Kevin mengeluarkan ponselnya dengan gerak lambat dan meletakkannya di tengah meja, layar menghadap Aurel.
Foto pertama adalah halaman buku yang ia kenal terlalu baik: kertas bergaris, tinta hitam, tulisan tangannya sendiri yang miring ke kanan kalau sedang marah. Di bagian atas tertulis KONTRAK PASOK SINAR KEMAS. Di bawahnya ada angka 4.760 dan 4.250, dua kali ia lingkari, lalu satu kalimat yang waktu itu ia tulis dengan pulpen ditekan terlalu keras: Aditya arahkan langsung. Papa tidak tahu. 12 persen.
"Bagus sekali catatanmu," kata Kevin. "Rapi, ada tanggal, ada angka. Orang media suka sekali yang begini."
Aurel tidak menyentuh ponsel itu. Ia hanya melihat. "Anda punya bukunya."
"Tidak di sini."
"Berarti Anda punya foto."
"Saya punya semua halamannya, Aurel. Dan kalau halaman ini terbit besok, apa yang akan orang baca?" Kevin menyatukan ujung jarinya, seperti orang berpikir keras di rapat dewan. "Pemasok kecil yang menikmati harga di atas pasar dari anak perusahaan menantunya. CEO yang menggelembungkan harga demi keluarga istri kontraknya. Arvanta akan senang sekali membaca itu. Dewan komisaris juga. Dan Papa kamu..." Ia menggeleng pelan. "Kasihan. Orang setua itu. Dengan utang."
Hanya itu yang ia butuhkan: kata utang, diucapkan dengan lembut.
Dada Aurel terasa dingin dan sangat jernih, seperti ruangan setelah jendela dibuka tengah malam. Ia tahu persis apa yang dilakukan kalimat itu pada Papa, pada Mama, pada tumpukan surat bank dalam map biru di kamarnya. Ia membiarkan kemarahan itu lewat satu kali, dari ubun-ubun sampai ujung kaki, lalu menaruhnya di tempat yang aman.
Dua puluh empat jam, katanya pada diri sendiri. Jangan jawab saat masih panas. Jawab dengan data.
"Silakan terbitkan," kata Aurel.
Kevin berkedip.
"Silakan terbitkan halaman itu. Dengan tanggalnya." Suaranya lurus, tidak keras, tidak bergetar. "Kontrak pasok itu diteken pada hari Kamis. Harga awalnya memang dua belas persen di atas pasar, dan itu salah. Saya yang menghitungnya, saya yang marah, dan saya yang menulis halaman itu. Lima hari sesudah tanda tangan, anak perusahaan mengeluarkan surat penyesuaian harga ke angka pasar, tertanggal, dengan nomor, sebelum satu dus pun dikirim. Tidak ada satu rupiah pun dibayar di atas harga pasar. Surat itu ada di arsip dua pihak."
"Kamu..."
"Halaman yang Anda punya bukan bukti penggelembungan. Itu bukti bahwa ada orang yang menemukan kesalahan, dan memperbaikinya sebelum ada kerugian." Aurel membuka botolnya sendiri di depan pelayan yang masih berdiri kaku, menuang setengah gelas, dan meminumnya. "Dan Anda harus siap menjawab dua pertanyaan dari semua wartawan yang menerimanya: dari mana Anda punya foto halaman pribadi seseorang, dan kenapa Anda tahu soal harga yang tidak pernah dipublikasikan siapa pun."
Wajah Kevin berubah. Bukan dengan cepat. Ia memudar, lapis demi lapis, dari bawah ke atas. Tangannya naik ke kerah, menarik, turun.
"Kamu pikir kamu siapa?"
"Aurel."
"KAMU PIKIR KAMU SIAPA?" Suaranya meledak, dan beberapa kepala di meja lain menoleh. Seorang pelayan berhenti di tengah ruangan dengan nampan. "Saya yang memberi kamu kesempatan! Dua tahun, saya tunggu! Seharusnya kamu berterima kasih saya bersedia menolong setelah semua yang..."
