"Terima kasih," kata Lira, membaca layar ponsel Aurel yang dipegangnya di atas kepala seperti membaca kitab suci. "Bagus. Singkat. Netral. Tidak menjanjikan apa-apa."
"Terlalu dingin," tolak Eva dari ujung kasur. "Dia nulis surat tiga paragraf pakai tangan. Lo balas 'terima kasih' kayak ke kurir."
"Terus apa?"
"'Terima kasih. Aku udah baca.' Naikin satu tingkat."
"'Terima kasih. Aku sudah baca. Aku belum tahu.'"
"Itu jujur."
"Itu bikin dia nggak tidur lagi."
"Dia emang nggak tidur, Va. Rian bilang pulpennya habis dua."
Aurel merebut ponsel itu dari tangan Lira dan menelungkupkannya di atas bantal. Kamar lamanya sore itu penuh: Eva dengan kaki naik ke tembok, Lira bersila dengan laptop, dan tiga gelas es teh yang sudah tinggal es. Sudah tiga jam mereka di sini dan belum sekalipun membahas hal yang paling mereka pikirkan.
"Gue nggak mau balas," kata Aurel. "Belum."
"Kenapa?"
"Karena kalau gue balas sekarang, itu buat bikin dia tenang. Bukan buat gue."
Lira dan Eva saling pandang, dan keduanya diam, dan itu langka.
Ponsel di bawah bantal bergetar.
Satu kali. Dua kali.
Aurel menariknya keluar. Nomor tanpa nama di layar, tapi ia menghafal tiga digit terakhir dari grup proyek Jogja yang pernah ia ikuti, dan sebelum ia membuka pesannya, perutnya sudah memberi tahu siapa.
Aurel, ini Kevin. Saya turut prihatin atas semua yang terjadi. Saya merasa punya tanggung jawab untuk membantu kamu. Ada beberapa hal yang bisa saya lakukan untuk membersihkan namamu, tapi tidak bisa lewat telepon atau pesan. Besok pukul tiga, restoran hotel tempat gala Sabtu lalu. Datang sendiri ya, supaya nyaman bicara. Saya tunggu.
Eva sudah bangun dari kasur sebelum Aurel selesai membaca. Lira merebut ponsel dan membaca lebih keras daripada yang perlu.
"'Datang sendiri ya, supaya nyaman bicara.'" Lira mengangkat kepala. "Rel. Itu pesan penculik di film tahun sembilan puluhan."
"Dia punya nomor lo dari mana?"
"Grup proyek Jogja. Semua mitra ada di sana."
"Lo nggak boleh datang," kata Eva tegas. "Titik."
"Gue datang."
"REL."
"Va." Aurel menurunkan suaranya sampai nyaris berbisik, tapi isinya tidak turun. "Gue lihat rekaman itu pagi tadi. Dia ambil tas gue dengan dua jari. Gue nggak bisa terus-terusan nunggu bukti dateng ke gue. Dia yang ngajak ketemu. Dia yang bikin sendiri bukti-buktinya."
"Lo nggak tahu dia bakal ngapain."
"Gue tahu sebagian." Aurel mengeluarkan serbet kertas yang tadi ia pegang sepanjang pagi, sudah lecek: tiga baris bernomor, lalu satu coretan baru yang ia tambahkan dengan pulpen Papa. "Tempat umum, ramai, restoran hotel dengan CCTV sendiri. Gue yang rekam, karena gue pihak dalam percakapan, jadi sah. Rian jaga di lobi. Dan gue nggak sendirian, karena kalian."
"Kita jaga di mana?" tanya Lira, pelan.
"Di rumah Karina, besok pagi. Kita susun dulu."
Eva mendesah panjang seperti balon yang bocor. "Gue benci banget kalau lo udah ngomong pakai poin-poin."
"Poin keempat," kata Aurel. "Kalau gue telat lebih dari lima belas menit tanpa kabar, lo telepon Rian, bukan polisi, bukan Aditya. Rian."
"Kenapa bukan Aditya?" tanya Lira.
"Karena Aditya bakal datang dengan tiga mobil dan dua pengacara. Dan gue nggak mau Kevin ngerasa menang."
