Apa yang terjadi di dapur itu terjadi begitu saja, dan Dion menyesalinya sebelum napasnya sempat kembali normal. Menyesal, tapi tidak menolak. Itu bagian yang paling bikin dia jijik pada dirinya sendiri. Nama samaran "Zayn" dia tanggalkan bersama kaosnya; yang berdiri di depan wastafel sekarang Dion, dan Dion tidak punya pembelaan.
Dia berdiri di depan wastafel dengan dada telanjang, membasuh muka dengan air dingin. Dari ruang tengah terdengar ponsel Sanny berdering, sekali, dua kali, lalu berhenti, lalu berdering lagi. Siapa pun yang menelepon, orang itu keras kepala.
"Ya, Mbak? Ada apa?" Suara Sanny berubah. Tadi serak dan manja, sekarang tegas seperti suara orang yang sedang rapat. "Tamu? Tamu siapa saja? ... Berapa orang? ... Jangan suruh pulang dulu. Bilang saya sudah di jalan."
Dion mengelap wajah dengan lap dapur yang entah bersih entah tidak. Dia menyambar kaosnya di sandaran sofa, dan saat itu Sanny sudah berdiri di pintu dapur sambil mengikat kimononya rapat-rapat.
"Zayn, kamu pulang sekarang. Tante harus pulang juga, di rumah ada tamu."
"Tamu malam-malam gini, Tan?"
"Keluarga," jawab Sanny pendek. Dia sudah mencari kunci mobil di dalam tas, dan jari-jarinya yang tadi lentik-lentik menggoda kini gesit mencari. "Kamu hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan."
"Iya, Tante."
Nggak biasanya dia buru-buru begini, batin Dion. Tapi dia tak bertanya lagi. Di lift menuju lobi, Dion membuka aplikasi bank dan menatap angka yang bertambah dua puluh juta itu lama-lama. Angka itu bagus. Harusnya dia senang. Kenyataannya perutnya malah mulas, seperti habis makan sambal sebaskom.
Ponselnya dia keluarkan dari saku jaket. Layarnya penuh. Pesan dari Fanya menumpuk berurutan, dari yang pendek sampai yang panjang, dan semuanya belum dia buka.
Dia belum sanggup membukanya.
Di lobi, petugas keamanan mengangguk sopan tanpa bertanya apa-apa, seperti biasa. Orang yang keluar dari lift jam segini dengan rambut setengah basah dan wajah kusut sudah pasti bukan hal baru baginya. Dion balas mengangguk, lalu menunduk menghindari tatapan itu. Rasanya seperti ketahuan mencuri, padahal dia membawa pulang uang yang diberikan dengan sukarela.
Di parkiran motor, dia duduk di jok maticnya dan tidak langsung menyalakan mesin. Dua puluh juta. Ditambah yang kemarin-kemarin, jumlahnya sudah lumayan buat melunasi tunggakan kuliah, bayar kost, dan beli obat Emak. Hitungan itu rapi sekali di kepalanya. Hanya hatinya yang menolak ikut menghitung.
"Hari ini cukup, Yon," gumamnya sendiri. "Jangan tanya apa-apa lagi malam ini."
Dia menyalakan mesin dan motor itu meraung pelan.
**
Di rumah Tante Sashi, kursi-kursi ruang tamu sudah kosong separuh. Ernest, Jovian, dan Gilbert pamit lebih dulu. Gilbert dijemput om-nya, dua yang lain ikut menumpang ke kost Udin. Tinggal Udin, Pak Sabeni, dan Bu Rohana yang berdiri kikuk di teras, memegang topi dan kantong plastik berisi entah apa, sementara Siti berdiri di sebelah mereka dengan mata bengkak.
Fanya berdiri di ambang pintu dan sesekali melirik ponselnya. Layarnya tetap gelap. Tetap tidak ada balasan dari Kak Dion.
"Kak Dion nggak datang ya, Fanya?" tanya Siti pelan di sebelahnya. Dia sudah ganti baju pinjaman Fanya, kaos longgar bergambar kucing yang kebesaran di bahunya.
"Katanya ada urusan, Mbak."
"Padahal dia yang paling heboh nyariin aku tadi pagi, kata Mas Udin." Siti tersenyum kecil. "Aku mau bilang terima kasih."
"Nanti aku sampaikan," sahut Fanya. Suaranya ringan, tapi jempolnya sudah menekan layar ponsel lagi, mengetik pesan yang kesekian.
Lampu mobil menyorot pagar. Sebuah mobil merah berhenti, dan seorang wanita turun dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi nyaring di lantai teras. Sanny. Rambutnya sedikit berantakan, tapi senyumnya sudah terpasang rapi.
"Ya ampun, ramai sekali. Maaf Tante pulang telat." Dia menoleh pada Fanya. "Anya, ini yang kamu ceritakan di telepon tadi?"
"Iya, Tante. Ini Mbak Siti, ini Kak Udin, ini Bapak sama Ibunya Kak Udin."
Rohana menunduk dalam-dalam, seperti sedang menghadap orang penting. "Maaf kami ngerepotin, Bu. Anak kami ini ..." Dia melirik Udin dan nyaris menyentilnya. "Anak kami ini memang nggak tahu diuntung."
