Kertas kecil itu Udin yang menulis, dengan tangan gemetar: alamat rumah tante Fanya dan sebuah nomor telepon. Dia menyelipkannya di bawah surat Siti sebelum amplopnya dia masukkan ke pagar, tanpa yakin akan ada yang membacanya.
Minggu pagi, Eko berangkat ke masjid tanpa mengulang perintahnya semalam. Bu Wulan mengambil kertas itu dari atas meja dan memesan ojek.
Dia berdiri di depan gerbang rumah Tante Sashi dengan tas kain kusam di bahu, tidak berani menekan bel. Seorang asisten rumah tangga membukakan gerbang dan menuntunnya masuk ke ruang tamu. Sofa kulit itu begitu empuk sampai Bu Wulan hampir tak berani menaruh pantat sepenuhnya.
"Ibu ...." Siti muncul di tangga, memakai kaos pinjaman dan sarung, rambutnya acak-acakan. Dia berhenti di anak tangga ketiga, lalu berlari turun dan jatuh berlutut di depan ibunya. "Ibu!"
"Sit, Siti, jangan kayak gini." Bu Wulan memeluk kepala anaknya dengan kedua tangan yang kasar karena cuci piring. "Ibu cuma sebentar. Bapakmu pergi ke masjid. Dia yang suruh Ibu ke sini, suruh lihat kamu makan atau nggak. Tapi nanti jangan bilang-bilang ya, dia malu kalau ketahuan."
Fanya yang turun belakangan berdiri canggung di ujung tangga, sambil mengusap hidung. Pemandangan ibu dan anak yang berpelukan di lantai ruang tamu itu terlalu hangat untuk ditonton orang yang tidak dilibatkan, dan terlalu menyentuh untuk dilewatkan.
"Sit, dengar Ibu." Bu Wulan menegakkan tubuh anaknya, menyeka air mata di pipinya dengan ibu jari. "Bapak sudah baca suratmu. Dua kali, Ibu lihat dari pintu. Bapak nggak bilang apa-apa, tapi tadi subuh dia bilang gini ke Ibu, Kalau anak itu mau nikah, ya nikah. Saya jadi walinya. Tapi sederhana. Tidak ada pesta, tidak ada tenda besar, dan saya tidak mau hadir di resepsinya. Begitu katanya, Nak."
"Bapak ... mau jadi wali?"
"Mau, Nak. Tapi jangan kamu salah ngerti. Bapak masih marah." Bu Wulan tersenyum getir. "Bapakmu itu keras kepala. Kamu tahu sendiri. Ibu rasa dia nggak mau ngaku kalau dia kangen."
Siti menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pundaknya terguncang. Fanya akhirnya melangkah, mengusap punggung Siti, sambil menahan air matanya sendiri yang entah kenapa ikut menggenang.
"Ibu mau minum dulu? Aku buatkan teh hangat," tawar Fanya.
"Jangan repot-repot, Nak."
"Nggak repot, Bu. Duduk dulu, ya. Ibu pasti belum sarapan."
Bu Wulan menggeleng, lalu mengangguk ketika perutnya sendiri berbunyi cukup keras sampai tiga orang di ruangan itu tersenyum. Dia menerima teh dan sepotong roti isi dengan kedua tangan, makan perlahan, sambil memandangi wajah putrinya seolah ingin menyimpannya baik-baik di kepala sebelum pulang.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah datang. Aku ... aku pikir Ibu juga benci aku."
"Ibu bukan benci, Nak. Ibu cuma nggak berani." Bu Wulan menunduk. "Maafin Ibu."
**
Menjelang sore, Tante Sashi pulang dari salon dengan rambut baru bergelombang dan senyum yang cerah. Di ruang makan, Siti menceritakan semuanya dengan suara yang masih parau, dan wanita itu mendengarkan dengan dagu bertumpu di punggung tangan.
"Jadi bapakmu setuju jadi wali," Sashi menyimpulkan.
"Iya, Tante. Tapi harus sederhana. Mas Udin bilang mungkin cukup di KUA saja. Cuma ... ya, kami nggak punya tempat buat syukuran kecil bareng keluarga, Tante. Rumah kost Mas Udin sempit."
Sashi memandang Siti, lalu Fanya, lalu kembali ke Siti. Sesuatu terlihat melintas di wajahnya, bukan kasihan, tapi sesuatu yang lebih sepi.
"Di sini saja," ujarnya.
"Maaf, Tante?" tanya Siti.
