Aurel berdiri di depan cermin besar di kamar hotel, memandangi penampilannya. Gaun midi berwarna hijau zamrud pas sekali membalut tubuhnya, terlihat elegan namun tidak berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bergelombang, ditunjang riasan wajah yang tampak segar dan alami. Ia memutar tubuhnya perlahan untuk memastikan semuanya sudah pas.
"Hmm... nggak berlebihan, kan?" gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok...
"Masuk," panggil Aurel.
Pintu terbuka dan Aditya melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas berwarna biru dongker yang pas di tubuhnya, menambah kesan berwibawa. Namun langkahnya sempat terhenti sejenak begitu matanya jatuh pada Aurel.
Aurel tersenyum jahil melihat reaksi itu.
"Kenapa? Nggak cocok?"
Aditya menatapnya lekat-lekat dari ujung kepala hingga kaki.
"Tadi kamu nanya apa?"
Aurel makin tersenyum lebar.
"Gue udah cantik kan, Dit?"
Aditya menjawab tanpa ragu sedikit pun.
"Udah. Cantik banget malah."
Aurel langsung tertawa puas.
"Nah gitu dong. Kirain bakal dibilang biasa aja."
"Buat apa bohong?" jawab Aditya datar namun tulus.
Aurel mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum.
"Wah... Pak CEO hari ini jujur banget ya."
Aditya mengambil jam tangan dari meja dan memasangnya.
"Ayo berangkat. Nanti kita telat."
Aurel meraih tas kecilnya.
"Siap, Pak."
Mobil milik hotel melaju perlahan menyusuri jalanan yang dikelilingi hamparan sawah hijau. Aurel menatap pemandangan di luar jendela dengan kagum.
"Jogja emang adem banget ya suasananya."
"Iya," jawab Aditya singkat.
"Lo sering banget harus rapat atau pertemuan di luar kota gini?"
"Cukup sering."
"Capek nggak sih?"
Aditya tersenyum tipis.
"Udah biasa kok."
Aurel mengangguk pelan.
"Gue baru sadar satu hal... ternyata hidup jadi CEO itu nggak semudah dan santai kayak yang dilihat orang dari luar."
Aditya menoleh sekilas.
"Dit."
"Hm?"
"Makasih ya... udah ngajak gue ikut kesini."
Aditya kembali menatap jalanan di depan.
"Belajar yang serius ya di sana. Jangan cuma sibuk lihat pemandangan doang."
Aurel langsung memberi hormat kecil sambil tertawa.
"Siap, Bos!"
Tak lama kemudian mobil berhenti di depan sebuah kawasan resor mewah. Beberapa orang yang tampak sebagai mitra bisnis sudah menunggu di sana. Begitu Aditya turun, mereka langsung berdiri menyambut.
"Selamat siang, Pak Aditya."
"Selamat siang," balas Aditya ramah sambil menyalami mereka satu per satu.
Setelah itu ia menoleh ke arah Aurel yang baru saja turun. Dengan nada tenang dan jelas, ia memperkenalkan:
"Kenalkan, ini istri saya."
Aurel tersenyum ramah kepada semua orang.
"Halo, selamat siang."
Salah satu pria paruh baya tersenyum hangat.
"Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung, Bu. Kami sering melihat Iurel di layar kaca atau majalah."
Aurel tertawa kecil.
"Wah, terima kasih banyak. Saya juga senang sekali bisa bertemu Bapak-Bapak dan Ibu sekalian."
Suasana langsung menjadi lebih cair dan akrab. Mereka pun berjalan masuk menuju ruang rapat utama yang luas, didominasi meja kayu panjang dan jendela besar yang menghadap langsung ke perbukitan hijau. Semua orang segera duduk di tempat masing-masing.
Aditya membuka map di depannya.
"Baiklah, mari kita mulai pembahasannya."
Salah satu perwakilan mitra membuka materi presentasi.
"Proyek pembangunan resor baru ini akan berlokasi di kawasan selatan. Luas lahannya sekitar dua puluh hektare. Kami sangat berharap Mahendra Group bersedia menjadi investor utama dalam pengembangan ini."
Aditya menyimak setiap penjelasan dengan sangat serius.
"Berapa estimasi waktu pengembalian modalnya?"
"Enam sampai delapan tahun, Pak."
"Bagaimana dengan perhitungan risikonya?"
"Sudah kami siapkan analisis lengkapnya di halaman berikut ini."
Di sampingnya, Aurel duduk tenang dan sopan. Sesekali ia mencatat poin-poin penting di buku kecil yang disediakan sekretaris. Aditya sempat melirik sekilas dan terkejut sedikit.
"Kamu mencatat?" tanyanya berbisik pelan.
Aurel mengangguk pelan.
"Biar nggak lupa poin-poin pentingnya."
Aditya hanya mengangguk tipis. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada duduk diam tanpa melakukan apa-apa atau sibuk memainkan ponsel.
