk mereka berdua, seolah semesta tahu Dion butuh tempat yang sempit untuk menyembunyikan wajah.
"Jadi, Dek. Kakak usahain," jawab Dion, terlalu cepat, lalu buru-buru mencari belokan. "Kamu tadi nanya apa lagi, soal ... aplikasi?"
"Iya, aplikasinya namanya apa, Kak? Yang buat trading itu. Aku penasaran. Soalnya waktu aku coba cari di internet, banyak yang bilang risikonya tinggi."
Dion menyeruput kopi hitamnya yang sudah dingin. Dia berpikir cepat, secepat orang yang baru sadar kompor masih menyala di rumah. "Itu ... aplikasi biasa. Banyak, Dek. Namanya susah-susah."
"Susah-susah gimana?"
"Pokoknya, ng ...." Dion menoleh ke seluruh penjuru kantin dengan putus asa, dan matanya jatuh pada sosok pendek berotot yang sedang mengantre bakso sambil menggaruk punggung. "Jov! Jovian! Sini bentar!"
Jovian menoleh, sendok baksonya masih menggantung di mulut. Dia datang dengan langkah panjang dan mengambil kursi di antara mereka tanpa diundang. "Apa, Bro? Gue lagi makan."
"Jelasin ke Fanya soal trading kita. Soal aplikasinya."
Jovian membeku sepersekian detik. Matanya berpindah dari Dion yang memelotot ke Fanya yang menatapnya penuh harap. Kemudian, seperti aktor yang menemukan panggungnya, dia meletakkan sendok dan mencondongkan tubuh.
"Jadi gini, Neng. Trading itu ibarat ... eh, bukan ibarat." Dia menelan ludah. "Trading itu lilin."
"Lilin?"
"Lilin. Ada lilin hijau, ada lilin merah. Hijau naik, merah turun. Kalau lilinnya lagi panjang, namanya ... lilin panjang. Kalau pendek, lilin pendek. Terus kalau ada sumbunya di atas, itu namanya ... sumbu atas."
"Itu memang istilahnya," gumam Fanya, bibirnya mulai bergetar.
"Betul! Terus ada yang namanya sapi dan beruang. Sapi itu kalau pasar lagi senang, beruang kalau lagi marah. Dion itu sapi. Gue beruang. Kami berdua bertempur tiap hari di layar."
"Di aplikasi apa, Kak?"
"Di aplikasi ... Sapi Emas." Jovian menjawab sambil menatap langit-langit kantin; jawabannya jelas tidak tertulis di sana. "Iya, itu. Bagus, hijau-hijau gitu warnanya. Kami pakai tiap malam, bergantian."
Fanya menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya naik turun. Kemudian dia tertawa sampai terbungkuk-bungkuk, dan dua mahasiswa di meja sebelah menoleh. "Kak Jovian, Kakak ngarang ya?"
"Nggak! Gue baca dari buku!"
"Buku apa?"
"Buku ... ya buku. Tebal. Warnanya cokelat. Pokoknya ada."
Dari meja seberang, Ernest yang sedang menghabiskan nasi goreng menutup wajah dengan telapak tangan, bahunya berguncang menahan tawa sekaligus ngeri.
"Jov," bisik Dion di sela gigi. "Cukup."
"Siap, Bos." Jovian bangkit, menyambar sendok baksonya, dan pergi dengan dagu terangkat, puas karena berhasil menyelamatkan sahabatnya, tak sadar bahwa dia justru menenggelamkannya lebih dalam.
Fanya masih tertawa kecil sambil mengusap sudut matanya. Tetapi ketika tawa itu mereda, matanya tinggal sebentar pada ponsel Dion yang tergeletak di meja, layarnya gelap, tanpa satu pun aplikasi grafik yang terbuka. Hanya itu. Hanya sebentar. Dan dia tidak berkata apa-apa.
**
Sore harinya Dion berdiri di depan loket keuangan fakultas dengan map kuning di tangan. Antreannya panjang, mahasiswa-mahasiswa yang baru sadar tenggat pembayaran tinggal hari ini, dan udara di lorong itu pengap oleh keringat dan kecemasan. Fanya menunggunya di bangku panjang beberapa langkah dari situ, tapi pandangan Dion menempel pada angka-angka yang muncul di layar komputer petugas.
Dulu, kalau uang kuliah ditagih, dia cukup menelepon Emak. Sekarang tunggakan itu sudah menumpuk sampai ke semester tujuh. Dia tidak pernah membayangkan akan membayarnya dengan cara seperti ini.
"Atas nama Zayn Dion Krismeinda, tunggakan semester tiga sampai tujuh, total empat belas juta rupiah," ucap petugas wanita berkacamata itu sambil mengetik. "Mau lunas sekarang, Mas?"
"Lunas, Bu."
"Transfer atau tunai?"