"Akadnya di sini. Syukurannya juga di sini. Sabtu depan, bagaimana? Rumah ini terlalu besar untuk orang-orang yang jarang ngobrol." Sashi menyendok sambal ke piringnya dengan tenang. "Kamu tidak perlu mikir apa-apa. Tante yang sediakan tempat dan minumnya, soal tenda dan kursi biar teman-teman Udin yang atur. Tante juga mau ada anak-anak muda yang berisik di sini sekali-kali."
"Tante serius?" Fanya hampir menumpahkan air minumnya. "Ya Allah, Tante, makasih. Makasih banyak!"
"Sayang, jangan bilang makasih terus. Nanti Tante merasa jadi pahlawan, padahal Tante cuma pinjamkan halaman." Sashi tertawa kecil. Namun matanya, kalau Fanya lebih jeli, tak ikut tertawa. Mata itu menatap ke arah jendela, ke arah jalan di mana tidak ada siapa pun yang sedang menunggu kepulangannya.
Siti tidak bisa bicara. Dia hanya meraih tangan Sashi dan menggenggamnya erat, dan Sashi membiarkannya, agak kaku, seolah sudah lama tak ada yang menyentuhnya dengan cara seperti itu.
**
Di kost, ponsel Udin berbunyi di tengah-tengah Jovian yang sedang menyuapkan mi instan ke mulutnya sendiri. Udin membaca pesan Siti dua kali, lalu berdiri dengan mulut setengah terbuka, kaget tapi jelas senang.
"Bapak mau jadi wali," katanya pelan. Lalu lebih keras, "Bapaknya Siti mau jadi wali!"
Pak Sabeni yang sedang melipat sajadah langsung bersujud lagi di tempat. Bu Rohana menjerit kecil dan memeluk apa pun yang paling dekat, yang kebetulan Ernest, yang hampir terjengkang. Jovian meloncat sambil mengangkat mangkuk mi, dan sebagian kuahnya menyiram celana Gilbert yang baru datang.
"Anjiir, Jov! Itu celana gue!"
"Biarin! Ini hari bahagia!"
Dari lorong kost, tetangga sebelah menggedor tembok minta diam. Dion berdiri di ambang pintu kamarnya, ikut tersenyum melihat kekacauan itu. Dia merasa lega untuk Udin, dan sebagian dirinya, yang jauh lebih kecil, merasa iri pada orang yang bisa bahagia tanpa harus menyembunyikan apa pun dari siapa pun.
**
Malam itu Fanya mengunci pintu kamarnya, menaruh bantal di pangkuan, dan menelepon Dion. Dering pertama, dering kedua. Pada dering keempat, suara berat dan agak serak itu menjawab.
"Halo, Sayang."
"Kak, kok baru diangkat?"
"Kakak lagi di kamar mandi. Maaf ya." Dion berbohong lagi, dan dia menyadarinya setengah detik setelah kalimat itu selesai. "Kamu belum tidur?"
"Belum. Aku pengin kasih kabar baik." Fanya menceritakan semuanya: ibu Siti, Eko yang mau jadi wali, rumah Tante yang akan dipakai untuk akad. Suaranya naik turun, begitu antusias sampai dia lupa mengucapkan maaf sekali pun.
"Serius?" Dion duduk tegak di kasurnya. "Jadi Pak Eko mau?"
"Iya! Kak Udin pasti nangis nanti. Kak, Sabtu depan datang ya? Datang ke akad. Rumah Tante aku, yang pernah Kakak jemput aku di portal depannya itu, ingat?"
"Rumah Tante kamu?"
"Iya. Tante aku baik banget, Kak. Akhir-akhir ini beliau sibuk dan sering pulang malam, tapi kalau sama aku selalu sayang." Fanya tertawa pelan. "Aku mau Kakak kenalan juga sama beliau. Sekalian ... ya, sekalian aku mau perkenalkan Kakak, kalau Kakak siap."
Dion terdiam sebentar. Tante-tante. Ada kata itu lagi, dalam bentuk yang paling tidak menyenangkan, tapi Fanya mengucapkannya dengan begitu polos. "Siap, Dek. Kakak datang."
"Beneran?"
"Beneran. Kakak bantu tenda sama kursi juga, sekalian sama anak-anak."
"Makasih ya, Kak. Aku seneng banget." Fanya terdiam sebentar. "Kak, Kakak baik-baik aja, kan? Suara Kakak capek."
"Capek dikit aja, Dek. Kamu tidur ya."
Setelah sambungan terputus, Dion menatap layar ponselnya yang gelap. Belum sempat dia meletakkannya, benda itu bergetar lagi di telapak tangannya. Nama di layar tertulis pendek saja: Tante S.
Dia menelungkupkan ponsel itu ke kasur, menimpanya dengan bantal, lalu duduk di lantai menghitung berapa kali bantal itu bergetar. Lima kali. Enam.