Rumah Karina berbau kertas kalkir dan kopi, dan hal pertama yang Aurel lihat di ruang tamunya adalah sebuah maket gedung setinggi pinggang yang atapnya terbuka seperti kotak sepatu.
"Jangan sentuh yang itu," kata Karina dari balik rak. "Itu sepuluh malam tanpa tidur."
"Aku nggak sentuh."
"Eva sudah." Karina menunjuk dengan dagu. Eva berdiri kaku di dekat maket dengan satu jari terangkat, dan jarinya sedikit menekuk. "Dia cuma menyentuh pohon plastiknya. Pohonnya baik-baik saja."
"Sorry, Mbak," bisik Eva.
Karina akhirnya keluar dari rak sambil membawa nampan berisi lima cangkir dan sepiring roti bakar, rambut dikuncir asal, kaus lusuh bertuliskan nama kantor konsultan yang sudah bangkrut empat tahun lalu. Ia terlihat jauh lebih manusiawi daripada di rapat desain Jogja, dan jauh lebih sulit untuk dicemburui.
"Rel." Ia meletakkan nampan, menatap Aurel langsung. "Aku baca berita kamu tiga kali. Aku nggak akan bilang aku paham. Aku cuma bilang pintuku terbuka, dan Adit nggak tahu kamu di sini."
"Rian nggak melapor?"
"Beliau bertanya, Nona, dan saya tidak menjawab." Rian duduk di kursi dekat jendela dengan tablet di pangkuan dan kemeja yang kali ini lebih rapi. "Dan saya tidak punya alasan menyebut alamat ini."
"Bertanya?" Maya, di ujung meja panjang dengan papan tulis lipat di sampingnya, menaikkan alis. "Dua kali dia menanyakan lokasi kita, Rian."
"Dua kali. Dan dua kali saya bilang, 'Nona Aurel yang memilih tempat'." Rian menunduk sedikit. "Beliau menjawab, 'Oke.'"
Semua orang di meja menatap Aurel. Ia mengambil roti bakar dan menggigitnya dengan serius, agar tidak ada yang melihat ekspresinya.
"Dia telepon aku semalam," tambah Karina, lebih pelan. "Cuma bilang, kalau Aurel butuh tempat yang sunyi buat mikir, rumahku paling cocok. Aku bilang iya. Dia nggak nanya kamu bakal datang atau nggak. Dia langsung tutup teleponnya."
---
Maya mengangkat spidol, dan papan tulis lipat itu berubah jadi medan perang.
"Lima prinsip," katanya. "Semua pelajaran yang Mbak Aurel pakai di rapat Arvanta, saya catat satu-satu waktu itu." Ia menulis angka satu di papan. "Satu, nilai: apa yang Mbak mau jaga. Dua, alternatif: kalau pembicaraan gagal, apa langkah berikutnya. Tiga, batas: kalimat yang tidak akan Mbak ucapkan. Empat, rekam: hanya yang Mbak ikuti sendiri. Lima, jangan memutuskan di bawah tekanan."
"Aku tambahin satu," kata Karina, mengangkat tangan seperti murid. "Enam. Jangan makan apa pun."
"Itu dari Papa," kata Aurel.
"Papa kamu pintar."
Maya menulis angka enam tanpa mengubah wajah. "Kita latihan. Eva, kamu Kevin."
"GUE?" Eva menunjuk dadanya sendiri. "Gue nggak bisa jadi cowok. Gue nggak punya jakun."
"Pakai suara berat saja."
"Kenapa gue? Lira aja."
"Lira jadi pelayan," kata Aurel.
"Gue pelayan?" Lira, yang sedang mengunyah roti, mengangkat tangan dengan khidmat. "Gue terima. Gue pelayan berbakat."
Eva berdiri di depan papan tulis, merapikan jaketnya dengan dua tangan, memajukan dada, dan membuka mulut. Suaranya turun sampai terdengar seperti orang yang menelan sepotong batu.
"Aurel," katanya. "Saya senang sekali kamu datang."
Karina menutup mulut dengan telapak tangan. Rian membuang muka ke jendela, bahunya bergetar.
"Va, itu bukan Kevin. Itu Batman."
"Gue sedang berakting!"
