Tanpa jas dan dasi, Rian terlihat seperti orang lain. Aurel hampir tidak mengenalinya waktu ia muncul di gang belakang, dengan jaket abu-abu polos dan langkah yang dibuat tidak menarik perhatian wartawan.
Ia berdiri di depan pintu dapur dan tidak mau masuk. Mama sudah menarik tangannya dua kali. Mama menawarkan bubur, teh, bahkan menawarkan duduk di kursi plastik di bawah jemuran, dan Rian menolak semuanya dengan sopan sampai Mama menyerah dan masuk lagi dengan wajah tersinggung dan lega sekaligus.
"Nona." Rian mengeluarkan dua benda dari tas kecilnya: sebuah flash disk hitam dan amplop putih tebal, tanpa nama, tanpa kop. "Rekaman dari ruang rehat, utuh, sudah saya salin dua kali. Yang asli ada di legal. Dan ini."
Aurel menerima amplop itu. Amplop itu tipis dan tidak berat, dan justru itu yang membuat tangannya ragu.
"Dari Aditya?"
"Ya, Nona. Ditulis tangan. Saya tidak membacanya, dan beliau menutupnya sendiri." Rian membetulkan tali tasnya. "Beliau berpesan, tidak perlu dibalas hari ini. Tidak perlu dibalas sama sekali kalau Nona tidak ingin."
"Dia sendiri di mana?"
"Di kantor, Nona. Sejak pukul enam. Tapi pesannya, kalau Nona bertanya: beliau tidak akan datang ke sini."
Aurel mengangguk. "Terima kasih, Rian. Kamu sudah makan?"
"Sudah, Nona."
"Bohong."
Rian terdiam, lalu tersenyum sangat tipis. "Belum, Nona."
"Bubur Mama, di dalam. Aku nggak menerima penolakan."
Ia masuk juga akhirnya, dan Mama menyambutnya seakan menyelamatkan seorang anak hilang.
---
Laptop tua Papa dipasang di meja kerja kecil di ruang belakang, di antara tumpukan kardus contoh kemasan yang belum sempat dikirim. Papa duduk di sisi kiri Aurel dengan kacamata baca. Layarnya buram di sudut, tapi flash disk itu terbaca pada percobaan kedua.
Gambarnya hitam-putih, diambil dari sudut atas. Sofa kulit panjang, meja rendah, vas bunga besar. Di sudut layar, angka waktu berjalan: 22.41.
"Itu aku," bisik Aurel.
Sosok dirinya di layar masuk dengan gaun hijau lelang, melempar tas jinjing besar ke sofa seperti orang melempar tas olahraga, lalu menggerutu pada seseorang di luar kamera. Bahunya turun. Ia keluar dalam sembilan detik.
"Lima menit," kata Papa.
"Katanya fotografer cuma butuh lima menit, Pa."
Layar menampilkan ruangan kosong. Dua puluh detik, empat puluh detik. Jam di sudut bergulir: 22.43, 22.44.
Lalu seorang laki-laki masuk dari pintu yang sama.
Ia mengenakan jas gelap, tanpa dasi, tangan di saku. Ia tidak menoleh ke kanan atau kiri. Ia tidak berhenti di ambang untuk memastikan sepi. Ia berjalan lurus ke sofa dan membungkuk, meraih tali tas Aurel dengan dua jari, menariknya ke bahu seolah tas itu miliknya, dan berjalan keluar tanpa mempercepat langkah.
Dua menit empat puluh detik sejak Aurel pergi. Kamera menangkap wajahnya satu detik penuh saat ia melewati vas bunga.
Kevin.
"Ya," kata Papa. Hanya itu.
Aurel memutar ulang rekaman itu. Sekali, dua kali. Tiga kali. Tiap kali, gerakan Kevin sama persis: tanpa celingukan, tanpa ragu, seperti orang yang sedang mengambil mantel di tempat penitipan.
"Dari semua tas di ruangan ini, dia ambil yang itu," kata Papa. "Padahal ada empat tas lain di kursi ujung, kelihatan jelas di kamera."
"Yang paling mahal bukan yang itu, Pa."
"Berarti dia nggak cari tas mahal. Dia cari tas kamu."
