Pagi itu suasana penthouse jauh lebih tenang dibanding biasanya.
Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, membuat ruangan terasa hangat.
Aurel menuruni tangga sambil merapikan rambutnya yang diikat menjadi ponytail. Hari itu ia mengenakan kaus putih polos, cardigan krem, dan celana jeans biru muda. Riasannya tipis, hanya lip tint dan sedikit maskara.
Begitu sampai di ruang makan, Aditya sudah lebih dulu duduk di kursinya.
Di depannya sudah ada secangkir kopi hitam, roti gandum, telur rebus, dan tablet yang menampilkan jadwal kerjanya.
Aurel menarik kursi di hadapannya.
"Pagi, Dit."
Aditya mengangkat kepala sebentar.
"Hm... pagi."
Aurel mengambil segelas jus jeruk.
"Dit."
"Hm?"
"Tidur lo nyenyak, kan?"
Aditya mengangguk pelan.
"Nyenyak."
"Lo?"
Aurel langsung menyandarkan dagu di telapak tangan.
"Nyenyak sih... tapi pas bangun gue malah bingung."
"Bingung kenapa?"
Aurel menghela napas panjang.
"Gue bosen."
Aditya menghentikan gerakan tangannya.
"Bosen?"
"Iya."
"Biasanya tiap hari syuting, fitting, photoshoot, fashion show."
"Sekarang jadwal gue kosong gara-gara skandal itu."
Aurel memainkan garpu di tangannya.
"Jujur aja ya..."
"Gue bersyukur mau jadi istri kontrak lo."
"Tapi kalau disuruh diem di penthouse terus..."
"Gue bisa jamuran."
Aditya tersenyum tipis.
"Jamuran?"
"Iya."
"Nanti badan gue tumbuh lumut."
Aditya menggeleng pelan.
"Imajinasi lo aneh."
Aurel ikut tertawa.
"Emang."
Beberapa detik mereka menikmati sarapan dalam diam.
Tiba-tiba Aurel kembali membuka suara.
"Dit."
"Hm?"
"Gue mau nanya deh."
"Tanya aja."
Aurel menatapnya serius.
"Lo ada nggak kerjaan buat gue?"
Aditya mengangkat alis.
"Kerjaan?"
"Iya."
"Yang bisa gue kerjain."
"Lo kan tau kemampuan gue nggak banyak."
"Gue cuma bisa jadi model."
"Kalau disuruh ngurus perusahaan..."
"Gue malah bikin rugi."
Aditya terkekeh pelan.
"Itu juga lo sadar."
"Ih."
Aurel mencibir.
"Jahat."
"Bercanda."
Aditya menyesap kopinya.
"Lagian siapa bilang lo nggak punya kemampuan?"
Aurel menunjuk dirinya sendiri.
"Ya gue."
"Lo gampang akrab sama orang."
"Lo bisa bikin suasana jadi hidup."
"Itu kemampuan."
Aurel tersenyum kecil.
"Baru kali ini ada yang muji gue begitu."
Aditya mengangkat bahu.
"Itu fakta."
Suasana kembali hening beberapa saat.
Lalu Aditya membuka tablet dan melihat jadwalnya.
"Hm..."
"Ada apa?"
"Aku..."
Ia langsung mengoreksi ucapannya.
"Gue sejam lagi berangkat ke Jogja."
Aurel langsung menegakkan badan.
"Hah?"
"Naik kereta api eksekutif."
"Meeting sama klien."
Mata Aurel langsung berbinar.
"Jogja?"
"Iya."
"Serius?"
"Iya."
"Dit..."
"Apa?"
"Boleh ikut nggak?"
Aditya menatapnya beberapa detik.
"Makanya gue tadi mau ngajak."
Aurel langsung menepuk meja pelan.
"SERIUS?"
"Iya."
"Daripada lo bosen di rumah."
"Ikut aja."
Senyum Aurel langsung mengembang lebar.
"Iya, Dit!"
"Gue mau!"
"Gue mau banget!"
"Udah lama gue nggak ke Jogja."
Melihat reaksi Aurel yang begitu antusias, tanpa sadar sudut bibir Aditya ikut terangkat tipis.
"Berangkat jam sembilan."
"Masih ada waktu."
Aurel langsung berdiri.
"Oke!"
"Gue siap-siap sekarang."
Baru dua langkah berjalan, ia kembali menoleh.
"Eh, Dit."
"Hm?"
"Baju lo udah disiapin belum?"
"Belum."
Aurel menunjuk dirinya sendiri.
"Mau gue siapin?"
Aditya terlihat berpikir sebentar.
"Siapin aja kalau lo bisa."
"Nanti tanya Mbak Sari kalau nggak tau."
Aurel langsung memberi hormat sambil tertawa.
"Siap, Bos!"
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari kecil menuju lantai atas.
Aditya hanya menggeleng pelan.
"Anak ini..."
Tak lama kemudian terdengar suara Aurel dari lantai dua.
"MBAK SARIIII!"
Mbak Sari yang sedang menyiram tanaman buru-buru masuk.
"Iya, Nona?"
"Dit biasanya kalau dinas luar kota pakai jas warna apa?"
Mbak Sari tersenyum.
"Tuan biasanya suka warna navy atau abu-abu."
"Oke."
"Dasi?"
"Yang polos."
"Sepatu?"
"Hitam."
"Oke!"
Mbak Sari tertawa melihat semangat Aurel.
"Nona seneng banget ya."
"Banget!"
"Nggak jadi nganggur."
Beberapa menit kemudian kamar Aditya berubah seperti toko pakaian.
Aurel membuka lemari satu per satu.
"Yang ini keren."
"Eh..."
"Yang ini juga."
Ia memegang dua jas di depan tubuhnya.
"Dit!"
Suaranya menggema sampai bawah.
"Iya?"
"Yang navy apa abu-abu?"
Aditya menjawab dari ruang makan.
"Navy."
"Oke!"
"Dasi biru tua?"
"Boleh."
"Kemeja putih?"
"Iya."
Mbak Sari menutup mulut menahan tawa.
"Nona cocok jadi asisten Tuan."
Aurel terkekeh.
"Kalau jadi asisten..."
"Gaji gue naik nggak ya?"
Tak lama kemudian ia berhasil merapikan semua pakaian Aditya di atas tempat tidur.
Kemeja.
Jas.
Dasi.
Jam tangan.
Dompet.
Bahkan parfum pun sudah disiapkan.
Saat Aditya masuk kamar, langkahnya langsung terhenti.
Semua perlengkapannya sudah tertata rapi.
Ia menoleh ke arah Aurel yang sedang melipat pakaian sendiri.
"Lo yang nyiapin semua?"
Aurel mengangguk bangga. "Iya dong."
"Gimana?"
"Rapi, kan?"
Aditya memperhatikan beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan. "Rapi."
Aurel tersenyum puas. "Tuh, berarti gue masih berguna."
Aditya menatapnya sekilas. "Siapa bilang lo nggak berguna?"
Kalimat itu membuat Aurel sedikit terdiam.
Entah kenapa...
Ucapan sederhana dari Aditya terasa tulus.
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak mereka dimulai...
Aurel merasa bahwa dirinya bukan sekadar "istri kontrak", tetapi seseorang yang benar-benar dihargai keberadaannya.
Sementara itu, perjalanan ke Jogja yang awalnya hanya dianggap sebagai urusan pekerjaan oleh Aditya, tanpa ia sadari akan menjadi awal dari banyak kenangan baru bersama Aurel.