"Ngambil sapu, Pak," sahut Bu Wulan dari balik pintu dapur. Suaranya melengking setengah nada lebih tinggi dari biasanya. "Tadi lihat ada daun banyak di pagar."
"Daun?" Eko berdiri di ambang ruang tengah dengan tangan bertolak pinggang. Matanya menyipit, memeriksa istrinya dari ujung kerudung sampai ujung sandal. "Sejak kapan kamu nyapu pagar jam segini?"
"Ya ... sejak lihat berantakan."
Eko mendengus. Dia tidak bertanya lagi, tapi pandangannya tinggal sebentar di tangan Bu Wulan yang menekan sesuatu di balik dasternya. Bu Wulan buru-buru melipat tangan di depan perut. Lalu dia berbalik ke ruang tamu, menyalakan televisi keras-keras, dan pura-pura menyaksikan siaran berita.
Dari ruang tamu, suara pembaca berita bercampur dengan batuk Eko yang dibuat-buat keras. Itu kebiasaannya kalau ada yang mengganjal di dada tapi gengsi mengakui.
Bu Wulan bergegas ke kamar, menutup pintu, dan menyelipkan amplop itu ke bawah tumpukan mukena di lemari. Tangannya gemetar. Amplop itu masih hangat oleh telapak tangannya sendiri, dan dia belum berani membukanya. Belum sekarang. Belum selama suaminya masih duduk di ruang sebelah dengan telinga terbuka lebar.
Pagi berikutnya, ponsel Dion bergetar di meja sebelum alarm sempat berbunyi.
"Yon," suara Udin di seberang terdengar serak, jelas baru habis menangis atau hampir menangis. "Bapak gue sama gue balik lagi ke rumah Pak Eko kemarin sore. Pagarnya digembok, Yon. Digembok. Ada satpam komplek yang disuruh ngusir kami, dan Bapak gue diteriakin dari balik pagar kayak tukang kredit."
"Sabar, Din."
"Gue udah nggak ngerti harus ngapain. Gue takut Siti dengar terus kepikiran, kandungannya ...." Udin tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Dion menatap langit-langit kamar kost sambil menggenggam ponsel erat-erat. Dia teringat kata-katanya sendiri kepada Fanya dua hari lalu: Kakak nggak akan macam-macam. Dia teringat ketika dia kabur dari rumah simbah dengan memar di rahang. Tidak ada orang di sana yang mengetuk pintu kost untuk menyuruhnya pulang.
"Malam ini gue ke sana," putusnya.
"Lu mau ngapain?"
"Duduk. Cuma duduk di terasnya."
**
Malam itu Dion datang sendiri dengan jaket levis biru dongkernya. Dia mematikan motor di ujung jalan dan berjalan kaki menuju pagar besi hitam itu. Gembok memang terpasang. Dion tidak mengetuk. Dia menekan bel sekali, menunggu, lalu menekannya lagi.
Lampu teras menyala. Pintu terbuka. Eko Juniarto muncul dengan sarung dan kaos dalam, tubuhnya mengisi bingkai pintu seperti lemari antik yang tak mau dipindahkan. "Siapa?"
"Dion, Om. Teman Udin."
"Pulang. Saya sudah bilang ke bapaknya Udin."
"Saya bukan mau bujuk, Om. Saya cuma mau duduk sebentar di depan pagar, kalau diizinkan."
Eko memandangnya lama. Entah kenapa, dia akhirnya menggeser gembok dengan jari-jarinya yang besar. "Satu menit."
Mereka duduk di teras, di kursi plastik yang berjarak satu meter dari satu sama lain. Dion menaruh kedua tangannya di lutut. Dia tidak membawa seserahan, tidak membawa surat, tidak membawa apa pun selain dirinya.
"Saya juga pernah lari dari rumah, Om," katanya akhirnya. "Bukan karena kasus seperti Siti. Karena bangkrut dan malu. Saya bertengkar dengan abang saya, dia mukul saya, dan saya bilang nggak akan pulang sebelum sukses."
"Terus?"
"Terus sampai sekarang saya belum pulang. Dan tiap malam saya pikir, kalau waktu itu bapak saya datang ke kost dan nyuruh saya balik, saya mungkin nggak akan sekeras kepala ini." Dion menatap ubin teras. "Siti nggak punya kost, Om. Dia punya rumah, dan rumahnya ini. Dia cuma lagi takut."
"Dia bikin malu keluarga."
"Iya, Om. Udin juga bikin malu keluarganya. Tapi Udin udah datang dua kali dengan bapaknya, berdiri di bawah matahari, dan nggak lari lagi."
Eko diam. Dari dalam rumah terdengar suara televisi, lalu mengecil.
"Biaya akadnya siapa yang tanggung?" tanya Eko tiba-tiba.
