Mama menunggu di pintu depan dengan celemek masih terpasang dan jari telunjuk di bibir.
"Jangan keluar," bisiknya sebelum Aurel sempat membuka mulut. "Mereka belum selesai."
"Sudah berapa lama, Ma?"
"Dua puluh menit. Papa belum menyuruhnya duduk." Mama menarik Aurel masuk dan menutup pintu tanpa suara. "Tadi Mama bawakan teh. Papa bilang tehnya taruh saja di lantai."
Aurel melepas sepatu di ruang tamu. Ia tidak berani melangkah lebih jauh dari tirai jendela, yang tersingkap sejengkal karena dijepit jemuran kecil buatan Mama. Dari celah itu ia bisa melihat teras: lampu kuning yang dikerubungi laron, kursi rotan tua, dan dua punggung yang berdiri berhadapan.
Papa dengan sarung dan kaus oblong. Aditya dengan kemeja putih yang sama seperti di rumah keluarga Mahendra, lengan masih digulung, tanpa jas, tanpa Rian, tanpa mobil di depan pagar. Ia datang berjalan kaki lagi, Aurel menyadari, sebab tak ada satu pun mobil asing di gang itu.
"Saya mulai dari yang paling gampang," kata Aditya. Suaranya terdengar jelas lewat jendela yang tak tertutup rapat. "Saya yang menawarkan kontrak itu, Om. Bukan Aurel. Dia menolak pertama kali. Dia marah, dan dia pergi dari kantor saya."
"Lalu menerima."
"Lalu menerima, karena keluarganya butuh. Saya tahu keluarga ini butuh, dan saya memakainya." Aditya berhenti. "Saya mau Om dengar kalimat itu dari saya, bukan dari berita."
Papa tidak menjawab. Ia mengambil gelas teh dari lantai, melihat isinya yang sudah dingin, lalu meletakkannya lagi.
"Yang kedua," lanjut Aditya. "Kontrak pasok. Saya membuka pintu itu tanpa bertanya kepada Aurel, dan harganya saya naikkan dua belas persen di atas pasar supaya Om tidak curiga bahwa itu bantuan. Itu bukan membantu, Om. Itu belas kasihan yang saya bungkus jadi bisnis. Saya sudah salah, dan Aurel yang membetulkannya."
Di balik tirai, Mama mengeluarkan bunyi kecil seperti orang tersedak. Aurel meraih lengannya.
"Dua belas persen," ulang Papa pelan. "Aurel sudah bilang itu."
"Aurel bilang semuanya, Om. Dia selalu bilang semuanya. Saya yang tidak."
---
Papa berjalan ke ujung teras dan berdiri menatap lapangan kecil di seberang jalan, yang sudah gelap dan kosong. Aditya tidak mengikutinya. Ia tetap di tempat, tangan di sisi tubuh, dan Aurel memperhatikan bahwa ia tidak memasukkan tangan itu ke saku seperti kebiasaannya kalau gugup.
"Kamu tahu apa yang bikin saya paling marah?" kata Papa, tanpa menoleh.
"Saya, Om?"
"Bukan kamu. Saya." Papa mengusap wajah dengan telapak tangan. "Anak perempuan saya membayar tunggakan bapaknya diam-diam, lalu berbohong kepada ibunya soal bonus iklan. Dia dua puluh satu tahun. Itu pekerjaan saya, Nak. Bukan pekerjaannya, dan bukan pekerjaanmu."
"Saya mengerti."
"Belum. Tapi lanjut."
Aditya menarik napas, dan Aurel merasakan napas itu sampai ke tempatnya berdiri.
"Yang ketiga," katanya. "Saya mencintai putri Om."
Tidak ada yang bergerak di teras. Laron jatuh satu per satu dari bawah lampu.
"Bukan karena kontrak, bukan karena dia pintar mencatat, bukan karena dia menyelamatkan rapat saya. Dia membuat saya bertanya sebelum memutuskan. Saya tidak pernah melakukan itu seumur hidup saya. Saya baru tahu rasanya takut kehilangan sesuatu yang bukan perusahaan." Ia menelan ludah. "Saya belum bilang ini kepadanya dengan pantas. Saya tidak akan bilang sampai dia mau mendengar. Tapi Om berhak tahu lebih dulu, karena Om yang membesarkannya."
Mama menutup mulut dengan punggung tangan. Aurel menatap tirai tanpa melihat apa pun.
"Berapa lama?" tanya Papa.
"Maaf, Om?"
"Berapa lama kamu sudah mencintai putri saya? Sebut harinya."
"Saya tidak tahu harinya." Aditya hampir tertawa, getir. "Saya baru sadar waktu demam, Om. Tapi saya rasa sudah lebih lama dari itu, hanya saya yang terlalu sibuk menolak."
"Dan kalau besok semua orang mengatakan Aurel perempuan yang dibeli?"
"Saya akan berdiri di sampingnya dan membetulkan satu per satu."
"Kata-kata lagi."
