Dari kamar sebelah terdengar dengkuran yang bersahut-sahutan seperti konser katak. Ernest, Jovian, Udin, dan kedua orang tua Udin ternyata benar-benar tidur berjejalan di kamar kost seluas tiga kali tiga meter, dan tembok triplek di antara kamar mereka dengan kamar Dion tidak menyisakan rahasia sedikit pun. Salah satu dengkuran itu, Dion yakin, milik Jovian. Yang lain mirip knalpot bocor.
Dion duduk bersila di kasur tipisnya, bersandar ke dinding, dengan ponsel di tangan. Di luar jendela langit baru mulai kehilangan gelapnya. Menjelang subuh. Dia sudah tidak bisa tidur sejak pulang.
Akhirnya dia membuka pesan-pesan Fanya, dan membaca yang paling akhir tiga kali. Dadanya serasa diinjak.
Dia mengetik: Maaf Dek, hp Kakak mati, ketiduran di kost. Besok Kakak ceritain. Jangan nunggu Kakak, tidur ya. Kakak sayang kamu.
Kalimat terakhir itu benar. Bagian tentang ketiduran di kost yang tidak. Dia menekan kirim sebelum sempat berubah pikiran.
Lalu dia membuka laci meja belajar dan mengeluarkan buku tulis bersampul hitam, buku yang dia beri nama di halaman depan dengan huruf kapital: UTANG. Ernest pernah menertawakannya. Dion tidak ikut tertawa. Dia membuka lembar yang kemarin, membaca deretan angka tulisan tangannya sendiri, tanggal demi tanggal, lalu menambahkan satu baris baru dengan pulpen yang hampir habis tintanya: dua puluh juta, semalam.
Dia menjumlahkan semuanya di kalkulator ponsel. Dua puluh juta pertama di apartemen. Transferan-transferan yang datang bertahap sesudahnya. Dua puluh juta lagi semalam. Layar kecil itu menampilkan satu angka, dan angka itu terbaca di kepalanya seperti vonis: seratus dua belas juta.
Tabungan Dion sendiri sudah habis sejak lama. Jadi kalau uang itu dibelah dua, tidak ada separuh yang miliknya. Seratus dua belas juta rupiah, seluruhnya pemberian seorang wanita yang punya suami.
"Gila," bisik Dion pada langit-langit. "Gue baru sebentar sama dia dan udah segini."
Dari kamar sebelah, dengkuran Jovian berhenti. Lalu terdengar suara serak tidur-tidur ayam: "Yon ... lu udah balik? Bilang aja ke Fanya lu main trading. Ingat saran gue."
"Tidur, Jov!"
"Iye, iye."
Pintu triplek berderit. Udin muncul di ambang pintu kamar Dion dengan sarung melorot dan rambut mencuat, matanya merah.
"Lu belum tidur, Yon?"
"Lu sendiri?"
"Gue mikirin Bapaknya Siti." Udin menggaruk tengkuk. "Jam sembilan nanti Bapak gue sama gue mau ke sana lagi. Kalau ditolak lagi, gue ... gue nggak tahu, Yon."
"Ditolak sekali bukan berarti ditolak selamanya, Din."
"Ngomong gampang, lu."
Dion tidak membalas. Dia tahu persis siapa yang paling tidak pantas menasihati orang soal tanggung jawab. Udin kembali ke kamarnya, dan sebentar kemudian dengkuran Jovian menyambung seperti tak pernah putus.
Dion menutup buku itu dan menahannya di dada. Alasan trading dia sebenarnya benci, tapi tidak punya yang lain. Dan malam tadi dia sudah terlalu capek untuk jadi orang jujur.
**
Gazebo di belakang fakultas siang itu cukup ramai. Libur semester tinggal hitungan hari, dan kampus sudah dipenuhi mahasiswa yang antre bimbingan skripsi atau mendaftar kelas semester pendek, termasuk para mahasiswa pindahan seperti Fanya.
Fanya duduk di bangku kayu dengan tas ransel dipangku, rambutnya diikat tinggi seperti biasa. Matanya sedikit bengkak. Dia tidak tidur cukup, dan Dion tahu penyebabnya.
"Kakak ke mana semalam?" tanya Fanya, dan buru-buru menambahkan, "Maaf, aku nanya terus. Kakak nggak harus jawab kalau nggak mau."
"Dek, kamu nggak perlu minta maaf buat nanya." Dion duduk di sebelahnya, menjaga jarak yang sopan. "Kakak yang salah. Semalam Kakak lagi ... ngurusin sesuatu yang penting."
"Urusan apa?"
Nah, ini dia. Dion menarik napas dan memasang wajah paling jujur yang bisa dia kerahkan. "Kakak lagi coba trading, Dek."