Lira mengetik sesuatu di laptopnya dengan wajah serius, lalu memutar layar ke arah Aurel. Judul dokumen: RENCANA GAGAL KEVIN (VERSI 1). Butir pertama: Eva pura-pura jadi pelayan. Aurel menarik napas dalam-dalam untuk tidak tertawa dan gagal.
---
Papa hanya meletakkan sendok ketika mendengarnya di meja makan.
"Besok pukul tiga," ulangnya. "Di hotel itu."
"Papa, di tempat umum. Ada Rian, ada rekaman..."
"Papa dengar." Ia mengambil sambal dan tidak memakainya. "Mama kamu duduk, jangan berdiri."
Mama sudah setengah berdiri dengan sendok sayur di tangan. Ia duduk lagi, tapi wajahnya masih seperti mau melompat. "Kamu mau ketemu orang yang mencuri buku kamu, sendirian, dan Mama disuruh duduk makan lodeh?"
"Ma, Aurel nggak sendirian."
"Hm." Papa menatap kuah lodeh, lalu putrinya. "Papa nggak akan melarang. Papa pernah lihat apa jadinya kalau Papa melarang orang yang sudah memutuskan." Ia meneguk air. "Tapi Papa mau satu hal. Kamu pulang sebelum jam lima dan bilang ke Papa langsung. Bukan lewat pesan."
"Siap, Pa."
"Dan jangan makan apa pun dari tangan orang itu."
"Pa, itu restoran."
"Jangan makan." Papa menusuk kembali sendoknya ke nasi dengan ketenangan seorang laki-laki yang sudah memutuskan. "Atau kalau terpaksa, minta Eva coba duluan."
Eva, yang duduk di seberang dengan mulut penuh tempe, tersedak dan mengangkat jempol tanpa bicara.
---
Aurel mengetik pesan kedua di tangga belakang, duduk di anak tangga ketiga dari bawah, tempat ia dulu menyembunyikan rapor jelek.
Ia menulis, menghapus, menulis lagi.
Pasal 1, katanya pada dirinya sendiri. Bilang dalam dua puluh empat jam. Jangan diam.
Akhirnya, pesan yang terkirim hanya empat kalimat:
Kevin ngajak aku ketemu besok pukul tiga di restoran hotel gala. Aku akan datang, dengan Rian di lobi dan rekaman. Ini bukan minta izin. Ini ngasih tahu. Aku sudah nonton rekamannya, terima kasih.
Ia menekan kirim dan menatap layar, dan ia tahu persis apa yang ia lakukan: ia menunggu.
Satu menit. Dua. Empat.
Centang biru muncul di menit kelima. Lalu tulisan kecil di bawah nama Aditya: sedang mengetik. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.
---
Di ruang kerja penthouse yang dindingnya sudah penuh lampu kota, Aditya menatap ponselnya seperti menatap bom yang belum dijinakkan.
Jangan pergi sendiri. Ia mengetik, menghapus. Aku antar. Hapus. Aku ikut. Hapus. Boleh aku ikut? Ia menatap kalimat itu sepuluh detik dengan jempol di atas layar. Itu pertanyaan, bukan perintah, dan secara teknis tidak melanggar apa pun. Tetapi isinya tetap sebuah permintaan agar Aurel mengubah rencananya demi menenangkan dirinya sendiri.
Hapus.
Ia menarik napas, menekan kedua pelipis, dan mengetik sesuatu yang jauh lebih pendek.
Delapan menit setelah pesannya, ponsel Aurel bergetar di telapak tangannya.
Oke. Hati-hati. Aku di sini kalau kamu butuh.
Aurel membaca kalimat itu tiga kali. Ia tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengetik tiga kalimat sepelan itu. Ia tahu berapa banyak kalimat lain yang sudah dihapus lebih dulu.
Bukan balasan yang membuatnya lega, tetapi yang membuatnya menarik napas pertama dengan paru-paru penuh sejak Senin.
Ponselnya bergetar lagi. Nomor tanpa nama.
Terima kasih, Aurel. Saya senang kamu masih mau percaya sama saya.
"Masih," kata Lira dari ambang pintu tangga, membaca dari balik bahu Aurel. "Dia nulis 'masih'."
Eva muncul di belakangnya. "Lo ngerti kan, itu jebakan?"
"Iya." Aurel berdiri dan menepuk celananya. "Makanya gue bawa jaring."