"Udin, Om. Dibantu teman-temannya."
"Dibantu siapa?"
"Teman-temannya."
"Kamu?"
Dion mengangkat wajah. "Saya ikut membantu."
"Dari mana duitmu, anak kuliahan yang ngojek?" Eko mencondongkan badan. Suaranya rendah, bukan menggertak. Orang yang puluhan tahun mengurus bawahan, tampaknya, tahu cara mengendus kebohongan. "Saya lihat tampang kamu dari tadi. Kamu sopan, bicara baik, tapi waktu saya tanya asal duit, mata kamu lari ke lantai. Anak yang jujur ditanya asal duit, matanya tidak lari ke lantai."
Dion membeku. Batinnya menjerit: mampus gue. Dia memaksa dirinya menatap pria itu, tetapi sudah terlambat. Tenggorokannya terasa kering seperti dedaunan.
"Saya ... kerja serabutan, Om. Ada tambahan dari usaha kecil-kecilan."
"Hm." Hanya itu. Eko berdiri. "Orang tuamu di mana?"
"Di kampung, Om. Dua jam dari sini."
"Kapan terakhir kamu pulang?"
Dion tersenyum miring, tersenyum yang tidak sampai ke mata. "Lama, Om."
"Pulanglah." Eko mengucapkannya seolah memerintahkan anak buah, tetapi nadanya aneh. Mungkin itu perintah untuk orang lain yang tidak dia sebutkan namanya. "Satu menit sudah habis. Pulang sekarang."
"Terima kasih sudah mau menerima saya, Om."
Eko tidak menjawab. Dia menunggu sampai Dion melewati pagar, lalu menutup pintu rumahnya, pelan sekali. Tidak dibanting seperti tadi siang.
**
Dion tiba di kost menjelang tengah malam. Ibu kost menyerahkan sebuah paket berbungkus kertas cokelat. "Tadi kurir, Mas. Atas nama kamu."
Di kamar, dia merobek bungkusnya. Sebuah kotak hitam. Di dalamnya, jam tangan berkilau di atas bantalan beludru, lengkap dengan kartu kecil bertuliskan tangan miring: Kangen. S.
Dion menutup kotak itu. Dia menaruhnya di laci meja, di bawah buku catatan hitam bertuliskan UTANG, dan mendorong laci itu rapat-rapat.
Ponselnya bergetar. Bukan dari Sanny, tapi dari Fanya: foto bantal Siti yang tertidur dengan mulut terbuka dan tulisan Kak Udin pasti senang lihat ini. Dion tersenyum sedikit. Lalu senyum itu pelan-pelan lenyap.
Dari kamar sebelah, Udin mengetuk dinding triplek tiga kali. "Yon, lu udah balik? Gimana?"
"Gue nggak diusir. Itu dulu aja, Din."
"Cuma itu?"
"Cuma itu. Tidur. Besok kita pikirin lagi."
Balasan untuk paket itu? Tidak ada. Dion hanya duduk lama menatap dinding, dengan jam tangan mahal tersembunyi di laci dan seratus dua belas juta yang terus menghitung dirinya sendiri di dalam kepala.
**
Di dalam, Bu Wulan menunggu di ruang makan dengan tangan saling meremas. Begitu Eko masuk, dia meletakkan amplop kusut di atas meja.
"Pak ...." Hanya itu yang dia ucapkan.
Eko memandang amplop itu lama. Kemudian dia duduk, membukanya dengan jari yang kasar, dan mengeluarkan lipatan kertas bergaris, tulisan tangan yang dia kenal sejak anaknya masih belajar mengeja namanya sendiri.
Bapak, aku tahu Bapak marah. Aku salah dan aku tidak akan membela diri. Aku cuma mau Bapak tahu aku tidak pernah berhenti jadi anak Bapak. Mas Udin orang baik. Dia datang dua kali, dan aku akan bertanggung jawab sama apa yang sudah kami lakukan. Kalau Bapak tidak mau datang ke akad, tidak apa-apa. Tapi tolong, jangan bilang Bapak tidak punya anak. Siti.
Bacanya sekali, lalu sekali lagi sampai habis. Rahang Eko berkedut. Dia melipat surat itu, memasukkannya ke saku sarung, dan berjalan ke teras untuk berdiri sendirian di sana dalam gelap, dengan punggung yang malam itu tidak lagi terlihat keras.
"Wulan," katanya tanpa menoleh.
"Ya, Pak?"
"Anak itu sekarang di mana?"
Bu Wulan menahan napas. "Ada alamatnya, Pak. Di kertas kecil dalam amplop itu juga."
"Besok pagi kamu ke sana. Bukan saya. Kamu." Eko menatap gelap di depan pagar. "Lihat sendiri dia makan atau tidak."