"Ya, Om." Aditya tidak membela diri. "Hanya itu yang saya punya malam ini."
"Kalau dia suruh kamu diam di tengah konferensi pers, kamu diam?"
"Diam, Om."
"Kalau dia suruh kamu pulang?"
"Saya pulang." Aditya menjawab tanpa jeda, lalu menambahkan lebih pelan, "Itu yang paling sulit. Tapi saya pulang."
"Empat hari lalu kamu tidak begitu."
"Empat hari lalu saya belum tahu rasanya ditinggal di lorong sendirian, Om."
Di balik tirai, Mama menoleh pada Aurel dengan alis terangkat tinggi, seperti guru yang menemukan murid paling bandel menjawab benar. Aurel pura-pura sibuk dengan jepitan jemuran.
Papa berbalik. Wajahnya letih, tetapi tidak marah, dan ketika ia berbicara lagi suaranya turun menjadi hampir lembut.
"Saya orang yang percaya angka, Nak. Kamu tahu itu, kamu yang membetulkan angka saya." Ia berjalan melewati Aditya menuju pintu. "Saya tidak percaya kata-kata. Dulu saya mendengar banyak sekali kata-kata dari orang yang menawarkan pinjaman. Saya akan lihat besok."
"Baik, Om."
"Jangan bilang baik. Datang saja."
Papa membuka pintu. Aurel mundur dua langkah dari tirai, tetapi ia tidak cukup cepat, dan mata Papa langsung mendarat padanya, lalu pada Mama yang menyeka pipi dengan ujung celemek. Papa mendengus.
"Tehnya sudah dingin," katanya kepada siapa pun. "Ganti."
Ia masuk tanpa menatap Aditya lagi. Dari dapur terdengar denting cerek, lalu suara Mama yang berbisik terlalu keras, "Pa, dia datang jalan kaki, lho," dan jawaban Papa yang tak jelas tetapi jelas sekali bernada setengah terkesan.
---
Aurel keluar ke teras ketika Papa dan Mama sudah di dapur, dan menutup pintu di belakangnya sampai bunyi klik.
Aditya masih di tempat yang sama. Ia menoleh perlahan, seperti seseorang yang tidak yakin boleh.
"Kamu dengar," katanya.
"Sebagian."
"Yang mana?"
"Dua belas persen. Belas kasihan yang dibungkus bisnis." Aurel melipat tangan di dada, lebih untuk menahan dingin daripada menjaga jarak. "Dan yang ketiga."
Aditya memandang lantai teras. Ada tiga ekor laron mati di dekat sepatunya.
"Itu bukan buat kamu," katanya. "Maksudku, buat kamu juga, tapi aku tadi tidak bilang supaya kamu menjawab. Jangan jawab apa-apa malam ini."
"Aku nggak mau jawab malam ini."
"Bagus."
"Aku mau tanya." Aurel menunggu sampai matanya naik. "Kamu bilang ke Papaku bahwa kamu mencintai aku, sambil berdiri di depan lampu laron. Itu rencana?"
"Bukan. Rencanaku cuma minta maaf." Aditya mengusap wajah. "Yang ketiga keluar sendiri. Aku nggak suka, itu di luar agenda."
"Pantas." Aurel menahan senyum. "Kamu jalan kaki dari rumah Mami?"
"Dari jalan besar. Taksi tidak masuk gang." Ia menggaruk tengkuk. "Kamu bilang aku nggak boleh datang kalau tidak diizinkan. Papa kamu bilang boleh."
"Papa bilang apa?"
"Waktu aku telepon sore tadi. Dia bilang, 'Datang, tapi jangan bawa pengacara.'"
Aurel tertawa sebelum sempat menahannya, satu bunyi pendek yang membuatnya sendiri terkejut. Aditya menatapnya seperti orang melihat matahari muncul lebih awal dari jadwal.
"Besok jam delapan di lobi," katanya, kembali serius, sebelum tawa tadi sempat berubah jadi hal lain. "Aku datang dari rumah Mama dengan Rian. Kamu datang dengan Pak Handoko."
"Oke."
"Duduk di kursi yang kutunjuk."
"Oke."
"Dan jangan lihat Kevin."
"Aku tidak janji untuk yang itu." Ada sesuatu di sudut bibir Aditya yang hampir tersenyum. "Pulang, Dit. Kamu pucat."
"Kamu juga."
"Aku makan lodeh."
"Berarti lodehnya kurang," jawab Aditya, mengutip Wilhelmina tanpa sadar, dan untuk pertama kalinya malam itu ia berbalik melangkah pergi tanpa menengok.
Aurel masuk. Papa sudah berdiri di ambang kamarnya, tanpa kacamata, memegang gelas teh yang baru.
"Rel."
"Ya, Pa?"
"Besok Papa duduk di barisan paling depan. Jangan suruh Papa pindah."
"Papa mau lihat apa?"
"Dia," kata Papa. "Dan kamu. Siapa yang berdiri lebih lama."