Ruang rehat itu masih ada di lorong yang sama, dan pintunya sekarang terbuka sedikit, dengan tanda kuning bertuliskan SEDANG DIBERSIHKAN di depannya.
Aurel berhenti satu langkah di depannya. Dari celah itu terlihat sofa panjang, meja rendah, vas bunga besar. Di sudut atas dinding, kotak hitam kecil menghadap ke bawah dengan lampu merah mati. Lima hari lalu ia melempar tas ke sofa itu dan tidak menoleh. Sekarang ia melihat dirinya sendiri, di dalam kepalanya, dari sudut yang tidak pernah ia sangka.
"Nona." Rian berdiri di sisinya, suaranya dibuat sebiasa mungkin. "Pukul tiga kurang dua menit."
"Aku tahu."
"Saya duduk di lobi, di kursi dekat air mancur. Dari sana lurus ke restoran, tidak terhalang."
"Aku ketuk pulpen dua kali, kamu naik."
"Satu kali?"
"Satu kali berarti aku baik-baik saja dan kamu cuma boleh minum kopi."
Rian menarik napas, lalu menatap Aurel dengan sesuatu yang mirip kakak. "Nona. Pak Aditya berpesan satu hal tadi pagi. Saya sampaikan sekarang saja."
"Apa?"
"Beliau bilang, 'Dia lebih berani dari yang pernah kubayangkan, jadi jangan kamu yang takut untuknya.'" Rian berdeham. "Saya mengutip persis."
Aurel menggigit bagian dalam bibirnya. "Oke."
Ia berbelok ke restoran.
---
Kevin sudah menunggu di meja dekat jendela, dengan kemeja biru muda yang dibuka kancing atasnya dan senyum yang dikerjakan lama di depan cermin.
"Aurel." Ia berdiri, tidak mengulurkan tangan, dan itu satu-satunya hal yang Aurel hargai darinya hari ini. "Terima kasih sudah datang. Saya tidak yakin kamu mau."
"Pak Kevin."
"Kevin saja. Kita kan sudah saling kenal."
"Pak Kevin," ulang Aurel, dan duduk. Ia menaruh ponselnya di meja, menghadap ke bawah, di sebelah botol air mineral yang masih tersegel. Pelayan datang, dan sebelum Kevin sempat menyebut apa pun, Aurel berkata, "Air putih saja. Dalam botol yang dibuka di depan saya."
Pelayan itu mengangguk dan pergi. Kevin tertawa kecil, memperhatikan botol itu seperti memperhatikan mainan yang lucu.
"Kamu hati-hati sekali."
"Kata orang tua saya."
"Orang tua yang bijak." Kevin bersandar. Matanya hangat, dan itulah yang paling mengganggu: ia tidak terlihat seperti orang jahat. Ia terlihat seperti orang yang sangat ingin dipercaya. "Saya tidak akan basa-basi, Aurel. Berita itu menyakitkan. Saya tahu rasanya. Saya sudah lama di industri ini, dan saya tahu bagaimana cara menenangkan badai seperti itu."
"Caranya?"
"Pertama, kita ganti narasi. Saya punya teman di tiga redaksi. Mereka bisa menerbitkan sisi lain: kamu korban pencurian privasi, bukan penipu. Kedua, kamu muncul di sebuah proyek besar yang positif." Ia merentangkan tangan, ramah. "Hotel saya sedang mencari wajah. Satu tahun, bayaran tiga kali lipat dari yang Lunara tawarkan."
"Saya sudah dengar tawaran itu di kantor."
"Kali ini berbeda. Kali ini saya yang menolong kamu, bukan kamu yang melamar saya." Ia memutar gelasnya setengah putaran. "Dan saya juga bisa membantu keluarga kamu. Sinar Kemas itu usaha yang bagus. Sayang kalau pelanggannya, mitranya, mulai ragu."
Aurel tidak menjawab dulu. Ia menghitung dalam hati: nama itu tidak pernah ia sebut di depan Kevin. Ia sudah mencatat hal itu sejak Kevin menyebutnya ringan di kantor Aditya, dan sekarang catatan itu kembali padanya seperti anak panah yang pulang ke busurnya.
