Matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi Jakarta. Langit berubah menjadi semburat jingga keunguan yang lembut. Angin sore berembus pelan, menerpa halaman belakang penthouse yang cukup luas dan asri.
Aurel keluar dari dalam rumah sambil membawa dua kantong belanja yang terlihat penuh.
“Pak Budi!”
Suaranya yang ceria dan nyaring langsung menggema ke seluruh halaman.
Pak Budi yang sedang sibuk menyapu daun kering menoleh dengan senyum.
“Iya, Nona?”
“Taruh dulu sapunya sebentar ya.”
“Lho, ada apa?”
“Malam ini kita pesta kecil-kecilan!”
Pak Budi mengernyitkan dahi sedikit bingung.
“Pesta? Tiba-tiba saja?”
Aurel mengangkat kedua kantong belanja itu lebih tinggi agar terlihat jelas.
“Kita bakar-bakar makanan! Barbecue!”
Pak Budi tertawa kecil mendengar semangatnya.
“Wah, ide yang bagus sekali.”
“Iya dong. Besok kan hari Sabtu, aku libur kerja. Dan Pak Budi juga besok tidak perlu mengantar Tuan ke rapat pagi, bukan?”
Pak Budi mengangguk setuju.
“Memang benar jadwalnya kosong besok.”
“Nah, berarti malam ini kita bisa bersenang-senang bersama tanpa terburu-buru.”
Saat itu Mbak Sari keluar dari dapur sambil membawa sebuah baskom besar.
“Nona belanja apa saja sampai sebanyak itu?”
Aurel segera membuka kantong plastiknya satu per satu.
“Ada daging sapi, sosis, jagung manis, udang segar, dan juga marshmallow untuk pencuci mulut nanti.”
Mbak Sari membelalakkan matanya melihat isinya.
“Ya ampun, banyak sekali pilihannya.”
Aurel hanya tertawa lepas.
“Sekali-sekali saja, Mbak. Rumah ini terasa terlalu sunyi kalau hanya diisi kesunyian saja setiap harinya.”
Tak lama kemudian, Pak Darto yang baru saja selesai memeriksa peralatan kebun turut mendekat.“Wah, rasanya akan sangat seru sekali malam ini.”
Aurel langsung menunjuknya dengan antusias.“Bagus! Kalau begitu tugas Pak Darto adalah menyalakan dan mengatur arangnya agar tetap menyala dengan baik.”
“Siap, Nona!”
“Dan Pak Budi…”
“Iya, Nona?”
“Tugasnya membakar jagung sampai matang sempurna dan manis rasanya.”
Pak Budi memberi isyarat hormat dengan gaya santai.
“Siap dilaksanakan, Bos!”
Semua orang langsung tertawa mendengar tingkahnya.
Mbak Sari ikut tersenyum lalu bertanya, “Kalau saya, Nona, tugasnya apa?”
Aurel berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Mbak siapkan es buah yang banyak ya. Nanti pasti akan terasa haus setelah makan makanan yang dibakar.”
“Baiklah, saya segera menyiapkannya.”
Dalam hitungan menit saja, suasana di halaman belakang mulai terasa ramai dan hangat. Pak Darto sibuk meniup bara api agar cepat menyala.
“Pak…” panggil Aurel sambil menahan tawa.
“Iya, Nona?”
“Asapnya malah mengarah ke wajahmu terus, hati-hati ya.”
Pak Darto terbatuk-batuk kecil karena menghirup asap.
“Arangnya rasanya keras sekali mau menyala.”
Pak Budi langsung menyela sambil menggoda.
“Bukan arangnya yang keras, tapi orang yang meniupnya mungkin kurang ganteng sehingga tidak kunjung menyala.”
“Eh, bisa saja bicaramu itu!” seru Pak Darto sambil tertawa.
Semua orang kembali tertawa mendengar candaan itu.
Tak lama kemudian, Mbak Sari keluar lagi membawa mangkuk besar berisi berbagai buah segar.
“Nona, mangganya saya potong kecil atau besar saja?”
“Potong kecil saja ya, Mbak. Biar terlihat lebih rapi dan cantik saat disajikan.”
Pak Budi kembali menyela dengan suara santai.