"Transfer."
Dion menekan ponselnya. Layar aplikasi bank menampilkan saldo yang masih terlalu banyak. Dia menghela napas, lalu menyetujui. Tidak ada rasa lega, tidak ada rasa bangga. Hanya satu bunyi pendek, notifikasi transaksi berhasil.
Petugas itu mencetak selembar kertas kecil, menempelkan stempel biru bertuliskan LUNAS, dan menyerahkannya. "Selamat ya, Mas. Sudah bisa daftar sidang tahun ini."
"Terima kasih, Bu."
Saat Dion berbalik, Fanya sudah berdiri di sebelahnya. Dia melihat kertas itu. Dia melihat angkanya.
"Empat belas juta?" Suaranya pelan. "Kak, itu ... banyak banget."
"Untung pertama, Dek." Dion menyelipkan kertas itu ke dalam map seolah tidak penting. "Kebetulan lagi bagus."
"Dalam seminggu?"
"Namanya juga lagi hoki."
Fanya menatapnya sebentar, lalu tersenyum. Senyum yang tidak sepenuhnya naik ke mata. "Syukurlah. Aku seneng Kakak bisa bayar kuliah."
"Kamu kok kayak nggak seneng?"
"Seneng, Kak. Cuma ...." Fanya memilin tali ranselnya. "Aku kebiasaan mikir yang jelek, ya? Maaf. Mungkin karena dulu Papah juga bilang usahanya lagi bagus, sampai tiba-tiba nggak."
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang Fanya maksudkan. Dion mengusap rambutnya sekilas. "Kakak nggak bakal kayak Papah kamu, Dek."
"Makasih, Sayang."
"Tapi Kak ... kalau suatu hari rugi, Kakak bilang ya. Jangan simpan sendiri."
"Iya."
Di dalam saku jaketnya, Dion masih memegang ponselnya, dan sebelum meninggalkan kampus, dia mengirim satu transferan lagi, enam juta, untuk ibu kost dan uang makan sebulan ke depan. Dia melakukannya sambil berjalan, tanpa menoleh, supaya tidak ada yang melihat angka di layarnya.
**
Malam harinya di kost, Udin duduk bersila di atas tikar dengan wajah tegang, seperti calon pengantin yang sedang diuji. Ernest dan Jovian menonton dari pojok, Pak Sabeni dan Bu Rohana duduk berdampingan di kasur.
Dion meletakkan amplop cokelat tebal di depan Udin. "Dua puluh juta. Sesuai janji gue."
Udin tidak menyentuhnya. Dia menatap amplop itu, lalu menatap Dion, dan matanya berkaca-kaca. "Yon, ini beneran?"
"Beneran. Buat biaya akad sama sewa tenda sama seserahan. Sisanya buat lu pegang. Jangan dipakai macem-macem."
"Gue ... gue nggak tahu mesti ngomong apa."
"Nggak usah ngomong. Cukup nikah yang bener." Dion tersenyum. "Itu bayaran gue."
Ponsel Udin sedang tersambung di panggilan video, bersandar di botol sampo. Di layar, Siti menangis tanpa suara sambil menutup mukanya dengan kerudung. "Kak Dion ...," terdengar suaranya patah-patah. "Terima kasih. Aku nggak tahu gimana ngebalasnya."
"Balasnya gampang, Sit. Jadi istri yang bahagia."
Bu Rohana mengusap air matanya dengan ujung jilbab. "Din, lu dengar? Itu namanya sahabat. Ingat nanti kalau Dion butuh apa-apa, lu yang pertama datang. Bukan yang terakhir."
"Iya, Mak."
"Dan jangan lupa bilang makasih tiap hari."
"Tiap hari, Mak?"
"Tiap hari!" Jovian dari pojok menimpali dengan khidmat, "Termasuk hari libur."
Pak Sabeni berdiri dan memeluk Dion lama-lama, hingga Dion hampir tidak bisa bernapas. "Kamu anak baik, Nak. Allah yang bales."
Dion mengangguk kaku. Dari pojok kamar, Ernest memandangnya tanpa berkedip, dan Dion membuang muka lebih dulu. Kata-kata itu meluncur ke dadanya seperti panah. Anak baik. Dia anak baik yang duitnya dari perempuan bersuami.
Ketika mereka sibuk berpelukan, Dion kembali ke kamarnya, membuka laci, dan mengeluarkan buku hitam itu. Dengan pulpen yang sudah menipis tintanya, dia menuliskan: kuliah 14, kost dan makan 6, talangan Udin 20. Jumlahnya 40 juta.
Empat puluh juta. Dia memandangi angka itu lama.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Fanya.
Kak, aku udah cari aplikasi trading yang Kakak maksud tadi. Aku ketik nama yang Kak Jovian bilang di toko aplikasi. Nggak ada yang namanya "Sapi Emas".