Lima hari sesudah peluncuran Nabiqa, Aurel sudah menahan diri sebelas kali agar tidak membuka laci di meja kerja Aditya.
Map hitam itu ada di sana sejak tiga hari lalu. Ia melihatnya sekilas waktu mencari stapler: tipis, dingin, dengan pita merah yang ia kenal dari hari pertama menandatangani. Tadinya map itu tersimpan di brankas kantor, di sebelah dokumen resor, dan tidak ada yang menyentuhnya selama berbulan-bulan. Sekarang Aditya membawanya pulang, menyembunyikannya di laci, dan setiap kali Aurel mengangkat alis, ia mengganti topik pembicaraan dengan topik yang sangat tidak meyakinkan, seperti harga cabai.
"Aku boleh nanya?" Aurel akhirnya bertanya di dapur, Jumat pagi, sambil mengaduk teh yang tidak butuh diaduk.
Aditya menaruh cangkir kopinya. "Boleh."
"Itu isinya apa?"
"Aku jawab hari ini." Ia melirik jam di dinding. "Jam empat. Di ruang kerja. Kamu keberatan?"
"Aku keberatan menunggu sampai jam empat."
"Itu bukan keberatan yang bisa dikabulkan." Aditya mengambil tasnya, berhenti di ambang pintu, dan menambahkan seakan-akan itu pengumuman cuaca, "Pak Handoko ikut."
"Pak Handoko? Dit, kamu ngapain?"
"Aku nanya, ya," kata Aditya, dan menghilang sebelum Aurel sempat menimpuknya dengan sendok teh.
---
Pukul empat tepat, ruang kerja penthouse terasa seperti ruang sidang yang sengaja dibuat nyaman: lampu meja menyala, empat cangkir teh di atas baki, tiga kursi di satu sisi meja dan satu di sisi lain. Pak Handoko duduk dengan tangan terlipat di atas map, memakai dasi kupu-kupu abu-abu yang belum pernah Aurel lihat. Aditya berdiri di belakang kursinya sendiri, tidak duduk.
"Silakan, Aurel," kata Handoko ramah. "Ini hanya urusan saksi. Saya tidak akan mengatakan apa pun yang tidak ditanya."
Aurel duduk. Aditya membuka map itu sendiri.
Kontraknya persis seperti yang ia ingat dari dua minggu pertama: kertas krem tebal, cap tinta biru di sudut, tiga halaman, tanda tangan mereka berdua di bawah. Aditya tidak mendorongnya ke seberang meja. Ia membalik halaman terakhir, menunjuk satu kalimat dengan ujung jari, dan membaca keras-keras.
"'Setelah satu tahun, kedua pihak langsung bercerai dan berpisah jalan.'" Ia mengangkat mata. "Kita berdua membacanya hari itu tanpa berkedip."
"Aku ingat."
"Sisanya dua ratus delapan hari lagi, kata Pak Handoko. Aku sudah berhenti menghitung. Beliau yang menghitung buat aku, jangan marah ke beliau."
"Saya hanya menjawab, Nyonya," kata Handoko, dan Aurel nyaris tertawa karena sebutan itu.
"Kenapa sekarang? Kenapa lima hari sesudah peluncuran?"
"Karena kamu harus menang sendirian dulu." Aditya tidak ragu. "Kalau aku kasih ini sebelum Nabiqa, kamu bisa mengira kamu menerimanya karena butuh. Aku mau kamu menerimanya, kalau mau, ketika kamu nggak butuh apa-apa dariku."
Aurel menatapnya lama. Itu jawaban terbaik yang bisa ia bayangkan, dan itu membuatnya sedikit kesal.
"Kamu sudah memikirkan ini sampai selesai."
"Sembilan kali menulis ulang halaman itu," akunya. "Pak Handoko yang jadi saksi bahwa aku nggak tidur."
"Sembilan, Nyonya," Handoko membenarkan, tanpa mengangkat mata dari map.
"Dan aku sudah menunggu terlalu lama supaya ada tanggal yang pantas." Aditya mengambil napas. "Aku sempat berpikir tunggu hari jadi. Tunggu setahun. Tapi buat apa? Kamu nggak perlu hari jadi untuk jadi istriku, dan aku nggak perlu diwajibkan oleh kontrak untuk tetap di sini. Kita nggak perlu menunggu tanggal untuk saling memilih."