“Kalau dipotong besar apakah rasanya jadi tidak cantik lagi?”
Aurel mengangkat alisnya sambil tersenyum menggoda.
“Pak Budi… jangan cari masalah ya malam ini.”
Pak Budi langsung berpura-pura takut dan menunduk hormat.
“Siap, tidak akan mengulanginya lagi!”
Suasana semakin meriah dengan tawa yang terus terdengar.
Kemudian Aurel mulai menusukkan potongan daging dan sosis ke tusukan sate satu per satu. Tangannya bergerak dengan cepat dan terampil.
Mbak Sari memperhatikan dengan kagum.
“Sepertinya Nona sudah terbiasa melakukan hal ini ya?”
“Iya. Kalau di rumah Mama dulu, saya sering diminta bantuan untuk menyiapkan sate saat ada acara keluarga.”
Pak Darto tertawa mendengarnya.
“Kirain orang yang bekerja di dunia hiburan tidak pernah memegang peralatan dapur sama sekali.”
Aurel hanya tersenyum.
“Artis juga manusia biasa, Pak. Semua hal bisa dipelajari jika mau berusaha.”
“Benar sekali pendapatmu itu.”
Pak Budi mengambil satu tusukan sate yang sudah dibumbui.
“Nona, bumbunya diberi banyak sekali ya?”
“Supaya rasanya lebih meresap dan terasa nikmat. Kalau rasanya kurang pedas dan kurang kuat, rasanya hidup terasa kurang menantang, bukan?”
Pak Budi langsung mengacungkan jempolnya.
“Setuju sekali dengan pendapat itu!”
Mereka terus mengobrol sambil bekerja, hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Lampu taman mulai menyala, memancarkan cahaya yang lembut dan hangat di sekeliling halaman.
Di sisi lain, sebuah mobil hitam melaju perlahan masuk ke dalam area garasi penthouse. Aditya turun dari mobil sambil tetap menatap layar laptop tipis yang ada di tangannya, jemarinya terus mengetik cepat.
Rian, sopir sekaligus asistennya, hanya tersenyum kecil melihat keadaan.
“Tuan, sepertinya suasana di rumah terasa lebih ramai dari biasanya malam ini.”
Aditya hanya menjawab singkat tanpa mengangkat kepala.
“Hm.”
Begitu pintu utama terbuka, biasanya yang menyambutnya hanyalah keheningan yang sunyi. Namun malam itu, suara tawa dan canda langsung terdengar jelas dari arah belakang rumah.
“Hahaha! Pak Budi, jagungnya hampir gosong itu!”
“Lho, siapa suruh mengajak ngobrol terus jadi lupa membaliknya!”
“Hati-hati bara apinya!”
“Nona, jangan sering-sering mencicipinya nanti perutnya kenyang duluan sebelum matang sempurna!”
Aditya berhenti melangkah sejenak. Ia menoleh ke arah halaman belakang. Aroma harum daging yang sedang dibakar langsung tercium kuat, disertai asap tipis yang mengepul perlahan. Cahaya lampu taman yang hangat membuat suasana terasa begitu berbeda.
Di sana terlihat Aurel berdiri tepat di depan alat pemanggang, mengenakan celemek bermotif bunga yang terlihat lucu namun rapi. Pipinya sedikit kotor terkena debu arang, namun ia justru tertawa lepas tanpa rasa sungkan. Pak Budi sibuk membolak-balik jagung, Pak Darto masih mengatur api agar tetap menyala sempurna, sedangkan Mbak Sari sedang menuang es buah ke dalam gelas-gelas besar.
Pemandangan yang belum pernah dilihat Aditya sebelumnya selama tinggal di tempat ini.
Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan dan tanpa suara. Belum sempat menyapa, Aurel sudah lebih dulu melihat kehadirannya.
“Nah! Akhirnya orang sibuk juga pulang!”
Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Pak Budi segera berdiri tegak dan memberi hormat.
“Selamat malam, Tuan.”
Mbak Sari juga ikut membungkuk sopan.
“Selamat malam, Tuan.”
Aditya hanya mengangguk pelan sebagai balasan.
“Malam.”
Tatapannya kembali tertuju pada layar laptopnya, sementara tangannya masih terus sibuk mengetik pesan.
