"Biar dia tanya sendiri," kata Papa pagi itu, sambil mengolesi roti dengan selai nanas yang terlalu banyak. "Tapi bukan sekarang."
"Kapan, Pa?"
"Nanti. Papa yang bilang." Ia mengunyah, menelan, dan menambahkan, "Kalau Papa bilang sekarang, nanti dia kira Papa sudah memaafkan. Belum."
"Papa belum memaafkan?"
"Papa belum selesai baca kontraknya." Papa mengangkat map biru dengan ujung roti. "Tiga puluh dua halaman, Rel. Kamu pikir Papa tidak teliti?"
Mama, yang berdiri di dekat kompor dengan celemek bermotif ayam, berdeham keras. "Mama lihat Papa baca sampai jam dua, dengan kacamata terbalik."
"Mama."
"Terbalik, Rel. Pegangannya di depan."
Aurel menutup mulutnya dengan serbet supaya tidak tertawa di meja yang baru empat hari lalu terasa seperti ruang sidang. Papa pura-pura tidak mendengar, dan ketika ia membalik halaman berikutnya, pegangan kacamatanya memang benar-benar menghadap ke depan.
---
Kantor Arvanta Group berada di lantai tiga puluh gedung kaca yang pantulannya menyilaukan bahkan di hari mendung. Resepsionisnya mengantar Aurel melewati lorong panjang berkarpet abu-abu, tanpa foto, tanpa bunga, tanpa apa pun yang bisa dipandang kecuali pintu-pintu tertutup. Aurel memegang map hijau tipis di dadanya dan menghitung langkah.
Pak Hardi menunggu di ruang rapat kecil, berdiri di balik meja panjang dengan kacamata berbingkai tebal dan jas yang kancingnya terpasang rapi. Ia tidak menyuruh Aurel duduk. Ia memandangnya dari atas ke bawah, lalu ke map di tangannya.
"Anda tidak membawa pengacara."
"Tidak, Pak."
"Tidak membawa suami Anda."
"Tidak, Pak. Saya yang minta waktu Bapak, jadi saya yang datang."
"Hm." Ia duduk, dan Aurel menganggap itu izin. "Lima belas menit. Saya sudah membaca berita itu. Saya juga membaca rilis Senin. Dua-duanya sangat menarik. Salah satunya bohong."
"Rilisnya, Pak."
Pak Hardi mengangkat alis setengah milimeter.
"Halaman buku itu tulisan saya," lanjut Aurel, dan ia membiarkan kalimat itu berhenti di ruangan tanpa hiasan. "Isinya benar. Saya menikah dengan Aditya Mahendra lewat kontrak satu tahun, dengan bayaran lima miliar, karena keluarga saya terlilit utang dan karena kontrak-kontrak saya batal sesudah skandal. Itu keputusan saya sendiri, bukan paksaan siapa pun. Saya tidak malu menyebutnya, tapi saya menyesal menunda memberi tahu orang tua saya, dan menyesal bukunya bisa dicuri."
"Dicuri."
"Ada rekaman CCTV dan pengakuan, Pak. Bapak boleh dengar sendiri, kalau mau. Hari Sabtu semuanya akan dibuka."
Pak Hardi diam. Ia mengambil pulpen dari saku dalam jasnya dan memutarnya di antara jari, kebiasaan yang Aurel catat sejak rapat lantai dua puluh dua.
"Lanjut."
Aurel membuka map hijau dan meletakkan tiga lembar kertas di meja, dengan tepi sejajar. "Tiga hal. Satu, tidak ada satu rupiah pun dana Arvanta yang tersentuh oleh kontrak saya. Perjanjian investasi Resor Jogja tertanggal jauh sebelum saya masuk kantor. Dua, ini ringkasan perkembangan proyek sejak peletakan batu pertama: anggaran, jadwal, risiko. Angkanya sama dengan yang Bapak setujui, kecuali satu baris yang saya tandai, karena ada selisih dua persen di biaya tanah yang saya temukan minggu lalu." Ia menggeser lembar ketiga. "Tiga, ini permintaan saya. Saya ingin Bapak hadir di konferensi pers hari Sabtu."
"Untuk apa?"
"Untuk melihat sendiri. Bukan untuk berbicara, kalau Bapak tidak mau."
Pak Hardi meletakkan pulpennya. Ia membaca lembar pertama, lalu kedua, dan pada lembar kedua ia berhenti di baris yang ditandai Aurel dengan pensil. Matanya naik sedikit.
