Semua lampu di lantai bawah rumah keluarga Mahendra menyala malam itu, dari ruang depan sampai lorong dapur, seolah rumah itu sendiri sedang menunggu Aurel.
Wilhelmina menyambut di ruang depan sebelum pegawainya sempat membuka pintu. Ia mengenakan blus krem dan rok panjang, rambut tersanggul sempurna seperti biasa, tetapi tangannya terulur sebelum Aurel melangkah masuk, dan ia tidak memeluk dengan kaku. Ia memeluk seperti seseorang yang sudah tiga hari menahan napas.
"Nak," katanya di bahu Aurel. "Kamu kurus."
"Mami, saya makan lodeh tadi malam."
"Saya?" Wilhelmina mengangkat sebelah alis. "Sesudah pelukan seperti tadi, 'aku' saja, Nak."
"Aku makan lodeh tadi malam, Mami."
"Berarti lodehnya kurang." Wilhelmina melepaskan pelukan, menahan bahu Aurel, dan memeriksa wajahnya dari dekat. "Kamu pucat. Kamu menangis?"
"Sedikit. Di mobil."
"Bagus. Orang yang menahan itu semua lebih sakit nantinya."
Pak Handoko berdiri di belakang Wilhelmina dengan map hitam di tangan, mengangguk sopan, dan Rian di belakang Aurel menunduk. "Aurel," sapa Handoko pelan, dengan anggukan yang lebih hangat dari biasanya.
Lalu ia melihat Aditya.
Aditya berdiri di ambang ruang keluarga, jauh dari mereka semua, dengan kemeja putih tanpa dasi dan lengan digulung sampai siku. Ia tampak lebih kurus dari Senin malam. Rahangnya baru dicukur, tetapi ada luka kecil di dagu, bekas silet yang terburu-buru, dan matanya tidak meminta apa pun. Ia hanya memandang.
"Rel," katanya.
"Dit."
Hanya itu. Dua suku kata dari masing-masing, di ruang yang terlalu luas. Tetapi Aurel merasakan sesuatu di dadanya merenggang setengah senti, dan ia membenci betapa mudahnya itu terjadi.
"Terima kasih sudah datang."
"Aku datang karena rekamannya."
"Aku tahu." Ia tidak mundur. "Aku tetap berterima kasih."
---
Wilhelmina memaksa mereka makan lebih dulu, dan tak seorang pun berani membantah. Meja panjang itu hanya terisi di satu ujung. Aditya duduk dua kursi dari Aurel, dan tanpa kata ia menggeser mangkuk sambal ke dekat piringnya, lalu menarik tangannya kembali dengan cepat seakan takut dianggap melanggar sesuatu. Aurel mengambil sambal itu. Dari seberang meja, Wilhelmina sibuk mengaduk supnya dengan wajah seorang ibu yang tidak melihat apa-apa.
Setelah itu, Wilhelmina memilih ruang keluarga, bukan ruang kerja, dan menyuruh pegawainya mematikan televisi. Mereka duduk melingkar di sofa-sofa besar yang terlalu empuk untuk percakapan seperti ini. Aurel meletakkan ponselnya di meja, menyambungkannya ke pengeras suara kecil yang dibawa Rian, dan menekan tombol putar.
Suara Kevin memenuhi ruangan, dibingkai dentingan sendok dan musik latar restoran.
Selama sembilan menit empat puluh detik, tak seorang pun membuka mulut.
Aurel mengamati wajah-wajah di ruangan itu, bukan untuk menilai, tapi karena ia tidak sanggup menatap meja. Pak Handoko menutup mata di bagian "tiga perantara", membukanya di bagian "Bram Satria". Rian berdiri di dekat pintu dengan tangan terlipat, wajahnya datar, tetapi bahunya bergeser tiap Kevin menyebut kata Aurel. Wilhelmina duduk sangat tegak, jari-jarinya bertaut di pangkuan dengan buku jari memutih.
Dan Aditya.
Ia tidak bergerak sama sekali, tetapi Aurel melihatnya mengerut setiap kali nama itu disebut. Kamu datang kepada Aditya. Itu yang tidak saya hitung. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri seperti sedang membaca sesuatu di sana, dan ketika Kevin mengucap kata utang dengan kelembutan yang menjijikkan, rahang Aditya mengeras sampai urat di pelipisnya terlihat.
Rekaman berakhir pada langkah Aurel yang menjauh dan dentang pintu restoran.
Hening.
"Anak itu," kata Wilhelmina akhirnya, dengan suara yang sangat tenang, "dulu mengirim Mami karangan bunga dengan kartu nama dua kali lebih besar dari bunganya."
Pak Handoko terbatuk kecil. Rian menunduk, dan Aurel tahu ia sedang menahan senyum.
