Mama datang membawa rendang dalam tiga wadah, dan sebelum lift sempat terbuka penuh ia sudah berkata, "Mana dapurnya? Mama mau lihat dapur yang katanya berasap."
"Ma, itu sudah dua bulan lalu," protes Aurel dari ambang pintu.
"Berasap tetap berasap." Mama melewatinya dengan wadah di dua tangan, dan berhenti di depan Mbak Sari, yang menunduk hormat sambil menahan tawa. "Mbak yang ngajarin dia masak bubur?"
"Nona yang mengajari Tuan, Bu. Saya hanya menonton."
"Mama mau lihat hasilnya."
Papa menyusul dengan map biru di bawah ketiak dan kemeja batik yang terlalu rapi. Ia berdiri di ruang tengah penthouse, memandang dinding kaca, langit-langit tinggi, dan lampu gantung seperti orang yang baru mengenali tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita. Aditya berdiri dua langkah darinya dengan kedua tangan di depan, seperti sedang menunggu hasil ujian.
"Om."
"Nak." Papa menurunkan map ke meja. "Rumahmu tinggi."
"Rumah kami, Om," ralat Aditya pelan. Ia melirik Aurel, yang pura-pura merapikan bantal sofa. "Maksud saya, kalau Om berkenan menyebutnya begitu."
"Papa berkenan." Papa menepuk pundaknya dua kali, canggung sekali. "Tapi Papa belum mau tidur di sini."
Wilhelmina tiba lima menit kemudian dengan gaun hijau tua dan toples sambal yang ia serahkan langsung kepada Mama tanpa basa-basi. Kedua ibu itu saling memandang dari atas ke bawah. Aurel menahan napas.
"Bu Wilhelmina," kata Mama.
"Bu," sahut Wilhelmina. Ia berhenti sedetik. "Tolong jangan panggil saya begitu kalau di depan sambal."
Mama tertawa lebih dulu, dan itu yang menyelesaikan semuanya.
---
Meja makan panjang itu terisi penuh sejak Aurel tinggal di sana: enam kursi, dua piring rendang yang saling berlomba, ayam lada hitam buatan Mbak Sari, dan di tengah, semangkuk bubur gandum yang dibuat Aditya sendiri dan dipajang bagai piala.
"Lulus bersyarat," kata Mama setelah satu suapan.
"Syaratnya apa, Tante?"
"Garamnya kurang, tapi niatnya penuh." Mama mengambil suapan kedua. "Itu sudah lebih baik dari suami Mama, yang kalau masak bubur bisa jadi lem."
"Mama," kata Papa.
"Fakta, Pa."
Papa membuka mapnya setelah piring-piring kosong, ketika Mbak Sari mengisi gelas dengan es sirup dan menghilang. Ia menata beberapa lembar dengan jari yang sedikit gemetar, lalu memandang semua orang di meja satu per satu.
"Papa mau bicara soal angka. Sebentar saja, supaya tidak ada yang bertanya lagi."
"Pa, nanti saja," kata Aurel.
"Sekarang." Papa menunjuk lembar pertama. "Kontrak pasok dari Mahendra sudah bersih. Harganya harga pasar, mutunya ada standar, dan Papa baca sendiri sampai halaman terakhir. Dengan kontrak itu, cicilan bank bisa dibayar dari hasil usaha tanpa menjual apa-apa lagi. Papa dan Aurel sudah hitung. Dua tahun, kalau tidak ada kejutan."
Aditya mengangguk, dan menahan diri untuk tidak berkomentar. Aurel melihat usahanya, dan menghargainya.
"Yang kedua." Papa mengangkat lembar berikutnya. "Tunggakan yang Aurel bayar dulu. Itu Papa kembalikan bertahap, tiap bulan, ke rekeningnya. Bukan karena Papa tidak mau menerima bantuan anak sendiri. Karena Papa mau kembali berdiri dengan kaki Papa sendiri."
"Pa," bisik Mama.
"Dan yang ketiga." Papa meletakkan kedua telapak di atas kertas. "Lima miliar itu. Papa tidak mau satu rupiah pun dipakai untuk utang Papa. Itu bayaran Aurel, hasil kerjanya, hasil keberaniannya. Dia yang menentukan. Papa dengar dia sudah menyusun proposal."
Semua kepala menoleh pada Aurel. Ia menegakkan duduk.
"Sebagian jadi modal Nabiqa. Sesuai proposal." Ia menatap Aditya sesaat. "Investornya sudah ada. Tapi itu berikutnya."
"Berikutnya?"
"Sebentar, Pa."
Papa menarik kembali kacamata yang miring, dan untuk beberapa detik ia hanya memandang Aditya, seolah mengukur sesuatu yang tidak tertulis di kertas.
"Nak."
"Ya, Om."
"Panggil Papa saja."