"Ulang," kata Maya. "Dengan lebih sedikit Batman."
"Saya senang," ulang Eva dengan nada Batman yang lebih lembut, "kamu masih mau percaya sama saya."
Tawa itu hilang dari wajah Aurel dalam satu detik. Ruangan ikut mengheningkan diri.
"Lanjut," katanya. "Aku jawab: 'Terima kasih sudah mengajak.' Terus apa?"
Eva menurunkan bahu, dan di tengah candaannya matanya berubah tajam. "Saya bisa bantu membersihkan namamu. Saya punya kenalan di media. Saya hanya minta satu hal."
"Apa?"
"Kamu jadi wajah hotel saya. Satu tahun."
Aurel menjawab dengan tenang: ia tidak datang untuk membahas kontrak kerja, ia datang karena ada pencurian. Jawabannya dua kalimat lebih panjang dari yang perlu, dan Maya mengetuk papan dengan ujung spidol.
"Terlalu panjang, Mbak. Orang yang jujur menjawab pendek. Orang yang menjelaskan banyak itu terdengar sedang menawar."
"Aku nggak menawar."
"Kevin yang akan mendengarnya begitu."
Aurel mengulang. Kali ini hanya satu kalimat. Eva menyerang lagi dari sudut lain. Maya mencatat di papan, memberi nilai, mencoret, menuliskan kalimat tandingan. Lira masuk sebagai pelayan membawa air dan membuat semua orang kehilangan fokus karena ia benar-benar membawa nampan dan menaruh serbet di pangkuan Eva seperti orang hotel sungguhan.
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah punya empat kalimat batas, dua jalan keluar, dan satu sandi: kalau Aurel mengetuk pulpen dua kali, Rian di lobi boleh naik.
---
Karina baru bicara ketika semua orang sudah sibuk dengan roti dan teh kedua.
"Rel. Boleh aku cerita sesuatu yang bukan hiburan?"
Aurel mengangguk. Ruangan mengecil dengan sendirinya.
"Aku kerja dengan Kevin hampir dua tahun. Proyek hotel butik di Bali, sebelum Jogja." Karina memutar cangkirnya tanpa meminum. "Selama itu aku lihat pola yang aku nggak sadar waktu itu. Ada dua orang yang pernah menolak ajakan bisnisnya. Satu desainer interior, perempuan. Satu konsultan pemasaran, laki-laki. Dua-duanya kehilangan proyek dalam tiga bulan sesudahnya. Dua-duanya mulai dibicarakan orang. Katanya mereka nggak profesional, nggak bisa dipercaya."
"Kamu pikir ini ulah Kevin?"
"Aku nggak punya bukti." Karina menatap Aurel. "Aku cuma punya satu hal: Kevin kalau bohong, tangannya menyentuh kerah. Setiap kali. Dua tahun aku mencatatnya tanpa sadar. Dia bilang 'saya nggak tahu soal itu', tangannya naik. Dia bilang 'kontraknya sudah beres', tangannya naik."
Maya sudah menulis sesuatu di papan, kecil: KERAH. Rian menunduk, dan Aurel tahu ia sedang menghafal.
"Dan satu lagi," lanjut Karina, lebih pelan. "Waktu aku mau pindah ke Surabaya, dia bilang sesuatu yang waktu itu kupikir lelucon. 'Orang yang menolak saya selalu datang sendiri pada akhirnya.'"
Tidak ada yang bergerak. Eva berhenti mengunyah. Lira menaruh cangkirnya tanpa bunyi.
"Dia nggak bercanda," kata Aurel.
"Aku baru sadar kemarin malam."
"Dua orang itu sekarang di mana?" tanya Aurel.
"Satu pindah ke Yogyakarta dan berhenti menerima klien. Satu lagi nggak mau kuhubungi." Karina menelan ludah. "Mereka datang sendiri waktu itu, kurasa. Dan nggak ada yang merekam."
Aurel memandang spidol Maya, papan tulis, wajah-wajah di sekeliling meja. Tangan kanannya meremas pulpen perak yang ia pinjam dari Papa, dan pulpen itu retak halus di badannya dengan bunyi kecil yang hanya ia sendiri dengar.
"Kalau begitu," katanya, "aku datang sendiri. Sesuai keinginannya."