"Selisih dua persen di tanah."
"Biaya notaris yang dihitung dua kali, Pak. Sudah saya konfirmasi ke bagian legal Mahendra pagi ini. Dikoreksi minggu depan."
"Lampiran tujuh," katanya pelan. "Waktu itu benar juga."
"Ya, Pak."
"Dan ini?" Ia menunjuk baris selisih itu. "Siapa yang menemukannya?"
"Saya."
"Bukan Aditya?"
"Bukan. Dia tidak tahu sampai tadi pagi."
Pak Hardi bersandar. Ia tampak seperti seseorang yang sedang menimbang ulang sesuatu yang selama ini ia kira sudah selesai. Ia melepas kacamata dan menggosok pangkal hidungnya.
"Saya tidak punya urusan dengan pernikahan Anda," katanya. "Itu urusan Anda, suami Anda, dan ibunya. Pertanyaan saya hanya satu: apakah orang yang duduk di rapat saya tiga minggu lalu, yang menjawab pertanyaan saya dengan data, adalah orang yang sama dengan yang menulis halaman itu?"
"Orang yang sama, Pak."
"Berarti dia pandai mencatat dan pandai mengaku." Ia memakai kembali kacamatanya. "Saya menilai orang dari kerjanya, bukan dari berita tentang dia. Saya sudah tiga puluh tahun begitu, dan belum pernah menyesal."
Aurel menahan sesuatu di tenggorokannya.
"Saya hadir hari Sabtu," lanjut Pak Hardi. "Saya tidak berbicara kecuali ditanya, dan saya tidak akan memihak sebelum saya dengar semuanya. Satu hal lagi."
"Ya, Pak?"
"Pak Kevin. Dia terlalu banyak bicara di rapat Jogja, dan terlalu sedikit mengerjakan. Saya tidak pernah suka orang yang memuji saya sebelum dia tahu apa yang saya inginkan." Ia mengetuk meja satu kali. "Itu bukan urusan Anda. Tapi kalau yang Anda sebut rekaman itu memang ada, saya ingin mendengarnya sendiri sebelum Sabtu."
"Saya bawa salinannya, Pak."
Pak Hardi hampir tersenyum, dan mengurungkan niatnya. "Tentu saja Anda bawa."
Aurel menyerahkan sebuah earphone. Pak Hardi memasangnya di satu telinga dan menutup mata. Empat puluh detik pertama ia tidak bergerak. Pada menit kedua, jari-jarinya berhenti memutar pulpen. Pada menit ketiga, ia membuka mata dan menatap Aurel, bukan dengan iba, tetapi dengan kemarahan dingin orang yang tidak suka dibohongi di rapatnya sendiri.
"Cukup," katanya, melepas earphone itu dengan hati-hati. "Saya akan bawa penasihat hukum saya hari Sabtu. Anda sebaiknya juga tidak perlu menjelaskan banyak lagi."
---
Di lift turun, Aurel mengetik sebelum sempat berubah pikiran: Pak Hardi hadir Sabtu. Dia sudah dengar rekamannya. Dia bilang dia menilai dari kerja.
Balasan Aditya datang ketika pintu lift terbuka di lobi. Terima kasih sudah ngabarin. Aku nggak akan tanya detailnya sampai kamu mau cerita.
Pukul lima lewat sedikit, mobil yang Rian kemudikan membelok ke jalan layang, dengan langit senja berwarna tembaga di spion tengah. Aurel bersandar dengan kepala di kaca, memegang ponsel yang diam di pangkuannya.
Seharian ini ia terlalu sibuk untuk memikirkan siapa pun. Naskah pernyataan dengan Pak Handoko sejak siang. Tiga kali revisi paragraf kedua. Eva dan Lira mengirim foto sandwich ke grup dengan keterangan "LO HARUS MAKAN". Mas Dimas mengabarkan Lunara belum menarik diri. Setiap hal kecil yang selesai terasa seperti papan kayu di atas sungai.
Ponselnya bergetar.
Mama. Satu pesan, tanpa emoji, tanpa titik, tanpa kata sapaan seperti biasa.
Rel, Aditya di sini, di teras, sama Papa.
Rian melirik dari spion tengah. "Nona?"
"Ke rumah Papa," kata Aurel. "Lewat jalan yang tidak macet."