Aditya tidak langsung menjawab. Aurel melihat jakunnya naik-turun. Dari seberang meja, Wilhelmina menunduk ke piringnya, pura-pura memotong ayam yang sudah terpotong.
"Baik," kata Aditya, dan suaranya pecah di tengah. "Papa."
"Nah. Itu baru gampang," kata Papa, sambil mengambil rendang kelima dan menghindari tatapan siapa pun.
"Papa," ulang Aditya, lebih mantap, seperti mencoba sepatu baru.
"Jangan diulang-ulang, nanti aus." Papa mengunyah. "Raket produksi terbatas yang kamu kasih itu, Papa belum berani pakai. Takut patah."
"Raket dipakai untuk dipukul, Pa."
"Kalau patah?"
"Saya belikan lagi."
"Bukan itu intinya." Papa menunjuk dengan garpu. "Intinya kamu harus mau kalah. Kamu ajak Papa main hari Minggu depan, dan kamu kalah. Pelan-pelan saja kalahnya, supaya Papa tidak curiga."
Wilhelmina tersedak es sirupnya. Mama menepuk punggungnya sambil tertawa, dan Aditya, yang dulu menang 21-19 atas Aurel tanpa rasa bersalah, menjawab dengan wajah paling serius yang pernah Aurel lihat, "Siap, Pa. Saya latih dulu cara kalah."
---
Setelah rendang tinggal tulang, Aurel dan Aditya membawa piring ke dapur tanpa diminta, sementara dua ibu di ruang makan sibuk membandingkan siapa yang lebih pandai menyembunyikan sambal dari suami masing-masing.
"Boleh aku cuci?" tanya Aditya, menggulung lengan kemejanya.
"Boleh. Aku yang lap."
Mereka bekerja berdampingan di bawah lampu dapur yang hangat. Air mengalir, piring berdenting. Sesekali bahu mereka bersentuhan dan tak seorang pun menjauh.
"Rel."
"Hm?"
"Papa kamu memanggilku Nak. Papa kamu menyuruhku memanggilnya Papa. Sudah lama sekali aku nggak punya itu." Aditya menunduk ke busa sabun. "Aku nggak tahu mau bilang apa."
"Bilang terima kasih saja. Nanti."
"Nanti kalau dia sudah kalah?"
"Nanti kalau kamu sudah kalah," koreksi Aurel, dan Aditya tertawa sampai busa sabun terciprat ke dagunya.
Mereka baru kembali duduk dengan puding ketika Wilhelmina membersihkan tenggorokannya, dan percakapan berhenti sendiri, seakan ada yang menarik tuas.
"Mami juga punya satu pernyataan."
"Mama," Aditya memperingatkan dengan alis berkerut.
"Tidak, Aditya. Ini bukan tentang kamu." Wilhelmina meletakkan garpu. "Mami dulu mengatakan hal yang tidak adil kepada kalian berdua. Mami minta cucu, seolah-olah itu tagihan. Seolah-olah kalian pabrik." Ia menatap Aurel, dan ada sesuatu yang rapuh di balik mata yang biasanya setajam silet. "Mami tidak lagi menagih. Mami hanya ingin melihat kalian pulang berdua. Itu saja. Sisanya, kalau kalian mau, kalian yang menentukan waktunya."
Hening. Mama menyentuh sudut matanya. Papa menepuk-nepuk lengan kursi tanpa alasan.
"Terima kasih, Mami," kata Aurel pelan, dan mengulurkan tangan di atas meja. Wilhelmina menyambutnya, hangat, seperti memegang sesuatu yang takut ia jatuhkan.
"Nah," lanjut Aurel, setelah menarik napas, karena ia memang sudah merencanakan ini. "Aku juga punya pengumuman."
"Pengumuman apa lagi?" tanya Papa. "Papa sudah punya angka tiga."
"Tiga minggu lagi aku meluncurkan Nabiqa. Peragaan busana kecil di galeri. Sampelnya sudah jadi, konveksi di Bandung bilang bisa. Eva dan Lira jadi model, aku jadi penutup." Ia mengangkat dagu. "Dan aku tidak akan minta bantuan siapa pun yang punya nama belakang Mahendra."
Semua mata beralih ke Aditya, yang mengangkat kedua tangan seperti orang menyerah dengan sangat tulus.
"Aku datang," katanya. "Barisan depan. Aku nggak akan bantu apa pun. Nggak ngatur kursi, nggak menelepon sponsor, nggak lihat daftar tamu." Ia berhenti. "Kalau boleh, aku tanya, boleh aku tetap duduk di depan?"
"Boleh," kata Aurel. "Kursi pertama."
"Ya Tuhan," gumam Wilhelmina, dan Aurel melihat ibu mertuanya, perempuan paling berwibawa yang pernah ia kenal, menutup mulut dengan serbet supaya tawanya tidak terdengar.
Papa berdeham keras. "Tiga minggu," katanya. "Papa hitung."