Aurel mengingat senyum kaku di kantor Aditya, dan kalimat ringan yang sekarang berbunyi lain di kepalanya: catatan yang rajin. Kevin pernah melihat buku biru itu di tangannya, dan ia tahu tas jinjing hitam besar itulah tempat buku itu hidup. Tidak ada kebetulan dalam dua menit empat puluh detik itu. Ada orang yang menunggu lima menit yang tepat.
"Rian bilang dia nggak buru-buru," katanya.
"Orang yang nggak buru-buru itu orang yang sudah latihan membayangkannya." Papa mengetuk meja dengan telunjuk. "Atau orang yang yakin nggak akan ketahuan. Dua-duanya jelek."
Di luar, sesuatu terdengar menggores pagar. Wartawan menyandarkan sepeda motor. Aurel tidak menoleh.
"Simpan salinannya," kata Papa. "Dua. Satu di brankas Papa."
"Papa punya brankas?"
"Namanya laci terbawah lemari pakaian Mama. Nggak ada orang yang berani buka."
"Ini orang yang menang maket di lelang?" tanya Papa.
"Tiga puluh lima juta."
"Untuk maket." Papa melepas kacamatanya dan menggosok pangkal hidungnya. "Orang yang rela membayar tiga puluh lima juta untuk jadi orang baik di depan banyak orang."
"Pa."
"Maaf. Papa kebiasaan nilai orang dari cara dia beli sesuatu."
---
Amplop itu baru ia buka di beranda belakang, di bawah jemuran yang Mama sudah ganti dengan baju-baju lain. Papa duduk tiga meter darinya dengan koran pagi, atau tepatnya dengan koran di tangannya dan mata di lantai.
Satu lembar, dilipat tiga. Tulisan tangan, tinta hitam.
Tulisan itu besar. Besar sekali, dengan jarak antarbaris lebar, tidak seperti catatan rapi Aditya di rapat-rapat, tidak seperti kertas satu halaman yang diremasnya semalam. Aurel membacanya perlahan.
Aurel,
Aku salah. Bukan soal rilisnya saja. Soal pagi itu aku nggak membangunkanmu, dan soal malam itu aku bilang kamu masih baru. Kamu bukan baru. Kamu yang membuat aku mau bertanya, dan aku lupa caranya justru ketika aku paling perlu.
Rilis itu masih ada. Aku nggak akan menariknya sendiri, dan nggak akan membiarkannya sendiri juga. Kamu yang tentukan: ditarik, diubah, atau dibiarkan. Mama bilang syarat yang dipakai dewan itu nggak pernah serius, jadi kamu nggak perlu mikirin risikonya buat aku.
Rekaman terlampir. Aku belum menontonnya. Aku mau kamu yang pertama.
Aku nggak minta kamu pulang. Kalau kamu pulang, aku mau itu karena kamu mau, bukan karena aku menulis surat yang bagus. Kalau kamu butuh apa pun, bilang. Kalau nggak butuh apa pun, juga nggak apa-apa.
Aditya
Aurel membacanya dua kali. Lalu ia melipat kertas itu kembali ke bentuk tiganya, persis seperti semula, dan menaruhnya di pangkuan.
Aku, katanya dalam hati. Bukan gue.
"Isinya?" tanya Papa, tanpa menurunkan koran.
"Dia minta maaf."
"Pakai alasan?"
"Nggak ada." Aurel menelan sesuatu. "Satu pun nggak ada."
Papa meletakkan korannya. Ia menatap amplop kosong di meja, lalu putrinya.
"Papa lihat tulisannya sekilas tadi waktu kamu angkat." Ia mengangkat bahu kecil. "Orang yang takut itu tulisannya kecil. Rapat, rapi, banyak alasan. Ini besar."
"Pa, jangan belain dia."
"Papa nggak belain." Ia berdiri, menepuk lututnya, dan berjalan ke pintu. "Papa cuma menghitung. Dia belum minta kamu pulang, Rel. Papa catat itu."
"Catat juga," kata Aurel, "bahwa aku belum bilang mau."
Papa tidak menoleh. Tapi sudut bibirnya naik sedikit, hanya sedikit, sebelum ia masuk.