Dua ratus delapan hari kemudian, tepat setahun sesudah Aurel menandatangani kontrak itu, ia berdiri di depan cermin kamar masa kecil Aditya dengan Mama di belakangnya, sibuk menarik ritsleting gaun yang tidak mau naik.
"Tahan napas, Rel."
"Aku tahan, Ma."
"Kamu nahan napas dari tadi, Rel. Dadamu nggak naik-turun." Mama menarik lagi. "Makan apa sih kamu kemarin?"
"Nasi goreng Mbak Sari. Dua piring."
"Pantas." Ritsletingnya akhirnya naik dengan bunyi puas, dan Mama mundur sambil menyeka keningnya dengan punggung tangan. "Selesai. Tapi gaunnya jangan kamu duduki, nanti robek."
Gaun itu bikinan Aurel sendiri, salah satu dari tiga rancangan khusus yang tidak masuk koleksi Nabiqa: putih gading, potongan A sederhana, saku dalam di kedua sisi. Tanpa renda. Tanpa manik. Hanya satu kancing kecil di tengkuk, yang Mama jahit sendiri dengan tangan gemetar semalam suntuk.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Eva dan Lira masuk berbarengan, dengan gaun pendamping warna sage dan kotak berisi bunga.
"Rel." Eva berhenti di ambang pintu. "ANJIR."
"Eva."
"Maaf, maaf, di rumah mertua." Eva menutup mulut, lalu melepasnya lagi. "Tapi serius, kamu cantik banget. Kayak kita dulu di belakang panggung waktu Lira bilang heels setan."
"Itu aku yang bilang. Jangan dicuri," sahut Lira.
"Aku tahu. Aku meminjam kenangannya."
Aurel tertawa, dan di cermin ia melihat wajah ibunya ikut tertawa dengan mata berair. Ia ingin mengatakan sesuatu yang besar, sesuatu yang pantas untuk hari seperti ini, tetapi yang keluar hanya, "Kevin?"
"Siapa itu?" Lira memiringkan kepala, pura-pura bingung. "Aku nggak kenal."
"Prosesnya jalan," kata Eva, lebih pelan. "Pak Handoko bilang semua beres, sisanya urusan pengadilan. Dia nggak akan muncul di kehidupan kamu lagi."
"Bagus." Aurel menatap bayangannya. "Itu cukup."
---
Taman belakang rumah keluarga Mahendra tidak disulap menjadi apa pun. Rumputnya dipotong rapi, kursi lipat putih ditata dalam dua deret pendek, dan di bawah pohon kenanga tua, tempat Aditya kecil dulu pernah menyembunyikan raket dari pelatihnya, berdiri sebuah lengkung kayu sederhana yang dibalut anggrek putih dari rumah kaca. Tidak ada orkestra. Tidak ada wartawan. Di sebelah kiri, Mbak Sari, Pak Budi, dan Pak Darto duduk berdampingan di kursi paling belakang, dengan baju batik yang sama, menyeka mata dengan kain yang sama. Maya dan Rian menempati baris tengah. Karina duduk bersama seorang laki-laki tinggi berkacamata yang menggenggam tangannya dan sesekali berbisik. Mas Dimas membawa tisu sendiri, tiga bungkus.
Di ujung lorong rumput, Papa menunggu dengan jas batik dan senyum yang dipaksa kaku.
"Papa."
"Rel." Papa menelan ludah. "Cantik."
"Papa belum selesai ngomong."
"Papa belum selesai ngomong." Ia menggeser lengan, canggung, dan Aurel menyelipkan tangannya. "Papa sudah latihan di rumah. Mama bilang Papa jalannya miring."
"Papa memang miring."
"Kamu ikut miring, Papa juga ikut." Suaranya parau, dan ia tidak malu lagi. "Ayo. Jangan sampai dia menunggu lebih lama. Anak itu sudah kalah dari Papa enam belas kali bulan ini, tapi sabarnya makin lumayan."
Mereka berjalan pelan di atas rumput. Aurel melihat Wilhelmina di kursi paling depan dengan kebaya hijau lumut, punggung lurus, kedua tangan bertaut. Ia melihat Pak Hardi di baris ketiga, yang tidak diundang dan datang sendiri, mengangguk singkat. Ia melihat Pak Handoko di samping lengkung kayu dengan map tipis di dada.
Dan di bawah pohon kenanga itu berdiri Aditya, dalam kemeja putih dan setelan abu-abu muda, memegang sebuah es krim cokelat di tangan kiri.
Papa tersedak ketawa kecil. "Dia membawa es krim ke pernikahan."
"Janji ulang, Pa."
"Dia membawa es krim ke janji ulang."
Papa mengantarnya sampai ke ujung lorong, mencium kening Aurel sekali, lalu menyerahkan tangannya kepada Aditya dengan wajah paling serius yang pernah ia pakai di hadapan seorang menantu.
"Jaga dia."
"Saya tanya dulu kalau ada apa-apa, Pa."
