"Nona Aurel bertanya, Pak. Saya jawab semuanya."
Rian berdiri di depan meja kerja dengan tablet terjepit di ketiak dan wajah orang yang menyerahkan laporan lebih berat dari isinya. Aditya mengangkat kepala. Di meja terbentang tiga lembar kertas, tulisannya kecil-kecil, dan tiga-tiganya sudah dicoret miring.
"Dia bilang apa?"
"Tidak banyak. Beliau mendengar sampai habis, termasuk bagian bahwa saya menjalankan perintah Bapak untuk tidak memberi tahu." Rian menelan ludah. "Beliau bilang, 'Oke. Aku tunggu besok pagi.' Itu saja."
"Itu saja."
"Ya, Pak."
"Bukan 'Aditya brengsek'?"
"Tidak, Pak."
Aditya bersandar dan menatap langit-langit. Sudah dua puluh enam jam ia tidak tidur lebih dari satu jam berturut-turut, dan matanya terasa seperti dilapisi pasir. Di layar kiri, grafik saham memanjat dengan ragu. Pak Hardi menelepon dua kali hari ini dan nadanya berubah dari dingin menjadi hati-hati, dan Aditya tahu bahwa perubahan itu bukan karena rilisnya. Pak Hardi sedang menunggu apa yang akan dilakukan Aurel.
"Rian."
"Ya, Pak."
"Kalau aku salah, kamu bilang?"
Rian terdiam cukup lama sampai Aditya menurunkan pandangan.
"Saya bilang, Pak, pada Minggu sore," kata Rian akhirnya. "Saya bilang sebaiknya Nona Aurel diberi tahu soal rekaman. Bapak jawab 'nanti'. Saya tidak mengulang. Itu kesalahan saya juga."
"Bukan kesalahanmu."
"Saya kira bukan hanya Bapak yang perlu belajar bertanya, Pak."
Aditya hampir tersenyum, tapi yang keluar hanya napas. Maya muncul dengan map biru dan sopan bertanya apakah ia boleh melapor. Dewan komisaris menunda rapat sampai Kamis. Dua media meminta wawancara. Satu portal sudah menyiapkan judul "Kontrak atau Cinta?" dan meminta tanggapan dalam satu jam.
"Tolak semuanya," kata Aditya.
"Semua, Pak?"
"Kecuali kalau Aurel yang minta lain." Ia berhenti. "Maya, kalau Aurel yang menelepon, sambungkan langsung. Tidak usah tanya aku."
Maya mencatat tanpa menaikkan alis, dan hanya itu yang membuat Aditya yakin ia mendengar perubahan di suaranya.
Di pintu, Mbak Sari berdiri dengan nampan yang untuk ketiga kalinya hari ini ia bawa dan untuk ketiga kalinya akan ia bawa pulang. Di luar jendela, Pak Budi mencuci mobil yang sudah bersih sejak pagi.
---
Pukul tujuh, ia akhirnya naik ke lantai atas dan berdiri di depan kamar Aurel.
Pintunya tidak dikunci. Mbak Sari memang tidak menguncinya, seperti janjinya semalam. Dari ambang, Aditya melihat tempat tidur yang sudah dirapikan, bantal ditumpuk simetris, dan di meja kecil ada piring pisang rebus yang separuh habis dan sudah kering di pinggirnya. Ada jepit rambut hitam di dekat lampu. Ada gelang karet di kenop laci.
Ia mengangkat satu kaki, dan menurunkannya lagi.
Aturan kedua mereka berbunyi kamar terpisah. Selama delapan belas pekan ia tidak pernah sekali pun melangkah masuk tanpa mengetuk. Sekarang tidak ada yang bisa diketuk, dan itu tetap bukan alasan untuk masuk.
"Maaf," katanya pada ruangan kosong itu, entah untuk apa. Lalu ia menutup pintu pelan-pelan, sampai bunyi klik terdengar, dan turun.
Wilhelmina datang pukul delapan malam tanpa menelepon dulu.
Aditya mendengar lift, lalu tumit sepatu di lantai marmer, lalu suara Mbak Sari yang berusaha terdengar biasa dan gagal. Ia tidak berdiri. Ia tetap duduk di sofa ruang tengah, di sisi tempat Aurel biasa menaruh bantal yang sekarang sudah dirapikan rapi oleh seseorang yang kelewat sopan.
Ibunya melepas mantel dan menyerahkannya pada Mbak Sari. Ia tidak membawa rantang. Tidak ada sup, tidak ada jeruk bali.
"Mama telepon kemarin, kamu bilang nanti."
"Aku sibuk, Ma."
"Kamu tidak sibuk. Kamu takut." Wilhelmina duduk di kursi di seberangnya, punggung tegak, tangan terlipat di pangkuan. "Duduk yang benar."
Aditya duduk yang benar.
"Kamu tanda tangani rilis itu sebelum bicara dengan istrimu."
"Aku bisa jelaskan."
