Seisi lobi menoleh ke belakang, dan di tengah semua kepala yang berputar itu Kevin berjalan maju dua lorong kursi dengan langkah orang yang yakin panggungnya sudah disiapkan.
Ia mengenakan setelan biru muda dan senyum yang sama dengan senyum di rapat Jogja. Tangan kirinya menjinjing tas kulit cokelat. Tangan kanannya terangkat sedikit, minta izin kepada wartawan, bukan kepada pembicara.
"Maaf, maaf. Kevin." Aurel mencatat bahwa ia memperkenalkan diri sebelum diminta. "Saya mitra proyek Resor Jogja. Saya hanya ingin membantu kejernihan. Rilis dari kantor Pak Aditya hari Senin menyebut dokumen itu palsu, hari ini dicabut. Besok mungkin berubah lagi." Ia tertawa kecil. "Padahal ada hal lain yang lebih penting. Soal harga kontrak pasok yang diberikan Mahendra Group kepada perusahaan ayah Bu Aurel. Dua belas persen di atas pasar. Itu pemalsuan harga, dan kalian perlu tahu."
Mikrofon-mikrofon berputar ke arahnya. Aditya sudah berdiri setengah, rahangnya mengeras. Aurel mengangkat satu tangan tanpa menoleh, dan Aditya duduk lagi.
Itu hal yang paling berat yang ia lakukan sepanjang pagi, Aurel tahu. Ia melihat buku-buku jari Aditya memutih di lutut.
"Pak Kevin," katanya. Ia kembali ke podium dengan langkah biasa. "Boleh saya bertanya satu hal?"
"Silakan, Bu Aurel."
"Dari mana Bapak mengetahui isi halaman-halaman lain di buku catatan saya?"
Kevin berkedip. "Maaf?"
"Berita yang beredar hanya memuat satu halaman, yang paling belakang. Tidak ada halaman tentang harga pasok yang pernah muncul di mana pun. Tidak di media, tidak di grup, tidak di rilis siapa pun." Aurel meluruskan kedua tangannya di sisi podium. "Tapi Bapak baru saja menyebut angka dua belas persen. Angka itu hanya ada di satu tempat, di halaman buku saya yang sampai hari ini tidak pernah diterbitkan. Bagaimana Bapak bisa tahu?"
Lobi diam. Wartawan perempuan yang tadi bertanya soal cinta menurunkan ponselnya sepelan mungkin.
"Itu... itu sudah menjadi rahasia umum."
"Rahasia umum yang tidak ada di mana-mana?"
"Saya punya narasumber."
"Narasumber yang memegang buku saya?" Aurel mengambil napas. "Pak Handoko."
Pak Handoko bangkit dari kursinya dengan tablet di tangan, begitu tenang sampai seolah-olah ia hanya hendak menutup jendela. Layar besar di belakang podium menyala. Surat penyesuaian harga muncul lebih dulu, bertanggal lima hari sesudah kontrak diteken dan sebelum pengiriman pertama, dengan harga yang kembali ke Rp4.250 per dus. Di bawahnya tabel pasar, lalu cap anak perusahaan.
"Harga awal memang salah," kata Aurel. "Saya mengakuinya di sini, hari ini. Saya yang menemukan, dan saya yang meminta koreksi. Tidak satu dus pun dikirim dengan harga itu. Ini bukan pemalsuan. Ini perbaikan."
"Itu bisa dibuat belakangan," kata Kevin cepat. Terlalu cepat.
"Tanggalnya terdaftar di sistem anak perusahaan, bukan di buku saya. Silakan periksa." Aurel menoleh ke Handoko. "Kedua."
---
Handoko menekan layar. Gambar berganti menjadi riwayat suara berwarna biru, dan sebelum Kevin sempat melangkah mundur, pengeras suara lobi mengeluarkan suaranya sendiri.
"...Bram Satria, ya. Namanya saya pilih sendiri. Yang repot itu bayarannya, tiga perantara supaya jejaknya putus, belum lagi akun-akun yang harus saya..."
Empat puluh detik. Handoko menghentikannya tepat sebelum Kevin tertawa di rekaman.
"Itu suara Anda, Pak Kevin," kata Handoko, sangat sopan. "Direkam oleh pihak dalam percakapan, jadi sah sebagai alat bukti. Ada sembilan menit empat puluh detik, dan sisanya akan diserahkan ke pihak berwenang hari ini juga, bersama rekaman kamera pengawas hotel."
Kevin tidak lagi tersenyum. Warna wajahnya turun sedikit demi sedikit, dari pipi ke leher. "Itu dipotong. Itu rekayasa."
"Kalau begitu," kata Aurel, "Bapak tidak keberatan dengan pemeriksaan ahli."