"Sudah, Bu, sudah." Sanny menepuk lengan Rohana, hangat sekali. "Yang penting sekarang semua ketemu dan selamat. Siti boleh menginap di sini, Tante senang ada teman buat Fanya. Kamarnya banyak."
"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak," ucap Sabeni sambil membungkuk berkali-kali. Suaranya serak karena menahan sesuatu. "Besok pagi saya mau ke rumah bapaknya Siti. Saya mau melamar secara baik-baik, Bu. Biar jelas dulu urusan anak saya ini."
"Bapaknya Siti orang Jakarta juga?"
"Iya, Bu. Pak Eko Juniarto," sela Siti pelan. Dia meremas ujung kerudungnya. "Bapak keras, Tante. Kemarin aku diusir. Ibu nggak berani ngomong apa-apa, Ibu cuma nangis di dapur. Namanya Bu Wulan. Ibu nggak pernah bisa bantah Bapak."
Sanny memandang gadis itu sebentar, dan sesuatu di wajahnya melunak. Atau terlihat melunak. "Kamu istirahat saja, Nak. Soal bapakmu, orang tua kadang butuh waktu untuk menelan sesuatu yang pahit."
Udin menatap Siti lama sebelum pamit. "Yank, aku jemput besok habis ketemu Bapak, ya. Kamu jangan banyak mikir."
"Iya, Mas."
"Aku sayang kamu," bisik Udin, yang tentu saja terdengar oleh semua orang di teras. Rohana mendehem keras. Sabeni memandang bintang-bintang. Fanya menunduk menyembunyikan senyum.
Setelah punggung mereka hilang di balik pagar, Sanny masuk dan melepas sepatunya satu per satu di ruang tengah. "Anya, kamu belum tidur? Wajahmu kusut."
"Nggak apa-apa, Tante. Cuma nunggu kabar."
"Dari siapa?"
"Teman."
Tante Sashi tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak bertanya lebih jauh.
"Tante tadi dari mana, kok baru pulang?" Fanya balas bertanya, setengah karena penasaran, setengah karena ingin mengalihkan.
"Urusan kerjaan Om, Sayang. Ada dokumen yang harus Tante antar ke kenalannya." Jawaban itu meluncur lancar, terlalu lancar. "Sudah, sana tidur. Besok kita ngobrol lagi, ya."
Karena jawaban itu terdengar begitu wajar, Fanya tidak menaruh curiga pada apa pun. Dia mencium pipi tantenya, lalu naik ke kamar menggandeng Siti, tanpa tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan di belakang punggungnya.
**
Sebelum naik ke kamarnya, Sanny berhenti di ujung lorong lantai bawah dan membuka pintu sedikit. Kirana tidur miring di ranjang kecil, memeluk boneka kelinci yang telinganya sudah lusuh, dan pengasuhnya mendengkur di kasur lipat di sebelahnya.
Kirana dan pengasuhnya memang tidur di kamar bawah, jauh dari ruang tamu. Anak itu jarang turun kalau rumah ramai, itu sebabnya Fanya biasanya baru bisa bermain dengan sepupu kecilnya pagi-pagi, sebelum rumah ramai.
Sanny menutup pintu pelan-pelan. Di tangga, dia mengeluarkan ponsel. Layar itu memuat kontak dengan nama "Zayn" dan di bawahnya deretan panggilan tak terjawab: Aaron, lima kali, dalam dua jam terakhir. Dia membaliknya telungkup di telapak tangan.
Di keluarga besar Fanya, Sanny Shilby lebih dikenal sebagai Sashi, singkatan dari nama depan dan belakangnya. Di rumah itu dia Tante Sashi, adik bungsu ibu Fanya, istri orang yang jarang pulang, dan siapa pun yang melihatnya malam ini tak akan menduga dia baru keluar dari ranjang seorang anak kuliahan.
Ponsel itu bergetar lagi. Aaron lagi.
Dia tidak mengangkatnya.
**
Pukul satu lewat, Fanya berbaring di kamarnya dengan layar ponsel yang menyilaukan wajah. Pesan terakhirnya sudah terkirim satu jam lalu: Kakak di mana? Aku khawatir. Kakak baik-baik aja kan?
Satu centang, lalu dua, abu-abu. Lalu tak ada apa-apa lagi.
Dia memejamkan mata dan membukanya lagi. Di sebelah, Siti sudah mendengkur halus. Fanya mengetik satu pesan lagi, menghapusnya, mengetiknya lagi.
Kak, aku nggak marah. Aku cuma mau tahu Kakak baik-baik aja.
Kirim.
Dua centang abu-abu lagi. Tidak dibaca, tidak dibalas.
Dia teringat janji di telepon tadi. Kakak nggak akan macam-macam sama kamu sampai kita nikah nanti. Kalimat itu dia ulang-ulang di kepala seperti menghafal doa, sampai artinya terasa aneh karena terlalu sering diucapkan.
Fanya meletakkan ponselnya di dada dan menatap langit-langit.
Dari ranjang sebelah, Siti bergumam setengah tidur. "Fanya ... Kak Dion ada urusan apa sih, sampai nggak datang?"
"Aku juga pengin tahu, Mbak," bisik Fanya.