"Bagus." Papa mundur, matanya basah. "Itu jawaban yang benar."
---
Janji mereka pendek, seperti yang diminta Aurel.
Aditya berbicara lebih dulu. Ia tidak membawa catatan, dan suaranya sempat bergetar sekali di awal, lalu mantap. "Aurel. Setahun lalu aku menawarkan sesuatu yang paling kecil yang bisa kupikirkan, dan kamu menerimanya dengan syarat yang jauh lebih besar dari tawaranku. Aku janji tetap bertanya dulu. Aku janji sering salah, dan cepat mengaku. Aku janji tidak menghitung hari lagi, kecuali hari ulang tahunmu."
Beberapa tamu tertawa lembut.
"Dan es krim ini," tambahnya, mengangkat tangan kirinya, "adalah utang dari tahun lalu yang sudah lunas, tapi aku mau bayar lagi, setiap tahun."
Giliran Aurel. Ia menarik napas, dan merasakan lutut Papa yang bergetar di kursi barisan pertama tanpa perlu menoleh.
"Dit. Aku menandatangani kontrak itu dengan marah, dengan takut, dan dengan sangat yakin aku nggak akan jatuh cinta. Aku salah di semuanya." Ia tersenyum. "Aku janji tetap menulis di buku catatanku, walau sebagian halamannya sekarang tentang kamu. Aku janji menjawab 'boleh' kalau kamu bertanya dengan benar. Dan aku janji, kalau suatu hari kamu kembali jadi manusia kulkas, aku akan melempar bantal."
"Siap, Pak," bisik Aditya, "eh, Bu."
"Pak Guru," koreksi Aurel.
"Pak Guru."
Tamu-tamu tertawa. Wilhelmina menutup wajah dengan tangan, bahunya berguncang. Pak Handoko menyentuh kacamatanya, entah kenapa. Dan tanpa seorang pun meminta, Aditya mengambil tangan Aurel, bertanya dengan matanya, dan menciumnya dengan lembut ketika Aurel tersenyum.
Tepuk tangan meledak. Mas Dimas menyebut sesuatu tentang debu.
---
Wilhelmina menunggu sampai tamu-tamu bubar ke meja jamuan sebelum ia mendekat. Ia berdiri tepat di depan Aurel di bawah pohon kenanga, tidak lagi dengan tatapan menilai, tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih lembut dan lebih tidak pasti.
"Anakku," katanya.
Aurel tidak pernah dipanggil begitu oleh siapa pun selain Mama, dan ia merasakan dadanya penuh dengan cara yang tidak ia duga.
"Mami."
"Mami nggak akan bertanya apa-apa." Wilhelmina menggenggam kedua tangan Aurel. "Mami sudah janji, dan Mami menepati. Tapi kalau kamu ingin bilang sesuatu, Mami di sini."
Aurel melirik Aditya, yang berdiri tiga langkah di belakang dengan piring penuh sate dan wajah yang tiba-tiba sangat pura-pura sibuk. Aditya mengangguk sekali. Pelan, kecil, yang artinya: kamu yang menentukan.
Aurel mendekat. Ia menunduk, dan berbisik di telinga Wilhelmina, hanya beberapa kata, begitu pelan sampai angin pun tak sempat mengambilnya.
"Mami. Kamar tamu yang dulu katanya sedang dicat. Sekarang boleh benar-benar dicat. Warna kuning, kalau bisa."
Wilhelmina membeku.
Lalu tangannya naik ke mulut. Mata yang biasanya setajam silet itu memerah sekejap, kemudian basah, dan air matanya jatuh tanpa suara di atas kebaya hijau lumut. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Aurel erat-erat, jauh lebih erat dari pelukan mana pun sebelumnya, sambil bahunya bergetar.
"Pak Handoko," katanya akhirnya, dengan suara serak yang berusaha tegak. "Panggilkan tukang cat."
"Hari ini, Nyonya?"
"Besok pagi. Mami tidak mau ada yang tahu dulu. Tapi besok pagi."
Aditya akhirnya menaruh piringnya dan menghampiri. Ia berdiri di sisi Aurel, menatap ibunya yang menangis dan istrinya yang tertawa-tertawa di antara air mata, dan ia bertanya dengan suara paling kecil yang pernah Aurel dengar darinya.
"Boleh aku ikut peluk?"
"Boleh," kata Aurel dan Wilhelmina serempak.
Mereka bertiga berdiri di bawah pohon kenanga itu sampai senja menurunkan warna jingga di rumput. Di kejauhan, Papa dan Mama berdebat tentang apakah rendang atau sate yang sebaiknya dihabiskan lebih dulu, Eva dan Lira berlomba menghabiskan kue, dan Mbak Sari memastikan Pak Budi tidak lagi menulis apa pun dengan krim di atas apa pun.
Untungnya, tidak ada satu pun pasal yang menjelaskan harus bagaimana kalau seseorang tidak ingin hari seperti ini selesai.
Jadi mereka tidak menyelesaikannya.
TAMAT