Tiga minggu kemudian, Aditya sudah kalah delapan kali dari Papa dan menang tiga, dan Aurel curiga yang tiga itu bukan kemenangan Aditya melainkan kegagalannya kalah dengan meyakinkan.
Hanya itu perubahan yang bisa ia pantau dari jauh. Tiga minggu penuh Aurel tinggal di antara Bandung dan Jakarta, di antara konveksi dan galeri, di antara angka dan kain. Ia belajar bahwa kancing bisa terlambat dua hari tanpa alasan, bahwa linen abu-abu berubah warna di bawah lampu galeri, dan bahwa Mama, yang diminta menjahit label tangan, ternyata lebih cerewet daripada pengawas mutu mana pun.
Dan kini, dua jam sebelum pintu galeri dibuka, ia berdiri di ruang ganti sempit yang berbau lem kain dan kopi, memandang dua belas rak baju, dan tidak bisa merasakan kakinya.
"Rel." Eva menjentikkan jari di depan wajahnya. "Napas."
"Aku napas."
"Kamu napas kayak orang mau diwawancara polisi." Eva sudah berdandan lengkap, dengan blus linen abu-abu yang tadinya cuma sketsa di halaman belakang buku catatan. "Tarik. Buang. Tarik. Buang."
"Ini heels setan," gerutu Lira dari kursi, mengangkat satu kaki. "Rel, sumpah, aku mau nanya. Waktu kamu desain, kamu sempat mikir bahwa model harus jalan?"
"Aku sudah bilang pakai flat."
"Eva yang bilang flat nggak kelihatan mahal."
Karina, yang berdiri di dekat jendela dengan tablet di tangan dan pita ukur melingkar di leher, tidak mengangkat kepala. "Aku arsitek, bukan stylist. Tapi heels itu salahnya Eva."
"Salah aku?"
"Salah kamu."
Pintu ruang ganti berderit. Mas Dimas menjulurkan kepala dengan ponsel di telinga dan wajah seperti baru memenangkan undian. Ia memberi isyarat satu jari, lalu dua, lalu ia menutup telepon dan masuk.
"Lunara baru saja menelepon."
Aurel berhenti di tengah gerakan. "Mereka menarik diri?"
"Mereka minta tanda tangan untuk kontrak kampanye musim depan. Dan dua sponsor lama yang menunda minggu lalu mengirim karangan bunga ke depan galeri." Mas Dimas mengangkat ponselnya seperti trofi. "Rel, kamu tahu berapa bulan aku menunggu ini?"
"Hampir lima bulan."
"Hampir lima bulan, Rel. Lima bulan kurang tiga hari." Ia menyeka matanya cepat-cepat dengan lengan kemeja. "Bukan, ini debu. Debu kain."
"Mas."
"Jangan komentar."
Karina akhirnya meletakkan tabletnya. "Sebelum kita lupa, aku mau bilang sesuatu. Semuanya, dengarkan." Ia menarik napas yang terdengar gugup untuk orang yang biasa membaca gambar teknis di depan investor. "Pekan lalu, orang yang kusayang di Surabaya itu melamarku. Aku bilang ya."
Hening setengah detik. Lalu Eva menjerit sampai satu rak baju bergoyang, Lira melompat dari kursi dengan satu sepatu, dan Aurel memeluk Karina erat-erat sampai pita ukurnya melilit lengan mereka berdua.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena kamu akan menangis, dan make-up kamu mahal." Karina melepas pelukan, matanya sendiri basah. "Dan karena aku mau bilang di hari yang bukan hariku."
---
Pukul lima sore, galeri kecil di sudut kota itu terisi lebih penuh daripada yang pernah Aurel bayangkan. Lampu hangat menggantung rendah. Lantai kayu mengilap. Barisan kursi lipat putih memanjang di kedua sisi lorong peragaan, dan di ujungnya, sebuah latar sederhana dari kain linen yang sama dengan koleksinya, tanpa logo, hanya satu kata: NABIQA.
Dari balik tirai, Aurel mengintip. Barisan depan terisi keluarga: Mama dengan tas di pangkuan, Papa dengan jas batik dan dada yang dibusungkan, Wilhelmina dengan kebaya abu-abu serasi, dan, di kursi pertama yang ia janjikan, Aditya.