Ia mengambil selembar kertas putih dari bawah map, satu halaman, yang ia ketik sendiri. Aurel membacanya.
PERJANJIAN BARU. Pasal 1: Tidak ada pasal.
Hanya itu. Dua baris, dan di bawahnya dua garis kosong untuk tanda tangan.
"Tidak ada pasal," baca Aurel pelan.
"Iya."
"Itu bukan pasal."
"Itu pasalnya." Aditya akhirnya duduk, seperti kehabisan tenaga. "Aku belajar dari kamu. Kalau perlu pasal untuk menahan seseorang, berarti orangnya memang nggak mau ditahan. Dan kalau dia mau tinggal, pasal nggak perlu."
Aurel menaruh kertas itu di meja, tegak lurus dengan tepi, kebiasaan yang ia tiru dari Pak Hardi. Tenggorokannya sempit. Lampu meja menyilaukan separuh wajahnya.
"Aku mau menambah satu syarat."
Aditya menegakkan bahu. Handoko membetulkan kacamata.
"Boleh?"
"Boleh. Apa pun."
"Satu saja." Aurel mengambil pulpen emas dari saku blusnya, mencoret baris kedua, dan menulis dengan tulisan miring yang ia kenal terlalu baik: Kecuali: tanya dulu. Ia mendorong kertas itu kembali. "Tetap bertanya dulu. Selalu. Tanpa pengecualian."
Aditya membaca. Sudut bibirnya naik, dan ia berusaha keras menahannya, dan gagal.
"Itu juga bukan pasal."
"Itu pasalnya," kata Aurel.
"Saya tidak punya kata-kata hukum untuk itu," kata Handoko, melepas kacamata, "tetapi saya akan dengan senang hati menjadi saksi."
---
Mereka menandatangani berdampingan. Aditya dulu, dengan tanda tangan besar dan datar seperti jadwal rapat, lalu Aurel dengan huruf A yang melengkung. Handoko menulis namanya, tanggalnya, dan satu kalimat pendek yang tidak Aurel baca. Lalu Aditya menarik kontrak lama dari map dan meletakkannya di tengah meja.
"Boleh aku sobek?"
"Kita sobek bareng."
Mereka memegang tepi atas masing-masing. Kertas krem itu lebih keras dari yang Aurel kira, dan butuh dua tarikan, bukan satu, sebelum akhirnya terbelah di tengah dengan bunyi seperti napas panjang. Lembar kedua, lembar ketiga. Potongan-potongan itu jatuh di baki, di antara cangkir teh.
"Ya ampun," bisik Handoko, mengusap sudut matanya dengan sapu tangan, "tiga puluh tahun saya menyusun kontrak. Baru kali ini saya dengar suaranya."
Pintu ruang kerja terbuka tanpa diketuk.
Mbak Sari masuk dengan kue tart di kedua tangan, diikuti Pak Budi yang membawa pisau, dan Pak Darto yang membawa piring kertas seolah itu barang paling suci di dunia. Di atas tart cokelat itu tertulis dengan krim putih yang bergelombang: TIDAK ADA PASSAL.
"Mbak Sari," kata Aurel, "ejaannya."
"Itu Pak Budi yang nulis, Nona."
"Saya bilang dua S biar kelihatan penting," bela Pak Budi.
"Dua S itu salah, Pak."
"Tetap enak, Nona."
Aditya tertawa. Tawanya yang sebenarnya, yang tidak dilatih, yang mengguncang bahunya. Ia menarik kursi lebih dekat ke Aurel dan memotong kue pertama dengan pisau Pak Budi.
"Rel."
"Hm?"
"Satu hal lagi. Tanggal." Ia menyodorkan piring pertama, lalu ragu. "Aku masih mau satu tanggal. Hari jadi, setahun itu. Bukan untuk menunggu, tapi buat dirayakan. Boleh aku minta kita mengucap janji ulang di taman rumah Mama? Yang kecil. Papa kamu sudah bilang boleh asal aku kalah main raket."
Aurel mengambil piring itu. Ponsel Pak Handoko bergetar di atas meja. Ia melirik layarnya, lalu tersenyum kecil.
"Dari Nyonya besar," katanya. "Beliau bertanya apakah suara sobeknya enak didengar."
"Bilang enak sekali," jawab Aurel, tanpa melepas mata dari Aditya.
"Boleh," kata Aurel.