Mobil hotel berhenti tepat di depan lobi. Aurel langsung turun sambil melepas kacamata hitamnya.
“Ya ampun… bagus banget…”
Ia memutar tubuhnya pelan melihat bangunan megah yang berlatar perbukitan hijau.
“Dit!”
Aditya yang baru turun dari mobil hanya melirik sekilas. “Hm?”
“Ini hotel keren banget. Lo sering nginep di sini?”
“Cukup sering.”
“Enak ya jadi orang kaya.”
Aditya tersenyum tipis. “Katanya calon suami lo juga kaya.”
Aurel langsung tertawa. “Iya sih. Untung calon suami gue baik, walaupun kadang nyebelin.”
Aditya memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Kadang? Sering ding.”
Aurel langsung berlari kecil masuk ke lobi. “Eh… cepetan!”
Aditya hanya menggeleng melihat tingkah Aurel yang seperti anak kecil.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di area vila masing-masing. Walaupun datang bersama, kamar mereka tetap terpisah sesuai isi kontrak.
Aurel baru saja meletakkan koper ketika ia mengetuk pintu kamar Aditya.
Tok… Tok…
“Masuk.”
Aurel membuka pintu sedikit. “Dit…”
“Apa?”
Aditya sedang duduk di sofa dengan laptop terbuka, beberapa dokumen memenuhi meja di depannya.
“Mana kerjaan gue?”
Aditya mendongak. “Kerjaan?”
“Iya. Kan gue ikut, masa disuruh bengong doang?”
Aditya tersenyum tipis. “Lo memang susah diem ya.”
“Banget. Kalau nggak ngapa-ngapain gue bisa mati gaya.”
Aditya menutup salah satu dokumen di tangannya. “Lo memang sahabat itu ya… sahabat siapa? Mbak model?”
Aurel langsung mengambil bantal sofa lalu melemparnya pelan ke arah Aditya. “Apaan sih. Gue serius, jangan ngeledek.”
Aditya menangkap bantal itu dengan santai. “Serius lah. Masa gue nggak kasihan sama pengangguran ini.”
Aurel menunjuk dirinya sendiri. “Walaupun duit calon suami gue banyak.”
Aditya terkekeh pelan. “Calon suami?”
“Iya. Yang lagi duduk di depan gue.”
Aditya menggeleng kecil. “Percaya diri banget.”
“Harus.”
Aurel menjatuhkan diri di sofa seberang. “Dit…”
“Hm?”
“Gue pengen belajar.”
“Belajar apa?”
“Apapun. Bisnis, perusahaan, presentasi. Soalnya…” Aurel menunduk sebentar, “kalau nanti kontrak kita selesai… gue pengen punya kemampuan lain.”
Kalimat itu membuat Aditya terdiam. Ia baru sadar, di balik sifat ceria Aurel, perempuan itu ternyata sudah memikirkan masa depannya sendiri.
Aditya menutup laptop perlahan. “Oke.”
Mata Aurel langsung berbinar. “Hah?”
“Gini aja. Sebelum gue kasih kerjaan, selama di Jogja ini lo ikut ke mana pun gue pergi.”
Aurel langsung duduk tegak. “Serius?”
“Iya. Lo ikut meeting, ketemu klien, ketemu investor, ketemu direksi.”
Aurel langsung menunjuk dirinya sendiri. “Gue?”
“Iya.”
“Emangnya boleh?”
“Kenapa nggak?”
“Tapi gue nggak ngerti apa-apa.”
“Nanti sekretaris gue yang ngajarin, mulai dari dasar. Cara perusahaan itu berjalan gimana, bisnis itu kayak apa. Kalau ada yang nggak ngerti… tanya.”
Aurel beberapa detik hanya memandang Aditya, lalu senyumnya perlahan mengembang. “Serius ya, Dit? Makasih banyak.”
Aditya mengangguk pelan. “Anggap aja pelatihan.”
Aurel berdiri lalu mengepalkan tangan semangat. “Siap! Mulai hari ini… gue muridnya CEO Mahendra.”
Aditya tertawa pelan. “Jangan semangat dulu. Meeting pertama biasanya membosankan.”
“Gak apa-apa, yang penting gue belajar.”
Melihat semangat Aurel, Aditya tanpa sadar ikut tersenyum. “Ya udah. Sekarang gue masih harus ngecek beberapa laporan. Lo mau ngapain?”
Aurel berpikir sejenak. “Hmm… mau pesan makan, atau…” Ia melirik ke arah kolam renang yang terlihat jelas dari balkon, “Wah… kolamnya bagus. Sayang kalau nggak dipakai.”
Aditya mengikuti arah pandang Aurel. “Mau berenang?”
“Iya.”
“Silakan. Tapi jangan jauh-jauh, resor ini luas.”
Aurel memberi hormat sambil tersenyum lebar. “Siap, Pak CEO.”
“Oh iya,” Aditya memanggilnya lagi.
“Hm?”
“Satu jam lagi balik. Soalnya kita makan malam sama klien.”
Aurel mengangguk cepat. “Siap. Kali ini gue nggak bakal telat.”
“Bagus.”
Aurel melangkah menuju pintu, namun sebelum keluar ia menoleh lagi. “Dit.”
“Apa?”
“Makasih ya udah mau ngajarin gue.”
Aditya menatapnya beberapa saat. “Nggak usah terlalu dipikirin. Yang penting lo serius belajar.”
Aurel mengangguk mantap. “Pasti.”
Setelah pintu tertutup rapat, Aditya kembali menatap layar laptopnya. Namun entah kenapa, fokusnya buyar. Senyum semangat Aurel tadi terus terbayang di kepalanya. Tanpa sadar ia bergumam pelan,
“Semoga lo nggak nyerah di hari pertama…”