Aurel memandangnya selama beberapa detik, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang.
“Kamu masih terus bekerja saja?”
“Sedang ada rapat daring. Sebentar lagi selesai.”
“Baiklah kalau begitu, silakan lanjutkan dulu. Nanti saja jika sudah selesai.”
Aurel kembali ke tempat pemanggangan. Namun di sampingnya, Pak Budi berbisik pelan agar hanya didengar olehnya.
“Nona… kasihan juga Tuan.”
“Kenapa memangnya?”
“Beliau memang selalu sibuk bekerja setiap hari, jarang sekali terlihat benar-benar beristirahat.”
Aurel melirik sekilas ke arah Aditya yang masih berdiri tegak sambil memegang laptop, matanya tetap fokus seolah tidak mengenal lelah. Ia mengembuskan napas panjang sambil berbicara dalam hati.
“Ya ampun… orang ini tidak merasa lelah sama sekali ya bekerja terus seperti itu?”
Beberapa menit kemudian, suasana menjadi semakin nyaman. Semua makanan sudah mulai mengeluarkan aroma yang sangat menggugah selera. Namun Aditya masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak sedikit pun dari depan layar laptopnya.
Aurel akhirnya mengambil keputusan. Ia berjalan kembali mendekat, lalu dengan gerakan lembut namun tegas, ia menutup perlahan layar laptop yang ada di tangan Aditya.
Tindakan itu membuat suasana seketika menjadi hening. Semua orang tertegun dan menahan napas. Mereka mengira bos mereka akan marah besar karena pekerjaannya terganggu secara tiba-tiba.
Aditya menatap Aurel dengan tatapan yang cukup tajam, namun tidak ada kemarahan yang terlihat jelas.
“Kenapa ditutup?”
Aurel menatap matanya dengan tenang dan tetap tersenyum lembut.
“Karena sudah waktunya beristirahat dan menikmati makanan. Bekerja terus tanpa henti itu tidak baik untuk kesehatan, apalagi kalau perut belum terisi sama sekali.”
“Masih ada hal yang harus diselesaikan malam ini juga.”
“Pekerjaan itu tidak akan selesai dalam satu malam. Besok pagi masih ada waktu untuk melanjutkannya dengan pikiran yang lebih segar. Sekarang, ayo duduk dan makan bersama kami.”
Suasana masih terasa sedikit tegang. Pak Budi, Mbak Sari, dan Pak Darto hanya bisa saling pandang, takut jika Tuan mereka benar-benar tersinggung.
Namun seketika, raut wajah Aditya perlahan melunak. Tatapannya yang tadinya tegas kini berubah menjadi lebih lembut. Ia melihat sekelilingnya, melihat tawa dan kehangatan yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Aditya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis — senyum yang jarang sekali terlihat oleh orang lain.
“Baiklah. Kali ini aku menuruti perkataanmu.”
Semua orang langsung merasa lega, bahkan terkejut melihat perubahan sikapnya.
“Terima kasih,” ucap Aurel dengan senyum yang semakin lebar.
Aditya duduk di kursi yang disiapkan, sementara Aurel segera menyajikan beberapa potong daging yang sudah matang sempurna ke piringnya.
“Cobalah rasanya dulu. Kalau kurang bumbu atau kurang matang, bilang saja ya.”
Aditya mengambil sepotong sate, lalu mencobanya perlahan. Rasa yang meresap sempurna, dipadu dengan kehangatan suasana di sekitarnya, membuatnya merasa jauh lebih baik daripada hanya duduk sendirian di ruang kerjanya.
“Rasanya sangat enak,” ucapnya dengan nada tulus.
Mendengar pujian itu, suasana kembali menjadi riang seperti semula. Mereka mengobrol dengan santai, berbagi cerita, dan menikmati hidangan yang tersaji.
Malam itu menjadi awal yang baru bagi Aditya. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kesuksesan dan pekerjaan yang selesai tepat waktu, melainkan juga dari kebersamaan sederhana dan suasana yang hangat seperti ini.
Dan di sanalah, Aurel mulai menyadari bahwa perlahan namun pasti, ia mampu mengubah kebiasaan lama yang selama ini membuat Aditya hidup terlalu kaku dan jauh dari rasa nyaman.