Telunjuk Papa muncul dari ambang pintu teras, menekuk dua kali, seperti memanggil anak SD.
Aurel baru selesai membalas empat puluh pesan di grup, dan Mama baru selesai menangis di dapur. Langit gang sore itu berwarna jeruk. Anak-anak main sepak bola di lapangan kecil, dan sandal gawang mereka bergeser tiap kali ada yang menendang terlalu keras. Papa duduk di kursi rotan tua dengan gelas teh yang entah sudah ganti keberapa.
"Duduk."
Aurel duduk.
"Papa sudah lihat," kata Papa. Ia tidak menoleh. "Tadi pagi."
"Lihat apa, Pa?"
"Siapa yang berdiri lebih lama." Ia menyesap tehnya. "Anak itu jalan kaki ke sini malam-malam, tahu Papa tidak akan percaya kata-katanya, terus tadi pagi duduk di kursi yang kamu tunjuk dan tidak berdiri waktu dia mau. Papa lihat dari ujung. Tangannya gemetar. Tapi dia duduk."
"Itu belum bukti, Pa."
"Belum. Tapi itu angka pertama." Papa akhirnya menatapnya. "Dan kamu, Rel. Dari awal sampai akhir kamu tidak pernah menunduk. Papa bertahun-tahun jadi pengusaha, belum pernah ngomong sedepan itu. Papa malu, tapi Papa bangga juga. Dua-duanya sekaligus, rasanya aneh."
Aurel menggenggam tepi kursi. Matanya panas, dan ia melihat lapangan sebentar sampai panasnya reda.
"Papa nggak bilang dia sudah lulus," tambah Papa cepat, seperti takut dituduh lunak. "Papa bilang angka pertama. Masih banyak angka."
"Berapa angka yang Papa butuhkan?"
"Sampai Papa lupa menghitung." Ia mendengus dan menyembunyikan wajah di balik gelas. "Itu kata Mamamu. Papa nggak setuju, tapi Papa nggak punya argumen."
Aurel menunduk, lalu memutuskan mengganti topik, karena pertanyaan berikutnya lebih sulit daripada angka. "Dia minta aku ketemu malam ini," kata Aurel. "Di atap. Di penthouse."
"Terus?"
"Aku belum jawab."
"Kamu sudah jawab," kata Papa. "Kamu sudah membawa tas dari kamar dari jam dua. Mama yang bilang." Ia mengusap dagu. "Pergi. Papa nggak butuh anak yang berdiri di teras Papa menunggu izin. Pulang, atau jangan pulang, tapi tentukan sendiri."
"Papa."
"Dan Rel." Papa menahan tangannya sebelum ia berdiri. "Dia sudah Papa panggil Nak tanpa ragu, itu artinya Papa mulai percaya. Kalau dia macam-macam lagi, kamu bilang Papa. Papa masih punya raket."
---
Lift pribadi berbunyi, dan pintu penthouse terbuka sebelum Aurel sempat menekan bel.
Mbak Sari berdiri di baliknya dengan kedua tangan di dada dan mata merah, sementara di belakangnya Pak Budi memegang sapu, entah untuk apa, di ruang tamu yang sama sekali tidak kotor. Pak Darto menunduk di dekat pot dan berdeham seakan ada sesuatu di tenggorokannya.
"Nona," bisik Mbak Sari. "Tuan sudah di atas dari jam enam. Dia mondar-mandir. Saya bilang duduk, dia bilang nanti."
"Dia makan?"
"Dua suap bubur gandum. Dibuang setengah."
"Aku yang naik."
"Saya antar tehnya nanti," kata Mbak Sari, dan Pak Budi menambahkan dengan penuh semangat, "Atau tidak sama sekali, Nona. Tidak ada yang akan naik. Kami sudah rapat."
Aurel tertawa pendek sambil mengusap mata, dan melangkah ke tangga kecil di ujung lorong yang menuju atap.
Tangga itu sebelas anak tangga. Aurel menghitungnya karena kebiasaan, dan baru sampai di sepuluh ia sadar kakinya bergetar bukan karena capek.
Angin malam menyambutnya begitu pintu baja terbuka. Lampu kota menyebar sejauh mata memandang, dan dua kursi rotan masih di tempatnya. Aditya berdiri di tepi pagar dengan kemeja putih dan lengan digulung, tanpa dasi, memegang sebuah buku biru tua bersegel plastik bening di kedua tangannya, seperti membawa sesuatu yang bisa pecah.
Ia berbalik begitu mendengar langkah.
"Kamu naik."
"Kamu bilang kamu tunggu."
"Aku tunggu." Ia melangkah satu kali, berhenti, lalu menyodorkan buku itu dengan lengan terulur penuh. "Segelnya dari Pak Handoko. Aku nggak membukanya. Aku nggak mau tahu isinya sebelum kamu yang kasih tahu."
