Pukul tujuh lewat dua puluh, ruang tunggu di belakang lobi Mahendra Group berbau kopi dan gel rambut.
Aurel berdiri di depan cermin besar dengan gaun kerja warna krem yang dipilihkan Eva dan Lira tadi malam lewat panggilan video satu setengah jam. Naskah pernyataan di tangannya sudah ia hafal, tetapi lembarannya ia pegang juga, karena tangan yang memegang sesuatu lebih tenang daripada tangan yang kosong.
"Kamu tidak harus membaca," kata Pak Handoko dari sofa. "Tiga paragraf saja yang perlu persis. Sisanya ucapkan dengan kata-katamu."
"Paragraf kedua yang tiga kali direvisi?"
"Paragraf kedua yang tiga kali direvisi."
Karina masuk dengan tablet di dada dan rambut dikuncir asal. "Dua puluh tujuh stasiun televisi sudah daftar, Rel. Plus portal berita, plus yang tidak kuhitung karena mereka datang tanpa daftar." Ia berhenti melihat wajah Aurel. "Tapi lobi kita kuat. Maya menata kursi barisan depan sendiri. Papa dan Mama kamu sudah duduk, Papa menolak pindah dari kursi ujung."
"Kursi ujung?"
"Dia bilang biar bisa lihat dua-duanya." Karina menepuk bahu Aurel pelan. "Entah apa maksudnya."
Aurel tahu persis maksudnya, dan menyimpannya.
Pintu terbuka sekali lagi. Aditya masuk dengan setelan abu-abu gelap dan dasi biru tua yang simpulnya sedikit miring, Rian setengah langkah di belakangnya. Ia berhenti dua meter dari Aurel, sama seperti semalam, lalu mengangkat tangan dengan telapak terbuka seakan menunjukkan bahwa ia tidak membawa apa-apa.
"Aku duduk di mana?"
Aurel menunjuk kursi kedua di barisan panggung kecil, di sebelah kanan podium. "Di sana. Bicara hanya waktu aku selesai."
"Oke."
"Dasimu miring."
Aditya meraba dasinya. Ia tidak memperbaikinya dengan benar, malah membuatnya lebih miring, dan Rian di belakangnya berdeham panjang. Aurel menghela napas, melangkah dua meter yang mereka sepakati diam-diam tak boleh dilanggar, dan berhenti.
"Boleh?"
"Boleh," jawab Aditya, nyaris tanpa suara.
Dua jari Aurel menarik simpul itu lurus. Tak lebih dari lima detik. Ia mundur lagi tanpa melihat wajahnya.
"Sudah. Kamu kelihatan seperti orang yang tahu apa yang dia lakukan."
"Aku tidak tahu."
"Aku juga tidak," kata Aurel. "Ayo."
---
Lobi gedung itu sudah berubah menjadi hutan lensa. Lampu sorot menimpa lantai marmer, dan di balik tiga puluh mikrofon yang bertumpuk di podium, Aurel melihat wajah-wajah yang selama sepekan terakhir hanya ia kenal sebagai nama di bawah judul berita.
Ia melihat Papa di barisan depan, kursi paling ujung, punggung tegak, kacamata dipasang benar. Mama di sebelahnya memegang tas dengan dua tangan. Wilhelmina duduk dua kursi dari Mama, dengan kebaya biru dan sanggul yang tidak bergeser satu helai pun, dan di belakangnya Pak Hardi dengan penasihat hukumnya yang membawa map setebal bantal. Eva dan Lira memeluk tangan satu sama lain di barisan kedua.
Aurel berdiri di podium. Lampu menyorot begitu terang sampai kertas di tangannya berubah putih.
"Selamat pagi. Nama saya Aurel Arasya Nabiqa."
Kilatan kamera menyambut seperti hujan es.
"Saya akan bicara tentang tiga hal, dan saya mohon pertanyaan ditahan sampai selesai. Pertama, berita minggu lalu itu benar. Halaman dari buku catatan saya yang tersebar memang tulisan saya." Ia mengangkat kepala. "Saya menikah dengan Aditya Mahendra lewat perjanjian kontrak selama satu tahun."
Ruang itu bergeming sebentar, lalu pecah. Aurel menunggu, dan ketika suaranya mereda, ia melanjutkan.
"Kedua, alasan saya. Waktu itu saya difitnah dan kehilangan hampir semua pekerjaan. Pada saat yang sama, usaha ayah saya sedang kesulitan, dan saya menyembunyikan itu dari diri saya sendiri selama berminggu-minggu. Ketika Pak Aditya menawarkan kontrak, saya marah, lalu saya menimbang, lalu saya menerima. Itu keputusan saya. Tidak ada yang memaksa saya, dan saya tidak sedang menjual diri. Saya menegosiasikan syarat, dan saya menandatangani dengan mata terbuka."