"Saya tidak pernah menyebut nama usaha Papa kepada Anda," katanya.
"Semua orang tahu, Aurel. Ini kota kecil."
"Ini kota dua belas juta orang."
Kevin hanya tersenyum, dan tangan kanannya naik ke kerah, sekilas.
Senyum itu terlalu halus, dan Aurel merasakan tengkuknya menegang. "Bagaimana Anda tahu halaman buku saya asli?"
Kevin berhenti setengah detik. Tangan kanannya bergerak ke arah kerah kemejanya dan merapikan sesuatu yang tidak kusut.
"Semua orang tahu itu asli, Aurel."
"Foto yang beredar tidak ada watermark, tidak ada tanda dari mana asalnya. Anda yakin sekali."
"Itu dari sumber anonim yang..."
Tangannya naik lagi. Kali ini ke sisi leher, menyentuh kerah, turun. Tiga.
Aurel tidak menatap tangan itu. Ia menatap matanya dan membiarkan pulpen retak di pangkuannya diam. "Sumber anonim yang sampai ke redaksi dalam kurang dari dua belas jam setelah buku itu hilang."
"Kebetulan yang bagus."
"Saya tidak percaya kebetulan."
"Aurel." Kevin tertawa lagi, tetapi tawanya terdengar seperti pintu yang digeser dari luar. "Kamu terlalu banyak membaca. Kamu bukan detektif."
"Saya selalu mencatat, Pak Kevin. Anda pernah memuji kebiasaan itu."
Kevin menatapnya lama. Senyumnya tidak hilang, tetapi bergeser, dan di bawahnya muncul sesuatu yang lebih dingin dan lebih jujur. Ia mengambil gelas airnya sendiri, minum, dan menaruhnya dengan sangat pelan.
"Kamu tahu apa yang paling saya kagumi dari kamu?" katanya. "Kamu tidak pernah panik. Skandal itu, kontrak yang batal, utang keluarga, semuanya. Kamu datang ke meja bos besar dengan kepala tegak. Saya selalu bilang pada diri sendiri: orang seperti itu tidak akan runtuh. Dia hanya akan minta tolong pada waktunya."
Aurel menahan napas. "Skandal itu?"
"Skandal yang pertama, berbulan-bulan lalu. Yang dengan..." Kevin mengibaskan tangan. "Bram Satria, ya. Namanya saya pilih sendiri. Mereka bilang itu mudah. Padahal membuat satu nama naik ke atas tidak semudah itu, kamu tidak tahu betapa banyak orang yang harus dibayar, tiga perantara supaya tidak ketahuan, akun-akun yang harus..."
Ia berhenti.
Tangan kanannya sudah di kerah, sekarang menarik, dan wajahnya yang setengah detik lalu penuh percaya diri, sekarang kosong seperti layar yang mati sendiri.
Aurel tidak bergerak. Di bawah meja, ibu jarinya menekan layar ponsel di pangkuannya dan merasakan getar halus yang menandakan ia masih merekam.
"Mengatur?" katanya, sangat pelan.
Kevin mencondongkan badan ke depan. Ia tidak terlihat panik. Ia terlihat seperti seorang laki-laki yang baru saja memutuskan ia tidak lagi perlu menyembunyikan apa-apa.
"Aurel, saya akan jujur," katanya. "Karena saya rasa kamu sudah tahu."
Aurel menunggu.
"Dua tahun lalu saya menawarkan kamu menjadi wajah hotel saya. Satu tahun. Bayaran terbaik di pasar." Suaranya sangat tenang. "Agensi kamu menolaknya lewat satu email tiga baris. Tanpa memberi tahu kamu. Saya baca email itu, dan saya pikir: kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan tanpa saya."
"Anda mengatur skandal itu."
"Saya tidak mengatur apa-apa. Saya hanya membuat satu keadaan." Ia tersenyum, kecil. "Dan menunggu kamu datang meminta tolong. Semua orang datang pada akhirnya."
"Tapi saya tidak datang kepada Anda."
"Kamu datang kepada Aditya." Mata Kevin berkilat sekali, lalu padam. "Itu yang tidak saya hitung. Dan sekarang bagian yang kamu tidak akan suka."