"Saya sudah curiga," lanjut Wilhelmina. "Orang yang memperkenalkan dirinya dengan kartu nama sebesar itu biasanya sedang mengisi sesuatu yang kosong." Ia menoleh. "Dan kamu tidak makan apa pun darinya?"
"Papa melarang, Mami."
"Papa kamu laki-laki yang cerdas." Wilhelmina mengangguk. "Pak Handoko?"
"Rekaman ini sah sebagai bukti, Nyonya, karena Aurel adalah pihak dalam percakapan. Bersama rekaman CCTV, itu cukup untuk dasar laporan pencurian dan pencemaran." Handoko membuka mapnya dan menuliskan sesuatu. "Tapi saya sarankan laporan diajukan sesudah konferensi pers, bukan sebelumnya. Kalau diajukan lebih dulu, lawan bisa membingkainya sebagai upaya membungkam."
"Berarti saya yang bicara dulu," kata Aurel.
Semua menoleh.
Ia berdiri, karena duduk membuat suaranya terlalu kecil. "Aku sudah memikirkannya sejak di mobil. Aku ingin kebenaran keluar dari mulutku sendiri, di depan wartawan, di gedung Mahendra Group. Tentang kontrak. Tentang kenapa saya menerimanya. Tentang halaman buku itu. Baru sesudah itu rekamannya diputar. Aku bicara pertama, bukan sebagai korban, bukan sebagai pihak yang dibela."
"Aurel," kata Wilhelmina, lembut. "Itu berani."
"Itu satu-satunya cara supaya cerita ini milikku lagi." Aurel menarik napas. "Dan ada syarat."
Ia menoleh ke Aditya, sesudah sembilan menit menghindar.
"Satu. Aku bicara lebih dulu. Dua. Jangan ada somasi, jangan ada penarikan berita, jangan ada telepon ke redaksi sebelum konferensi. Tiga." Ia berhenti. "Rilis hari Senin, yang menyebut halamanku palsu. Kamu akan mengakui di depan wartawan bahwa itu keliru. Bukan karena hukum. Karena itu tulisanku, dan kamu tahu itu."
Aditya memandangnya lama. Wilhelmina tidak bergerak. Handoko berhenti menulis.
"Apa yang kamu butuhkan dariku?" tanya Aditya.
Suaranya pelan, tapi di ruangan sunyi itu terdengar jelas seperti bunyi gelas dijatuhkan. Ia tidak berdiri. Ia tidak mendekat. Hanya bertanya, dan menunggu.
"Aku baru saja bilang."
"Itu syarat. Aku tanya yang kamu butuhkan." Ia menelan ludah. "Kalau ada yang lain."
Aurel menatapnya. Ada empat jawaban di ujung lidahnya, dan tiga di antaranya akan terdengar seperti permohonan yang ia belum siap ucapkan. Yang keempat paling kecil.
"Duduk di tempat yang aku bilang," katanya. "Bicara hanya waktu aku selesai. Dan jangan minta wartawan berhenti bertanya."
"Oke."
"Walaupun pertanyaannya bakal sakit."
"Walaupun begitu." Aditya mengangguk sekali. "Aku akan duduk di mana pun kamu minta."
Wilhelmina memalingkan wajah ke jendela. Tak seorang pun menyinggung matanya yang berkilat.
"Kalau begitu, hari sudah malam," kata Pak Handoko, menutup mapnya dengan bunyi lembut. "Kita siapkan naskah pernyataan besok, dan konferensi pers hari Sabtu pagi, supaya selesai sebelum bursa buka Senin."
---
Wilhelmina menahan lengan Aurel sebentar di dekat tangga, ketika yang lain masih sibuk dengan berkas. "Dia bertanya dua kali malam ini," bisiknya. "Mami hitung. Yang dulu, seumur hidupnya, Mami tidak pernah dengar ia bertanya."
"Satu kali sambal, satu kali apa yang kubutuhkan?"
"Kamu hitung juga," kata Wilhelmina, puas, dan melepaskannya.
Aurel melangkah ke lorong untuk mengambil mantel ketika langkah pelan menyusul di belakangnya.
"Rel."
Ia menoleh. Aditya berhenti dua meter darinya, sengaja, seperti menjaga garis yang tidak terlihat.
"Aku mau minta maaf ke Papa kamu," katanya. "Atas kontrak pasok. Atas bohong awalnya. Kalau boleh." Ia berhenti, meralat sendiri. "Aku tanya apakah boleh."
"Itu bukan aku yang menentukan."
"Aku tahu. Aku cuma bilang sebelum kamu dengar dari orang lain." Ia menarik napas. "Aku tidak akan datang ke rumah kalau tidak diizinkan."
Aurel memakai mantelnya dengan lambat, mengancingkan satu per satu. Di kaca lemari besar di dinding lorong, ia melihat dirinya dan dia, berdiri berjauhan, dengan jarak yang seharusnya masih terasa seperti jurang.
"Tanya Papa," katanya akhirnya. "Bukan aku."