Senin pagi kampus sudah kembali jadi pasar. Semester pendek bubar, perkuliahan penuh mulai lagi, dan kantin yang kemarin sepi sekarang antre sampai ke tangga. Di meja paling pojok, di bawah kipas angin yang berderit tiap kali berputar, genk Rewo-Rewo duduk melingkar dengan selembar kertas buram bertuliskan tangan Ernest. Enam panggilan tak terjawab dari "Tante S." masih menunggu di layar ponsel Dion sejak semalam, dan dia sengaja tidak membukanya.
"Rapat darurat pembagian tugas akad Sabtu depan," Ernest membuka dengan suara berat yang dia buat-buat. "Satu, tenda dan kursi. Itu tugas Gilbert, karena om lu punya kenalan penyewaan."
"Oke, Bos," sahut Gilbert sambil mengunyah pisang goreng.
"Dua, konsumsi. Udin, lu sama emak lu urus masakan kampung. Fanya sama Mawar katanya urus kue. Tiga, dekorasi, hiasan, dan foto. Jovian."
"Siap!" Jovian mengacungkan tangan seperti anak SD. "Gue juga bisa bantu icip-icip kue. Demi kualitas."
"Lu dilarang nyentuh kue, Jov."
"Lho, kenapa?"
"Karena waktu kita ulang tahun Gilbert, kue lu makan separuh sebelum lilin dinyalakan," timpal Udin dengan wajah serius. Gilbert menunduk khidmat, seakan sedang memberi kesaksian di pengadilan.
"Itu ... itu cuma buat ngetes rasa!"
"Lu cuma boleh pegang kursi," putus Ernest. "Dan balon. Itu juga jangan ditiup sendiri, lu bakal pingsan."
Gilbert mengangkat tangan setengah. "Soal tenda, om gue bilang bisa pinjemin dari acara sunatan tetangganya. Tapi warnanya pink, Bos."
"Pink?"
"Pink, ada gambar Hello Kitty di ujungnya."
"Itu tenda akad apa tenda ulang tahun?" Udin memegangi kepalanya. Tapi dia berhenti sendiri, lalu menambahkan lebih pelan, "Kata Bapak gue semalam, yang penting teduh."
Semua terdiam sebentar. Kemudian Jovian manggut-manggut seperti ahli hikmah. "Betul. Yang penting teduh. Kita pasang aja yang pink."
Dion tertawa. Sudah lama dia tidak tertawa selepas itu. Dia menarik dompet dari saku belakang untuk membayar pesanan, dan tanpa berpikir dia menyodorkan uang seratus ribuan, dua lembar sekaligus, ke ibu kantin. "Semua ini sama gue, Bu. Kembaliannya ambil aja."
Ibu kantin melongo, lalu tersenyum lebar. "Aduh, makasih, Mas Dion!"
Ernest tidak ikut tersenyum. Setelah ibu kantin pergi, dia menutup bolpoinnya dan berbicara tanpa melihat Dion. "Yon, lu sadar nggak? Lu baru ngasih tip dua ratus ribu ke tukang pisang goreng."
"Ah, cuma dua ratus."
"Bro. Seminggu lalu lu masih ngitung receh buat bensin." Ernest menurunkan suaranya. "Fanya itu pinter. Dia udah nanya soal trading, kan? Jangan sampai lu pamer duit di depan dia. Lu mau dia nyatet semua kejanggalan lu?"
Dion terdiam. Kalimat itu tepat sasaran, dan itulah yang membuatnya tidak nyaman. "Gue ngerti."
"Dan satu lagi." Ernest akhirnya menatapnya. "Lu kelihatan nggak enak badan belakangan. Itu gara-gara apa? Bukan cuma gara-gara kurang tidur, kan?"
"Gue baik-baik aja, Nest."
"Hm." Ernest tidak mendesak, tapi sorot matanya tidak percaya. Pria itu tahu, sebagaimana semua sahabat sejati tahu, bahwa pertanyaan yang tidak dijawab adalah jawaban itu sendiri.
**
Ponsel Dion bergetar ketika dia menunggu giliran di depan ruang dosen pembimbing, duduk di bangku panjang bersama dua mahasiswa lain yang sama-sama pucat membawa map. Dia berdiri dan menjauh ke ujung lorong yang sepi sebelum menjawab.
"Zayn," suara serak itu menyambutnya dengan nada mendayu. "Tante telepon dua kali semalam, kamu nggak angkat. Paketnya sudah sampai?"
"Sudah, Tante. Semalam aku ketiduran, maaf."
"Kamu suka?"
"Bagus, Tante. Makasih." Dion menekan kata-kata itu dengan hati-hati, satu per satu. "Tapi Tante nggak usah kirim-kirim lagi."