"Mama tidak bertanya apakah kamu bisa jelaskan. Mama bertanya kenapa." Nadanya tidak naik, dan itu yang membuat dadanya mengencang. "Kamu bilang kepada Aurel, kamu melindunginya. Bohong. Kamu membungkam karena takut kehilangan, Aditya. Bukan karena itu benar."
Hening. Dari dapur terdengar piring diletakkan dengan terlalu hati-hati.
"Papa kamu," lanjut Wilhelmina. Suaranya turun satu tingkat. "Kamu tahu jantungnya sudah diperiksa setahun sebelum hari itu?"
Aditya tidak bergerak.
"Dokter bilang ia harus mengurangi pekerjaan, harus pasang alat, harus periksa lagi. Dia pulang, makan malam, tersenyum, dan memutuskan sendiri tidak memberi tahu Mama. Dia bilang dia ingin melindungi Mama dari kekhawatiran." Wilhelmina tersenyum tanpa humor. "Dia melindungi Mama sampai hari ia pingsan di ruang rapat. Mama tidak pernah memaafkan itu, dan tidak pernah berhasil membencinya juga."
"Ma..."
"Kamu duplikatnya, Nak. Bedanya kamu pintar, dan kamu terlalu cepat." Ia mengangkat dagu. "Ada satu hal lagi yang harus kamu dengar dari Mama sendiri, bukan dari siapa pun."
"Apa?"
"Mama tahu soal kontrak itu."
Aditya mengira ia salah dengar. Ia menunggu ibunya meralat, dan tidak ada ralat.
"Sejak hari pertama. Pak Handoko yang menyusunnya, di rumah Mama, sampai pagi. Ia datang dengan konsep, Mama membaca tiap pasalnya, dan Mama mengganti satu kata di aturan keempat." Wilhelmina memegang ujung lengannya, rapi, seperti sedang membetulkan sesuatu yang tidak kusut. "Mama sengaja tidak hadir di akad. Mama sengaja bilang di telepon, 'biar kalian punya ruang'. Mama ingin kalian mencoba."
"Dan Mama diam."
"Ya."
"Seluruh waktu ini. Empat bulan. Resepsi, rendang, rumah kaca..."
"Ya."
Aditya merasa ruang tengah itu miring sedikit, seolah lantai bergeser. Ia ingat semua makan malam dengan ibunya, semua kalimat yang ia kira bermakna ganda dan ternyata bermakna satu. Dengan ketenangan yang membuatnya sendiri takut, ia bertanya, "Aurel tahu?"
"Sejak Selasa yang lalu. Mama yang bilang, di rumah kaca." Wilhelmina menatap tangannya. "Dia mendesak Mama untuk memberi tahu kamu secepatnya. Mama bilang, nanti, sesudah gala. Dia menyimpan rahasia Mama sendirian, padahal dia sendiri menanggung rahasianya. Kalau ada yang salah soal itu, Mama yang salah, bukan dia."
"Dia bilang dia menyimpan rahasia orang lain."
"Itu rahasia Mama."
Aditya mengusap wajah dengan kedua tangan, dan ia merasa ibunya melihat tangannya bergetar.
"Dan ancaman Mama. Hak atas perusahaan."
"Tidak pernah sungguh-sungguh." Suara Wilhelmina melembut, tapi tidak mundur. "Mama hanya mendorong, karena kamu tidak akan bergerak kalau tidak didorong. Syaratnya sudah Mama anggap terpenuhi sejak akad. Besok Mama bicara dengan Handoko soal dewan. Mereka tidak punya dasar apa pun, kecuali apa yang kamu berikan lewat rilis itu."
Aditya mendengarkan semuanya, dan untuk sekali ini ia tidak mencari celah untuk membantah. Tidak ada argumen yang tersisa. Ada kenyataan yang selama ini ia kira harus ia selesaikan sendirian, dan ternyata seseorang di sebelahnya selalu memegang ujung yang sama.
"Aku harus apa?" tanyanya, dengan suara yang bahkan di telinganya sendiri terdengar seperti anak sembilan tahun.
"Jangan telepon dia." Wilhelmina berdiri dan merapikan lipatan roknya. "Jangan datang ke rumah orang tuanya. Jangan kirim orang untuk membujuk. Tulis. Dengan tanganmu sendiri, bukan lewat Maya, bukan lewat pengacara. Dan jangan minta apa pun di dalamnya."
"Bahkan kalau aku mau minta dia pulang?"
"Terutama itu." Ia berhenti di pintu lift. "Kalau dia pulang, biar itu pilihannya, bukan hasil negosiasimu."
---
Pukul sebelas, Mbak Sari membawakan pulpen baru dan segelas teh melati tanpa bertanya apa-apa. Aditya menyobek tiga lembar kertas yang sudah dicoret dan membuangnya ke tempat sampah, lalu menarik selembar kertas kosong dari tumpukan.
Ia menulis lambat, dengan huruf yang lebih besar dari biasanya, seperti orang yang baru belajar menulis lagi.
Aurel, aku salah. Bukan soal rilisnya saja.