Ia duduk tegak dengan kedua tangan di pangkuan, mengenakan kemeja biru muda tanpa dasi, dan tidak menyentuh satu pun hal di sekelilingnya. Tidak mengecek daftar tamu. Tidak melambai pada penata lampu. Ketika seorang staf galeri mendekat menanyakan sesuatu soal posisi kamera, ia menggeleng dan menunjuk ke belakang, ke arah tirai.
"Tanya ke yang punya acara," katanya, dan staf itu pergi.
Di baris tiga, Pak Hardi duduk bersama Maya dan Rian, mengangguk singkat pada Aurel yang pasti tak terlihat olehnya. Aurel mengangguk balik ke arah tirai kosong, tetap saja.
Peragaan dimulai dengan musik yang pelan, bukan hentakan. Eva keluar pertama dengan gaun pensil potongan A, dan Aurel mendengar gumam tamu naik begitu ia membuka jaketnya dan menunjukkan saku dalam yang dulu hanya ada di sketsa. Lira menyusul dengan blus linen. Satu demi satu, dua belas busana lewat di lorong itu, dan tiap kali, Aurel menghitung tepuk tangan, bukan karena angkuh, tetapi karena kebiasaan yang diajarkan Aditya: hitung yang bisa dihitung.
Tepuk tangan terakhir mereda. Lampu meredup.
Mas Dimas muncul di sisinya dengan gaun terakhir dalam gantungan. "Rel. Giliran kamu."
"Aku bukan modelnya."
"Kamu pemilik Nabiqa. Kamu juga model terakhir. Itu sudah ditulis di proposal."
"Proposal itu aku tulis sebelum aku tahu rasanya takut."
"Lalu?" Mas Dimas mengangkat gaun itu di depan Aurel. "Kamu dulu berjalan di catwalk dengan heels sepuluh senti tiga jam dan masih narsis. Sekarang kamu pakai sandal datar."
"Itu bukan sandal, itu flat."
"Dengar suaramu. Sudah mulai normal." Ia menyodorkan gaun itu. "Masuk."
Ponsel di saku Aurel bergetar saat ia meraih gaun itu. Satu pesan dari Aditya, dikirim dari kursi pertama, tiga puluh meter dari tempatnya berdiri.
Aku nggak bantu apa pun. Sesuai janji. Tapi aku boleh kirim satu pesan?
Aurel mengetik cepat. Boleh.
Balasan datang sebelum tirai sempat bergeser. Kamu hebat. Itu aja. Kamu nggak perlu jawab.
Ia menyimpan ponselnya di saku gaun, dan menyadari tangannya sudah berhenti bergetar.
---
Aurel berjalan keluar dari tirai dengan gaun pensil abu-abu, rambut digelung rendah, tanpa perhiasan apa pun. Lampu galeri jatuh di bahunya. Lorong peragaan itu terasa jauh lebih panjang dari yang ia ingat dari latihan.
Ia melihat Papa menggenggam tangan Mama. Ia melihat Wilhelmina mengangkat tangan ke bibir. Ia melihat Eva dan Lira berdiri di ujung dengan wajah basah, tidak peduli make-up mereka.
Dan ia melihat Aditya.
Aditya tidak bertepuk tangan. Ia duduk diam, dengan kedua tangan di pangkuan seperti anak patuh, memegang janjinya sendiri. Tetapi senyumnya, yang dulu hanya muncul sudut bibir, yang dulu hampir selalu ditutup oleh wajah dingin yang dilatih puluhan tahun, kini terbuka lebar, tanpa menahan, di depan seratus tamu, di depan semua kamera yang tak ia hiraukan.
Aurel berhenti di ujung lorong. Satu putaran. Satu tarikan napas.
Lalu seluruh galeri berdiri.
Ia tertawa, entah pada siapa, dan membungkuk pendek, dan ketika menegakkan tubuh lagi, matanya jatuh tepat pada sudut ruangan di belakang barisan tiga. Pak Handoko berdiri di sana, jauh dari kerumunan, menyerahkan sebuah map hitam setipis buku tulis kepada Aditya yang telah menyelinap menghampirinya di sela tepuk tangan.
Aditya menerimanya dengan dua tangan. Ia melirik ke arah panggung, bertemu pandang dengan Aurel, dan buru-buru menyembunyikan map itu di balik punggung seperti anak kecil yang tertangkap.