Di barisan depan, Papa mengangkat dagu sedikit. Aurel melihatnya.
"Ketiga, kesalahan saya. Saya tidak jujur kepada orang tua saya. Saya berbohong tentang asal uang yang saya pakai membayar tunggakan keluarga, dan saya menunda memberi tahu mereka tentang pernikahan ini. Kalau sekarang ada yang kecewa, kecewalah kepada saya, bukan kepada ayah dan ibu saya." Suaranya tersendat satu kali. Ia berhenti dua detik, persis seperti yang diajarkan seseorang di sisi kanan podium. "Saya minta maaf kepada mereka, di depan kalian semua, karena itu yang saya utang."
Mama menutup bibirnya dengan jari-jari. Papa tetap menatap lurus, tetapi tangannya yang memegang lutut mengepal lalu terbuka.
"Itu saja dari saya. Untuk sekarang." Aurel menyingkir dari podium, dan di sudut matanya ia melihat Aditya berdiri, dengan dasi yang tetap miring.
---
Aditya tidak langsung bicara. Ia memegang kedua sisi podium, memandang lensa-lensa itu dengan wajah yang biasa dipakainya di rapat dewan, lalu menurunkannya perlahan, seperti membuka kancing.
"Saya hanya akan bicara tiga kalimat, karena sisanya sudah dikatakan istri saya." Ia menarik napas. "Satu. Yang menawarkan kontrak itu saya, bukan dia. Dua. Rilis dari kantor saya hari Senin yang menyebut halaman itu dokumen palsu adalah keliru. Itu tulisan Aurel. Saya tahu itu ketika saya mengeluarkan rilis, dan saya mengeluarkannya tanpa bertanya kepadanya. Saya salah, dan saya mencabutnya hari ini."
Kamera berdentik rapat. Aurel melihat Pak Hardi mencatat sesuatu, Wilhelmina memejamkan mata sekilas.
"Tiga?" tanya seorang wartawan perempuan di barisan depan, tanpa menunggu giliran.
"Tiga, saya akan jawab pertanyaan."
Tangan-tangan terangkat bagai rumpun jagung. Aditya menunjuk seorang laki-laki berkaus kuning yang bertanya soal nasib perusahaan. Ia menjawab pendek: dewan sudah mendapat penjelasan, Arvanta hadir di ruangan ini. Wartawan lain bertanya apakah pernikahan itu sah. Sah, jawab Aditya, akadnya sungguhan, hanya bayarannya yang tertulis. Seseorang bertanya tentang Bram Satria, dan Aurel menegakkan bahu, tetapi Pak Handoko mengangkat satu jari dari kursinya, memberi isyarat untuk menunggu.
"Soal itu ada buktinya," kata Aditya kepada si penanya, "dan buktinya belum waktunya. Tolong beri kami sepuluh menit."
"Sepuluh menit untuk apa, Pak?"
"Untuk menjawab dengan benar, bukan dengan cepat." Ia melirik jam di dinding lobi, lalu Aurel, yang mengangguk setengah senti. "Itu kebiasaan baru saya."
Beberapa wartawan tertawa kecil. Wilhelmina, di barisan depan, menunduk dan memutar cincin di jarinya dengan wajah seorang ibu yang menahan bangga di depan orang banyak.
Lalu wartawan perempuan yang tadi memotong berdiri lagi.
"Pak Aditya. Kontrak itu sudah ada sejak awal. Setelah semua ini, apakah Bapak mencintainya?"
Lobi menjadi sangat hening. Bahkan kamera berhenti sejenak.
Aditya tidak menoleh ke Aurel. Itu yang paling Aurel hargai, kemudian. Ia tetap menatap si penanya, dan ketika ia berbicara suaranya rendah dan jernih.
"Pertanyaan itu pertama-tama saya jawab kepadanya," katanya, "bukan kepada kalian."
Gumam menyapu ruangan. Mama menepuk lengan Papa, dan Papa menepis tangan itu tanpa menoleh, dengan senyum yang hampir muncul dan langsung ditekan.
"Kalau begitu, pertanyaan berikut," ujar wartawan itu, tidak gentar. "Siapa yang membocorkan halaman buku catatan itu?"
Sebelum Aditya sempat menjawab, dari barisan paling belakang seseorang berdiri. Kursinya berderit, dan suara yang sangat Aurel kenal mengisi lobi dengan keramahan yang basi.
"Boleh saya yang menjawab? Karena saya rasa Bapak Aditya sedang berbohong."