"Trading?"
"Iya. Saham, kripto, semacam itu. Kemarin Kakak lagi lihat grafik dan hasilnya lumayan. Makanya kakak kurangi jam kerja. Jaga club tinggal Rabu sama Kamis malam, ojek cuma kalau sempat. Kakak mau fokus skripsi sama ini."
Fanya menatapnya lama. Dion nyaris bisa mendengar roda gigi di kepala gadis itu berputar. "Hasilnya lumayan itu ... berapa, Kak?"
"Cukup buat bayar kuliah." Itu setengah benar, jadi dia tidak mengerutkan dahi saat mengucapkannya.
"Kakak nggak judi, kan?"
"Nggak, Sayang."
"Halal?"
"Insya Allah halal." Dion menelan ludah. Kata itu terasa seperti kerikil di tenggorokan.
Fanya mengembuskan napas panjang, dan bahunya yang tadi kaku perlahan turun. "Aku lega. Aku kira Kakak ada masalah, atau ... ya, aku kira macam-macam." Dia tertawa kecil malu sendiri. "Maaf, aku mikir yang jelek-jelek lagi. Makasih ya, Kak, udah cerita."
Terima kasih. Dia berterima kasih. Dion memandang lurus ke depan, ke arah pohon ketapang yang daunnya mulai menguning, dan merasa dirinya lebih kecil dari semut yang merayap di pinggir bangku.
"Tapi, Kak." Fanya menyentuh lengan jaketnya sekilas. "Janji ya, apa pun itu, harus halal dan nggak berjudi. Aku nggak mau Kakak kena masalah."
"Janji."
Janji yang ke berapa dalam dua hari ini? Dion berhenti menghitung.
**
Di sisi lain kota, di depan pagar besi hitam setinggi dada, Pak Sabeni berdiri tegak dengan baju batik satu-satunya yang dia bawa dari kampung. Di belakangnya Bu Rohana menggenggam kantong seserahan sederhana: sekotak kue, sebungkus kain, dan setandan pisang raja. Udin memegang amplop berisi surat tulisan tangan Siti, dan di belakang mereka, genk Ernest, Jovian, dan Gilbert berbaris rapi seperti paduan suara siap tampil.
"Jov, jangan pegang pisangnya," bisik Ernest. "Lu pegang apa aja bisa jadi bubur."
"Gue cuma bantuin Bu Rohana!"
Sebuah pintu rumah terbuka. Seorang pria bertubuh kekar keluar ke teras, brewok lebat, lengan bajunya digulung sampai siku. Eko Juniarto. Dia tidak berjalan ke arah pagar. Dia berdiri di depan pintu, dua puluh langkah dari tamunya, dan menatap mereka seolah mereka tukang kredit.
"Assalamu'alaikum, Pak Eko," sapa Sabeni dengan suara bergetar tetapi tegas. "Saya Sabeni, bapaknya Udin. Kami datang baik-baik, mau melamar Siti secara resmi."
"Anak saya tidak ada urusan sama kalian."
"Pak, Siti sudah-"
"Saya sudah bilang kemarin." Eko mendekat dua langkah dan berhenti di balik pagar yang tetap terkunci. Dari dekat, rahangnya berkedut. "Saya tidak punya anak perempuan. Pulang."
"Pak, tolong baca ini saja," ujar Udin, tangannya gemetar saat menyodorkan amplop itu melalui celah besi. Eko tidak menyentuhnya. Amplop itu jatuh, lalu Udin cepat-cepat menyelipkannya di antara dua batang pagar agar tidak terbawa angin.
Eko memutar badan dan masuk ke dalam, membanting pintu sampai kaca jendelanya bergetar.
Rohana menutup mulut dengan punggung tangannya. Ernest menepuk bahu Udin tanpa bicara.
Mereka masuk ke mobil pinjaman tanpa suara. Di jok belakang Rohana terisak pelan. Gilbert yang biasanya paling cerewet hanya memandangi jalan lewat jendela. Sabeni menarik napas panjang sebelum berkata, "Kita datang lagi, Din. Berapa kali pun. Dia bapak, bukan batu."
"Iya, Pak," jawab Udin lirih.
Beberapa menit kemudian, ketika mobil itu belum juga jalan karena Gilbert masih mencari kunci di sakunya, tirai di jendela samping bergeser. Seorang wanita paruh baya, kerudungnya miring, mengendap keluar lewat pintu dapur dan menyambar amplop itu dari pagar. Bu Wulan. Dia menyembunyikannya di balik daster, sempat menatap Udin sekilas dengan mata yang basah, lalu berlari kecil masuk.
"Wulan!" Suara Eko menggelegar dari dalam rumah. "Kamu ngapain di luar?"