Satu kursi berderit di barisan depan. Pak Hardi berdiri. Ia merapikan kancing jasnya, dan setiap kamera, tanpa menunggu aba-aba, berputar menyorot dia.
"Saya Hardi, mewakili Arvanta Group." Suaranya datar. "Karena nama kami disebut tadi, saya sampaikan satu hal. Arvanta melanjutkan kerja sama dengan Mahendra Group dan tetap menjadi investor Resor Jogja. Kami menilai mitra dari kerjanya." Ia memandang ke barisan belakang. "Dan saya baru saja mendengar bagaimana seorang mitra bekerja."
Tak ada yang bertepuk tangan. Tapi bunyi yang memenuhi lobi, bunyi ratusan orang menghela napas bersamaan, lebih keras dari tepuk tangan mana pun.
Kevin menatap sekeliling. Ia mencari satu wajah yang berpihak padanya, dan tidak menemukan satu pun. Lalu ia berbalik, menjinjing tasnya, dan berjalan cepat keluar.
---
Aurel tidak sempat berpikir. Ia turun dari panggung, melewati Papa yang berdiri setengah, melewati Mama yang memegang tasnya erat, dan menyusul Handoko serta Rian yang sudah melangkah ke pintu samping.
Lorong di balik lobi sepi, berdinding kaca buram. Kevin berhenti di depan lift yang tak kunjung terbuka, menekan tombol berkali-kali, sementara Pak Handoko dan Rian berdiri dua langkah di belakangnya, tidak menghalangi, hanya hadir.
"Pak Kevin," kata Handoko. "Tas Anda."
"Anda tidak punya hak."
"Memang tidak. Karena itu saya meminta." Handoko memegang tablet di depan dadanya seperti memegang piring. "Kamera pengawas memperlihatkan Anda mengambil tas hitam milik Nyonya Aurel dari sofa ruang rehat, dua menit empat puluh detik setelah beliau pergi. Isinya sebuah buku catatan biru tua. Kalau Anda menyerahkannya sekarang, itu tercatat sebagai pengembalian. Kalau Anda mempertahankannya, itu tercatat sebagai bukti."
Ponsel di saku Kevin bergetar. Sekali, dua kali. Ia mengabaikannya, tetapi benda itu bergetar lagi dengan sangat gigih, dan Rian, tanpa mengubah wajah, berkata, "Mungkin penting, Pak."
Kevin merogoh dan menjawab dengan nada nyaris menggeram. "Ya."
Suara dari seberang terdengar jelas karena lorong itu sunyi. Seorang laki-laki yang Aurel kenali dari pesta hotel di Jogja, mitra bisnis Kevin yang paling ramah. Ia tidak lagi ramah.
"Vin, kami lihat siarannya. Kami keluar dari proyek hotel itu. Pengacara kami akan menghubungi. Jangan telepon lagi."
Sambungan terputus. Kevin menurunkan ponselnya sangat lambat, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak di lorong selain angka lantai di atas lift yang terus turun.
Lalu ia membuka tas kulitnya, mengambil sebuah buku biru tua bersampul tebal, dan menyodorkannya kepada Handoko tanpa memandang siapa pun.
Handoko menerimanya dengan dua tangan, memeriksa sampulnya, lalu membaca judul di punggungnya dengan suara kecil.
"BELAJAR JADI PEREMPUAN BERGUNA." Ia menoleh pada Aurel. "Saya kira ini milik Nyonya. Hari ini saya harus mencatatnya sebagai barang bukti, tetapi malam nanti buku ini kembali ke pemiliknya. Kalau Nyonya berkenan, lewat tangan Pak Aditya."
"Berkenan," kata Aurel. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia rencanakan.
Lift akhirnya berdenting. Pintunya membuka, dan Kevin melangkah masuk sendirian, menekan tombol lobi bawah dengan jari yang tidak lagi mantap. Sebelum pintu menutup, ia menoleh.
"Kamu menang pagi ini, Aurel."
"Saya tidak sedang bertanding, Kevin."
Pintu menutup di wajahnya.
Langkah pelan terdengar di belakang Aurel, berhenti pada jarak yang sudah mereka sepakati tanpa pernah mengucapkannya. Ia tahu itu Aditya sebelum menoleh.
"Kamu hampir berdiri tadi," kata Aurel.
"Hampir." Aditya mengangguk. "Aku duduk, sampai dia berhenti bicara." Matanya turun ke buku di tangan Handoko, lalu naik lagi. "Rel. Nanti malam, aku mau bicara. Kalau kamu mau. Di atap. Aku tunggu sampai kamu naik, atau sampai pagi, terserah kamu."
"Aku belum bilang mau."
"Aku tahu." Ia tersenyum, kecil dan letih. "Makanya aku bilang aku tunggu."