Ia berhenti. Napasnya naik turun. Sadar bahwa seluruh restoran sedang menatap, ia menurunkan dagu dan merapikan jasnya dengan dua tangan, kembali ke wajah yang lama dengan usaha yang terlihat jelas dari luar.
Aurel berdiri. Ia mengambil botol airnya yang tinggal separuh, memasukkan ponselnya ke saku tanpa melirik layarnya, dan menyampirkan tas di bahu.
"Terima kasih atas airnya, Kevin." Ia tidak lagi menambahkan Pak. "Dan atas pengakuannya."
"Pengakuan apa?"
"Saya selalu mencatat," kata Aurel. "Anda yang bilang itu kebiasaan yang rajin."
Ia berjalan keluar tanpa menoleh, melewati meja demi meja, dan tidak sekali pun mengetukkan pulpen.
---
Rian sudah berdiri sebelum Aurel sampai di lobi. Ia tidak bertanya apa-apa, dan itu yang paling Aurel syukuri. Ia hanya mengikuti dua langkah di belakang sampai pintu lift basement menutup di depan mereka.
Di dalam lift itu, tangan kanan Aurel mulai bergetar.
Awalnya halus, seperti tremor di ujung jari. Lalu naik ke pergelangan, ke siku, ke bahu, dan ia menahan tas dengan tangan kiri sambil memandang angka lantai yang turun terlalu lambat. Gigi-giginya terkatup, dan ia baru sadar ia menahan napas sejak Kevin menyebut kata utang.
"Nona." Rian bicara pelan ke dinding lift. "Kuncinya, boleh saya yang pegang?"
"Rian..."
"Hanya kuncinya, Nona."
Aurel menyerahkan kunci mobil. Rian membuka pintu mobil di basement, membiarkan ia duduk di belakang, lalu mengunci semua pintu dan menyalakan mesin tanpa melaju. AC mengembuskan udara dingin dan berbau karet jok.
"Rekamannya," kata Aurel, serak. "Cek, Rian. Sekarang."
Ia menyerahkan ponsel. Rian menyambungkannya ke earphone dan mengangkat satu sisi ke telinganya. Wajahnya tidak berubah selama satu menit penuh. Pada menit kedua, rahangnya mengeras. Pada menit kelima, ia memejamkan mata sebentar, membukanya, dan menatap Aurel lewat spion tengah.
"Sembilan menit empat puluh detik, Nona. Jelas. Tiga perantara. Nama Bram Satria. Dan motif, dalam kalimat beliau sendiri. Tujuh kali tangannya naik ke kerah. Saya hitung."
"Saya hitung sembilan."
"Sembilan, Nona." Rian mengakui dengan hormat.
"Bagus."
"Nona baik-baik saja?"
"Tidak." Aurel tertawa dan tawa itu pecah di tengah. "Tapi bagus."
"Papa minta aku pulang sebelum jam lima dan bilang langsung," katanya. "Antar aku ke rumah dulu. Setengah jam, cukup."
"Baik, Nona."
"Dan Rian. Rekaman ini nggak diputar buat siapa pun sebelum malam ini. Bukan Aditya. Bukan Mami. Semuanya dengar bareng-bareng."
"Siap." Rian ragu. "Nona yakin?"
"Dia sudah belajar bertanya. Aku juga mau belajar memberi tahu bareng-bareng, bukan satu-satu."
Ia membuka pesan dengan jari yang masih bergetar dan mengetik satu kalimat demi satu, pelan, supaya tidak ada yang salah ketik.
Aku sudah selesai. Dia mengaku, dan aku rekam. Aku baik-baik saja. Malam ini aku mau memutar rekamannya di rumah Mami. Kamu ada di sana?
Kali ini balasan datang dalam kurang dari semenit.
Mama sudah menyuruh dapur menyiapkan makan malam untuk lima orang. Aku ada. Kami semua tunggu.