"Kenapa? Tante kangen." Terdengar tawa kecil. Kemudian suara itu merendah. "Kamis ini kamu kosong, kan? Tante mau ketemu. Di tempat yang biasa. Ada yang mau Tante bicarakan."
Dia menatap map berisi draf skripsinya yang belum sampai separuh. Seharusnya ini yang dia pikirkan dua puluh empat jam sehari, bukan perempuan di seberang telepon.
Dion memejamkan mata. Di belakang kelopak matanya muncul wajah Eko Juniarto di teras, mata yang menembus. Anak yang jujur ditanya asal duit, matanya tidak lari ke lantai. Dan di bawahnya, wajah Fanya sambil bilang halal, Kak, ya?
Uang Sanny akan dia pakai menolong orang lain, tapi dirinya sendiri makin tenggelam setiap hari. Jadi kali ini, dia harus mengakhirinya sendiri, selagi kakinya masih bisa menapak.
"Kamis ya, Tante?" katanya pelan. "Oke. Aku datang. Ada yang mau aku bicarakan juga."
"Bagus, Beb." Ada kepuasan yang jelas di nada itu, kepuasan orang yang mengira urusannya selesai. "Sampai Kamis."
Sambungan terputus. Dion mengantongi ponsel dan bersandar ke dinding. Napasnya terasa berat, tapi sejak seminggu terakhir, baru sekarang dia punya satu keputusan yang jelas di kepalanya. Hanya saja dia belum tahu apakah dia akan cukup berani untuk menjalankannya, atau kembali tunduk begitu mendengar suara serak itu menyebut namanya.
Pintu ruang dosen terbuka. "Dion Krismeinda?" panggil seorang staf.
"Saya, Bu."
Dia menegakkan punggung dan berjalan masuk, membawa draf yang belum jadi dan hati yang lebih belum jadi lagi.
**
Sore harinya di rumah Tante Sashi, sinar matahari menembus tirai ruang keluarga dan jatuh tepat di wajah Fanya yang sedang tersenyum sendiri sambil memandangi ponselnya. Dia memeluk bantal sofa, kakinya terlipat, rambutnya tergerai karena baru keramas.
"Anya." Suara Tante terdengar dari ambang pintu. Dia datang membawa dua cangkir teh dan duduk di sebelahnya. "Senyum-senyum sendiri sejak tadi pagi. Sudah dua kali Tante lihat kamu menghela napas kayak orang jatuh cinta."
Fanya terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya. "Tante, aku ... nggak kok."
"Tante bukan baru lahir kemarin." Sashi menyodorkan cangkir. "Siapa?"
Fanya menggigit bibir. Matanya menghindar, lalu kembali. Akhirnya, setelah beberapa kali menarik napas, dia berbisik, "Tante, aku punya pacar."
"Sudah Tante duga."
"Tante nggak marah?"
"Kenapa harus marah? Kamu sembilan belas tahun, bukan sembilan." Sashi menyeruput tehnya. "Tapi Mamamu tahu?"
"Nggak." Fanya menunduk dalam-dalam. "Mama pasti nolak, Tante. Mama kan sudah punya rencana sendiri, mau jodohin aku sama Kak Refi. Aku belum berani ngomong."
"Kak Refi lagi," Sashi menggumam sambil memutar bola mata. Itu bukan sindiran, lebih seperti dia sendiri pernah ada di posisi yang sama dan ingin melupakannya. "Tante ingat. Tante yang dulu menyuruh kamu cari yang mapan, kan?"
"Iya, Tante."
Tante Sashi menimbang-nimbang pelan. Ada bayangan di wajahnya yang tidak bisa dibaca; matanya bergerak pelan, sedang menghitung sesuatu. "Orangnya baik?"
"Baik banget, Tante. Dia ... bukan orang kaya. Tapi dia kerja keras. Dia nggak pernah nyerah." Wajah Fanya bercahaya ketika mengatakannya, dan itu justru yang membuat wanita di sebelahnya memalingkan muka sedikit.
"Dia pernah bilang apa, waktu pertama kali kalian bicara serius?"
"Dia bilang nggak akan macam-macam sama aku sampai kita nikah." Fanya tersipu. "Aku percaya, Tante. Kadang ... aku takut kelihatan terlalu percaya. Tapi aku lebih takut kalau nggak percaya sama orang yang baik ke aku."
"Itu bukan kelemahan," ujar Sashi pelan. Dia menatap uap teh yang naik dari cangkirnya. "Cuma, orang yang dipercaya itu harus pantas menerimanya."
Fanya mengira itu nasihat umum. Dia tersenyum penuh terima kasih.
"Namanya?"
"Nanti aja, Tante. Aku mau Tante lihat sendiri."
"Hm." Sashi meletakkan cangkirnya di meja. Ketika dia kembali menatap Fanya, senyumnya hangat dan tenang. "Kalau begitu, bawa dia ke akad Sabtu. Tante mau lihat orangnya sendiri."