Aurel mengambil buku itu. Beratnya sama seperti dulu, tetapi terasa lain di tangannya, seperti benda yang pernah hilang lalu pulang dengan sendirinya. Segel plastik berderak di jarinya. Ada cap kecil di sudut, tanda terima bertanggal hari ini, dan di bawahnya, di sampul tebal yang dulu ia beli di toko alat tulis dekat kantor, pulpen emasnya masih terselip.
"Terima kasih."
"Jangan. Itu punyamu." Aditya menelan ludah. "Aku mau minta maaf, Rel. Dan aku nggak mau pakai kata 'tapi'. Aku salah pada hari Senin. Bukan soal wartawan. Soal aku memutuskan tentang hidupmu, lagi, padahal aku sudah janji. Aku ketakutan, dan aku menyebut ketakutan itu melindungi. Itu bohong."
"Aku tahu."
"Aku nggak minta kamu menerimanya sekarang."
"Aku tahu itu juga." Aurel memegang buku di dada. "Ada lagi?"
"Satu." Aditya menarik napas yang terdengar sampai ke tempat Aurel berdiri. "Tadi pagi ada yang tanya apakah aku mencintaimu. Aku bilang jawabannya buat kamu dulu. Ini jawabannya."
Ia berhenti. Dari bawah terdengar klakson, jauh dan kecil.
"Aku mencintaimu, Aurel."
Hanya itu. Tanpa pidato, tanpa pembelaan. Aditya berdiri dengan tangan kosong, menunggu, dan sepertinya ia siap menunggu seumur hidup kalau perlu.
Aurel membuka buku itu. Segel plastiknya ia robek dengan satu tarikan, dan ia membalik sampai halaman paling belakang, di bawah kolom tanggal yang sudah ia coret, di bawah angka 5 M. Tulisannya sendiri, miring ke kanan karena marah, dan tidak lagi memalukan:
Aturan 1: jangan jatuh cinta. SUDAH KULANGGAR.
Ia memutar buku itu, dan mengangkatnya ke arah Aditya.
"Aku menulis itu sebelum bukunya hilang," katanya. "Sebelum Kevin, sebelum berita, sebelum pesta amal. Waktu kamu demam, pagi hari, aku duduk di tangga dan kamu di ruang tengah dengan tablet. Aku sudah melanggar aturan itu jauh sebelum kamu."
Aditya membaca. Bahunya turun, sedikit demi sedikit, seperti orang yang menurunkan beban dari dua pundak sekaligus.
"Jadi?" katanya serak.
"Jadi aku juga mencintaimu, Dit." Aurel tersenyum, dan merasakan air matanya jatuh tanpa ia izinkan. "Menyebalkan sekali."
Aditya tertawa, setengah terisak. Ia menyeka matanya dengan punggung tangan seperti anak kecil.
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Boleh."
"Boleh aku minta kamu pulang?" Ia menatapnya lurus. "Bukan karena kontrak. Bukan karena Mama. Karena rumah ini nggak rumah tanpa kamu. Mbak Sari bilang dari hari Senin mereka mengepel lantai yang sama empat kali."
"Boleh."
"Boleh apa?"
"Boleh pulang." Aurel melangkah, satu, dua, melewati garis yang sudah lama ia hormati. Ia berhenti di depan Aditya. "Dan Dit."
"Hm?"
"Boleh?"
Aditya menatapnya, dan butuh dua detik penuh untuk mengerti. Lalu wajahnya melunak sampai seluruh dingin yang pernah dikenal Aurel lenyap sama sekali.
"Boleh," bisiknya.
Ciumannya pelan, tidak terburu-buru, dengan rasa asin dari sisa air mata. Buku catatan itu terjepit di antara mereka, dan tak seorang pun peduli.
Angin menutup pintu baja di belakang mereka dengan bunyi pelan.
Di bawah, di tangga, Mbak Sari berbisik sangat keras kepada Pak Budi, "Sudah! Sudah! Taruh sapunya!" dan terdengar sesuatu jatuh.
Ponsel di saku Aurel bergetar. Sekali, lalu sekali lagi, dan akhirnya ia menyerah dan membacanya sambil bersandar di dada Aditya.
Mama. Besok malam makan di penthouse. Dua keluarga. Bu Wilhelmina sudah setuju. Papa bawa map biru.
"Map biru?" tanya Aditya, ikut membaca dari balik bahunya.
"Itu artinya angka," kata Aurel. "Papa mau bicara soal utang. Kamu siap?"
"Aku bawa kalkulator," jawab Aditya, serius sekali, dan Aurel tertawa sampai keningnya jatuh ke bahunya.