Pembahasan berlanjut ke arah strategi pemasaran. Seorang wanita dari tim pemasaran mitra menjelaskan:
"Jika target pasarnya adalah wisatawan kelas premium, kami berencana memperkuat citra merek dan promosi secara eksklusif."
Tiba-tiba Aurel mengangkat tangan kecilnya sopan.
"Maaf... bolehkah saya menyampaikan pendapat sedikit?"
Semua mata langsung tertuju padanya.
"Tentu saja, Bu. Silakan."
Aurel tersenyum tenang.
"Kalau menurut pandangan saya... selain promosi biasa, mungkin bisa juga mengundang pencipta konten dan fotografer profesional untuk menginap dan memotret lokasi ini. Jika hasilnya bagus dan indah, orang-orang akan secara otomatis penasaran dan ingin datang berkunjung. Selain itu, lokasi yang indah ini juga sangat cocok untuk kerja sama dengan merek-merek busana untuk pemotretan mode."
Beberapa orang saling berpandangan, lalu mengangguk setuju.
"Itu ide yang sangat bagus dan cerdas."
Aurel melanjutkan.
"Karena saya sendiri bergerak di dunia pemodelan dan mode, saya cukup mengenal banyak merek yang memang sedang mencari lokasi indah seperti ini."
Salah satu direktur tersenyum kagum.
"Masukan yang sangat menarik dan bermanfaat sekali, Bu."
Aditya tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun di dalam hatinya ia cukup terkejut dan bangga. Ia sama sekali tidak menyangka Aurel bisa memberikan pendapat yang relevan dan tepat sasaran.
Rapat berlangsung selama hampir dua jam penuh. Setelah selesai, semua orang berdiri dan mulai berbincang santai.
Seorang pengusaha muda bernama Kevin mendekati mereka.
"Pak Aditya... selamat atas kerja samanya. Istri Bapak sangat cantik dan berwibawa sekali."
Aditya mengangguk singkat.
"Terima kasih."
Kevin kemudian mengalihkan perhatiannya penuh pada Aurel.
"Kalau tidak salah ingat, saya pernah melihat Ibu tampil di Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu."
Aurel tersenyum tetap sopan.
"Bisa jadi. Saya memang cukup sering tampil di acara itu."
Kevin tertawa senang.
"Pantas saja wajah ini terasa sangat akrab dan tak terlupakan."
Percakapan berjalan sopan pada awalnya. Namun beberapa menit berlalu, Kevin terus saja mencari alasan untuk tetap berbicara dan mendekat kepada Aurel.
"Kalau nanti ada waktu luang, bolehkah saya meminta sedikit pandangan Ibu soal pembangunan citra pribadi? Atau mungkin kita bisa sekadar ngopi sebentar untuk berdiskusi?"
Aurel baru saja hendak menjawab dengan halus ketika tiba-tiba Aditya melangkah maju mendekat. Tanpa banyak bicara, ia berdiri tepat di sisi Aurel hingga jarak mereka terasa sangat dekat. Tangannya menyentuh pelan lengan Aurel seolah memberi batasan.
Ia menatap Kevin dengan tatapan yang tetap tenang namun dingin.
"Tolong jaga pandangan dan sikap Anda."
Suasana di sekitarnya seketika menjadi hening. Aditya melanjutkan dengan nada suara yang tetap sopan namun tegas dan tak terbantahkan.
"Dia bersama saya."
Kevin langsung tersenyum canggung dan mundur selangkah.
"Maaf, Pak Aditya. Saya sama sekali tidak bermaksud kurang sopan."
Aditya hanya mengangguk sekilas tanpa menimpali lebih lanjut.
"Permisi."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung menggandeng tangan Aurel dan berjalan menjauh dari kerumunan itu menuju teras yang lebih sepi. Aurel yang masih sedikit terkejut hanya bisa mengikuti langkah panjang pria itu.
Begitu sampai di tempat yang lebih tenang, Aurel menatap wajah Aditya sambil menahan senyum geli.
"Dit..."
"Apa?" jawab Aditya masih terlihat dingin.
"Tadi itu... lo cemburu ya?"
Aditya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas, berusaha terlihat santai.
"Nggak."
"Terus kenapa tiba-tiba langsung narik gue pergi begitu?"
Aditya menatapnya datar. "Karena kontrak perjanjian kita itu masih berlaku. Itu saja."
Aurel terkekeh pelan."Iya, iya... kalau itu alasan yang bikin lo merasa tenang dan aman, gue terima dan percaya dulu deh."
Melihat Aurel tersenyum penuh kemenangan, Aditya hanya bisa menghela napas panjang. Namun jauh di dalam hatinya, ia sadar satu hal yang mulai berubah: ia tidak lagi merasa nyaman melihat pria lain memberikan perhatian berlebihan kepada perempuan yang saat ini berstatus sebagai "istri kontraknya".